dalam kategori | Pola Hidup

Puasa adalah waktu untuk detoks

Puasa adalah waktu untuk detoks

Beragam cara dilakukan umat Muslim dalam menyambut datangnya Bulan Suci, Ramadhan. Saat itulah umat Muslim diwajibkan menahan diri dari makan, minum dan segala hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari genap sebulan.

Kini, Bulan Suci kian dekat. Persiapan pun dilakukan sebagian besar umat Muslim agar tetap bugar dan sehat di bulan puasa mendatang. Menu yang sehat dan halal idealnya disiapkan sepenuhnya untuk menyambut Bulan Suci Ramadhan. Selain itu, mengonsumsi makanan yang bergizi, halal dan baik juga akan menambah kekuatan dan daya saat berpuasa.

Puasa juga merupakan sarana pembersihan anggota tubuh juga pembersihan jiwa. Pembersihan anggota tubuh dari pengaruh buruk makanan yang kita konsumsi, serta pembersihan hati dan jiwa dari dosa-dosa yang selama ini mengotori dan menodai hati kita. Oleh karenanya, berbuka puasa dengan makanan yang menyehatkan serta tidak berlebihan tentu akan mempengaruhi alat pencernaan kita.

Berbicara menu sehat dan halal menyambut bulan Ramadhan, perempuan yang telah puluhan tahun bergelut di dunia organik, Bibong Widyarti, memaparkan, puasa punya pengaruh kuat terhadap alat pencernaan. “Ada pengaruhnya. Karena alat pencernaan kita beristirahat cukup lama dan lebih lama dari biasanya. Kebiasaan waktu pola makan juga turut berubah, selain stamina tubuh secara emosional dan spiritual diasah,” ucap Bibong.

Perempuan berjilbab yang ahli dalam gizi organik itu juga memaparkan bahwa puasa adalah waktu untuk detoks atau pembersihan seluruh anggota tubuh dari pengaruh racun. Oleh sebab itu, mengkonsumsi makanan yang halal dan baik tentu berpengaruh terhadap tubuh.

“Sebaiknya, bahan pangan yang dikonsumsi halalan thoyyiban dalam arti baik segi kualitasnya,” tutur dia. Selain kualitas makanan yang baik, selektif dalam memilih menu makanan juga diperlukan. Kejelian dalam memilih nutrisi pangan menjadi tolak ukur pembersihan tubuh secara maksimal.

Dalam hal ini, Bibong menyarankan untuk memilih pangan organik lokal yang segar untuk dikonsumsi. Karena menurut Bibong, produk konvensional, produk yang mengandung pestisida dan pupuk sintesis akan berdampak pada proses pembersihan tubuh dari pengaruh racun. “Selain kandungan nutrisinya lebih baik dari produk konvensional, makanan organik juga membuat tubuh lebih baik,” jelasnya.

Tak hanya pangan organik, biasanya sebagian umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa Ramadhan juga melengkapi waktu sahurnya dengan meminum susu agar lebih kuat dan lebih berenergi. Namun, menurut Bibong, sebaiknya masyarakat yang berpuasa bisa selektif dalam memilih susu yang dikonsumsi.

“Untuk produk susu, sebaiknya pilih yang bentuknya segar,” tuturnya. Mengkonsumsi susu pun harus sesuai kebutuhan. Jika kurang suka dengan susu, yoghurt pun bisa menjadi penggantinya.

Selain memaparkan menu sehat ala Ramadhan, Bibong juga menyuguhkan tips sehat menyambut Ramadhan. Pertama, pilihlah buah dan sayuran organik, lokal, segar dan variatif. Kedua, sebaiknya gunakan gula aren dan kurangi gula pasir. Ketiga, konsumsilah madu atau buah kurma seperti sunnah Nabi Muhammad SAW saat berbuka puasa. Keempat, saat berbuka, makanlah secara bertahap sehingga memberi kesempatan pada organ pencernaan untuk beradaptasi.

Kelima, hindarilah makanan yang diproses dengan berbagai pengawet, pewarna, pemanis buatan. Keenam, kurangi makanan yang dikalengkan. Ketujuh, masaklah makanan dengan cara menumis, mengukus, atau dimakan mentah (lalapan, salad). Ketujuh, mengolah sendiri makanan yang dikonsumsi sehingga mengetahui bahan bakunya. Kedelapan, seimbangkan protein hewani dengan sayuran yang beraneka warna.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu