dalam kategori | Penyakit

Psoriasis Butuh Perhatian Serius

Psoriasis Butuh Perhatian Serius

PENYAKIT kulit yang satu ini memang jarang terdengar, padahal penyakit ini tergolong serius. Bila dibiarkan, psoriasis bisa memicu penyakit lain, seperti gangguan kardiovaskular dan diabetes.

Psoriasis merupakan penyakit autoimun (sistem kekebalan yang menyerang tubuh sendiri). Penyakit ini bersifat menahun dan berulang, serta ditandai dengan adanya bercak kemerahan pada kulit yang berbatas tegas dengan sisik kasar, berlapis lapis, dan transparan.

“Psoriasis dapat menyerang siapa saja. Dari usia bayi hingga manula, pria maupun wanita tanpa memandang latar belakang sosial ekonomi,” tutur Wakil Ketua Yayasan Peduli Psoriasis Indonesia (YPPI) dr Valy Ongan.

Psoriasis juga dapat menyerang sendi dan menyebabkan radang yang disebut dengan psoriatic arthritis. Bahkan, baru-baru ini ahli psoriasis dari FKUI RSCM Prof dr Berny Wiryadi menyatakan penderita psoriasis berisiko menderita sindrom metabolisme seperti obesitas, gangguan kardiovaskular, dan diabetes.

Walaupun penyakit ini tidak menular, pastinya menurunkan kualitas hidup penderitanya, bahkan psoriatic arthritis dapat menyebabkan cacat permanen seumur hidup.

“Dewasa ini secara prevalensi psoriasis mengenai 1?3 persen (bahkan bisa lebih) dari populasi penduduk Indonesia,” ujarnya.

Jika penduduk Indonesia saat ini sekitar 200 juta, berarti ada sekitar 2?-6 juta pengidap psoriasis yang hanya sebagian kecil saja sudah terdiagnosis dan tertangani secara medis. Menurut Dr Cecilia R Padang PhD FACR, 30 persen penderita psoriasis juga berisiko menderita radang tulang (psoriasis arthritis).

Dalam kondisi ini, keadaan tulang di sekitar sendi, perlahan tapi pasti terkikis/erosi, sehingga tulang dapat menjadi bengkok (malformasi). Selain itu, psoriasis juga bisa mengakibatkan bengkak pada jari-jari. Efek yang lebih buruk adalah penderita harus dirawat di rumah sakit karena tidak dapat bergerak, atau tubuh tidak dapat digerakkan total.

“Jika dipaksa bergerak maka rasa nyeri yang luar biasa akan dirasakan penderita. Akibatnya, kualitas hidup dan produktivitas penderita akan sangat menurun dan kondisi mentalnya pun ikut terpukul,” jelasnya.

Psoriasis adalah penyakit yang jauh lebih dalam dari hanya sekadar penyakit kulit yang gatalgatal dan merah-merah di sekujur tubuh pasien. Jika psoriasis hanya menyerang bagian lengan, ini masih dikatakan ringan dan hanya masalah kecil.

Namun, banyak dijumpai penderita psoriasis yang menderita berkepanjangan bahkan pasien hingga putus asa jika terjadi kekambuhan dari tingkat sedang hingga parah ke seluruh tubuh. Bila sudah parah, punggung atau bagian tubuh lain penderita hampir tertutup dengan kulit merah bersisik, demikian juga dari kaki, bokong, paha, tangan, leher, telinga hingga kulit kepala.

Rasa gatal dan perih saat kambuh membuat pasien akan sangat menderita. Saat kondisi kulit sangat kering (overdry), ketika akan melakukan kegiatan, lutut atau betis serta lengan penderita psoriasis akan sulit digerakkan. Kesulitan gerak ini bukan karena nyeri, melainkan karena kulit yang menebal dan bersisik menyebabkan gerakan seperti terhambat sulit digerakkan bagaikan kulit ditempeli lakban.

Bahkan, sering terjadi kulit yang kering tersebut pecah atau merekah dan berdarah. Sama seperti penyakit kanker, hingga saat ini penyebab psoriasis pun belum diketahui dengan pasti. Namun didapati banyak faktor pencetusnya, misalnya stres psikis, infeksi fokal (infeksi di bagian tubuh tertentu misalnya tonsilitis atau radang amandel), trauma, gangguan endokrin, gangguan metabolik, pemakaian obat-obatan tertentu, alkohol, dan merokok.

“Psoriasis adalah penyakit kulit yang tidak menular, sekali lagi tidak menular,” tegas Valy.

Tidak ada sebuah kasus psoriasis yang terjadi karena kontak dengan penderita psoriasis lain misalnya berjabat tangan dan berpelukan. Psoriasis adalah kelainan genetik dan autoimun, bukan penyakit infeksi, apalagi menular.

“Walaupun pasien serius berobat dan ingin sembuh, psoriasis akan selalu kembali atau hilang-timbul seumur hidup sejak pertama tercetus,” tandas Valy.

Dia menambahkan, waktu bebas obat ataupun salep hanya hitungan hari pada penderita psoriasis. Misalnya satu minggu bebas pakai obat, kemudian timbul lagi kemerahan yang muncul di tempat yang sama atau pindah tempat, bahkan dengan jumlah yang lebih banyak.

Psoriasis sebagai penyakit kronis, tidak pernah sembuh kecuali remisi. Remisi adalah masa di mana kulit bersih dari penyakit untuk waktu tertentu. Di Yayasan Peduli Psoriasis Indonesia (YPPI), ada penderita dapat mencapai remisi hingga 30 tahun, tetapi akhirnya psoriasis kambuh kembali. Karena pencetus psoriasis yang banyak ini, sulit menentukan secara pasti penyebab psoriasis.

Inilah yang menyebabkan banyak penderita psoriasis yang tidak terdiagnosis dan tertangani secara medis. Belum lagi faktor ekonomi dan ketidaktahuan. Salah satu contohnya adalah pada kasus manusia yang menimpa Achmad Yunus di Karawang, Yusdika di Malang, dan Melissa di Palangkaraya.

Umumnya mereka tidak tahu penyakit apa yang sedang mereka derita. Kalaupun mereka berobat ke puskesmas, dan dokter berhasil mendiagnosisnya, tetapi mereka akan kesulitan mengobatinya, karena di perifer (daerah-daerah) pemerintah tidak mempersiapkan puskesmas untuk pengobatan penyakit kulit kemerahan (Erithroderma) seperti dermatitis, eksim, atau penyakit kulit lainnya, apalagi psoriasis.

“Di puskesmas, salep kulit yang tersedia rata-rata adalah krim Hidrokortison, yang hanya efektif pada dermatitis atopik pada bayi, tapi tidak untuk dermatitis lain,” jelas Valy.

(Koran SI)

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu