dalam kategori | Penyakit

Sleeping beauty, sindroma Kleine-Levin

Sleeping beauty, sindroma Kleine-Levin

Dongeng Putri Tidur menjadi kenyataan bagi Louisa Ball. Remaja berusia 15 tahun itu dijuluki ‘Sleeping Beauty’ karena terus tertidur dan tidak bangun-bangun selama 2 minggu. Ball didiagnosa mengidap penyakit Kleine-Levin Syndrome.

Kebiasaan tidurnya yang panjang itu dimulai pada tahun 2008 setelah ia sembuh dari penyakit flu. Namun baru tahun lalu Ball diketahui mengidap penyakit Kleine-Levin Syndrome, yaitu penyakit yang membuat hormon tidurnya terus bekerja.

Sindrom Kleine-Levin.

Sindrom Kleine-Levin (Kleine-Levin Syndrome disingkat KLS) adalah penyakit syaraf yang langka dimana penderita tidak bisa mengontrol rasa kantuknya. Penderita bisa tertidur selama berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bisa berbulan-bulan, tergantung pada berapa lama penyakit itu muncul dan kambuh. Kleine-Levin sindrom ini pertama kali diberi nama dan dilaporkan secara ilmiah oleh Willi Kleine dan Max Levin pada tahun 1925. Sindrom ini pertama kali ditemukan oleh dokter Prancis Pierre Edmé Chauvot de Beauchèmoda pada tahun 1786.

Penderita bisa bangun hanya untuk makan atau pergi ke kamar mandi. Penderita bisa dibangunkan oleh orang lain, tetapi penderita selalu mengeluh merasa capek dan letih. Ketika penderita bangun penderita bertingkah seperti anak kecil karena sebagian memorinya ingatannya terhapus pada saat penderita tertidur, banyaknya ingatan yang terhapus tergantung dari seberapa lama penderita tidur. Dan penderita sensitif terhadap suara dan cahaya ketika bangun. Penyakit ini kambuh tanpa peringatan. Sebagian penelitian di Amerika Serikat mempercayai penyebab penyakit KLS adalah mutasi gen atau DNA yang dibawa oleh orang tua penderita. Tetapi penyebab pasti KLS masih belum diketahui. Sementara beberapa peneliti berspekulasi bahwa mungkin ada kecenderungan turunan atau gangguan autoimun. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa mungkin ada kaitannya dengan defisiensi dopamin karena adanya kepadatan transporter di bawah striatum susunan saraf pusat di otak.

Penelitian yang telah dilakukan pada 108 penderita KLS didapatkan lebih sering pada jenis kelamin laki-laki dibandingkan perempuan dengan rasio 3:1. Rata-rata usia penderita adalah 15,7 tahun, dengan 81,7% mengalami episode pertama mereka antara 10 dan 20 tahun. Usia berkisar antara 6 sampai 59 tahun ketika pasien mengalami episode pertama mereka. Penderita perempuan cenderung menjadi sedikit lebih tua dari laki-laki saat onset pertama, meskipun mereka cenderung mengalami pubertas lebih awal. Faktor ras ternyata berpengaruh, KLS lebih sering tigal frekuensinya pada ras Kaukasia, dan enam kali lebih sering pada ras Yahudi.

Gejala yang dialami penderita saat itu banyak diam dan terus-menerus mengeluh kepalanya terasa aneh dan merasa tak enak badan. Setelah itu penderita terus tertidur, menolak meninggalkan tempat tidur selama 25 hari. Setiap hari hampir tak makan dan minum, tertidur 23 jam sehari. Waktu satu jam bangun hanya digunakan untuk makan dan minum sebentar kemudian tidur lagi. Penderita mengalami hipersensitif rangsangan sensoris atau peka terhadap suara bising dan cahaya. Wajahnya bagai kaca, tanpa ekspresi, kaku dan mudah marah. Dia banyak bicara, ekspresif, emosional.

Perubahan perilaku makan selama serangan timbul, dialami oleh sebagian besar penderita sindrom putri tidur, dengan mayoritas ini menunjukkan megaphagia atau banyak makan. Pasien cenderung mengkonsumsi berlebihan karena mereka akan mengkonsumsi apapun yang ditempatkan di depannya tanpa memilih disantapnya. Hampir 50% dari penderita sindrom putri tidur juga mengalami semacam perilaku hiperseksual saat serangan, gangguan pergaulan , masturbasi. Laki-laki lebih cenderung mengalami perilaku hiperseksual daripada perempuan.

Sindrom putri tidur, diduga berkaitan dengan gangguan fungsi hipotalamus, yaitu bagian otak yang mengatur selera makan dan tidur. Biasanya penyakit ini muncul ketia seseorang menginjak dewasa dan dialami lebih banyak dialami pria ketimbang wanita. Beberapa peneliti berspekulasi bahwa mungkin faktor turun-temurun atau hasil dari gannguan autoimun adalah penyebab dari penyakit ini. Gejala awal munculnya kasus sindrom putrid tidur ini adalah hipersomnia.

Dokter akan memberikan obat stimulan agar pasien tetap terjaga meski sebenarnya belum ada pengobatan definitif untuk penyakit ini. Menurut dokter, biasanya, sindrom putri tidur itu menyerang remaja yang berusia antara 8 hingga 12 tahun. Namun, lama kelamaan, sindrom putri tidur ini akan hilang dengan sendirinya.

Penyakit itu tak bisa disembuhkan, namun ada sejumlah terapi yang bisa meningkatkan kualitas hidup penderita. Tidak ada pengobatan definitif untuk Kleine-Levin syndrome. Terapi obat-obatan timulan , seperti amfetamin , methylphenidate , dan modafinil , diberikan secara oral, dapat digunakan untuk mengobati kantuk, tapi sayangnya tidak memperbaiki kognisi atau keadaan perubahan mental. Ada beberapa kesamaan antara Kleine-Levin syndrome dan gangguan bipolar, sehingga pemberian lithium dan karbamazepin dilaporkan bermanfaat dalam beberapa kasus dalam pencegahan. Gangguan ini harus dibedakan dari siklus terjadinya gangguan tidur selama periode pramenstruasi pada anak perempuan remaja yang dapat dikontrol dengan kontrasepsi hormonal .

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu