dalam kategori | Pola Hidup

Wanita memiliki risiko fatigue lebih tinggi

Wanita memiliki risiko fatigue lebih tinggi

Fatigue didefinisikan sebagai suatu gejala subyektif yang disertai gejala dominan diantaranya adalah rasa lelah dan capek disertai dengan turunnya aktifitas fisik atau kerja harian. Definisi fatigue di bidang kesehatan dan penyakit belum ada kesepakatan yang jelas. Hal ini karena saat pasien sakit, gejala fatigue yang timbul akan sangat dipengaruhi juga oleh faktor pencetus lain diluar penyakitnya, seperti: budaya, kepribadian, lingkungan fisik dimana pasien tinggal (kebisingan, cahaya dan fibrasi), adanya dukungan keluarga, teman dan masyarakat sekitar, serta jenis kerjaan dan lamanya bekerja atau berolahraga. Hal ini terbukti pasien sakit dengan fatigue akan memiliki intensitas lebih berat bila pasien disertai depresi klinis, lingkungan sosial dan jenis kepribadian tertutup dibandingkan pasien fatigue tanpa depresi, punya banyak teman dan kebiasaan olahraga teratur (1).

Deskripsi

Fatigue bisa digolongkan sebagai gangguan primer atau sekunder. Fatigue primer merupakan langsung dialami pasien dan bisa sebagai salah satu dari kumpulan gejala gangguan mental atau penyakit yang sedang diderita pasien, seperti: nyeri, demam atau mual. Sedangkan fatigue sekunder baru timbul kemudian seiring dengan makin beratnya gejala klinis pasien, fatigue ini baru muncul karena buruknya kondisi dan gejala klinis lain yang dialami pasien, misal saat dilakukan tindakan bedah atau akibat reaksi dari terapi obat lain yang diberikan. Fatigue jenis inilah yang dinamakan fatigue sekunder.

Fatigue bisa bersifat akut saat aktifitas fisik, psikis yang berlebihan, merupakan mekanisme kompensasi normal tubuh dan terapinya cukup dengan istirahat. Sementara bila tubuh sudah beristirahat dan gejala fatigue tetap ada ini yang disebut fatigue patologis dan kondisi ini bisa memberi dampak pada menurunnya aktifitas sosial dan harian pasien. Walau setiap orang pernah mengalami rasa fatigue namun deskripsi pasti dan pengukurannya sulit dilakukan. Fatigue sentral (mental atau kognitif) dibedakan dengan fatigue perifer (fisik, muskuler) dari sisi manifestasi gejala subyektifnya yaitu: berkurangnya gairah, motivasi atau timbulnya afek negatif lebih dominan pada fatigue jenis sentral (2).

Faktor Risiko

Gejala fatigue sangat sering dijumpai. Merupakan satu dari sepuluh gejala utama yang biasa dikeluhkan oleh pasien saat berobat kedokter. Beberapa pasien memiliki risiko tinggi untuk terjangkit fatigue. Wanita akan memiliki risiko 1,5 x lebih tinggi dibandingkan laki-laki dan pasien yang kurang olahraga akan memiliki risiko 2 x lebih tinggi dibanding yang berolahraga aktif. Faktor risiko tinggi lainnya adalah pada pasien: kegemukan, perokok, pecandu alkohol, mudah stress, depresi dan cemas serta hipotensi.

Sebab terjadinya Fatigue dari sisi medis, adalah:

  • Menurunnya fungsi sirkulasi dan Pernafasan.
  • Infeksi. Mikroorganisme dapat merangsang pengeluaran toksik (TNF, IL 1 dan IL-6) yang bisa menyebabkan fatigue. Fatigue juga sering dijumpai sebagai gejala awal pasen infeksi kronik non local (penyakit AIDS, Lyme dan TBC).
  • Gangguan dan ketidakseimbangan nutrisi. Diketahui malnutrisi bisa merangsang timbulnya suatu penyakit, karena berkurangnya asupan nutrien penting, vitamin dan mineral baik saat diabsorpsi melalui saluran cerna atau memang asupan kalori kurang adekuat. Penyakit Kurang Kalori-Protein (KKP) adalah manifestasi dari kurangnya tubuh atas asupan protein dan kalori dimana kondisi ini biasa terjadi di negara berkembang dimana ditandai dengan menurunnya masa otot pasien. Secara similar kondisinya hampir sama dengan kondisi pasien yang sedang sakit kritis. Umumnya sistem pertahanan tubuh akan menurun dan timbul gejala fatigue atau gejala klinis lainnya. Dari sisi lain faktor kegemukan karena intak kalori yang berlebihan bisa juga menyebabkan berbagai gejala klinis dimana salah satunya juga adalah fatigue.
  • Dehidrasi. Dehidrasi terjadi akibat ketidakseimbangan atau berkurangnya asupan air dan natrium tubuh. Bisa disebabkan diare, muntah, tirah baring dan terekspos panas yang lama atau karena olahraga yang berlebihan. Dehidrasi membuat otot lemas dan kebingungan mental dimana diketahui juga kedua gejala ini akan menjadi pencetus fatigue, bila kurang kita perhatikan. Fatigue yang timbul akan menjadi lingkaran setan, dimana pasien akan makin malas minum dan makan dan yang makin memperburuk derajat dari fatiguenya sendiri dan tingkat kesadaran pasien.
  • Dekondisi.
  • nyeri
  • Stres.
  • Gangguan tidur.

Mekanisme terkini

Tantangan utama seseorang yang sedang latihan berat dan olah fisik yang tinggi adalah terjadinya fatigue mental/sentral. Hal ini sangat ditakuti oleh atlit selain fatigue perifer yang terjadi dan kedua fatigue itu harus ditanggulangi dengan baik. Beberapa studi belakangan ini mengungkap fakta insiden fatigue sentral makin meningkat. Mekanisme pasti fatigue sentral ini diketahui melibatkan sistem syaraf kita. Terbukti pula jenis fatigue sentral ini tidak akan berpengaruh pada kelelahan otot dan fungsinya (3).

Ada korelasi antara kadar Asam Amino golongan Triptofan dengan derajat fatigue sentral. Saat triptofan masuk ke otak terjadi fase tenang di CNS, pasien akan ngantuk dan menguap. Dalam kondisi normal jumlah asam amino rantai cabang (BCAA) dalam sirkulasi darah diotak akan mengontrol mekanisme masuknya triptofan ini. Disisi lain saat seseorang latihan olahraga yang berat dan lama, BCAA diotot akan digunakan tubuh untuk sumber energi. Tubuh memilih menggunakan BCAA karena untuk sumber glukosa silusnya sangat mudah (pendek). Saat kadar BCAA yang dipakai otot meningkat (kadarnya rendah) maka triptofan akan masuk ke otak dengan mudah dan hal inilah membuat pasien fatigue dan merasa lelah berlebihan. Penelitian lain membuktikan pemberian suplemen BCAA terbukti dapat mencegah fatigue melalui mekanisme menghambat masuknya triptofan ke otak (3).

Asam Amino Rantai Cabang (BCAA) terdiri leucine, isoleucine and valine. Jenis asam amino ini sangat dibutuhkan tubuh untuk menjaga jaringan otot saat latihan berat dan saat stres fisik yang berlebihan. Dikalangan para atlit fungsi BCAA seperti agen anabolik dan bisa sebagai sparing tubuh untuk lebih membakar lemak bukan masa otot.

Penelitian yang dilakukan bertumpu pada fungsi Serotonin (5-HT) dan Dopamin karena peran keduanya dalam regulasi persepsi sensoris, perasaan dan aktifitas lainnya. Hasil penelitian membuktikan saat terjadi ketidakseimbangan neurotransmiter spesifik kadar serotonin meningkat dan kadar dopamine turun dan inilah yang menyebabkan CNS Fatigue. Teori tingginya 5-HT berbanding rendahnya Dopamin memberikan pemahaman pada kita lebih jauh bila 5-HT kadarnya direndahkan dan Dopamin ditinggikan maka fatigue akan membaik. Kenyataan ini menggembirakan karena dengan training, dukungan nutrisi dan suplementasi yang cukup kita bisa mengembalikan rasio Serotonin/Dopamine diotak kita (3)(4) .

Walau melalui mekanisme yang sangat kompleks (Rumus Layman’s) para peneliti terus bertumpu pada Karbohidrat dan (BCAA) serta implikasinya pada keseimbangan 5-HT/Dopamin di otak kita. Karbohidrat diketahui bisa mencegah Fatigue sentral melalui mekanisme pemecahan fatty acid (FA), triptofan (TRP) dan triptofan bebas (f-TRP) sehingga kadarnya turun pada tubuh yang kesemuanya berpengaruh pada rasio penurunan kadar 5-HT/Dopamin. Sementara peningkatan asupan BCAA diketahui akan menekan metabolisme 5-HT. sehingga dari kedua teori tsb (Karbohidrat/BCAA) bisa memaintain rasio seimbang dari kadar 5-HT/Dopamin dan bisa mencegah Fatigue sentral (3)(4) .

Tatalaksana fatigue

Tatalaksana fatigue tergantung pada pemeriksaan menyeluruh dan pengalaman sebelumnya dari pasien sendiri. Pada kasus pasien dengan influenza atau pasien dengan infeksi, fatigue biasanya pulih segera setelah penyakitnya sembuh. Sementara fatigue kronik dan gejala abnormal lainnya dokter akan menatalaksana lebih komprehensif dengan beberapa program khusus. Dibawah ini adalah beberapa pendekatan khusus yang biasa dilakukan dokter (4)(6) :

  • Latihan aerobik ringan
  • Hidrasi (banyak minum), karena air akan segera mengembalikan turgor dan tensi kulit serta membantu membawa elektrolit tubuh.
  • Pasien rawat inap yang sedang diinfus pertimbangkanlah untuk menggunakan infus maintenance yang lebih baik dan terkini. Pilihlah infus yang telah dilengkapi dengan mikromineral, trace element, asam amino yang kaya BCAA disamping kebutuhan basal elektrolit dasar dan glukosa saja (5).
  • Meningkatkan kualitas tidur
  • Farmakoterapi. Pasien akan mendapat obat terutama untuk mengatasi stres fisik dan mental yang terjadi, mengontrol nyeri dan mengatur pola tidur.
  • Fisioterapi.
  • Latihan fisik tertentu lainnya. Untuk melatih dan membantu pasien mencegah penurunan fungsi otot dan geraknya (6).

Referensi:

  1. Beers, Mark H., and Robert Berkow, eds. The Merck Manual of Diagnosis and Therapy, 17th ed. Whitehouse Station, NJ: Merck Research Laboratories, 1999.
  2. Ingvard Wilhelmsen, M.D., Ph.D. University of Bergen 5009 Bergen, Norway The New England Journal of Medicine Volume 354:427-428January 26, 2006Number 4
  3. Bodybuilding.com, 2026 S Silverstone Way, Meridian, ID 83642 USA – 1-877-991-3411
  4. Dimeo, F. C., et al. “Effects of Physical Activity on the Fatigue and Psychologic Status of Cancer Patients During Chemotherapy.” Cancer 85, no. 10 (May 15, 1999): 2273–7.
  5. Darmawan, I; New trend in Maintenance Fluid Therapy. www.otsuka.co.id
  6. Natelson, Benjamin H. Facing and Fighting Fatigue: A Practical Approach. New Haven, CT: Yale University Press, 1998.

 

Dr. Budhi Santoso
Sr. Medical Advisor
budhi@ho.otsuka.co.id

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu