dalam kategori | Layanan Kesehatan

SpotDokter, Sediakan Info Kesehatan dalam Genggaman

SpotDokter, Sediakan Info Kesehatan dalam Genggaman

Ingin mencari informasi kesehatan dan jadwal praktik dokter? Gampang, unduh saja aplikasi SpotDokter lewat ponsel Anda – berbasis iOS, BlackBerry ataupun Android. Maka berbagai informasi seputar jadwal praktik dokter, direktori alamat rumah sakit (RS), klinik, laboratorium, apotek, dsb., bisa Anda peroleh.

Aplikasi ini dikembangkan oleh tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, yakni Mendy Candella, Pascal Christian dan Jaka Pradipta. “Ide membuat aplikasi mobile seputar informasi kesehatan muncul ketika saya sedang menjalani masa praktik ilmu kesehatan masyarakat di sebuah puskesmas di Bandung pertengahan tahun lalu,” ujar Mendy. “Selama tugas di sana saya melihat masyarakat kesulitan untuk mendapatkan informasi kesehatan.”

Untuk merealisasi idenya tersebut, Mendy mengajak teman kuliahnya, Pascal, yang mengerti bahasa pemrograman dan Jaka untuk membantu memasarkan aplikasinya itu. Setelah menggodok business plan, pada September 2011 mereka pun mengajukannya ke sebuah inkubator start-up, yakni Project Eden – yang saat itu memang sedang mengadakan lomba pencarian start-up pilihan. Aplikasi SpotDokter yang mereka ajukan terpilih sebagai pemenang.

Di bawah bimbingan mentor dari Project Eden, secara teknis SpotDokter terus disempurnakan. Akhirnya, SpotDokter diluncurkan pada 9 Februari 2012, di bawah bendera PT SpotMed Group.

Fitur yang terdapat dalam aplikasi SpotDokter mencakup: jadwal praktik dokter, peta, pencarian berdasarkan lokasi-waktu-fasilitas, emergency call, dan berita kesehatan terbaru. “Yang menarik, pada aplikasi ini pengguna bisa mencari rumah sakit atau klinik terdekat dari posisinya berada tanpa memasukkan data posisi pengguna. Pengguna juga bisa langsung menekan tombol emergency call jika membutuhkan bantuan ambulans,” Mendy menjelaskan.

Diterangkan Mendy, yang bertindak sebagai CEO SpotMed, model bisnis SpotDokter menawarkan direktori RS, klinik, lab dan apotek buat para pengguna aplikasi. Sebaliknya, aplikasi SpotDokter juga dapat menjadi sarana promosi bagi RS, apotek, lab dan dokter. “Sebenarnya, kami sudah memiliki database sekitar 1.500 rumah sakit yang disajikan gratis bagi pengguna aplikasi. Namun data yang kami berikan hanya data basic, seperti alamat, nomor kontak, e-mail, dan peta lokasi rumah sakit,” ujar Mendy. “Jika pihak rumah sakit ingin memberikan data yang lebih lengkap, seperti jadwal praktik dokter, gambar rumah sakit, dan data lainnya, akan dikenakan biaya melalui paket premium,” tambahnya.

Ditambahkan Jaka, untuk menambah direktori yang lebih lengkap, melalui paket premium, institusi kesehatan dikenakan biaya berkisar Rp 5-15 juta. Selain itu, pihak RS juga bisa melakukan promo melalui artikel kesehatan yang ada di aplikasi SpotDokter. “Bentuknya promoted article yang di dalamnya terdapat kata-kata sponsor. Jadi ada edukasi yang diberikan ke pembaca artikel tersebut,” ujar Jaka, yang bertindak sebagai CMO.

Untuk mendapatkan layanan promo melalui artikel kesehatan ini, biaya yang harus dikeluarkan institusi kesehatan berkisar Rp 3-10 juta.

Saat ini, fasilitas SpotDokter juga mulai ditawarkan ke klinik kecantikan yang sedang menjamur. “Selama ini media promosi untuk klinik dan rumah sakit sangat terbatas. Paling-paling hanya melalui website,” ujar Jaka.

Dari 1.500 data RS yang ada, SpotDokter baru menjalin kerja sama premium dengan sekitar 10 RS dan lima RS dengan sistem barter. Kendati begitu, diklaim Mendy, keberadaan aplikasi SpotDokter ini cukup berhasil. Terbukti, jumlah pengguna atau pengunduh aplikasi mencapai 20 ribu. Selain itu, peringkat kepuasan pelanggan terus meningkat di Apps Store, Apps World, dan Android Market. Begitu pula feedback dari pengguna.

Mereka menargetkan tahun ini dapat menjalin kerja sama premium dengan 30 RS, 50 klinik, 10 lab dan 15 apotek. Selain itu, jumlah pengguna diharapkan bisa mencapai lebih dari 50 ribu. “Untuk mengundang pengguna atau pengunduh, kami menggunakan saluran media sosial seperti Twitter, Facebook, YouTube, dan juga bekerja sama dengan person di Twitter yang memiliki follower banyak,” papar Jaka.

“Sudah ada tiga investor dalam negeri yang tertarik dengan SpotDokter. Cuma memang kami masih mencari bentuk nanti akan bagaimana,” Mendy menambahkan.

Menurut Calvin Kizana, yang bertindak sebagai mentor, ketika menerima proposal yang dikirim Mendy dkk., pihaknya menilai aplikasi SpotDokter ini tergolong unik. Pasalnya, start-up jarang masuk ke area healthcare, karena umumnya mereka membuat media sosial dan game. “Mereka berhasil meyakinkan kami, baik dari sisi teknis hingga ke monetization-nya. Dan, yang membuat kami senang adalah mereka itu dokter, sehingga mereka paham benar permasalahan kesehatan yang dihadapi saat ini,” ungkap Calvin, yang juga CEO PT Elasitas Multi Kreasi – perusahaan digital yang banyak mengembangkan aplikasi mobile.

Selama masa mentoring sekitar 6 bulan, dikatakan Calvin, SpotDokter mengalami penguatan dari sisi teknis (termasukporting ke BlackBerry) dan memperbanyak basis data institusi kesehatan. Saat ini, Project Eden belum fokus untuk mencari iklan dulu, melainkan memperluas penggunaan aplikasi ini oleh masyarakat. “Yang mereka butuhkan dari kami adalah jaringan dan bagaimana memasarkan produk mereka,” Calvin menjelaskan. “Tahap selanjutnya, membantu mencarikan investor dalam jaringan yang kami miliki,” ia menambahkan.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu