dalam kategori | Tips Kesehatan

Waspadai penyakit hati yang dipicu konsumsi obat

Waspadai penyakit hati yang dipicu konsumsi obat

Hati adalah organ yang bertanggung jawab untuk berbagai fungsi dalam tubuh manusia, termasuk pembersihan dari racun dan penyaringan produk-produk limbah. Hati memiliki banyak enzim yang membantu memetabolisme obat. Dengan meningkatnya penggunaan obat, penyakit hati yang dipicu konsumsi obat telah menjadi sangat umum ditemukan. Gejala yang muncul mungkin sama atau tidak sama dengan penyakit hati lainnya. Masalahnya, bila gejalanya mirip, menjadi sulit untuk memahami apakah gejala disebabkan oleh penyakit ansih atau oleh penggunaan obat.

Bagaimana Obat-Obat Menyebabkan Penyakit Hati ?

Obat dapat menyebabkan penyakit hati dalam beberapa cara. Beberapa obat secara langsung berbahaya untuk hati; yang lainnya dirubah bentuknya oleh hati kedalam bentuk kimia yang dapat berbahaya pada hati secara langsung atau tidak langsung. Ini mungkin nampaknya aneh mengingat peran penting hati adalah merubah bentuk kimia beracun kedalam kimia tidak beracun, namun ini terjadi. Ada tiga tipe dari keracunan hati; keracunan karena dosis, idiosyncratic toxicity, dan alergi obat.

Obat-obat yang menyebabkan keracunan karena dosis dapat menyebabkan penyakit hati pada kebanyakan orang jika diminum dengan jumlah berlebihan. Contoh yang paling penting dari keracunan akibat dosis adalah overdosis acetaminophen (Tylenol) (didiskusikan lebih lanjut di artikel ini).

Obat-obat yang menyebabkan idiosyncratic toxicity menimbulkan penyakit hanya pada sedikit pasien yang memiliki gen-gen spesifik yang mengontrol perubahan bentuk kimia dari obat tertentu, menyebabkan akumulasi obat atau produk-produk dari metabolismenya yang berbahaya pada hati. Idiosyncratic toxicities yang diwariskan ini biasanya jarang ditemukan, dan tergantung pada obatnya, secara khas terjadi pada kurang dari 1 sampai 10 per 100,000 pasien-pasien yang meminum obat tersebut; namun ada juga obat-obat tertentu dengan tingkat keracunan yang lebih tinggi. Meskipun risiko penyakit hati idiosyncratic yang dipicu konsumsi obat adalah rendah, penyakit hati idiosyncratic adalah bentuk yang paling umum dari penyakit hati yang diinduksi obat karena faktanya ada puluhan juta orang menggunakan obat, dan banyak dari mereka menggunakan beberapa jenis obat.

Keracunan obat idiosyncratic sulit untuk dideteksi pada percobaan-percobaan klinis awal yang biasanya melibatkan, paling banyak, hanya beberapa ribu pasien. Idiosyncratic toxicity akan timbul hanya setelah jutaan pasien mulai mengkonsumsi obat tersebut.

Alergi obat juga mungkin menyebabkan penyakit hati, meskipun tidak umum. Pada alergi obat, hati dilukai oleh peradangan yang terjadi ketika sistim imun tubuh menyerang obat dengan antibodi dan sel-sel imun.

Tipe-Tipe Penyakit Hati Yang Disebabkan Oleh Obat

Obat-obat dan kimia-kimia dapat menyebabkan spektrum yang lebar dari luka-luka hati. Ini termasuk:

  • Peningkatan unsur enzim hati pada darah, tanpa gejala-gejala atau tanda-tanda dari penyakit hati
  • Hepatitis (peradangan dari sel-sel hati)
  • Necrosis (kematian dari sel-sel hati) yang seringkali disebabkan oleh hepatitis yang lebih berat/parah
  • Cholestasis (sekresi atau pengeluaran yang berkurang dan/atau aliran dari empedu)
  • Steatosis (akumulasi lemak pada hati)
  • Cirrhosis (luka parut yang berlanjut dari hati) sebagai akibat dari hepatitis kronis, cholestasis, atau fatty liver
  • Mixed disease, contohnya keduanya hepatitis dan necrosis dari sel-sel hati, hepatitis dan akumulasi lemak, atau cholestasis dan hepatitis.
  • Fulminant hepatitis dengan gagal hati yang berat dan mengancam nyawa
  • Bekuan-Bekuan Darah pada vena-vena dari hati

Peningkatan unsur enzim hati pada darah

Banyak obat yang dapat menyebabkan hal ini. AST, ALT, dan alkaline phosphatase adalah enzim-enzim yang normalnya berada didalam sel-sel hati dan saluran-saluran empedu. Beberapa obat dapat menyebabkan enzim-enzim ini keluar dari sel-sel dan masuk kedalam darah, hingga meningkatkan unsur enzim dalam darah. Contoh-contoh dari obat-obat tersebut seperti: statins (digunakan dalam merawat tingkat-tingkat darah kolesterol yang tinggi), beberapa jenis antibiotik, beberapa antidepressants (digunakan dalam merawat depresi), dan beberapa obat-obat yang digunakan untuk merawat diabetes, tacrine (Cognex), aspirin, dan quinidine (Quinaglute, Quinidex).

Karena pasien-pasien ini secara khas tidak mengalami gejala-gejala atau tanda-tanda, peninggian-peninggian dari enzim-enzim hati, biasanya ditemukan ketika tes-tes darah dilakukan sebagai bagian dari pemeriksaan fisik tahunan, sebagai screening sebelum operasi, atau sebagai bagian dari pengamatan periodik untuk keracunan obat. Secara khas, tingkat-tingkat abnormal ini akan menjadi normal segera setelah penghentian obat, dan biasanya tidak ada kerusakan hati jangka panjang. Dengan beberapa obat-obat, tingkat-tingkat yang rendah dari enzim-enzim hati yang abnormal adalah umum dan tidak tampak berhubungan dengan penyakit hati yang penting (berat atau progresif), dan pasien boleh meneruskan meminum obatnya.

Hepatitis Akut Dan Kronis

Obat-obat tertentu dapat menyebabkan hepatitis (peradangan dari sel-sel hati) akut dan kronis yang dapat menjurus pada necrosis (kematian) dari sel-sel. Hepatitis akut yang diinduksi obat ditentukan sebagai hepatitis yang berlangsung kurang dari 3 bulan, sementara hepatitis kronis berlangsung lebih lama dari 3 bulan. Hepatiis akut yang diinduksi obat adalah jauh lebih umum daripada hepatitis kronis yang diinduksi obat dengan suatu perbandingan dari 9:1.

Gejala-gejala khas dari hepatitis yang diinduksi obat termasuk:

  • kehilangan nafsu makan,
  • mual,
  • demam,
  • kelemahan,
  • kecapaian, dan
  • nyeri perut.

Pada kasus-kasus yang lebih serius, pasien-pasien dapat mengembangkan urin yang gelap warnanya, demam, tinja yang pucat warnanya, dan jaundice (penampakan kuning pada kulit dan bagian putih mata). Pasien-pasien dengan hepatitis biasanya mempunyai tingkat-tingkat AST, ALT, dan bilirubin dalam darah yang tinggi. Baik pada hepatitis akut maupun kronis kondisi-kondisi tersebut menghilang setelah penghentian obat, namun adakalanya, pada  hepatitis akut dapat menjadi cukup berat/parah hingga menyebabkan gagal hati, dan pada hepatitis kronis, sekalipun jarang terjadi, dapat menjurus pada kerusakan hati yang permanan dan sirosis.

Contoh-contoh dari obat-obat yang dapat menyebabkan hepatitis akut termasuk acetaminophen (Tylenol), phenytoin (Dilantin), aspirin, isoniazid (Nydrazid, Laniazid), diclofenac (Voltaren), dan amoxicillin/clavulanic acid (Augmentin).

Contoh-contoh dari obat-obat yang dapat menyebabkan hepatitis kronis termasuk minocycline (Minocin), nitrofurantoin (Furadantin, Macrodantin), phenytoin (Dilantin), propylthiouracil, fenofibrate (Tricor), dan methamphetamine (“ecstasy”).

Gagal Hati Akut

Jarang terjadi obat-obat menyebabkan gagal hati akut (fulminant hepatitis). Pasien pada kondisi ini memperlihatkan gejala-gejala hepatitis akut dan gejala tembahan seperti kebingungan atau koma (encephalopathy) dan memar atau perdarahan (coagulopathy). Faktanya, sampai dengan 80% dari orang-orang dengan fulminant hepatitis meninggal dalam hitungan hari sampai minggu. Di Amerika, acetaminophen (Tylenol) adalah penyebab yang palng umum dari gagal hati akut.

Kolestasis (Cholestasis)

Kolestasis adalah berkuranganya atau terhentinya aliran empedu. Bilirubin dan asam empedu normalnya disekresikan (dikeluarkan) oleh hati kedalam empedu dan dieliminasi dari tubuh melalui usus, jika menumpuk dalam tubuh akan mengakibatkan jaundice dan gatal. Obat-obat yang menyebabkan kolestasis secara khas mengganggu sekresi empedu dari sel-sel hati tanpa menyebabkan hepatitis atau necrosis (kematian) sel hati. Pasien-pasien dengan kolestasis  yang disebabkan oleh obat secara khas mempunyai kadar bilirubin pada darah yang meninggi namun mempunyai tingkat-tingkat AST dan ALT yang umumnya normal. Kadar alkaline phosphate (enzim yang dibuat saluran-saluran empedu) meningkat karena sel-sel dari saluran-saluran empedu juga terganggu fungsinya dan membocorkan enzim. Disamping gatal dan jaundice, pasien biasanya tidak sesakit pasien-pasien dengan hepatitis akut.

Contoh-contoh dari obat-obat yang telah dilaporkan menyebabkan kolestasis termasuk erythromycin (E-Mycin, Ilosone), chlorpromazine (Thorazine), sulfamethoxazole dan trimethoprim (Bactrim; Septra), amitriptyline (Elavil, Endep), carbamazepine (Tegretol), ampicillin (Omnipen; Polycillin; Principen), ampicillin/clavulanic acid (Augmentin), rifampin (Rifadin), estradiol (Estrace; Climara; Estraderm; Menostar), captopril (Capoten), pil-pil pencegah kehamilan (oral contraceptives), anabolic steroids, naproxen (Naprosyn), amiodarone (Cordarone), haloperidol (Haldol), imipramine (Tofranil), tetracycline (Achromycin), dan phenytoin (Dilantin).

Kebanyakan pasien-pasien dengan kolestasis yang diinduksi obat akan sembuh sepenuhnya dalam waktu mingguan setelah penghentian obat, namun pada beberapa pasien, jaundice, gatal, dan tes-tes hati abnormal dapat berlangsung berbulan-bulan setelah penghentian obat. Pasien dapat juga mengembangkan penyakit hati kronis dan gagal hati. Jaundice dan kolestasis yang diinduksi obat yang berlangsung lebih lama dari 3 bulan disebut kolestasis kronis.

Steatosis (fatty liver)

Penyebab-penyebab yang paling umum dari akumulasi lemak pada hati adalah alkoholisme dan non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) yang berhubungan dengan kegemukan dan diabetes. Obat-obat mungkin menyebabkan fatty liver dengan atau tanpa berkaitan dengan hepatitis. Pasien-pasien dengan fatty liver yang diinduksi obat mempunyai hanya beberapa gejala, atau mungkin juga tidak ada. Mereka secara khas mempunyai peningkatan yang ringan sampai sedang pada kadar ALT dan AST dalam darah, dan juga mungkin mengembangkan pembesaran hati. Pada kasus-kasus yang berat/parah, fatty liver yang diinduksi obat dapat menjurus pada sirosis dan gagal hati.

Obat-obat yang dilaporkan menyebabkan fatty liver termasuk total parenteral nutrition, methotrexate (Rheumatrex), griseofulvin (Grifulvin V), tamoxifen (Nolvadex), steroids, valproate (Depakote), dan amiodarone (Cordarone).

Pada situasi-situasi tertentu, fatty liver sendiri dapat mengancam nyawa. Contohnya, Reye’s syndrome adalah penyakit hati yang dapat menyebabkan fatty liver, gagal hati, dan koma. Dipercayai terjadi pada anak-anak dan remaja-remaja dengan influensa ketika mereka diberikan aspirin. Contoh lain dari fatty liver yang serius disebabkan oleh dosis yang tinggi dari intravenous tetracycline atau amiodarone. Herba-herba tertentu (contohnya, herba china Jin Bu Huan, digunakan sebagai obat penenang dan pembebas nyeri) juga dapat menyebabkan fatty liver yang serius.

Sirosis

Penyakit-penyakit hati kronis seperti hepatitis, fatty liver, atau cholestasis dapat menjurus pada necrosis (kematian) dari sel-sel hati. Jaringan parut terbentuk sebagai bagian dari proses penyembuhan yang berhubungan dengan sel-sel hati yang mati, dan luka-luka parut yang berat dari hati dapat menjurus pada sirosis.

Contoh yang paling umum dari sirosis yang diinduksi obat adalah sirosis alkohol . Contoh-contoh dari obat-obat yang dapat menyebabkan penyakit-penyakit hati kronis dan sirosis termasuk methotrexate (Rheumatrex), amiodarone (Cordarone), dan methyldopa (Aldomet).

Thrombosis Vena Hepatik

Normalnya, darah dari usus dikirim ke hati lewat vena portal, dan kemudian dialirkan menuju  jantung melalui vena-vena hepatik kedalam inferior vena cava (vena yang besar yang mengalir kedalam jantung). Obat-obat tertentu dapat menyebabkan terbentuknya bekuan-bekuan darah (thrombosis) pada vena-vena hepatik dan pada inferior vena cava. Thrombosis dari vena hepatik dan inferior vena cava dapat menjurus pada hati yang membesar, nyeri perut, penumpukan cairan pada perut (ascites), dan gagal hati. Sindrom ini disebut Budd Chiari syndrome. Obat-obat yang kerap menyebabkan Budd-Chiari syndrome adalah pil-pil pencegah kehamilan atau birth control pills (oral contraceptives). Birth control pills juga dapat menyebabkan penyakit yang berkaitan yang disebut penyakit veno-occlusive dimana darah membeku hanya pada vena-vena hepatik yang paling kecil. Pyrrolizidine alkaloids yang ditemukan pada herba-herba tertentu (seperti, borage, comfrey) juga dapat menyebabkan penyakit veno-occlusive.

Contoh Dari Penyakit Hati Yang Diinduksi Oleh Obat

Acetaminophen (Tylenol)

Overdosis acetaminophen dapat merusak hati. Kemungkinan kerusakan serta tigkat keparahannya tergantung pada dosis yang dikonsumsi; tingginya dosisnya, lebih memungkin timbulnya kerusakan dan kerusakan akan menjadi berat/parah. Reaksi pada acetaminophen adalah tergantung dosis dan dapat diprediksi (diramalkan); ia bukan idiosyncratic – khas pada tiap individu. Luka hati dari overdosis acetaminophen adalah hal yang serius karena kerusakan dapat berat/parah dan berakibat pada gagal hati dan kematian. Faktanya, overdosis acetaminophen adalah penyebab utama dari gagal hati yang akut di Amerika dan Inggris.

Statins

Statins adalah obat-obat yang paling luas digunakan untuk menurunkan kolesterol “jahat” (LDL) dalam rangka mencegah serangan-serangan jantung dan stroke. Kebanyakan dokter percaya bahwa statins adalah aman untuk penggunaan jangka panjang, dan resiko akan dapaknya pada hati adalah jarang. Meskipun demikian, statins dapat melukai (membahayakan) hati. Persoalan paling umum yang berhubungan dengan hati yang disebabkan oleh statins adalah peningkantan enzim hati (ALT dan AST) pada darah, dan tanpa gejala yang tampak. Studi-studi klinik telah menemukan peningkatan pada 0.5% sampai 3% dari pasien-pasien yang mengkonsumsi statins. Kelainan-kelainan ini biasanya membaik atau menghilang sepenuhnya atas penghentian statin atau pengurangan dosis. Tidak ada kerusakan hati yang permanen (menetap).

Pasien-pasien dengan kegemukan mempunyai resiko yang meningkat pada pengembangan  diabetes, non-alcoholic fatty liver disease (NFALD), dan tingkat-tingkat kolesterol darah yang meninggi. Pasien-pasien dengan fatty liver seringkali tidak mempertunjukkan gejala, maupun hasil tes yang abnormal ditemukan ketika pengujian darah rutin dilakukan. Studi-studi terbaru menemukan bahwa statins dapat digunakan dengan aman untuk merawat kolesterol darah yang tinggi pada pasien-pasien yang telah mempunyai fatty liver dan tes-tes darah hati yang abnormalnya ringan ketika statin dimulai. Pada pasien-pasien ini, dokter-dokter mungkin memilih untuk menggunakan statins pada dosis-dosis yang rendah dan mengamati (memonitor) tingkat-tingkat enzim hati secara teratur selama perawatan.

Meskipun demikian, idiosyncratic liver toxicity yang mampu menyebabkan kerusakan hati yang parah (termasuk gagal hati yang menjurus pada transplantasi hati) telah dilaporkan dengan statins. Frekwensi dari penyakit hati yang parah yang disebabkan oleh satins kemungkinan berada pada batasan dari 1-2 per juta pemakai-pemakai. Sebagai tindakan pencegahan, FDA labeling information member arahan bahwa tes-tes darah enzim hati harus dilaksanakan sebelum dan 12 minggu setelah inisiasi (permulaan) dari statin atau peningkatan pada dosis, dan secara periodik setelahnya (contohnya, setiap enam bulan).

Nicotinic acid (Niacin)

Niacin, seperti statins, telah digunakan untuk merawat tingkat-tingkat kolesterol darah yang meninggi serta tingkat-tingkat triglyceride yang meninggi. Juga seperti statins, niacin dapat merusak hati. Ia dapat menyebabkan peninggian-peninggian ringan yang temporer (sementara) pada unsur AST dan ALT dalam darah, jaundice, dan, pada kejadian yang langka, gagal hati. Keracunan hati dengan niacin adalah tergantung dosis; dosis yang berbahaya  biasanya melebihi 2 grams per hari. Pasien-pasien dengan penyakit-penyakit hati yang telah ada sebelumnya dan mereka yang meminum alkohol secara teratur memiliki risiko yang lebih tinggi mengembangkan keracunan niacin. Sustained-release preparations dari niacin juga adalah lebih mungkin menyebabkan keracunan hati daripada immediate-release preparations.

Amiodarone (Cordarone)

Amiodarone (Cordarone) adalah obat yang penting yang digunakan untuk merawat irama jantung yang tidak teratur (aritmia) seperti atrial fibrillation dan ventricular tachycardia. Amiodarone dapat menyebabkan kerusakan hati yang berkisar dari kelainan-kelainan enzim hati darah yang ringan dan dapat dipulihkan, sampai ke gagal hati akut dan sirosis yang tidak terpulihkan. Kelainan-kelainan pada hasil tes darah hati yang ringan adalah umum dan secara khas menghilang beminggu-minggu sampai berbulan-bulan setelah penghentian obat. Kerusakan hati yang serius terjadi pada kurang dari 1% dari pasien-pasien.

Amiodarone berbeda dari kebanyakan obat-obat lain karena jumlah yang amiodarone memadai diendapkan didalam hati. Obat yang disimpan mampu menyebabkan fatty liver, hepatitis, dan, lebih penting, ia dapat terus menerus merusak hati pada kurun waktu yang panjang setelah obat dihentikan. Kerusakan hati yang serius dapat menjurus pada gagal hati akut, sirosis, dan keperluan untuk transplantasi hati.

Methotrexate (Rheumatrex, Trexall)

Methotrexate (Rheumatrex, Trexall) telah digunakan untuk perawatan jangka panjang dari pasien-pasien dengan psoriasis yang parah, rheumatoid arthritis, psoriatic arthritis, dan beberapa pasien-pasien dengan penyakit Crohn. Methotrexate dalam dosis tertentu telah ditemukan sebagai penyebab dari sirosis hati. Pasien-pasien dengan penyakit hati yang telah ada sebelumnya, pasien-pasien yang kegemukan, dan mereka yang meminum alkohol secara teratur terutama berada pada risiko mengembangkan sirosis yang diinduksi methotrexate. Akhir-akhir ini, para dokter telah mengurangi secara substansial kerusakan hati methotrexate dengan menggunakan dosis rendah dari methotrexate (5-15 mg) yang diberikan sekali setiap minggu dan dengan pengamatan dengan seksana pada hasil tes darah hati selama terapi. Beberapa dokter  juga melakukan biopsi-biopsi hati pada pasien-pasien tanpa gejala-gejala hati setelah dua tahun (atau setelah dosis kumulatif dari 4 gram methotrexate) untuk mencari petunjuk awal gejala sirosis hati.

Antibiotik-Antibiotik

Isoniazid (Nydrazid, Laniazid). Isoniazid telah digunakan bertahun-tahun untuk merawat tuberculosis yang tersembunyi (pasien-pasien dengan tes-tes kulit yang positif untuk tuberculosis, tanpa tanda-tanda atau gejala-gejala dari tuberculosis yang aktif). Kebanyakan pasien-pasien dengan penyakit hati yang diinduksi isoniazid hanya mengembangkan peningkatan ringan dan dapat diubah lagi pada tingkat-tingkat darah dari AST dan ALT tanpa gejala-gejala spesifik, namun sekitar 1-2% dari pasien-pasien mengembangkan hepatitis yang diinduksi isoniazid. Risiko mengembangkan hepatitis isoniazid terjadi lebih umum pada pasien-pasien yang lebih tua. Risiko dari penyakit hati yang serius adalah 0.3% pada dewasa-dewasa muda yang sehat, dan meningkat ke lebih dari 2% pada pasien-pasien yang lebih tua dari umur 50 tahun. Suatu perkiraan 5-10% dari pasien-pasien yang mengembangkan hepatitis berlanjut menjadi gagal hati dan memerlukan transplantasi. Risiko keracunan hati isoniazid meningkat dengan pemasukan alkohol teratur yang kronis, dan dengan penggunaan serentak dari obat-obat lain seperti Tylenol dan rifampin (Rifadin, Rimactane).

Gejala-gejala awal dari hepatitis isoniazid adalah kelelahan, nafsu makan yang buruk, mual, dan muntah. Kemudian mungkin diikuti dengan munculnya Jaundice. Kebanyakan pasien-pasien dengan hepatitis isoniazid sembuh sepenuhnya dan dengan segera setelah penghentian obat. Penyakit hati yang berat dan gagal hati kebanyakan terjadi pada pasien-pasien yang terus menerus memakai isoniazid setelah timbulnya hepatitis. Oleh karenanya, perawatan yang paling penting untuk keracunan hati isoniazid adalah pengenalan awal dari hepatitis dan penghentian isoniazid sebelum luka hati yang serius telah terjadi.

Nitrofurantoin. Nitrofurantoin adalah obat anti bakteri yang digunakan untuk merawat infeksi-infeksi saluran kencing yang disebabkan oleh banyak bakteri-bakteri gram-negative dan beberapa bakteri-bakteri gram-positive. Nitrofurantoin disetujui oleh FDA pada tahun 1953. Ada tiga bentuk dari nitrofurantoin yang tersedia: bentuk microcrystalline (Furadantin), bentuk macrocrystalline (Macrodantin), dan bentuk sustained release, macrocrystalline yang digunakan dua kali dalam satu hati (Macrobid).

Nitrofurantoin dapat menyebabkan penyakit hati akut dan kronis. Yang paling umum, nitrofurantoin menyebabkan peninggian-peninggian yang ringan dan dapat diubah lagi pada tingkat-tingkat darah dari enzim-enzim hati tanpa gejala-gejala. Pada kejadian-kejadian yang jarang, nitrofurantoin dapat menyebabkan hepatitis.

Gejala-gejala dari hepatitis nitrofurantoin termasuk:

  • kelelahan,
  • demam,
  • sakit-sakit otot dan persendian,
  • nafsu makan yang buruk,
  • mual,
  • kehilangan berat badan,
  • muntah,
  • jaundice, dan
  • adakalanya gatal.

Beberapa pasien-pasien dengan hepatitis juga mengalami ruam kulit, kelenjar-kelenjar limfa yang membesar, dan pneumonia (dengan gejala-gejala dari batuk dan sesak napas) yang diinduksi nitrofurantoin. Tes-tes darah biasanya menunjukan enzim-enzim hati dan bilirubin yang meninggi. Kesembuhan dari hepatitis dan gejala-gejala lain dari kulit, persendian, dan paru adalah biasanya segera terjadi setelahn obat dihentikan. Penyakit hati yang serius seperti gagal hati akut dan hepatitis kronis dengan sirosis kebanyakan terjadi pada pasien-pasien yang meneruskan obat meskipun telah mengembangkan hepatitis.

Augmentin. Augmentin adalah kombinasi dari amoxicillin dan clavulanic acid. Amoxicillin adalah antibiotik yang berhubungan dengan penicillin dan ampicillin. Efektif melawan banyak bakteri-bakteri seperti H. influenzae, N. gonorrhea, E. coli, Pneumococci, Streptococci, dan strains tertentu dari Staphylococci . Tambahan dari clavulanic acid pada amoxicillin pada Augmentin memperkuat keefektifan dari amoxicillin melawan banyak bakteri-bakteri lain yang adalah biasanya resisten pada amoxicillin.

Augmentin telah dilaporkan menyebabkan cholestasis dengan atau tanpa hepatitis. Cholestasis yang diinduksi augmentin adalah jarang terjadi; kira-kira 150 kasus-kasus dari penyakit hati yang berhubungan dengan Augmentin telah dilaporkan. Gejala-gejala dari cholestasis (jaundice, mual, gatal) biasanya terjadi 1-6 minggu setelah memulai Augmentin, namun timbulnya penyakit hati dapat terjadi berminggu-minggu setelah penghentian Augmentin. Kebanyakan pasien-pasien sembuh sepenuhnya dalam minggu-minggu sampai bulan-bulan setelah penghentian obat, namun kasus-kasus yang jarang dari gagal hati, sirosis, dan transplantasi hati telah dilaporkan.

Antibiotik-antibiotik lain telah dilaporkan menyebabkan penyakit hati. Beberapa contoh-contoh termasuk minocycline (antibiotik yang berubungan dengan tetracycline), dan Cotrimoxazole (kombinasi dari sulfamethoxazole dan trimethoprim).

Nonsteroidal antiinflammatory drugs (NSAIDs)

Obat-obat antiperadangan nonsteroid atau nonsteroidal antiinflammatory drugs (NSAIDs) umumnya diresepkan untuk peradangan tulang dan yang berhubungan dengan sendi seperti arthritis, tendinitis dan bursitis. Contoh-contoh dari NSAIDs termasuk aspirin, indomethacin (Indocin), ibuprofen (Motrin), naproxen (Naprosyn), piroxicam (Feldene), dan nabumetone (Relafen). Kira-kira 33 juta orang-orang Amerika memakai NSAIDs secara teratur.

NSAIDs aman ketika digunakan secara tepat dan seperti yang diresepkan oleh dokter; bagaimanapun, pasien-pasien dengan sirosis dan penyakit hati yang telah lanjut harus menghindari NSAIDs karena dapat memperburuk fungsi hati (serta menyebabkan gagal hati).

Penyakit hati yang serius (seperti hepatitis) akibat NSAIDs, sangat jaang terjadi (pada kira-kira 1-10 pasien-pasien per 100,000). Diclofenac (Voltaren) adalah contoh dari NSAID yang telah dilaporkan menyebabkan hepatitis, pada kira-kira 1-5 per 100,000 pemakai. Hepatitis biasanya menghilang sepenuhnya setelah penghentian obat. Gagal hati akut dan penyakit hati kronis, sepert sirosis, jarang terjadi.

Tacrine (Cognex)

Tacrine (Cognex) adalah obat oral yang digunakan untuk merawat penyakit Alzheimer. FDA menyetujui tacrine pada tahun 1993. Tacrine telah dilaporkan menyebabkan peninggian-peninggian yang abnormal pada enzim-enzim hati dalam darah. Pasien-pasien mungkin melaporkan mual, namun hepatitis dan penyakit hati yang serius jarang terjadi. Tes-tes abnormal biasanya pulih setelah tacrine dihentikan.

Disulfiram (Antabuse)

Disulfiram (Antabuse) adalah obat yang biasanya diresepkan untuk merawat alkoholisme. Dapat menghilangkan keinginan konsumsi dengan memunculkan mual, muntah, dan reaksi-reaksi fisik lain yang tidak nyaman ketika meminum alkohol. Disulfiram telah dilaporkan menyebabkan hepatitis akut. Pada kasus-kasus tertentu, hepatitis yang diinduksi disulfiram dapat menjurus pada gagal hati akut dan transplantasi hati.

Vitamin-Vitamin Dan Herba-Herba

Asupan vitamin-A yang berlebihan, yang dikonsumsi bertahun-tahun, dapat merusak hati. Diperkirakan lebih dari 30% dari populasi di Amerika memakai suplemen-suplemen dari vitamin A, dan beberapa individu mengkonsumsi vitamin A pada dosis yang tinggi (lebih dari 10,000 unit/ hari) yang mungkin beracun untuk hati. Penyakit hati yang diinduksi vitamin A termasuk peningkatan yang ringan yang dapat diubah kembali dari enzim-enzim hati dalam darah, hepatitis, hepatitis kronis dengan sirosis, dan gagal hati.

Gejala-gejala dari keracunan vitamin A mungkin termasuk nyeri-nyeri tulang dan otot, perubahan warna kulit, kelelahan, dan sakit kepala. Pada kasus-kasus yang berlanjut, pasien-pasien akan mengembangkan pembesaran hati dan limpa, jaundice, dan ascites (penumpukan cairan yang abnormal di perut). Pasien-pasien yang adalah peminum alkohol berat dan mempunyai penyakit hati beresiko lebih tinggi pada kerusakan hati dari vitamin A. Pemulihan bertahap biasanya terjadi setelah menghentikan vitamin A, namun kerusakan hati yang progresif dan gagal hati mungkin terjadi pada keracunan vitamin A yang berat.

Keracunan hati juga telah dilaporkan pada konsumsi teh herbal. Contoh-contoh termasuk Ma Huang, Kava Kava, pyrrolizidine alkaloids in Comfrey, germander, dan chaparral leaf. Amanita phylloides adalah unsur kimia racun hati yang ditemukan pada jamur-jamur yang beracun. Konsumsi tunggal dari jamur yang beracun dapat menjurus pada gagal hati akut dan kematian.

 

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu