dalam kategori | Tips Kesehatan

Perut kembung, gangguan pencernaan atau tanda jantungan

Perut kembung, gangguan pencernaan atau tanda jantungan

Setiap orang pastinya pernah mengalami perut kembung bagaimana rasanya apabila mengalami perut kembung tentunya sangat tidak nyaman, apalagi kalau ditambah nyeri di pencernaan, karena bisa mengganggu aktivitas. Meski begitu, banyak orang cenderung menganggapnya hal biasa dan sebentar juga akan sembuh bersama kita harus ketahui bahwa Perut kembung memang tidak berbahaya, tapi bisa juga menjadi tanda penyakit serius.

Menurut Dr. Djoko Maryono, Sp.PD, Sp.JP, FIHA, FASE, internis dan kardiologis dari RS Pusat Pertamina, Jakarta, perut kembung merupakan bagian dari penyakit dyspepsia atau indigestion (gangguan pencernaan). Dyspepsia ini menyerang usus dan mengindikasikan abnormalitas dalam sistem pencernaan.

Banyak orang menganggap makanan adalah penyebab utama perut kembung, meskipun sebenarnya ada banyak hal lain yang memicu kondisi tersebut. Seperti apa? Simak penjelasannya seperti yang dilansir dari US News berikut ini.

  • Karbohidrat
    Setelah makan, tentu ukuran perut menjadi lebih besar, padahal Anda hanya menikmati makanan porsi kecil. Kondisi seperti ini dikarenakan oleh konsumsi karbohidrat yang memang bisa menyebabkan perut menjadi kembung.
  • Sembelit
    Beberapa orang mengeluh mengalami kembung dan nyeri pada perut. Namun kemudian kondisi itu mereda dengan sendirinya setelah buang air besar. Artinya, kembung seperti ini disebabkan oleh sembelit dan Anda perlu mengonsumsi lebih banyak serat untuk mengatasinya.
  • Penyakit Celiac
    Celiac merupakan penyakit yang membuat usus tidak mampu menyerap nutrisi makanan. Jika seseorang mengeluh kembung dalam waktu yang relatif lama dan kondisinya tidak juga mereda, bisa jadi seseorang itu terkena penyakit Celiac.
  • Dyspepsia
    Kembung yang disertai rasa mual dan sendawa berlebihan, makan penyebab utamanya bisa jadi adalah dyspepsia atau (gangguan pencernaan). Dyspepsia merupakan penyakit yang menyerang usus dan mengindikasikan ketidaknormalan sistem pencernaan.
  • Kelebihan lemak
    Terakhir, seseorang yang mengeluh kembung tanpa disertai sembelit, rasa tidak nyaman, artinya dia sebenarnya hanya kelebihan lemak di bagian perutnya. Biasanya pecandu alkohol paling sering menderita kondisi seperti ini.

Ada bisul atau infeksi

Faktor lain penyebab kembung adalah situasi dalam lambung, misalnya kerja lambung yang lambat, kontraktilitas lambung yang melambat, atau pengosongan lambung yang melambat.

“Kontraktilitas yang melambat ini dapat terjadi karena kurang berolahraga, sehingga metabolisme dalam tubuh, khususnya lambung, tidak bekerja secara efektif,” ungkap Dr. Djoko.

Bisa juga ada tukak, infeksi, atau bisul di lambung. Bisul atau infeksi itu karena erosi lambung. Artinya, ada penipisan pada lambung karena obat-obatan seperti antirematik. “Obat-obatan jenis ini menipiskan lambung dan menimbuikan luka atau infeksi,” tuturnya.

Faktor ketiga adalah situasi enzim di lambung. Enzim bertugas menghancurkan makanan yang masuk ke lambung. Bila keasaman lambung dan jumlah enzim pencerna berkurang, makanan tidak dapat dihancurkan secara maksimal.

Penyakit perut kembung sebenarnya dapat hilang sendiri. Caranya, kurangi konsumsi makanan yang mengandung gas seperti kol atau sawi dan masak makanan sampai matang.

Makanan yang tidak matang akan menghambat proses penghancuran di lambung. Namun, jika rasa kembung tidak hilang, dianjurkan untuk ke dokter karena mungkin saja itu tanda penyakit.

Tanda jantungan

Perut juga sering terasa kembung bila kita sedang tidak enak badan, misalnya saat masuk angin. Badan lemas dan perut bertalu-talu seperti gendang saat ditepuk adalah salah satu gejalanya. Tidak heran, kita kerap menyamakan masuk angin dengan perut kembung.

Perut kembung memang bisa terjadi bila kita masuk angin. Namun, bukan berarti masuk angin selalu ditandai oleh perut kembung.

Definisi orang tentang masuk angin berbeda-beda. Kalau udara benar-benar masuk ke tubuh, sehingga menyebabkan gas berlebihan di dalam lambung, itulah perut kembung karena masuk angin. Sebaliknya, bila badan pegal karena masuk angin, belum tentu perut ikut kembung. Kembung terjadi bila terlalu banyak gas di dalam tubuh.

Bila kita sering “berhadapan” dengan angin, seperti mengendarai motor terus-menerus, perut berisiko jadi kembung. “Kita jadi cepat kenyang meski baru makan sedikit. Nafsu makan berkurang, dan kita sering bersendawa,” katanya.

Menurut Dr. Djoko, perut kembung kadang bukan disebabkan masuk angin. Hal ini yang harus diperhatikan oleh mereka yang terlalu sering mengalami perut kembung.

Perut kembung bisa menjadi tanda kelainan jantung yang mengenai pembuluh darah LAD (Left Antirior Dicending). Kelainan ini dapat menimbulkan serangan jantung yang fatal dan berujung kematian tiba-tiba (sudden death).

“Pembuluh darah LAD jalannya searah menuju ke lambung. Jika jantung mengalami kelainan, lambung akan terasa sakit, tapi bukan maag,” tutur dokter kelahiran Surabaya ini.

Di Indonesia, diperkirakan 25 persen orang yang mengalami perut kembung yang dikira masuk angin ternyata terkait penyakit jantung. Masuk angin yang menjadi pertanda penyakit jantung biasanya diikuti keringat dingin berlebih dan denyut nadi cepat, lebih dari 90 per menit.

Karena itu, jangan sepelekan perut kembung. Bisa saja itu gejala penyakit jantung.

Waspadai IBS

Perut kembung bisa jadi tanda irritable bowel syndrome (IBS) atau sindroma buang air besar. IBS termasuk dalam kelompok functional gastrointestinal disorders (gangguan fungsional saluran pencernaan) atau functional motility disorders (gangguan fungsional pergerakan usus).

“Penyakit ini merupakan sekumpulan gejala akibat gangguan fungsional saluran pencernaan, tapi tidak terdapat kelainan organik di sana,” ungkap Dr. Djoko ketika ditemui di Jakarta Eye Center.

Kelompok gejala pada IBS berupa nyeri, perut kembung, dan gangguan buang air besar. IBS terbilang tidak mudah didiagnosis. “Diagnosisnya seringkali didasarkan pada kriteria eksklusi, yaitu ditegakkan setelah menyingkirkan semua kemungkinan adanya penyakit organik saluran pencernaan lain,” ujarnya.

Berdasarkan perubahan pola buang air besar dan bentuk tinja, IBS dapat dikelompokkan dalam tiga subtipe, yakni IBS diare, IBS konstipasi, dan IBS alternating atau berganti-ganti. Pada IBS diare, pola BAB lebih dari tiga kali sehari. Bentuk tinja lembek atau cair.

Diare dapat dicetuskan oleh makanan atau minuman kaya gula fruktosa atau sorbitol, minuman beralkohol, serta susu dan produk olahannya. Minum kopi berlebihan juga dapat merangsang lambung.

Pada IBS konstipasi terjadi sembelit dengan pola BAB kurang dari tiga kali seminggu dan tinja keras. Kebiasaan melewatkan sarapan, apalagi makan tanpa sayur atau buah, dapat memicu sembelit. Karena itu, pasien sembelit dianjurkan menambah asupan serat.

“Kalau IBS Alternating gejalanya terjadi diare dan konstipasi secara bergantian dari waktu ke waktu,” ujarnya.

Pada sebagian pasien, makan mengakibatkan nyeri perut atau rasa kebelet BAB. Hal ini sebenarnya merupakan fenomena fisiologi gerakan usus normal setelah makan.

“Hanya karena usus lebih sensitif, reaksinya agak berlebihan. Karena itu, makanan yang terlalu berlemak sebaiknya dihindari untuk mengurangi gejala ini,” katanya.

Penyebab IBS belum diketahui secara pasti. Beberapa faktor diperkirakan ikut berperan, seperti gangguan fungsi usus, toleransi pola makan, dan persarafan usus. Penanganan biasanya dilakukan dengan obat maupun terapi non-obat.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu