dalam kategori | Featured, Penyakit

Radang Otak Meningitis

Radang Otak Meningitis

GISCA Putri Agustina Sahetapy, putri sulung penyanyi Dewi Yull, meninggal dunia. Gisca meninggal di Rumah Sakit dr Suyoto, Bintaro setelah menjalani operasi akibat penyakit meningitis atau radang otak yang dideritanya.

Apa itu meningitis? Meningitis atau radang otak merupakan infeksi yang terjadi di sekitar otak dan saraf tulang belakang. Infeksi ini sebagian besar terjadi pada anak-anak, remaja dan dewasa muda. Selain itu, orang dewasa atau orang-orang dengan gangguan kesehatan jangka panjang (seperti melemahnya sistem imun) juga turut berisiko.

Ada dua tipe radang otak:

  1. Viras meningitis. Merupakan tipe radang otak paling umum. Tipe ini biasanya tidak menyebabkan penyakit serius. Pada kasus-kasus parah, gangguan ini bisa menyebabkan demam dan kejang berkepanjangan.
  2. Bacterial meningitis. Tipe ini jarang terjadi namun sangat serius. Radang otak ini perlu segera ditangani untuk mencegah kerusakan otak dan kematian.

Kedua jenis radang otak ini mempunyai gejala yang sama. Jika mengalami gejala, ada baiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Dengan begitu, dokter bisa mengidentifikasi jenis radang otak yang diderita.

Penyebab

Viras meningitis disebabkan oleh virus dan bacterial meningitis disebabkan oleh bakteri. Selain itu, radang otak juga bisa disebabkan oleh organisme lain dan beberapa jenis obat. Akan tetapi, virus dan bakteri merupakan penyebab paling umum.

Meningitis bersifat menular. Kuman penyebab gangguan ini bisa berpindah dari satu orang ke orang lain melalui batuk dan bersin serta melalui kontak yang dekat.

Gejala

Gejala yang paling umum dijumpai di kalangan remaja dan dewasa muda adalah:

  1. Leher kaku dan sakit, khususnya saat Anda mencoba menyentuh dagu atau dada
  2. Demam
  3. Sakit kepala.
  4. Muntah.
  5. Gangguan tetap terjaga.
  6. kejang.

Anak-anak, dewasa tua, dan orang-orang dengan gangguan medis lain kemungkinan memiliki gejala berbeda, seperti:

  1. Bayi kemungkinan menjadi rewel dan menolak makan, memiliki ruam di kulit, dan kemungkinan menangis saat dipegang.
  2. Anak Anda kemungkinan bertingkah seperti sedang menderita flu. Mereka bisa batuk atau mengalami gangguan pernapasan.
  3. Dewasa tua dan orang-orang dengan gangguan medis kemungkinan hanya mengalami sakit kepala ringan dan demam.

Pengobatan

Penanganan radang otak bergantung pada penyebabnya. Pastikan segera mengunjungi dokter jika Anda atau anak mengalami gejala. Hal ini mengingat backterial meningitis yang bisa mematikan jika tidak segera ditangani. (Ikarowina Tarigan-mediaindonesia.com)

Orang-orang yang Rentan Terkena Penyakit Radang Otak

Radang otak sangat mengancam nyawa seseorang, terutama bayi dan anak-anak. Tapi tak hanya bayi atau anak-anak, orang dewasa pun tak terlepas dari ancaman penyakit mematikan ini. Siapa saja yang rentan terkena radang otak dan apa gejalanya?

Radang otak atau yang dalam ilmu kedokteran dikenal dengan meningitis adalah terjadinya peradangan di selaput-selaput otak yang disebut meningen, yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang.

Meningitis dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme, seperti virus, bakteri, jamur atau parasit yang menyebar dalam darah ke cairan otak.

Meningitis juga dapat disebabkan oleh penyakit-penyakit yang dapat memicu peradangan dari jaringan-jaringan tubuh tanpa infeksi, seperti kanker. Juga karena luka fisik atau obat-obatan tertentu.

Meningitis yang disebabkan oleh bakteri lebih berbahaya ketimbang virus. Bakteri ini adalah pneumokokus yang bisa mengakibatkan kematian khususnya pada anak-anak. Bakteri pneumokokus memang bisa hidup dan diam di tenggorakan 10 persen orang sehat, baik bayi, balita dan individu dewasa.

Seperti dilansir dari Mayoclinic, Jumat (11/6/2010), orang-orang yang rentan terkena meningitis adalah:

1. Usia

Kebanyakan meningitis yang disebabkan oleh virus dan bakteri terjadi pada anak-anak di bawah usia 5 tahun. Namun, sejak pertengahan tahun 1980-an, setelah adanya vaksin untuk anak, pasien meningitis bergeser dari usia 15 bulan sampai 25 tahun.

Menurut data, sekitar 50 persen anak yang terkena meningitis dilaporkan meninggal. Jika lolos dari maut, balita akan mengalami gejala-gejala dari sisa penyakitnya seperti lumpuh, tuli, epilepsi, lamban dan retardasi mental.

2. Orang yang berkumpul atau tinggal di hunian padat penduduk

Orang yang tinggal perumahan yang padat penduduk, siswa yang tinggal di asrama, personil di pangkalan militer atau anak-anak yang dititipkan di penitipan anak (day care) akan meningkatkan risiko meningitis. Hal ini karena penyebaran penyakit menjadi lebih cepat bila sekelompok orang berkumpul.

3. Ibu hamil

Pada wanita yang hamil, ada peningkatan kontraksi listeriosis, yaitu infeksi yang disebabkan oleh bakteri listeria, yang juga dapat menyebabkan meningitis. Bila ibu hamil memiliki listeriosis, bayi yang belum lahir pun akan berisiko terkena.

4. Bekerja di lingkungan yang berhubungan dengan hewan

Pekerjaan yang selalu berhubungan dengan hewan, seperti peternak, juga memiliki risiko tinggi tertular listeria, yang dapat mengakibatkan meningitis.

5. Orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah antara lain:

  • Bayi yang lahir kurang bulan (prematur) dan berat lahir rendah
  • Bayi yang hanya diberi ASI sebentar atau sedikit
  • Orang yang sering terpapar asap rokok
  • Orang yang sering mengalami infeksi virus di saluran pernapasan
  • Penderita penyakit kronis seperti kanker dan diabetes, penderita HIV
  • Pengguna obat immunosuppresan juga lebih rentan terhadap meningitis.

Sekitar 25 persen orang yang terkena meningitis memiliki gejala yang berkembang selama 24 jam. Selebihnya, akan menjadi sakit selama 1 hingga 7 hari. Terkadang, jika seseorang mengonsumsi antibiotik untuk infeksi lain, gejala dapat berkembang lebih lama.

Seperti dilansir dari emedicinehealth, gejala meningitis yang terjadi pada individu dewasa adalah sebagai berikut:

Gejala umum

  1. Sakit kepala
  2. Leher kaku
  3. Demam dan menggigil
  4. Muntah
  5. Takut lampu terang (photophobia)
  6. Kebingungan
  7. Kejang (ini terjadi pada sekitar sepertiga dari pasien meningitis)
  8. Infeksi saluran pernafasan atas (misalnya, dingin, sakit tenggorokan)

Gejala lain

  1. Kelemahan lokal atau kehilangan kekuatan atau sensasi, terutama di wajah
  2. Pembengkakan dan rasa sakit pada satu atau lebih sendi
  3. Ruam yang sering terlihat seperti memar

(Merry Wahyuningsih – detikHealth)

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu