dalam kategori | Layanan Kesehatan

Vaksin DBD yang Diujikan pada Anak SD Dijamin Aman

Vaksin DBD yang Diujikan pada Anak SD Dijamin Aman

Ratusan anak SD menjalani vaksinasi Demam Berdarah Dengue (DBD) untuk pertama kalinya di Indonesia pada 8 Juni 2011. Meski masih dalam tahap uji coba, Menteri Kesehatan menjamin bahwa vaksin tersebut tidak akan membahayakan anak-anak.

Uji coba yang dilakukan kali ini merupakan uji klinis fase III, yang berarti vaksin tersebut sudah menjalani uji keamanan pada fase sebelumnya. Tujuan uji coba kali ini tidak lagi untuk melihat keamanannya, melainkan seberapa efektif dalam mengurangi kasus DBD.

Dalam 5 tahun ke depan, tim peneliti dari RS Cipto Mangunkusumo dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia akan mengamati jumlah kasus DBD pada anak yang divaksin. Jika lebih rendah dari yang anak-anak tidak divaksin, berarti vaksin tersebut efektif.

“Uji coba dilakukan serentak di 5 negara Asia, di Indonesia melibatkan 2.000 peserta. Soal keamanan, tidak akan pernah bisa suatu vaksin dicobakan pada fase III kalau belum terjamin keamanannya,” ungkap Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dalam jumpa pers di Gedung Kemenkes, Jl Rasuna Said, Jumat (10/6/2011).

Karena masih uji coba, Menkes mengakui bahwa vaksinasi ini belum direncanakan untuk menjadi program nasional. Hasil uji coba masih akan dievaluasi dulu, kemudian dinilai apakah cukup efektif untuk diberikan pada semua anak di seluruh Indonesia.

Selain di Jakarta, uji coba vaksin DBD juga dilakukan di Bandung dan Bali. Jumlah pesertanya beragam yakni 800 anak di Jakarta, 800 anak di Bandung dan 400 anak di Bali, seluruhnya akan disuntik vaksin sebanyak 3 kali dengan jeda masing-masing selama 6 bulan.

Target penurunan tingkat kematian DBD tercapai sejak 2006

Sementara itu Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Prof dr Tjandra Yoga Aditama mengatakan, tingkat kematian akibat DBD di Indonesia sudah bisa diturunkan menjadi 0,87 persen pada 2010. Target untuk menurunkannya hingga di bawah 1 persen bahkan sudah tercapai sejak 2006.

Meski demikian, jumlah penderitanya masih tinggi karena berbagai faktor seperti kepadatan penduduk, tata wilayah yang kurang baik, perubahan iklim dan juga kurangnya partisipasi masyarakat dalam menjalankan 3 M plus (Menguras, Menutup dan Mengubur plus Tindakan lain yang mencegah perkembangbiakan jentik nyamuk).

Sejak beberapa tahun terakhir, fogging atau pengasapan sudah tidak menjadi kebijakan utama pemerintah dalam mencegah penularan DBD. Kalaupun masih dilakukan, biasanya atas permintaan masyarakat sendiri karena merasa tidak puas hanya dengan 3M plus.

Fogging dinilai tidak efektif karena hanya memutus mata rantai sesaat, namun tidak bisa mengimbangi perkembangbiakan nyamuk yang selalu lebih cepat. Nyamuk-nyamuk yang tidak mati saat di-fogging, dalam 3 hari sudah menghasilkan nyamuk baru yang jumlahnya beberapa kali lipat.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu