dalam kategori | Asupan Sehat, Featured

Suplemen Kesehatan, Perlukah?

Suplemen Kesehatan, Perlukah?

Hidup di kota besar dewasa ini penuh dengan tantangan. Untuk bisa menjaga kondisi tubuh agar bisa tetap fit ditengah lingkungan penuh polusi bukanlah hal yang mudah mengingat kesibukan beraktifitas sering membuat kita tidak dapat menjaga kesehatan dengan sempurna

Saat ini semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya menjaga kesehatan. Apalagi dengan layanan kesehatan yang masih belum sempurna di negara ini membuat pameo “Menjaga Kesehatan lebih baik dari pada Mengobati Penyakit” masih sangat relevan untuk kehidupan kita saat ini. Kesadaran ini kemudian berdampak langsung kepada penggunaan suplemen kesehatan, yang dianggap dapat menjawab tantangan untuk dapat hidup lebih sehat.

Dewasa ini ada banyak sekali produk suplemen kesehatan yang beredar di pasaran, mulai dari yang tradisional berlebel Jamu, sampai kepada produk-produk yang menjual kecanggihan bernuansa internasional. Namun sejalan dengan membanjirnya produk suplemen di masyarakat, muncul pula kebingungan konsumen untuk memilih produk yang tepat, karena tidak jarang informasi yang disebarkan oleh pada produsen produk suplemen justru bertolak belakang dengan pengertian yang beredar di masyarakat.

Berikut adalah edukasi tentang suplemen kesehatan yang disarikan dari The Health Supplements Information Service (www.hsis.org) yang diharapkan dapat membantu konsumen dalam memilih produk suplemen yang tepat untuk kebutuhan mereka.

Mitos 1

“Makanan dapat memenuhi seluruh kebutuhan nutrisi seseorang, di umur berapapun mereka”

Fakta 1

Tidak semua orang memperoleh nutrisi yang memadai dari makanan yang mereka konsumsi setiap hari. Bahkan selalu saja ada yang mengalami kekurangan nutrisi. Belum lagi beberapa kondisi khusus dimana seseorang membutuhkan nutrisi tambahan dengan alasan kesehatan. Contohnya, anak-anak dan remaja dalam masa pertumbuhan, Ibu-ibu hamil dan menyusui, para manula, para vegetarian, perokok, peminum minuman keras, dan orang sakit, baik yang mengalami penurunan daya tahan tubuh, yang sedang menjalankan diet ketat, maupun mereka yang memang menderita kekurangan gizi.

Nutrisi dalam makanan juga dapat berkurang atau bahkan hilang karena pola penyimpanan yang kurang tepat maupun saat diolah. Selain itu, kesibukan sehari-hari yang padat, terutama pada mereka yang hidup di kota besar, membuat orang sering makan tidak sesuai jadwal dan kemudian sebagai alternatif mengkonsumsi kudapan tanpa mempertimbangkan kandungan nutrisinya yang kurang memadai. Untuk mengatasi hal itu, dan tentunya untuk menjaga kesehatan, mereka harus memutuskan antara merubah pola makan, merubah gaya hidup atau mulai mengkonsumsi suplemen.

Mitos 2

“Jika telah mengkonsumsi suplemen kita tidak perlu lagi memperdulikan pola makan”

Fakta2

Tidak benar! Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, tiap orang harus menjaga variasi dan keseimbangan makanan mereka, khususnya menghindari makanan yang terlalu banyak lemak, garam dan gula. Suplemen hanya berfungsi untuk memenuhi kekurangan nutrisi yang tidak dapat terpenuhi dari makanan yang kita konsumsi. Faktanya, sekalipun suplemen dapat memenuhi kebutuhan nutrisi seperti vitamin dan mineral, beberapa komponen dari makanan tidak dapat tergantikan oleh suplemen, seperti karbohidrat, lemak, protein dan serat, yang semuanya sangat dibutuhkan tubuh.

Juga di era perkembangan teknologi dan komunikasi yang sangat cepat dan sejalan dengan itu persaingan kehidupan juga menjadi semakin ketat, pola makan sehat menjadi aspek yang paling mudah terbengkalai. Lebih buruk lagi, saat kompetisi semakin keras yang berujung pada stress, beberapa orang mulai mengkonsumsi alkohol dan rokok sebagai sarana pereda stress, yang pada akhirnya akan langsung berpengaruh pada memburuknya fungsi penyerapan nutrisi oleh tubuh.

Mitos 3

“Suplemen hanya dibutuhkan oleh para olahragawan dan binaragawan”

Fakta 3

Tidak benar! Semua orang, dalam kondisi tertentu dalam hidup mereka, dapat mengambil manfaat dari konsumsi suplemen, khususnya mereka yang tidak mengkonsumsi makananan sehat dengan pola makan tidak teratur, atau mereka yang dalam kondisi tertentu membutuhkan tambahan nutrisi. Dalam kenyataannya, kebutuhan akan vitamin dan mineral pada semua orang relatif tidak berbeda, baik pada atlit maupun pada tubuh orang biasa.

Mitos 4

“Suplemen lebih dibutuhkan oleh orang muda atau ibu hamil”

Fakta 4

Tidak benar! Semua orang pada usia berapapun yang tidak menjalankan pola makan sehat dapat memetik manfaat dari penggunaan suplemen. Hasil riset BRMB (Lembaga Riset Market Inggris) di tahun 1997 menyatakan bahwa satu dari tiga orang Eropa mengkonsumsi suplemen. Memang pada kenyataannya kebanyakan pengguna suplemen adalah wanita, yang mungkin mencerminkan tingginya tingkat kesadaran wanita akan kesehatan.

Juga fakta bahwa orang muda tidak mengkonsumsi suplemen sebanyak mereka yang lebih tua, kondisi ini menggambarkan bahwa semakin lanjut usia seseorang, semakin tinggi kepedulian mereka terhadap kesehatan. Untuk mereka, penggunaan suplemen adalah sebuah investasi untuk hari tua yang sehat, jauh dari penyakit.

Mitos 5

“Suplemen hanya dibutuhkan dalam periode yang singkat – suplemen dapat memulihkan kondisi dengan cepat”

Fakta 5

Tidak benar! Suplemen bukan obat yang dapat menyembuhkan penyakit dan mengembalikan kondisi dalam waktu singkat. Tubuh membutuhkan pasokan nutrisi yang stabil dan berkesinambungan untuk keperluan metabolisme serta pertumbuhan dan pemulihan, karena tidak semua nutrisi akan terus tersimpan dalam tubuh. Bila kita adalah tipe orang yang tidak dapat menjaga kualitas dan pola makan maka suplemen sebaiknya menjadi bagian dari rutinitas.

Namun pemahaman mendasar yang perlu diluruskan adalah; sekalipun suplemen dapat membantu menjaga dan memulihkan kondisi tubuh dari beberapa jenis penyakit tertentu, suplemen tidak menyembuhkan penyakit.

Khusus untuk pada perokok dan peminum minuman beralkohol, beberapa suplemen kesehatan yang mengandung vitamin dan mineral tertentu (VitaminC, Vitamin E, Selenium dan Zinc) dapat berfungsi sebagai antioksidan yang akan membantu mereka menjaga kesehatan. Namun karena kandungan yang ada didalam asap rokok akan menghilangkan kadar Vitamin C yang dikonsumsi, maka kebutuhan para perokok akan vitamin ini dua kali lipat dari mereka yang tidak merokok.

Mitos 6

“Suplemen tidak perlu dikonsumsi bersamaan dengan makanan”

Fakta 6

Sangat bergantung dari jenis suplemen yang dikonsumsi. Beberapa jenis vitamin yang larut dalam lemak seperti vitamin A, D, E & K sebaiknya dikonsumsi bersamaan dengan makanan, karena akan dapat lebih sempurna di serap tubuh, terutama jika ada makanan yang mengandung lemak dalam menu. Sebaliknya untuk jenis vitamin yang larut dalam air (B & C) tidak perlu dikonsumsi bersamaan dengan makanan.

Saat berolahraga, tubuh memproduksi radikal bebas lebih banyak dari pada biasanya sehingga untuk menghadapinya diperlukan lebih banyak pasokan antioksidan (beta-carotene, bioflavonoids, Vitamin C and Vitamin E), dan mineral yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tulang dan persendian(seperti kalsium dan zat besi).

Mitos 7

“Sebaiknya tidak mengkonsumsi banyak jenis suplemen secarabersamaan karena akan mengurangi manfaatnya”.

Fakta 7

Pada umumnya, mengkonsumsi beberapa suplemen secara berbarengan tidak mempengaruhi khasiatnya, bahkan dalam beberapa kasus justru akan menghasilkan sinergi yang bermanfaat bagi tubuh. Namun memang terkadang bisa terjadi kondisi dimana tubuh lebih cepat menyerap mineral tertentu, sehingga penyerapan mineral lainnya menjadi agak terganggu.

Oleh karenanya pemilihan suplemen berbentuk Multivitamin menjadi lebih menguntungkan karena mengandung beragam nutrisi yang telah dikombinasi dengan dosis yang tepat. Sebelum memutuskan untuk mengkonsumsi beberapa suplemen secara bersamaan sebaiknya melakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan arahan yang tepat.

Sejalan dengan bertambahnya usia, kemampuan tubuh dalam meyerap nutrisi dari makanan juga semakin berkurang sehingga konsumsi suplemen vitamin dan mineral dengan dosis yang tepat menjadi sangat penting. Contohnya; semakin berumur, tubuh kita akan semakin berkurang kemampuannya untuk menyerap zat besi hingga tambahan konsumsi Vitamin C akan membantu memperbaiki kondisi ini. Vitamin D penting untuk kekuatan tulang dan gigi sementara Vitamin E membantu menjaga kesehatan pembuluh darah.

Mitos 8

“Anda bisa mengalami overdosis suplemen”

Fakta 8

Benar! Seperti layaknya substansi lain yang kita konsumsi, kuncinya ada pada dosisnya. Terlalu banyak tentu akan merugikan karena dapat berdampak buruk buat tubuh. Mengkonsumsi vitamin dengan dosis berlebihan juga akan merugikan buat tubuh, sebagai contoh Vitamin A yang baik untuk kesehatan mata, jika dikonsumsi dalam dosis yang tidak tepat akan merugikan bagi ibu hamil karena justru akan memicu timbulnya gangguan kesehatan, salah satunya mengakibatkan sakit kuning. Penting untuk menjaga konsumsi suplemen dengan mengikuti anjuran yang tertera pada kemasan, karena dosis yang disarankan tentunya ada pada batas aman konsumsi. Juga penting untuk berkonsultasi dengan dokter karena kemampuan cerna vitamin pada tiap individu tidaklah sama.

Mitos 9

“Tidak ada yang mengetahui berapa dosis yang aman dalam mengkonsumsi suplemen”

Fakta 9

Tidak benar! Dosis aman konsumsi untuk vitamin dan mineral telah ditentukan di dunia kedokteran dan menjadi patokan baku untuk para produsen, untuk membuat produk yang aman dikonsumsi namun optimal dalam khasiatnya. Tentunya para produsen akan terus mengembangkan produknya dengan menggunakan informasi ilmiah yang paling mutahir, dengan tetap menjaga dosis aman bagi para pengguna produknya.

Mitos 10

“Beberapa suplemen dapat mengurangi daya kerja obat”

Fakta 10

Tidak benar! Suplemen tidak mengurangi daya kerja obat, namun dalam beberapa kasus ada hubungan saling mempengaruhi antara nutrisi dan daya kerja obat. Konsumsi beberapa jenis obat dapat mempengaruhi daya serap atau metabolisme tubuh terhadap beberapa nutrisi, contoh; beberapa jenis obat penyakit kulit menurunkan daya serap tubuh terhadap Vitamin B12 dan obat epilepsi “Phenytoin” merusak Asam Folat (folic acid) pada suplemen.

Sebaliknya, beberapa jenis nutrisi dapat mempengaruhi kerja obat, contoh; penyerapan beberapa jenis obat pada liver dapat terganggu jika yang bersangkutan mengalami kekurangan Vitamin (vitamin deficiency).

Mitos 11

“Berbahaya jika terlalu banyak Vitamin C”

Fakta 11

Tidak benar! 20 makalah klinis yang dipublikasi oleh ilmuwan Inggris di tahun 1998 menyatakan bahwa Vitamin C masih tetap aman dikonsumsi sampai dengan dosis 6 gram per hari, sementara kandungan Vitamin C dalam suplemen yang beredar di masyarakat, rata-rata hanya sampai 1000 miligram.

Mitos 12

“Vitamin B6 menyebabkan kerusakan syaraf”

Fakta 12

Tidak benar! Tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan adanya bahaya dalam mengkonsumsi vitamin B6. Pendapat kontroversial yang menyatakan bahwa Vitamin B6 menyebabkan kerusakan syaraf terpicu saat pemerintah Inggris membatasi perdagangan Vitamin B6 di tahun 1998, karena adanya pendapat bahwa konsumsi dengan dosis antara 2 sampai 6 gram per hari dalam periode yang panjang, dapat mengakibatkan kerusakan syaraf. Pemerintah Inggris kemudian membatalkan aturan tersebut karena ternyata pendapat tersebut secara ilmiah tidak terbukti kebenarannya.

Satu respon to “Suplemen Kesehatan, Perlukah?”

  1. bagus says:

    Terimakasih atas informasinya sungguh sangat membantu…



Trackbacks/Pingbacks


Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu