dalam kategori | Penyakit

Wabah Bakteri E-Coli Eropa, kita perlu waspada

Wabah Bakteri E-Coli Eropa, kita perlu waspada

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bakteri Ekoli yang menyebar hampir di seluruh kawasan Eropa adalah keturunan generasi baru bakteri tersebut.

Urutan genetis awal memperlihatkan keturunan baru ini adalah bentuk mutasi dua bakteri Ekoli yang berbeda dengan gen mematikan yang bisa menyebabkan wabah itu tampak begitu besar dan berbahaya. “Bakteri keturunan baru ini belum pernah terlihat dalam situasi wabah yang terjadi sebelumnya,” ujarAphaluck Bhatiasevi, juru bicara WHO, yang dikutip BBC.

Para ilmuwan di Beijing Genomics Institute di China juga memaparkan,bakteri Ekoli dalam produk sayur itu adalah jenis baru. “Ekoli ini jenis keturunan baru bakteri yang sangat menular dan beracun,” ungkap mereka. Bukti awal menunjukkan bakteri itu punya dua gen dari kelompok Ekoli yang berbeda, yaitu Enteroaggregative E.coli (EAEC) dan Enterohemorrhagic E.coli (EHEC).

Badan Perlindungan Kesehatan Inggris kepada BBC memaparkan mereka mulai mempelajari kurva bakteri itu untuk memahami apa artinya. Sementara Rusia telah melarang impor sayuran segar dari seluruh negara anggota Uni Eropa (UE) karena wabah Ekoli yang belum diketahui solusinya.

Bakteri EHEC Ada di Sekitar Kita?

Jawabannya ada. Bakteri E.coli virotipe EHEC telah berhasil dideteksi oleh peneliti-peneliti di Indonesia. EHEC pada dasarnya terbagi atas 2 kelompok besar yaitu: Kelompok 0157 dan non-0157 yakni 026, 0111, 0121 dan 0113. Sebagai reservoir alamiah dari EHEC ini adalah sapi, babi, kambing dan domba, dengan penularannya ke manusia biasanya akibat air yang tercemar tinja, memasak makanan yang tidak cukup masak, susu yang tidak dipasteurisasi, di samping juga penularan dari orang ke orang pernah dilaporkan.

I Wayan Suardana – Dosen Kesmavet Fak Kedokteran Hewan-Unud dalam penelitiannya berhasil membuktikan secara molekuler ada kemiripan antara isolat asal sapi dan manusia. Namun, kita harus bersyukur, sekalipun peluang terinfeksinya orang-orang Indonesia oleh bakteri kelompok ini sangat besar, namun sampai saat tulisan ini dibuat (9/6), laporan tentang wabah EHEC di Indonesia belum ada. Hal ini mungkin diakibatkan pola konsumsi makan masyarakat Indonesia yang biasa menyiapkan makanan dalam keadaan cukup masak (dipanaskan di atas 80 derajat C sebelum dikonsumsi) sekalipun status sanitasi dan hygienis yang masih kurang.

Namun berdasarkan penelitian terakhir, secara ilmiah diakibatkan kemampuan toksisitas dari toksin Shiga yang dihasilkannya rendah. I Wayan Suardana telah meneliti kemampuan toksisitas strain E. coli 0157:H7 pada sel vero, ternyata strain lokal diketahui memiliki daya toksisitas yang rendah dibandingkan strain kontrol. Sekalipun demikian, pola hidup bersih (PHB) seperti yang disarankan Depkes adalah tindakan vital ”sedia payung sebelum hujan” dengan motto ”lebih baik mencegah daripada mengobati” yang sudah seharusnya dilakukan, di samping kajian-kajian penelitian harus terus diintensifkan, mengingat adanya kesalahan penanganan, atau perubahan lingkungan dapat membalikkan sifat agen dari tidak ganas menjadi ganas.

Indonesia masih aman

Selama periode Januari-Mei 2011, ada 36 kali pengiriman ke Indonesia dari Jerman, Prancis, Belanda, dan Portugal, dengan jumlah 60 ton atau sekitar 2 kontainer.

“Terbanyak adalah kentang dan wortel. Sementara ketimun, tauge dan selada segar yang disebut-sebut ada E-colinya, tidak ada dalam importasi sepanjang waktu tersebut dari keempat negara itu,” kata Bayu Krisnamukti, Wakil Menteri Pertanian, hari ini (10/6) di kantor Kementerian Kesehatan.

Dia menuturkan semua sayuran dan buah yang diimpor tersebut bebas dari kontaminasi E-coli atau EHEC. “Tapi kami tetap waspada. Barang-barang impor dari Eropa tersebut selama ini diperiksa pada 10 titik pelabuhan impor yang ada di Indonesia,” tambahnya pada jumpa pers bersama Menteri Kesehatan dan Kepala Badan POM tersebut.

Menurut dia, jika risiko bahaya E-coli nantinya meningkat, pihaknya akan pergunakan pelabuhan khusus yang lebih lengkap fasilitasnya untuk memeriksa semua buah dan sayuran impor dari negara Eropa.

Sementara itu Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan hingga saat ini belum ada manusia yang tertular EHEC. selain di Amerika Serikat dan negara Eropa. Belum ada yang tertular di negara Asia.

Mengenai berita tentang ditemukannya kontaminasi E-coli dalam buah alpukat di Thailand yang diimpor dari Eropa, Tjandra Yoga Aditama, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (P2PL Kemenkes), mengatakan tengah menelusurinya. “Tapi sampai sekarang belum ada laporan infeksi EHEC pada manusia di Asia,” ungkapnya.

Tjandra menambahkan untuk mengantisipasi bahaya E-coli tersebut, pihaknya sudah sudah membuat surat edaran kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi seluruh Indonesia, dan seluruh Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP).

Bagaimana kita menyikapinya

Tentunya kewaspadaan tetap perlu dijaga, karena sekalipun sampai saat ini dampak wabah E-coli Eropa tersebut masih belum terasa, bukan tidak mungkin di masa mendatang wabah yang mirip terjadi disini. Menutup uraian singkat ini, mari kita cermati sebuah surat dari seorang dokter dari Jerman yang beredar di beberapa milis menyangkut wabah yang menggemparkan daratan Eropa ini.

EHEC itu kependekan dari Enterohaemorrhagic Escherichia coli, Bakteri E.Coli yang menyebabkan perdarahan usus-gejala mencret bercampur darah, dengan kompilkasi HUS (Hemolytic-uremic syndrome – keracunan ginjal karena perdarahan) bisa menyerang otak dan organ tubuh yg lain.

Utk orang tua, atau yang immunitasnya lagi jelek, bisa FATAL,seperti sekarang di Jerman sudah sekitar 2 minggu ini bikin orang pusing-kelabakan-sudah 1700 an penderita terserang EHEC, tidak semuanya parah, yang sekitar 570 penderita dengan komplikasi berat, dan sekitar 22 orang sampai hari ini meninggal (biasanya wanita diatas umur 75 tahun dengan immunitas jelek).

Apa penyebabnya? Sayuran mentah,ya itu diperkirakan sampai sekarang, sampai-sampai KETIMUN mentah atau daun SELADA mentah atau TOMAT mentah dan terakhir ditambah KECAMBAH  mentah di”asing” kan dari perdagangan, wah yang jualan atau produksi perkebunan nya ya tiap hari rugi Millionen Euro.

Ada lagi yang bilang jangan jangan bukan sayuran penyebabnya bisa type JOGHURT tertentu atau daging bakar setengah mentah(seperti Steak) dll. Semua masih diselidiki.

Para ahli Jerman kerjasama dengan ahli Tiongkok yang dianggap berpengalaman soal EHEC. Type yang luar biasa bahaya kali ini yaitu EHEC Serotyp E 104-H4.

Hati-hati dengan sayuran dan makanan mentah:

  1. cuci dulu dengan air bersih,
  2. siram dengan air panas matang, dan
  3. masaklah makanan sampai benar-benar matang.

Saat ini sedang ada wabah di Eropa dan di Taiwan dan Singapore beberapa orang dikabarkan menderita infeksi EHEC bacteria. EHEC bacteria adalah campuran bakteri E. coli yang kebal dan E-Coli 0104 bacteria yang juga kebal antibiotika yang berasal dari hewan sapi.

Saya kira terutama saat ini wabahnya di Eropa Barat terutama JERMAN, Swiss, Swedia, dll itu penderita yang habis jadi turis di Jerman makan sayuran mentah(Salad) di negara bagian Niedersachsen(Jerman Utara).

Hal ini terjadi karena terlalu banyaknya penggunaan antibiotik dalam peternakan, sehingga muncul bakteri yang kebal antibiotik. Saat ini belum ada antibiotik yang efektif mengatasi EHEC bacteria.

Eh, apa ya benar? EHEC yang type merajalela kali ini di Jerman justru “JANGAN DIOBATI dengan ANTIBIOTIK, nanti BACTERIE nya mati, tapi terus TOXINE nya (racunnya) merajalela keluar dari bangkainya bakteri didalam tubuh manusia.

Juga malahan jangan dikasih LOPERAMID/Norit dll anti diarrhoe, nanti bakterinya yang mestinya keluar dgn tinja malahan di “Bebel”in biar bersarang ditubuh terus, makanya biarin lah Mencret, asal diminumi yang super super banyak, biar bakterinya keluar!!!

Untuk EHEC types lain terkadang bisa dikasih antibiotik.

Gejala infeksi : diare/mencret dengan sedikit darah, serta nyeri pinggang (ginjal). Bakteri ini menyerang pencernaan dan ginjal.Satu-satunya cara menolong seorang yang terinfeksi EHEC bacteria ini adalah dengan hemodialisis atau cuci darah, tetapi angka survival nya hanya 50%.

Ya betul, kalau komplikasi perdarahan usus, ginjal bisa terserang-mesti cuci darah. Angka survival di Jerman sekitar lebih dari 95% (dari 570 an yang kena kompilkasi ini, sekitar 22 orang yang meninggal)

Informasi ini saya dapat dari teman yang bekerja di WHO.
Silakan sampaikan kepada sebanyak mungkin teman/relasi/saudara.

dr Bambang

3 respon to “Wabah Bakteri E-Coli Eropa, kita perlu waspada”

  1. perawatan mobil says:

    nice share. nice post. semoga bermanfaat bagi

    kita semua :)keep update!
    perawatan mobil

  2. Al lucky laki says:

    terima kasih atas informasinya..
    semoga dapat bermanfaat bagi kita semua 🙂 Al Lucky laki

  3. harga Yamaha YZF says:

    Jangan berhenti untuk terus berkarya, semoga kesuksesan senantiasa menyertai kita semua.
    keep update!Harga Yamaha YZF



Trackbacks/Pingbacks


Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu