dalam kategori | Layanan Kesehatan

Stem cell research, antara moral dan etika

Stem cell research, antara moral dan etika

Penelitian menggunakan stemcell atau yang lebih dikenal dengan istilah “Stemcell research” merupakan metode terbaru dalam bidang kedokteran dan biologi yang pada dasarnya dilakukan untuk menemukan solusi terbaik dalam mengobati berbagai penyakit yang sulit dicari obatnya seperti leukimia, Alzheimer, diabetes, dan penyakit Parkinson. Namun karena stemcell research menggunakan “manusia atau bagian dari manusia” sebagai bahan dasarnya, metode tersebut menyebabkan timbulnya pro dan kontra, terutama dari segi moral dan etika.

Islam, sebagai agama yang berdasarkan kepada moral dan etika yang tinggi, tentu saja tidak dapat melepaskan diri dari perbedaan pendapat tersebut. Pandangan Islam mengenai Stemcell Research dapat menjadi masukan dan panutan yang sangat berharga bagi perkembangan stemcell research tersebut dan juga menghilangkan keraguan bagi pemeluknya yang bekerja atau berhubungan dengan stemcell research ataupun yang mempunyai penyakit yang membutuhkan pengobatan melalui stemcell research tersebut.

Definisi Stemcell dan Stemcell Research

Stemcell research adalah suatu metodologi penelitian yang menggunakan stemcell sebagai bahan dasarnya. Umumnya stemcell research diarahkan untuk “membuat” sel-sel tertentu yang merupakan bagian dari jaringan dan organ tertentu yang nantinya dapat digunakan untuk menyembuhkan suatu penyakit yang yang berhubungan dengan jaringan atau organ yang “dibuat” tersebut. Sel-sel “buatan” tersebut selanjutnya dijadikan sebagai donor bagi penderita penyakit tertentu.

Bahan dasar bagi penelitian tersebut ialah kelompok sel yang disebut sebagai stemcells yang diambil dari makhluk hidup (manusia). Stemcells adalah sel atau kelompok sel yang belum atau sedikit mengalami differensiasi sehingga mempunyai potensi yang sangat besar untuk di”atur” dan di”arahkan” menjadi jaringan atau organ yang di”rencanakan” oleh si peneliti.

Secara umum, potensi sel untuk berdeferensiasi dibedakan menjadi empat yaitu: totipotent, pluripotent, multipotent, dan unipotent. Sel dikatakan bersifat totipotent apabila sel tersebut belum mengalami perubahan menuju bentuk tertentu (diferensiasi) dan mempunyai potensi untuk menjadi semua jaringan dan organ tubuh pembentuk makhluk hidup (manusia). Sel yang totipotent ini akan membentuk manusia utuh apabila di”tanam” di dalam kandungan (uterus). Contoh sel yang totipotent ini adalah sel telur yang baru saja dibuahi dan baru mengalami beberapa pembelahan (very early embryonic stages).

Sel yang pluripotent adalah sel yang telah mengalami sedikit diferensiasi dan mempunyai kemampuan untuk membentuk banyak jaringan dan organ tubuh. Contoh sel yang pluripotent adalah sel yang diambil dari bagian dalam (inner cell mass) dari embryo yang berumur empat hari lebih dan kurang dari tiga bulan.

Multipotent sel adalah sel yang telah lebih jauh mengalami diferensiasi sehingga hanya mampu membentuk beberapa jaringan dan organ tubuh saja. Contoh sel yang multipotent adalah sel darah yang hanya mampu membentuk jaringan darah dengan membentuk sel darah merah serta sel-sel lain yang berhubungan dengan darah misalnya leukocytes (darah putih) dan plateletts.

Sel yang unipotent adalah sel yang telah jelas arahnya yaitu membentuk satu macam jaringan atau organ saja. Sebagian besar sel manusia mempunyai sifat yang unipotent.

 

Sel yang totipotent dan unipotent bukan merupakan “bahan” yang baik untuk stemcell research. Totipotent sel sangat sulit dikontrol sedangkan unipotent sel sangat sulit diubah atau diarahkan untuk membentuk sel dan jaringan yang diinginkan. Sel yang pluripotent dianggap sebagai sel yang paling baik untuk keperluan stemcell research. Karena diambil dari embrio, maka sel pluripotent tersebut dikenal pula sebagai Embryonic Stemcells. Multipotent sel juga banyak digunakan untuk stemcell research sebagai alternative dari penggunaan embryonic stemcells. Karena multipotent sel lebih akhir masa pembentukannya atau lebih dewasa, maka sel tersebut dikenal dengan istilah Adult Stemcells. Contoh adult stemcells adalah sel darah, sel dari sumsum tulang belakang (bone marrow), dan tali pusat (umbilical cord).

Cara mendapatkan stemcells

1. Cara mendapatkan embryonic stemcells

Ada beberapa cara untuk mendapatkan embryonic stemcells, yaitu:

  1. Mengambil dari cabang bayi (embrio) yang di”donorkan” orang tuanya.
  2. Mengambil dari embrio yang digugurkan atau keguguran.
  3. Mengambil dari embrio “sisa pembuatan” bayi tabung.
  4. Mengambil dari embrio yang “dibuat” secara therapeutic cloning.

Cara yang pertama hampir tidak pernah dilakukan, kalaupun ada proses tersebut lebih dekat ke proses nomor dua yaitu embrio yang didonorkan tersebut memang embrio yang telah direncanakan untuk digugurkan atau tidak diinginkan kehadirannya. Cara nomor 2 dan 3 merupakan cara yang paling umum digunakan oleh peneliti untuk mendapatkan stemcells. Cara ke 4 merupakan cara yang paling rumit karena harus “membuat” embrio terlebih dahulu dengan jalan menyuntikkan inti sel (nucleus) dari sel dewasa ke dalam sel telur yang telah diambil nucleusnya. Cara ini dikenal dengan istilah somatic cell nuclear transfer (SCNT) yang juga digunakan untuk “membuat” atau mengkloninng Doli si domba ajaib beberapa tahun yang lalu. Semua cara di atas harus merusak atau “membunuh” embrio agar dapat mengambil embryonic stemcellsnya (inner cell mass).

2. Cara mengambil adult stemcells

Adult stemcells dapat diambil dari sel atau jaringan dari tubuh orang dewasa, anak-anak, hewan, dan tali pusat. Beberapa adult stemcells yang sering digunakan dalam stemcell research dan pengobatan adalah haemapoetic stemcells (stemcells darah) yang umumnya didapatkan dari sumsum tulang belakang (bone marrow) dan neuronal stemcells yang diambil dari bagian otak manusia. Pengambilan adult stemcells tidak harus “merusak” atau “membunuh” donor karena hanya sebagian kecil jaringan saja yang diambil. Akhir-akhir ini, adult stemcells juga diambil dari orang yang sudah meninggal.

Kontroversi stemcell research

Kontroversi mengenai stemcell research umumnya berkisar kepada segi moral dan etika, karena stemcell research menggunakan organ atau jaringan manusia sebagai bahan dasarnya. Umumnya kontroversi tersebut berkisar pada penggunaan embryonic stemcells karena harus merusak atau membunuh (mengurbankan) embrio (cabang bayi) dalam proses pengambilannya. Kalangan yang kontra dengan embryonic stemcell research berpendapat bahwa membunuh “calon” manusia untuk kepentingan stemcell research tersebut tidak dibenarkan secara moral.

Kelompok yang pro dengan embryonic stemcell research terbagi menjadi beberapa kelompok, yaitu:

1. Kelompok yang mendukung stemcell research secara total dan menilai bahwa embryonic stemcells tidak mempunyai nilai moral. Kelompok ini mendukung semua bentuk stemcell research dan cara mendapatkan stemcells tersebut.

2. Kelompok yang memberikan nilai moral kepada embryonic stemcells namun menganggap bahwa manfaat yang didapatkan dari stemcell research tersebut jauh lebih besar dari “pengorbanan” yang dilakukan. Kelompok ini umumnya lebih hati-hati dan lebih menyarankan penggunaan “sisa” embryo dari klinik bayi tabung sebagai sumber bahan penelitin tersebut. Mereka memperkirakan bahwa ratusan ribu embryo tidak terpakai tersimpan di berbagai klinik bayi tabung. Banyaknya sisa embryo tersebut dikarenakan dalam proses pembuatan bayi tabung biasanya 10 sampai 12 sel telur yang dibuahi, tetapi hanya 3 atau 4 saja yang ditanam di dalam kandungan. Sebagian besar sisa embryo tersebut umumnya akan dibuang, hanya sebagian kecil saja digunakan oleh pasangan lain yang menginginkan anak. Dengan demikian penggunaaan sisa embrio tersebut sebagai bahan stemcell research dianggap lebih baik daripada dibuang sia-sia. Sebagian dari mereka juga menyarankan pembuatan embrio melalui SCNT dan kemudian memanen embrio tersebut sebagai bahan stemcell research.

Bagi kelompok yang kontra, embrio buatan melalui SCNT maupun sisa embrio dari klinik bayi tabung tetap merupakan “calon manusia” yang tidak boleh dibunuh atau dirusak. Namun umumnya mereka tidak tahu apa sebaiknya yang dilakukan terhadap sisa embrio dari klinik bayi tabung yang sudah harus dibuang karena sudah terlalu lama atau tak ada tempat penyimpanannya lagi.

Penggunaan adult stemcells sebagai bahan stemcell research tidak menimbulkan kontroversi karena proses pengambilan adult stemcells tersebut tidak bertentangan dengan moral dan etika kemanusiaan. Namun sebagain besar peneliti stemcell research kurang tertarik dengan penggunaan adult stemcells tersebut sebagai bahan penelitian mereka karena sel atau jaringan yang terbentuk dari adult stemcells tersebut sangat terbatas.

Dari segi pengobatan, adult stemcells dianggap lebih baik karena umumnya diambil dari penderita sendiri sehingga tidak ada masalah dengan penolakan ketika ditransplantasikan ke tubuh penderita tersebut. Salah satu contohnya adalah pengobatan leukimia dengan jalan transplantasi sumsum tulang belakang. Salah satu kelemahan penggunaan adult stemcells untuk pengobatan adalah waktu yang cukup lama yang dibutuhkan untuk menumbuhkan stemcells tersebut agar cukup saat transplantasi. Waktu yang lama tersebut terkadang menjadi terlambat bagi penderita yang sudah sangat parah. Sumsum tulang belakang dapat pula didonorkan dari keluarga atau orang lain, namun resiko penolakan dari tubuh penderita sangat besar yang dapat membahayakan si penderita tersebut.

Mengenai kontorversi moral dan etika stemcell research, pemerintah Amerika Serikat, cukup arif dalam memandang perbedaan tersebut. Untuk mengakomodisir kedua pihak yang berseberangan, pemerintah Amerika Serikat membentuk satu tim penasehat presidenan yang dikenal sebagai BIOETHICS COMMITTEE. Tugas dari komite tersebut adalah memberikan nasehat kepada presiden Bush mengenai masalah-masalah moral dan etika yang muncul akibat perkembangan teknologi dan penelitian biomedis. Komite tersebut juga bertugas untuk mencari masukan mengenai isu-isu yang muncul dan berkembang dari penggunaan teknologi tinggi terutama dalam bidang biologi kedokteran serta sekaligus memonitor perkembangan stemcell research.

Kebijakan yang diambil oleh presiden Bush mengenai stemcell research adalah bahwa Pemerintah Amerika Serikat tidak membiayai stemcell research kecuali research tersebut menggunakan bahan dari 64 stemcell lines yang sudah terdaftar di National Institute of Health (NIH). Dari 64 lines tersebut, hanya 20 lines ada di Amerika Serikat, 19 lines di Swedia, dan sisanya tersebar dibeberapa negara. Selanjutnya NIH ditunjuk oleh pemerintah Amerika Serikat sebagai agen yang mengatur penggunaan dana (Federal funds) bagi stemcell research tersebut.

Alasan hanya membiayai stemcell research dari stemcell lines yang sudah ada adalah agar stemcell research tersebut tetap berjalan (mengakoodisir peneletian stemcell research) namun juga untuk mengakomodisir kubu yang kontra yang tidak menginginkan pajak mereka digunakan untuk membiayai penelitian yang mereka tidak setuju.

Kebijakan pemerintah Amerika Serikat tersebut ternyata kurang berkenan bagi para peneliti stemcell research dan beberapa tokoh masyarakat karena dianggap sangat terbatas dan mengakibatkan perkembangan stemcell research di Amerika sangatlah lambat. Hal lain yang dikhawatirkan adalah larinya peneliti-peneliti handal ke negara yang bermodal besar.

Walaupun pemerintah Amerika Serikat tidak melarang peneliti untuk menggunakan stemcells dari embrio baru dengan menggunakan dana swasta, namun dana swasta tersebut dianggap sangatlah kecil. Beberapa aktor terkenal seperti almarhum Christopher Reeve (mantan bintang film pemeran Superman dan juga penderita kerusakan saraf tulang belakang) dan Micahel J. Fox (penderita Parkinson) membentuk organisasi yang bertujuan untuk mengumpulkan dana bagi stemcell research.

Menurut pandangan Islam

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan moral dan etika. Selain itu, Islam adalah agama yang berdasarkan pada akal, seperti sabda nabi bahwa tiada agama bagi yang tiada berakal. Sebagai agama yang berdasarkan akal tersebut, Islam sangat mendukung ilmu pengetahuan dengan menganjurkan pemeluknya (muslimin dan muslimah) untuk terus mempelajari ilmu pengetahuan tersebut dimulai dari usia yang sangat dini (dalam ayunan) sampai mati.

Walaupun tidak secara gamblang dinyatakan di dalam AlQur’an mengenai stemcell research, namun sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, stemcell research mendapat kedudukan yang mulia dalam pandangan Islam. Islam mewajibkan umatnya untuk mempelajari ilmu tersebut secara mendalam sebagai pengabdian dan pengakuan terhadap kekuasaan Allah (Habluminallah) dan juga sebagai bentuk tanggung jawab terhadap sesama manusia (hamblumminannaas). Namun sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, agama Islam juga tidak melupakan nilai moral dan etika dalam penelitian tersebut. Karena belum ada hukum Islam yang mengatur mengenai Stemcell research, maka masalah ini akan menimbulkan pro dan kontra pada banyak ulama dan ahli fiqh terutama pada penggunaan embryonic stem cells.

Secara hukum, penggunaan embryonic stem cells lebih dekat dengan hukum menggugurkan kandungan yang “diharamkan” menurut Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Musyawarah Ulama tahun 1972 dan Musyawarah Nasional (Munas) MUI tahun 1983. Namun Fatwa MUI tersebut ada pengecualiannya yaitu memperbolehkan menggugurkan kandungan apabila kandungan tersebut membahayakan si ibu atau membawa penyakit menular yang berbahaya. Karena pengguguran kandungan untuk tujuan riset (stemcell research) sangatlah berbeda dengan pengguguran kandungan dengan alasan kesehatan, maka diperlukan hukum atau dalil tersendiri untuk memutuskan boleh tidaknya stemcell research dengan menggunakan embryonic stemcell dari hasil menggugurkan kandungan. Tidak disangsikan lagi, hukum tersebut akan menimbulkan perdebatan yang cukup alot antara kubu yang pro dan kontra stemcell research. Apapun keputusannya, stemcell research dengan menggunakan embryonic stemcell kemungkinan besar akan terus berlanjut.

Pemanfaatan janin yang mengalami keguguran atau janin “sisa” hasil pembuahan bayi tabung untuk kepentingan stemcell research mungkin tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Janin tersebut lebih berguna daripada dibuang secara sia-sia. Pemanfaatan tersebut dapat juga menjadi ibadah bagi pelakunya karena digunakan untuk kemaslahatan umat manusia. Khusus mengenai bayi tabung, fatwa MUI memperbolehkan asal sel telur dan sperma untuk membuat bayi tersebut adalah dari kedua orang tua yang sah menurut hukum Islam, sehingga janin sisa tersebut dapat digunakan untuk kepentingan stemcell research.

Pembuatan stemcells melalui SCNT (kloning) mempunyai tendensi untuk menimbulkan perdebatan yang sengit pula. Selama ini belum ada fatwa ataupun hukum fiqih yang mengatur mengenai kloning tersebut. Walaupun demikian, sebagian besar ulama “mengharamkan” kloning dengan alasan proses tersebut tidak melalui hukum Islam (misalnya perkawinan) dan ikut campurnya fihak ketiga dalam proses reproduksi tersebut. Namun, perlu diperhatikan bahwa kloning untuk keperluan stemcell research mungkin berbeda dengan kloning untuk mendapatkan keturunan yang dalam hukum Islam harus melalui ikatan perkawinan. Jika dirunut secara teliti, proses kloning sebenarnya merupakan pembuktian kebenaran AlQur’an dalam proses pembuahan Nabi Isa A.S., yang tiada berayah.

Islam adalah agama yang sederhana dan mudah dimengerti dan diamalkan oleh umat manusia. Dalam Islam, niat merupakan sesuatu yang sangat fundamental. Dengan demikian, niat dalam melaksanakan stemcell research tersebut sangat menentukan baik buruknya stemcell research. Apabila stemcell research digunakan untuk membantu umat manusia, misalnya menyembuhkan manusia dari berbagai penyakit, maka kegiatan tersebut adalah sangat baik. Sebaliknya, apabila digunakan untuk kejahatan (misalnya menciptakan monster yang mengganggu umat manusia), maka kegiatan tersebut sangat berlawanan dengan ajaran Islam dan wajib untuk ditentang. Selanjutnya, cara pengambilan dan penggunaan embryonic stemcell untuk stemcell research tersebut perlu diperhitungkan pula dalam pembuatan fatwa tersebut. Apakah cara pengambilan tersebut disamakan dengan pembunuhan (pengorbanan/sacrifice) atau tidak? Kalaupun boleh “digugurkan” atau “dikurbankan”, batasan umur berapa janin tersebut boleh digugurkan? (Note: embryonic stemcell diambil dari janin yang masih sangat muda, sekitar 4 s/d dibawah 3 bulan). Banyak kalangan yang berpendapat bahwa sebelum ditiupkan ruh ke dalam janin tersebut (sekitar hari ke 40), maka janin tersebut belum merupakan “manusia”, sehingga mengambil janin dibawah usia tersebut tidak dianggap sebagai pembunuhan. Karena perbedaan tersebut, maka sangatlah baik lagi apabila tokoh-tokoh Islam, misalnya Majelis Ulama Indonesia (MUI), mengatur atau mengeluarkan fatwa mengenai stemcells research tersebut termasuk cara mendapatkan embryonic stemcells yang tidak bertentangan dengan moral dan etika Islam. Aturan dan fatwa tersebut dapat menjadi acuan bagi pemerintah untuk membuat peraturan mengenai stemcell research, dan sekaligus acuan buat kaum muslim yang terlibat dalam penelitian tersebut. Sebelum menerbitkan fatwa tersebut, ada baiknya agar MUI mempelajari lebih jauh mengenai stemcell research, mencari masukan serta mengambil nasehat dari ahli-ahli biologi atau kedokteran yang terlibat dalam penelitian tersebut. Sehingga, fatwa dari MUI tersebut dapat menjadi arahan moral dan etika yang sangat berharga bagi pelaksanaan stemcell research. Perlu diperhitungkan pula bahwa fatwa tersebut tidak bertentangan atau membatasi perkembangan ilmu pengetahuan karena apabila hal ini terjadi, maka “religion against science” dapat timbul di dunia Islam yang nota bene adalah pendukung dan penganjur ilmu pengetahuan. Wallahu’alam bisssawab!

 

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu