dalam kategori | Featured, Layanan Kesehatan

Tes sederhana mendeteksi Autisme pada Bayi Usia Setahun

Tes sederhana mendeteksi Autisme pada Bayi Usia Setahun

Sebuah tes sederhana lima menitan pada balita berusia 12 bulan dapat membantu deteksi dini autisme.

Metode skrining tersebut dikembangkan oleh tim dokter anak di San Diego, Amerika Serikat dan sudah diuji coba pada lebih dari 10.000 bayi berusia satu tahun. Para bayi tersebut merupakan pasien dari 137 dokter anak.

Menggunakan daftar pertanyaan sederhana yang bisa diselesaikan dalam waktu 5 menit, orangtua atau pengasuh anak diminta menjawab seputar perilaku anak yang meliput ada tidaknya kontak mata, suara, kata-kata, gestur, pengenalan objek dan bentuk komunikasi lainnya.

Dari hasil uji coba yang dilakukan, 184 balita dinyatakan tidak lolos skrining, 75 persen diantaranya terdeteksi mengalami beberapa masalah. 32  anak terdiagnosa autis, 56 keterlambatan bicara, 9 mengalami kelambatan pertumbuhan dan 36 anak mengalami kelambatan perkembangan tipe lainnya. Bayi-bayi yang dianggap tidak lulus tes itu alias menampakkan gejala autisme kemudian dirujuk ke San Diego Autism Center for Excellence untuk evaluasi lebih lanjut setiap 6 bulan hingga anak berusia 3 tahun.

Sementara itu anak-anak yang terdiagnosa autisme, mayoritas memulai terapi di usia 19 bulan yang sebenarnya sangat dini dibanding anak-anak lain. Seringkali orangtua baru membawa anak ke dokter saat anak sudah berusia tiga tahun dan itu artinya sudah terlambat.

“Program skrining ini sangat menjanjikan karena bisa diimplementasikan dan secara virtual tidak ada biaya. Metode skrining ini juga bisa dilakukan pada praktik klinik sehari-hari,” tulis tim peneliti, Karen Pierce, asisten profesor ilmu syaraf dari UC San Diego.

“Ada bukti-bukti kuat bahwa terapi yang dilakukan lebih dini memiliki efek yang positif pada perkembangan otak. Itu sebabnya kesempatan untuk mendiagnosa dan memulai terapi pada saat anak berusia sekitar setahun sangat penting untuk meningkatkan potensi tumbuh kembang anak,” katanya.

Menurut Dr. Lisa Gilotty, yang memimpin program autisme pada National Institute of Mental Health, tes ini masih harus disempurnakan dengan mengadakan penelitian lanjutan, namun telah membuktikan bahwa terbuka peluang untuk secara sistematis memeriksa balita dari gejala autis, dengan cara yang sederhana dan mudah bagi para praktisi medis.

Gejala yang sangat menonjol dari autisme adalah sikap anak yang cenderung tidak memedulikan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, seolah menolak berkomunikasi dan berinteraksi, serta seakan hidup dalam dunianya sendiri. Anak autistik juga mengalami kesulitan dalam memahami bahasa dan berkomunikasi secara verbal.

Autisme bisa terjadi kepada siapa saja, tidak mengenal etnis, bangsa, keadaan sosial ekonomi, dan keadaan intelektualitas orangtua. Perbandingan antara anak laki-laki dan perempuan yang mengalami gangguan autistik adalah 4:1. Kecerdasan anak-anak autis sangat bervariasi, dari yang sangat cerdas sampai yang sangat kurang cerdas.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu