dalam kategori | Featured, Layanan Kesehatan

Resiko Kanker Darah pengguna Parasetamol

Resiko Kanker Darah pengguna Parasetamol

Para ilmuwan Amerika mengatakan lebih dari 50 orang yang sering mengkonsumsi obat penghilang rasa sakitĀ  meningkatkan resiko sekitar satu hingga dua persen terkena kanker darah dalam periode 10-tahun .

Meski disebut-sebut sebagai obat pereda nyeri paling aman, parasetamol bukan tidak punya risiko sama sekali. Menurut penelitian, minum parasetamol lebih dari 4 kali dalam seminggu selama 4 tahun bisa meningkatkan risiko kanker darah.

Jenis kanker darah yang dipicu oleh penggunaan parasetamol secara berlebihan adalah lymphoma atau myelodysplastic syndrome (MDS). Jenis kanker ini termasuk jenis kanker yang langka, sehingga pengobatannya lebih sulit karena risetnya terbatas.

Hubungan parasetamol dengan kanker darah terungkap dalam sebuah penelitian di Fred Hutchinson Cancer Research Center di Seattle, Amerika Serikat. Penelitian tersebut dilakukan terhadap 65.000 orang dewasa berusia di atas 50 tahun yang diamati selama 6 tahun.

Dari seluruh partisipan, 577 orang atau sekitar 1 persen di antaranya terkena kanker darah saat diamati di akhir periode penelitian. Saat dibandingkan dengan kebiasaan minum obat, kelompok ini ternyata lebih sering mengonsumsi parasetamol dibanding kelompok lainnya.

Pada kelompok yang terkena kanker darah, 9 persen mengonsumsi parasetamol sedikitnya 4 kali tiap pekan. Sedangkan pada kelompok partisipan yang sehat, konsumsi parasetamol relatif lebih jarang dan hanya 5 persen yang minum hingga 4 kali tiap pekan.

“Hasil penelitian ini menunjukkan, minum parasetamol sedikitnya 4 kali sepekan selama 4 tahun berturut-turut bisa meningkatkan risiko kanker darah antara 1-2 persen,” ungkap salah satu peneliti, Dr Dr Emily White seperti dikutip dari Telegraph, Rabu (11/5/2011).

Selain meningkatkan risiko kanker darah, parasetamol juga diketahui bisa memicu kerusakan pada sistem metabolisme jika dikonsumsi berlebihan. Organ yang sering mengalami gangguan karena akibat overdosis obat ini antara lain hati dan ginjal.

Namun, Dr David Grant, direktur ilmiah dari badan amal Leukemia & Lymphoma Research, skeptis dengan kesimpulan penelitian tersebut.

Dia menekankan bahwa angka hasil penemuan tersebut tidak membuktikan adanya hubungan kausal, dan hanya bisa menggambarkan kekhasan statistik sebagai hasil dari metode yang dipakai para peneliti tersebut.

“Tidak diketahui adanya resiko akan kanker sebagai akibat dari mekanisme kerja parasetamol,” katanya.

“Meminta para lanjut usia untuk mengingat penggunaan parasetamol mereka selama bertahun-tahun bukanlah cara yang dapat diandalkan untuk menghasilkan data yang akurat. Lagi pula peningkatan resiko satu atau dua persen selama jenjang waktu 10 tahun adalah nilai yang sangat kecil,” tambah Dr Grant.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu