dalam kategori | Tips Kesehatan

Sadari Bahaya kelebihan berat badan

Sadari Bahaya kelebihan berat badan

Kegemukan yang secara umum ditandai dengan perut buncit ini telah menjadi wabah baru di dunia, tak terkecuali Indonesia. Sebagian orang mungkin masih ada yang mempercayai mitos bahwa kegemukan identik dengan kemakmuran. Padahal perut buncit membuat si pemilik tubuh rentan terhadap penyakit jantung dan diabetes mellitus yang berkaitan dengan risiko kardiometabolik.

Menurut dr Sunarya Soerianata, SpJP (K), seorang ahli jantung dari RS Jantung Harapan Kita, “Penyakit jantung dan stroke merupakan penyebab kematian paling tinggi dibandingkan kanker, diabetes dan penyakit saluran napas bagian bawah.” Tidak perlu pemeriksaan laboratorium yang mahal untuk mengetahui risiko anda akan kardiometabolik. Caranya cukup mudah dan murah yaitu dengan mengukur lingkar pinggang anda. Ukuran lingkar pinggang ternyata bisa digunakan sebagai parameter untuk mengetahui risiko terhadap penyakit akibat gaya hidup tidak sehat tersebut.

Risiko Kardiometabolik Bukanlah Penyakit

Risiko kardiometabolik sendiri bukanlah penyakit tapi merupakan sekelompok gangguan-gangguan yang secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama dapat meningkatkan risiko terhadap penyakit jantung dan diabetes. Risiko kardiometabolik (cardiometabolic risk/CMR) terdiri dari faktor-faktor risiko yang dapat diubah, yang memudahkan orang rentan terhadap penyakit diabetes tipe 2 dan penyakit jantung. Sejumlah faktor-faktor tersebut muncul secara klinis di dalam kelompok-kelompok yang spesifik. dr Sunarya Soerianata menjelaskan, ada faktor risiko yang tergolong sebagai faktor risiko “klasik” dan ada yang tergolong “baru”. Contoh faktor risiko “klasik” antara lain tekanan darah tinggi, kolesterol LDL (kolesterol jahat) dan gula darah yang sudah sering dievaluasi dan ditangani oleh dokter.

Adapun faktor-faktor lainnya dianggap sebagai faktor risiko “baru” misalnya kelebihan lemak perut, kolesterol HDL (kolesterol baik), resistensi insulin (ketidakmampuan tubuh merespons dan menggunakan insulin secara semestinya), serta peradangan (kadar adiponektin yang rendah atau kadar C-reactive protein yang tinggi). dr Sunarya, SpJP menambahkan bahwa faktor risiko “baru” ini sejak dulu kurang diperhatikan. Dalam tahun-tahun terakhir ini, pengelompokan faktor-faktor CMR semakin menarik perhatian karena faktor-faktor itu sering timbul secara serentak. Contohnya, hampir 26% dari seluruh orang dewasa di seluruh dunia di bawah umur 60 tahun diketahui memiliki paling sedikit tiga dari lima faktor-faktor CMR yang termasuk di dalam kriteria sindrom metabolik.

Sadari Bahaya Lemak Perut

Kelebihan lemak perut (intra abdominal obesity) atau penimbunan jaringan lemak di dalam perut, berhubungan dengan faktor-faktor CMR lain seperti peningkatan trigliserida dan gula darah. Riset menunjukkan bahwa jaringan adiposa (jaringan lemak) bukan hanya merupakan tempat penampungan lemak, tapi juga organ endokrin aktif yang melepaskan bahan-bahan kimia dan zat-zat tertentu ke dalam tubuh yang diketahui mempengaruhi metabolisme dan sistem kardiovaskuler.

Semakin tinggi intra abdominal obesity maka kadar HDL akan turun yang berarti rendahnya proteksi tubuh terhadap aterosklerosis (penyempitan pembuluh darah oleh lemak), ungkap dr Sunarya, SpJP. Pelepasan bahan kimia dan zat ini dapat berkontribusi terhadap perkembangan faktor-faktor CMR seperti trigliserida tinggi dan peningkatan gula darah, meningkatkan risiko seseorang terhadap diabetes dan penyakit jantung. Jadi, dengan memiliki perut buncit atau dengan kata lain lemak perut tinggi maka dapat meningkatkan risiko berkembangnya penyakit diabetes tipe 2, yaitu diabetes yang paling umum terjadi pada masyarakat dengan gaya hidup tidak sehat. Tidak mengherankan jika diprediksikan penderita diabetes di Indonesia akan naik dari 6,7% populasi pada tahun 2000 menjadi 10,6% populasi pada tahun 2030.

Ukuran Lingkar Pinggang sebagai Marker

Biasanya, kegemukan diukur dengan indeks masa tubuh (BMI), akan tetapi penemuan akhir-akhir ini menunjukkan bahwa kegemukan perut merupakan tanda yang lebih akurat untuk memprediksi serangan jantung daripada berat badan atau BMI. dr. Sunarya, SpJP membenarkan bahwa mengukur lingkar pinggang merupakan suatu pengukuran yang sederhana dan berhasil mendeteksi orang yang akan mengalami diabetes dan penyakit jantung lainnya. Berdasarkan penelitian, ukuran lingkar pinggang yang memiliki risiko besar adalah ≥88 cm untuk wanita dan ≥102 cm untuk pria. Namun, ukuran tersebut berlaku untuk ras Amerika, untuk Indonesia batasnya lebih kecil.

Banyak kemajuan telah dicapai untuk mengurangi prevalensi faktor-faktor CMR tertentu termasuk kolesterol tinggi dan tekanan darah tinggi. Meskipun demikian, masih ada sekitar 17 juta orang di seluruh dunia yang meninggal karena penyakit jantung setiap tahunnya. Strategi penanganan kardiometabolik yang selalu dianggap efektif adalah dengan mengedukasi masyarakat terutama pasien karena risiko kardiometabolik dapat diubah. Namun, pencegahan selalu lebih baik daripada mengobati. Untuk yang belum menjadi pasien, dihimbau untuk menjaga kesehatan dan mulai menjalani gaya hidup sehat. dr. Sunarya, SpJP juga ingin mengingatkan kepada masyarakat mengenai ukuran lemak perut yang dapat digunakan sebagai marker untuk penyakit jantung dan diabetes. Lingkar pinggang mudah diukur dan bisa dilakukan oleh semua orang, tak terkecuali dengan anda. Silakan mencoba.

Faktor-faktor penghalang penurunan berat badan

Peningkatan jumlah penderita obesitas yang pesat selama tiga dekade terakhir ini diduga terkait dengan sedikitnya jumlah jam tidur yang berkurang 2 jam dari yang disarankan (7-8 jam sehari). “Kurang tidur akan memicu hormon ghrelin, yaitu hormon perangsang nafsu makan dan mengurangi hormon leptin, yaitu hormon pemicu rasa kenyang. Intinya, tidur singkat akan menambah rasa lapar dan nafsu makan untuk menyantap makanan,” kata Dr James Gangwisch dari Columbia University. Carole Caplin, direktur LifeSmart health and Wellbeing Centre di London, mengatakan orang-orang yang kurang tidur cenderung menumpuk lemak. Makan malam dan minum alkohol yang kerap dilakukan orang begadang untuk menghilangkan pikiran karena stres menjadi penyebab obesitas. Selain kurang tidur, ada beberapa hal lainnya yang bisa menjadi faktor kegemukan.

1. Efek samping obat-obatan
Obat-obatan seperti steroid, anti depresi, anti psychotics dan anti epileptic bisa menstimulasi nafsu makan. Selain itu obat tekanan darah tinggi, penyakit jantung dan pil kontrasepsi pun bisa menyebabkan berat badan bertambah. Satu-satunya cara untuk menghindari efek samping tersebut adalah dengan berkata jujur pada dokter. Jika memungkinkan dokter akan memberi obat lain yang tidak menimbulkan efek samping gemuk.

2. Efek usia
Seiring bertambahnya usia, kebanyakan pria maupun wanita akan mengalami pertambahan berat badan. Tak heran karena biasanya semakin tua seseorang semakin jarang pula berolahraga. Hal ini akan mempengaruhi metabolisme tubuh dan hormon terutama pada wanita.

3. Efek virus
Rasanya agak aneh mungkin jika dikatakan ada virus yang menyebabkan obesitas. Namun Dr Dhurandher dari Wayne State University in Detroit, Michigan menyebutkan fakta yang berhubungan dengan hal tersebut. Menurutnya obesitas seperti sebuah virus yang cepat menyebar layaknya kebakaran hutan.
Sebuah epidemik meninggalnya ayam pada tahun 1980 di Bombay menunjukkan bahwa ayam yang terinfeksi adenovirus (virus penyebab flu biasa pada manusia) lebih banyak menimpa ayam-ayam yang gemuk daripada ayam kurus. Studi lainnya juga menunjukkan bahwa satu dari lima orang obesitas menunjukkan infeksi adenovirus.

4. Efek kurang bergerak
Tubuh kita sebenarnya ingin bergerak tapi lingkungan yang membatasi dan menekan keinginan tersebut. Menurut Professor Levine, pengarang buku ‘Move A Little, Lose A Lot’, rata-rata orang hanya berjalan kaki 5.000 hingga 6.000 langkah tiap harinya, padahal seharusnya sekitar di atas 10.0000 langkah.

5. Efek berhenti merokok
Perokok berat membakar sekitar 200 kalori tiap harinya. Rokok juga merupakan penekan nafsu makan karena bisa menghambat produksi hormon insulin di pankreas. Tapi yang mengejutkan adalah, berhenti merokok merupakan penyebab bertambahnya berat badan. Rata-rata mantan perokok akan mengalami pertambahan berat badan setelah beberapa bulan berhenti merokok. Hal itu disebabkan makanan dijadikan sebagai pengganti rokok untuk menciptakan rasa nyaman. Meski demikian, yang harus diingat adalah berat badan bisa diatasi tapi paru-paru yang sudah rusak akan susah diperbaiki.

6. Efek gen dalam tubuh
Terdapat setidaknya 50 gen yang berhubungan dengan obesitas pada manusia, yang paling terkenal adalah gen FTO. Gen tersebut akan diturunkan dan akan menimbulkan rangsangan nafsu makan di otak. Tapi menurut Dr Sarah Leibowitz dari Rockefeller University, faktor genetik sebenarnya bisa dimanipulasi dan dikalahkan oleh faktor lingkungan.

7. Efek suhu ruangan
Peneliti dari American National Center for Healthy Housing sudah membuktikan pada tikus percobaan bahwa lingkungan yang hangat akan memicu kegemukan. Ketika tubuh kepanasan dan berkeringat, yang paling banyak dikeluarkan tubuh adalah cairan bukan kalori. Tapi ketika berada di lingkungan dingin, tubuh akan bergerak lebih banyak untuk mendapatkan panas dan kehangatan tubuh.

Intinya untuk mencegah obesitas dan mendapat tubuh ideal banyak hal yang harus diperhatikan. Niat ingin sehat dan punya badan ideal akan sia-sia jika hanya mengandalkan satu macam usaha. Untuk sehat, seseorang harus rela mengusahakan semua hal, mulai dari olahraga, makan yang benar hingga tidur cukup. Total konsep adalah rahasia sederhana untuk mendapat badan ideal dan hidup sehat. “Tidak bisa kita hanya mengandalkan satu macam faktor saja misalkan olahraga terus-terusan atau konsumsi makanan sehat tapi kurang tidur misalnya. Untuk mendapatkan hasil yang bagus dibutuhkan total concept atau konsep keseluruhan,” kata dr Phaidon L Toruan, MM yang juga pengarang buku Fat Loss Not Weight Loss. Menurutnya, tiap orang memang punya jam biologis dan faktor biologis yang berbeda-beda, tapi dengan pengaturan yang baik tidak ada yang mustahil termasuk menjaga berat badan. “Ibaratnya sebuah mobil, meskipun sudah pakai Pertamax tapi kalau memang mobilnya tidak dirawat dengan baik maka sia-sia saja,” kata dr Phaidon.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu