dalam kategori | Penyakit

Pusing setelah melihat film 3D

Pusing setelah melihat film 3D

Industri film sekarang sedang gencar memproduksi film dalam format yang masih tergolong baru yakni 3D. Meskipun penikmatnya mendapatkan pengalaman baru dalam melihat film tetapi sejumlah orang merasa pusing dan mual setelah melihat film dalam format ini.

Kalau anda merasa pusing setelah melihat film 3D di rumah maupun di bioskop sebaiknya pertimbangkan untuk memeriksakan mata. Seperti di kutip dari Reuters, sejumlah orang yang sering menonton film dengan fasilitas home theatre berfasilitas 3D harus mulai hati-hati.

Tak semua mata dapat beradaptasi dengan teknologi 3D meskipun teknologi ini menawarkan pengalaman yang lebih menarik saat menonton film. Terutama soal tayangan yang tampak lebih hidup.

Dr Michael Rosenberg, profesor ilmu kedokteran mata dari Northwestern University Feinberg School of Medicine di Chicago mengatakan bahwa Ada banyak orang yang mempunyai masalah mata yang sangat kecil. Misalnyanya, ketidakseimbangan otot kecil, yang akhirnya membuat otak bekerja keras menyeimbangkan fakta terlihat supaya seakan normal.

Pada teknologi 3D, orang-orang yang mempunyai kelainan-kelainan kecil tadi akan mendapatkan pengalaman deteksi penginderaan baru yang membuat otak bekerja lebih keras menerjemahkannya. Itu sebabnya beberapa orang akan merasa lebih mudah sakit kepala setelah menyaksikan tayangan 3D dalam waktu tertentu.

Selain itu terdapat perbedaan dua input informasi yang berbeda antara mata dan telinga. Dimata normal, orang melihat gambar yang berbeda dari sudut penglihatan yang berbeda. Visual-visual itu akan dioleh oleh otak dan diterjemahkan menjadi gambar yang memiliki ketebalan atau kedalaman.

Menurut Dr Deborah Friedman, ilusi yang terlihat dari film tiga dimensi tidak memiliki perhitungan yang sama dalam mempersepsikan benda pada mata normal.

Ketika gambar hidup keluar dari layar, mata memberitahu otak bahwa tubuh sedang bergerak namun didalam telinga dimana gerakan fluida digunakan untuk mendeteksi pergerakan dan keseimbangan tubuh tidak mendeteksi perubahan posisi tubuh. Perbedaan perhitungan inilah yang membuat kita merasa pusing dan mual.

Efek ini kebalikan saat kita membaca didalam kendaraan. Mata fokus pada tulisan yang tidak bergerak tetapi cairan dalam telinga mendeteksi pergerakan kendaraan.

Menurut Prof Andrea Bubka, yang meneliti cybersickness di St. Peter’s College, Jersey City, Perbedaan informasi dari kedua indera ini menyebabkan otak memicu mual dan pusing.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu