dalam kategori | Tips Kesehatan

Sindrom malabsorpsi, gangguan penyerapan makanan

Sindrom malabsorpsi, gangguan penyerapan makanan

Apakah Anda sering menderita nyeri perut, merasa kembung di sekitar pusat atau perut bawah, perut terasa membesar atau frekuensi buang angin berlebihan di atas 20 kali dalam sehari? Jika iya, sebaiknya Anda mulai waspada. Menurut dr H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, mungkin saja Anda mengalami gangguan sindrom malabsorpsi.

Dokter spesialis gastroenterologi ini memaparkan sindrom malabsorpsi adalah gangguan penyerapan makanan dalam saluran cerna bagian bawah. Hal ini berhubungan dengan kurangnya enzim pencernaan. Enzim merupakan protein berbentuk bundar yang diperlukan untuk semua reaksi kimia yang berlangsung di dalam tubuh. Sebagian kecil enzim diproduksi di kelenjar liur di bagian mulut. Namun, kebanyakan enzim pencernaan diproduksi oleh kelenjar pankreas. Adapun enzim pencernaan adalah lipase (berfungsi merombak lemak), protease (merombak protein), amilase (memecah amilum/karbohidrat), dan laktase (mengurai laktosa).

Ari menyebutkan enzim merupakan komponen penting yang diperlukan untuk proses pencernaan dan penyerapan makanan. Tanpa enzim yang cukup di dalam pencernaan manusia, makanan yang masuk tidak dapat diserap oleh usus. Tanpa bantuan enzim, semua bahan makanan yang masuk ke dalam tubuh manusia jadinya sekadar numpang lewat.

“Pemahaman masyarakat tentang pengaruh enzim terhadap pencernaan masih sangat rendah. Orang selalu mengaitkan masalah pencernaan dengan penyakit maag,” katanya.

Enzim merupakan protein berbentuk bundar yang diperlukan untuk semua reaksi kimia yang berlangsung di dalam tubuh. Sebagian kecil enzim diproduksi di kelenjar liur di bagian mulut.

“Jika tubuh kekurangan enzim, perut mudah berontak saat mengkonsumsi makanan-makanan tertentu. Karena itu penderita mudah sekali terkena diare,” katanya.

Menurut dia, jika seseorang mengalami kekurangan enzim pencernaan, dia dapat mengalami gangguan pencernaan (maldigesti) yang selanjutnya dapat mengakibatkan timbulnya gangguan penyerapan atau malabsorpsi. “Jika seseorang kekurangan enzim pencernaan, perutnya akan langsung memberontak saat mengkonsumsi makanan-makanan jenis tertentu, tergantung jenis enzim yang kurang,” ia mengungkapkan dalam media edukasi di Jakarta. Misalnya, apabila seseorang kekurangan enzim amilase, setiap dia mengkonsumsi makanan, seperti roti atau mi, akan langsung menderita diare.

“Tubuh menjadi rentan terkena penyakit. Gampang terkena flu dan sakit-sakitan. Minum aneka suplemen vitamin dan mineral tidak membantu, karena yang dibutuhkan adalah sebenarnya enzim untuk membantu percernaan menyerap zat-zat makanan yang dibutuhkan tubuh,” tuturnya.

Penelitian yang dilakukan di RSCM pada 2002 itu memperlihatkan penyebab tertinggi kasus diare kronis noninfeksi yang terjadi di rumah sakit tersebut adalah maldigestasi karbohidrat, yaitu sebanyak 62,6 persen. Menurut Ari, kasus gangguan malabsorpsi karbohidrat lebih tinggi dibanding malabsorpsi protein atau lemak. Dokter yang juga menjabat Wakil Sekjen Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Gastroenterologi Indonesia ini menambahkan, dalam tingkat kronis, gangguan kekurangan enzim dapat menyebabkan penderita mengalami malgizi atau kekurangan gizi yang mengakibatkan berat badan berkurang dan daya tahan tubuh menurun.

Usia yang semakin bertambah menyebabkan enzim yang diproduksi tubuh menurun. Selain itu, salah satu faktor pemicu munculnya gangguan enzim adalah kecenderungan pola makan masyarakat yang buruk. “Seperti makan berlebihan atau dalam jumlah yang banyak, terutama makanan berlemak, setelah sebelumnya tidak makan sama sekali, makan terburu-buru, dan jenis makanan yang kurang bervariasi,” ujarnya. Ia menambahkan, pola makan seperti itu membuat enzim yang dihasilkan pankreas tidak mampu mencerna semua makanan yang kita makan.

Untuk mengenali seseorang apakah terkena sindrom malabsorsi, menurut dr Ari Fahrial, caranya cukup mudah. Yaitu, selain mengalami gejala-gejala mirip penyakit maag, penderitanya juga sering bersendawa dan buang angin (kentut), gampang terkena diare dan sering terdengar dari dalam perut suara usus “kriuk-kriuk” seperti orang kelaparan.

“Untuk pastinya bisa konsultasi ke dokter. Dokter akan memeriksa feses (kotoran) apakah ditemukan adanya lemak, protein atau karbohidrat. Jika ada, itu tandanya anda terkena sindrom malabsorsi. Untuk mendukung hal itu akan dilakukan pemeriksaan enzim darah,” katanya.

Ditanya faktor penyebab terjadinya gangguan enzim, dr Ari mengatakan, bisa secara genetik atau diturunkan dari orangtua, faktor usia akibat organ tubuh yang menua atau bisa juga disebabkan perubahan gaya hidup yang membuat kerja pankreas sebagai penghasil enzim untuk pencernaan tidak optimal.

Gejala Sindrom Malabsorpsi

  1. Kembung di sekitar pusat atau perut bawah.
  2. Nafsu makan menurun.
  3. Diare.
  4. Perut terasa tidak nyaman atau terasa membesar (sebah).
  5. Suara usus yang meningkat.
  6. Timbul gas yang berlebihan di dalam sistem pencernaan, baik di lambung, usus halus, maupun usus besar.
  7. Sering bersendawa atau buang angin (di atas 20 kali dalam sehari).
  8. Menderita nyeri pada perut.

Pola Pemulihan

  1. Lakukan diet yang tepat dengan mengurangi makanan yang berlemak, seperti cokelat dan keju.
  2. Hindari makanan yang terlalu merangsang, seperti makanan yang terlalu asam, pedas, dan asin, serta minuman yang terlalu banyak mengandung soda.
  3. Mengkonsumsi suplemen enzim pencernaan.
  4. Hindari asupan makanan berlebihan atau dalam jumlah besar.
  5. Perbanyak makanan yang mengandung serat, seperti pisang, pepaya, melon, alpukat, dan sayuran.

 

Nama-nama dan jenis-jenis Enzim dalam Sistem Pencernaan

Saluran Pencernaan Nama enzim dan fungsinya
Mulut (Kelenjar Ludah / Saliva)
  1. Enzim Ptialin (Amilase) berfungsi Memecah pati menjadi Maltosa
Lambung (Kelenjar Lambung)
  1. Enzim Renin berfungsi mengubah kaseinogen menjadi kasein
  2. Enzim Pepsin berfungsi mengubah protein menjadi proteosa, pepton dan polipeptida
Pankreas (Saluran Pankreas)
  1. Enzim Karbohidrase Pankreas berfungsi untuk mencerna amilum menjadi maltosa atau disakarida lainnya.
  2. Enzim Lipase Pankreas berfungsi mengubah emulsi lemak menjadi asam lemak dan gliserol.
  3. Enzim Tripsin berfungsi untuk mengubah protein menjadi polipeptida
Usus (Kelenjar Usus)
  1. Enzim Enterokinase (enzim khusus) berfungsi untuk mengubah Tripsinogen menjadi Tripsin yang digunakan dalam saluran pangkreas
  2. Enzim Maltase berfungsi untuk mengubah Maltosa menjadi Glukosa
  3. Enzim Laktase berfungsi untuk mengubah Laktosa menjadi Glukosa dan Galaktosa
  4. Enzim Sukrase berfungsi untuk mengubah Sukrosa menjadi Glukosa dan Fruktosa
  5. Enzim Paptidase berfungsi untuk mengubah polipeptida menjadi asam amino
  6. Enzim Lipase berfungsi untuk mengubah Lemak menjadi asam lemak dan Gliserol

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu