dalam kategori | Tips Kesehatan

Resiko tinggi penyakit jantung koroner

Resiko tinggi penyakit jantung koroner

Serangan penyakit jantung koroner seringkali tidak disadari masyarakat awam karena kurangnya informasi. Padahal, penyakit ini bisa dideteksi sejak awal.

Penyakit jantung koroner merupakan penyebab utama kematian mendadak di Indonesia. Penyebab penyakit tersebut ditengarai akibat sumbatan pada pembuluh darah karena lemak yang menumpuk. Kondisi tersebut dinamakan pula sebagai aterosklerosis.

Ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit jantung koroner. Diantaranya adalah hipertensi, diabetes, kebiasaan merokok dan tingginya kolesterol.

Delapan puluh persen lumen (lubang pembuluh darah) dari penderita mengecil karena proses aterosklerosis. Padahal, faktor risiko bisa dikendalikan kecuali faktor usia, jenis kelamin dan genetik. Mereka yang usianya di atas 40 tahun punya risiko lebih tinggi.

“Laki-laki juga berisiko tinggi daripada wanita,” jelas spesialis jantung dan pembuluh darah dari Eka Hospital Muhammad Yamin M.D, PhD dalam seminar awam di Jakarta.

Pencegahan faktor risiko, sambung dia, menjadi resep jitu untuk menghindarkan diri dari penyakit jantung koroner. Selain melaksanakan gaya hidup sehat, pengecekan kesehatan secara rutin minimal setahun sekali bisa menurunkan faktor risiko hingga 75%.

Sayangnya, tak semua orang disiplin melaksanakannya. Maka itu, setiap orang perlu mengenal tanda-tanda ketika seseorang terserang penyakit jantung koroner. Dengan pengetahuan yang memadai, orang awam pun bisa membantu memberikan pertolongan pertama dengan membaringkan pasien sembari memastikan jalan udara tidak terhalang.

Jika ada gejala sakit pada bagian dada tengah hingga ke atas, atau menuju bahu dan rahang hingga ulu hati. Rasanya sesak, mual, berkeringat hingga tidak bisa berdiri, itu bisa jadi gejala awal terkena serangan jantung.

“Banyak orang awam menganggap angin duduk. Karena masuk angin, dia dikerik sampai merah. Kalau tidak membaik juga, baru mereka ke rumah sakit. Itu yang sering menyebabkan keterlambatan,” sahut Yamin.

Semakin lama waktu terbuang, semakin banyak sel jantung yang rusak. Jika pasien tidak mendapat perawatan yang tepat lebih dari empat jam, akibatnya fatal bagi kehidupan.

Fungsi jantung bisa mengalami kerusakan, mulai dari ketidakseimbangan irama jantung, gagal jantung hingga dindingnya jebol. Tindakan medis barulah diperlukan pada kondisi tersebut. Bentuknya beragam tergantung derajat keparahan yang diderita.

Jika masih ringan, pasien cukup mengkonsumsi obat-obatan. Pada tahap lanjut, pasien bisa disarankan untuk stenting atau pemasangan alat bantu untuk melebarkan pembuluh darah, hingga operasi by pass jantung. Jenis stent beragam, mulai dari berbahan metal, drug eluting stent hingga bioreabsorbable scaffold.

Jenis stent yang terakhir merupakan teknologi terbaru yang bisa meminimalisir kemungkinan radang pembuluh darah akibat pemasangan alat. Dengan teknologi tersebut, kemungkinan seseorang untuk terkena kembali serangat jantung akibat penyempitan pembuluh koroner bisa minimal.

Meski begitu, pasien tetap diwajibkan untuk menjaga pola hidupnya tetap sehat karena risiko terkena penyakit jantung koroner selalu mengintai.

“Penyakit jantung sangat bisa dicegah. Bagaimanapun, pencegahan itu lebih mudah dilaksanakan dan lebih murah,” tukasnya.

Cara mencegah

Meskipun tidak dapat melawan beberapa fakor risiko penyakit jantung koroner seperti penuaan dan pengaruh garis keturunan, Anda dapat melakukan hal berikut untuk mengurangi risiko menderita penyakit ini:

Pola makan yang sehat

Kurangi menyantap makanan yang digoreng yang banyak mengandung lemak jenuh tinggi. Jangan tertalu banyak mengkonsumsi karbohirat, karena dalam tubuh, karbohidrat akan dipecah menjadi lemak. Perbanyak makan buah, sayuran dan biji-bijian yang mengandung antioksidan tinggi. Antioksidan mencegah lemak jenuh berubah menjadi kolesterol.

Menjaga berat badan ideal

Seseorang dengan obesitas tengah yang memiliki lingkar pinggang lebih dari 80 cm, berisiko lebih besar terkena penyakit jantung koroner. Kelebihan berat badan juga dapat meningkatkan faktor risiko terjadinya tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol darah tinggi.

Berhenti merokok

Risiko terjadinya penyakit jantung koroner meningkat 2-4 kali pada perokok dibandingkan dengan bukan perokok. Risiko ini meningkat dengan bertambahnya usia dan jumlah rokok yang diisap. Perlu diketahui bahwa risiko kematian akibat penyakit jantung koroner berkurang dengan 50 % pada tahun pertama sesudah rokok dihentikan.

Hindari stres

Saat seseorang mengalami stres, tubuhnya akan mengeluarkan hormon cortisol yang menyebabkan pembuluh darah menjadi kaku. Hormon norepinephrine juga akan diproduksi tubuh saat menderita stres, yang akan mengakibatkan naiknya tekanan darah.

Olahraga secara teratur

Olahraga seperti berjalan kaki, jalan cepat, atau jogging secara teratur selama 30 menit setiap hari, 3-4 kali seminggu dapat memperkuat jantung, melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh, membakar lemak dan menjaga kesimbangan HDL dan LDL.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu