dalam kategori | Pola Hidup

Prediabetes: modifikasi gaya hidup

Prediabetes: modifikasi gaya hidup

Bila lima tahun yang lalu, orang tak acuh dengan istilah prediabetes, maka sekarang saatnya kita menaruh perhatian lebih besar terhadap masalah ini. Modifikasi gaya hidup dan obat-obatan menjadi modalitas yang tepat untuk mencegah pasien jatuh pada diagnosis diabetes. Sejauh mana keberhasilannya?

Prediabetes merupakan sebuah diagnosis yang lahir dari kewaspadaan dini terhadap diabetes. Prediabetes ditegakkan dengan cara pemeriksaan kadar glukosa darah, yaitu bila setelah puasa 8-10 jam, kadar glukosa darah 100-125 mg/dl, sementara 2 jam pasca-pembebanan glukosa oral antara 140-199 mg/dl. Dari hasil pendekatan ini, jelaslah bahwa prediabetes merupakan nama lain dari glukosa darah puasa terganggu (GDPT) atau toleransi glukosa terganggu (TGT). Singkatnya, seseorang terkena prediabetes bila ia belum diabetes namun kadar glukosa darahnya tidak normal. Kondisi ‘peralihan’ ini sangat rawan karena bila tidak berhati-hati, pasien dapat jatuh pada diagnosis diabetes.

Prevalensi prediabetes cenderung tinggi. Di Australia, berdasarkan data AusDiab, sebuah survei terhadap diabetes dan penyakit terkait di Benua Kanguru, prevalensi prediabetes adalah 16,4% pada penduduk berusia di atas 25 tahun. Angka ini terbagi menjadi GDPT sebesar 10,6% dan TGT sebesar 5,8%. Di Indonesia, berdasarkan hasil studi Soewondo dkk. yang diperoleh dari data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, angka prediabetes di Indonesia adalah 10%, lebih besar daripada diabetes yang menempati prevalensi sebesar 5,6%. Bayangkan bila angka 10% ini berkembang menjadi diabetes dalam beberapa tahun saja, maka betapa besar beban diabetes di negara kita.

Patogenesis prediabetes sama halnya dengan diabetes karena keduanya memiliki perjalanan penyakit (natural history of disease) yang sama. Hal ini terkait dengan resistansi insulin di jaringan serta hiperinsulinemia yang menyebabkan tingginya kadar glukosa darah secara kronis di sirkulasi. Beberapa ahli berpendapat bahwa GDPT lebih berhubungan dengan resistansi insulin di hati, sementara TGT lebih terkait dengan resistansi insulin di jaringan otot skeletal. Bagaimana pun, keduanya sama saja dalam hal risiko menjadi diabetes.

Studi Vegt dkk. menyebut bahwa laju perkembangan prediabetes menjadi diabetes adalah 6-10% per tahunnya. Sayangnya, sejauh ini, faktor risiko yang berpengaruh terhadap perkembangan prediabetes menjadi diabetes belum pernah dikaji secara mendalam. Namun, secara logis, semakin banyak faktor risiko metabolik dan prediabetes yang tidak dikendalikan akan lebih cepat berkembang menjadi diabetes. Faktor risiko metabolik yang menambah berat peluang terkena diabetes secara umum antara lain usia, obesitas, obesitas sentral, hipertensi, gaya hidup tidak sehat seperti kurang aktivitas fisik dan asupan nutrisi yang tidak terkontrol.

Bahaya dan risiko prediabetes

Sebagai dokter atau perawat, kita mungkin menemukan pasien prediabetes dari hasil pemeriksaan kesehatan rutin, tanpa keluhan apa pun. Apa yang perlu kita ketahui dan sampaikan pada pasien? Ada beberapa pengetahuan yang perlu diketahui oleh seorang dokter mengenai prediabetes. Selain bahwa prediabetes berisiko terhadap diabetes yang sarat dengan bahaya komplikasi, sesungguhnya prediabetes itu sendiri pun memiliki risiko kardiovaskular yang besar.

Beberapa studi epidemiologi menunjukkan bahwa risiko individu dengan prediabetes terkena komplikasi kardiovaskuler adalah dua kali lipat dibandingkan populasi normal. Sebuah studi dari Levinton dkk. menyebutkan bahwa prediabetes berhubungan erat dengan kejadian kardiovaskuler fatal dan non-fatal. Peningkatan risiko itu sama pada kelompok GDPT dan TGT. Namun, studi epidemiologi DECODA dan DECODE menyatakan bahwa risiko kardiovaskuler lebih diprediksikan oleh kadar glukosa darah 2 jam pasca-pembebanan dibandingkan kadar glukosa darah puasa. Itulah mengapa menurunkan glukosa darah post-prandial dinilai lebih penting dalam mencegah risiko kardiovaskuler. Pada prakteknya di lapangan, keduanya tetap harus diwaspadai!

Mengulas mengenai peluang prediabetes menjadi diabetes, dapat dikatakan bahwa prediabetes layaknya bom waktu yang bila tidak dijinakkan secepatnya, akan ‘meledak’ entah kapan menjadi diabetes. Berdasarkan data Australia, seseorang dengan TGT, entah bersama dengan GDPT atau tidak, memiliki laju tahunan terkena diabetes sekitar 10%. Bila terjadi bersamaan dengan GDPT, disebutkan bahwa risiko cenderung lebih besar. Data Indonesia belum mampu melihat laju perkembangan prediabetes menjadi diabetes (datanya masih cross-sectional). Namun demikian, faktor-faktor risiko yang terlibat harus diintervensi bila ingin menghambat laju perkembangan diagnosis dan perjalanan penyakit.

Strategi klinis bagi prediabetes

Bila pasien sudah terdiagnosis prediabetes, baik GDPT maupun TGT, serangkaian intervensi medis wajib disarankan kepadanya, mulai dari modifikasi gaya hidup (yang tidak hanya diucapkan saja, melainkan harus benar-benar dilaksanakan), hingga pemakaian medikamentosa. Kata-kata kunci yang harus diperhatikan adalah “target” dan “parameter objektif”. Namun, bukan berarti kita tidak menghargai usaha. Berikut adalah target dan parameter objektif yang dimaksud:

1. Penurunan berat badan

Obesitas dan obesitas sentral merupakan pusat proses metabolik yang mengarah pada diabetes dan sindrom metabolik yang lain. Dalam waktu yang singkat, penurunan berat badan akan memperbaiki resistansi insulin, memperbaiki status glikemik, menurunkan kadar kolesterol dan tekanan darah. Penurunan berat badan yang disarankan di dalam Diabetes Prevention Program adalah 5-7% dari berat badan awal. Caranya? Batasi asupan kalori dan aktivitas jasmani yang teratur. Kadang para klinisi pun tidak paham apa yang dimaksud dengan pembatasan asupan kalori? Bukan hanya membatasi makanan berlemak tinggi (seperti anggapan orang selama ini), melainkan juga jumlah (kuantitas) makanan sehari-hari, seperti nasi atau lauk pauk yang mengandung kalori. Di dalam buku panduan prediabetes nasional, penurunan kalori sebesar 500-1000 dari kebutuhan kalori ditujukan untuk mempertahankan berat badan. Penting untuk mengatur perencanaan makan bersama ahli gizi atau dokter spesialis gizi klinik. Kendalikan asupan karbohidrat (hitung karbohidrat) agar mampu mencapai target penurunan berat badan.

2. Aktivitas jasmani yang teratur

Mudah diucap oleh semua dokter. Kenyataannya, tidak semua tenaga kesehatan melakukan hal yang diucapkan ini. Mudahnya, aktivitas jasmani teratur memiliki sasaran penurunan berat badan yang menjadi pusat proses metabolik. Aktivitas jasmani yang teratur akan memperbaiki resistansi insulin, menurunkan kadar insulin pada pasien hiperinsulinemia, menurunkan kadar kolesterol dan tekanan darah. Secara keseluruhan dan berbasis bukti, aktivitas fisik teratur akan menurunkan risiko diabetes serta menjadi strategi intervensi yang sangat baik bagi pencegahan prediabetes menjadi diabetes. Secara konkret, aktivitas jasmani sedang minimal 30-60 menit sedikitnya 4 hari dalam seminggu (4 kali seminggu @ 30-60 menit), menurunkan risiko diabetes hingga 40%. Pilihannya bisa jalan cepat, jogging, renang, sepeda, atau joget. Diabetes Prevention Program mensyaratkan waktu aktivitas jasmani adalah 150 menit dalam seminggu. Pemantauan waktu, jenis aktivitas jasmani, kontinuitas, dan target penurunan berat badan menjadi daftar cek (check list) yang harus selalu diingat dan menjadi pegangan bagi siapa pun yang sedang memulai program pencegahan diabetes secara individual.

3. Monitoring status metabolik

Tak banyak disebutkan sebagai bagian dari strategi pencegahan diabetes, namun tegasnya, poin ketiga ini menjadi ‘alarm’ bagi kita untuk selalu berwaspada menghadapi perkembangan status metabolik kita yang semakin memburuk dari waktu ke waktu. Pemeriksaan kesehatan rutin bagi individu berisiko atau subjek prediabetes amat perlu. Meskipun tidak disebutkan di dalam buku-buku panduan mengenai seberapa sering mengunjungi pelayanan kesehatan, namun kunjungan sekali setiap enam bulan untuk pemeriksaan tekanan darah, kadar glukosa darah, kadar kolesterol lengkap, indeks massa tubuh, dan lingkar perut boleh dijalankan. Puskesmas di perkotaan sudah mampu memeriksakan check list status metabolik kita, sementara di daerah rural, masih sulit menjumpai alat periksa kadar kolesterol. Selain itu, konsultasi dengan tenaga kesehatan juga penting di dalam kunjungan ini untuk penilaian risiko dan perencanaan gaya hidup. Melalui konsultasi, dapat disarankan diet dan aktivitas jasmani yang sesuai, target metabolik yang ingin dicapai, serta evaluasi intervensi yang sudah dijalankan. Jangan sepelekan manfaat yang bisa dicapai dengan kunjungan rutin ke tenaga kesehatan. Semakin banyak edukasi yang diberikan, pengetahuan dan kewaspadaan akan semakin tinggi. Implikasinya pada perubahan gaya hidup dan target-target dapat semakin tercapai.

Intervensi farmakologis

Targetnya jelas: penurunan berat badan dan perbaikan status metabolik, salah satunya adalah penurunan kadar glukosa darah. Bagaimana bila keduanya belum tercapai melalui modifikasi gaya hidup? Bila dulu obat belum dianjurkan, berdasarkan studi-studi terbaru, saat ini, intervensi farmakologi dapat diberikan. Obat yang dapat diberikan adalah metformin dengan dosis 2 x 250 – 850 mg sehari (tergantung dari toleransi). Terapi ini dianjurkan bagi pasien dengan obesitas, berusia di bawah 60 tahun, dan kadar glukosa darah puasa (GDP) > 110. Sementara bagi pasien dengan jumlah konsumsi karbohidrat yang banyak, dapat diberikan akarbose dengan dosis 3 x 50 – 100 mg sehari.

Efektivitas metformin dalam mencegah diabetes dari prediabetes banyak dibuktikan oleh berbagai studi dan telah menjadi rekomendasi berbagai organisasi diabetes dan endokrinologi dunia. Gambar berikut menunjukkan risiko terkena diabetes pada pasien yang mendapat plasebo, modifikasi gaya hidup, dan metformin.

Prediabetes bukan vonis akhir!

Meskipun sudah memiliki risiko kardiovaskuler tersendiri serta cenderung menjadi awal bagi diabetes, prediabetes bukan ireversibel. Pasien prediabetes, bila melakukan serangkaian modifikasi gaya hidup dan minum obat-obatan yang dianjurkan, dapat kembali memiliki kadar glukosa darah yang normal dalam pemeriksaan-pemeriksaan selanjutnya (evaluasi), terus demikian sehingga ia tidak jatuh pada diabetes. Melihat ketegasan rekomendasi Diabetes Prevention Program dan bukti-bukti ilmiah terkait dengan intervensi, maka sebagai klinisi kita wajib memberi edukasi yang tepat kepada pasien agar tidak sampai jatuh pada diagnosis diabetes.

Kapan saat yang tepat untuk kembali re-testing untuk diagnosis prediabetes atau diabetes? WHO menyarankan rentang waktu 12 bulan untuk kembali memeriksakan kadar glukosa darah puasa dan toleransi glukosa. Di saat ini, seseorang bisa pada kondisi tidak berubah (tetap prediabetes), atau menjadi diabetes, atau normal. Persiapkan pasien-pasien untuk menjalani hidup sehat sesuai target dan rekomendasi. Cegah perkembangan prediabetes menjadi diabetes sedini mungkin. Kotak di bawah ini dikutip dari petunjuk klinis prediabetes di Australia yang berisi rangkuman rekomendasi mengenai prediabetes. Semoga kita semakin waspada terhadap pandemi ini di masa mendatang.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu