dalam kategori | Featured, Layanan Kesehatan

Perkembangan Stem Cell di Indonesia

Perkembangan Stem Cell di Indonesia

Sel punca (Stem sel) adalah sumber dari semua sel di dalam individu, dan ini merupakan sebuah sumber bagi pengobatan sel yang sekarang ini merupakan sebuah jalan revolusi untuk mengatasi berbagai penyakit dan kerusakan dengan keuntungan medis yang luas. Pengobatan dengan menggunakan sel punca mempunyai potensi penerapan dalam mengatasi berbagai penyakit dan kelemahan dari otak, organ dalam, tulang dan banyak jaringan lainnya. Contoh penyakit ini meliputi stroke, alzheimer’s, Parkinson, penyakit jantung, osteoporosis, diabetes yang tergantung insulin, leukimia, luka bakar dan kerusakan sunsum tulang belakang. Sel punca dapat dikategorikan menjadi 2 macam kategori besar berdasarkan sumbernya yaitu sel punca dewasa yang berasal dari organisme dewasa dan sel punca embrio, sel punca yang berasal dari inner sel mass embrio stadium blastula. Kedua macam sel punca ini dapat digunakan untuk pengobatan sel punca. Di Indonesia telah dimulai penelitian dan pengobatan stem stem dengan menggunakan sel punca dewasa, hal ini dipilih karena sel punca dewasa tidak menemui hambatan dalam bidang etika, sedangkan sel punca embrio masih banyak ketidakjelasan tentang etika dan banyak perdebatan yang timbul karenanya, walaupun sudah banyak negara yang membolehkannya termasuk amerika baru–baru ini setelah terpilihnya presiden Barak Obama. Demikian dikatakan Drh. Yuda Heru Fibrianto, MP, PhD dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta dalam acara seminar sehari tentang “Penelitian Multisenter Sel Punca di Indonesia” yang diselenggarakan oleh Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI) yang diselenggarakan belum lama ini (30 Mei 2009) di Jakarta.

Yuda dalam kesempatannya pelaporkan tentang Pusat Stem Sel di UGM mengatakan, bahwa pembuatan tim kerja stem sel universitas gadjah mada dengan pusat studi tersendiri dengan beranggotakan dari seluruh komponen sumber daya manusia yang ada di universitas dari berbagai bidang ilmu. Program utama adalah mengadakan diskusi dan sharing ide serta telaah texbook dan analisis jurnal sehingga didapatkan prioritas dalam penelitian dalam mengidentifikasi, isolasi, multiplikasi dan penerapan stem sel baik sel punca dewasa maupun iPS sehingga alur penelitian yang ada bisa dilaksanakan secara konphrehensif dan tepat guna dalam melakukan kegiatan penelitian dan penerapannya tanpa mengindahkan kaidah bioetika.

Yuda menambahkan, bahwa program yang akan dilakukan di stem cell center universitas gadjah mada adalah: pertama, isolasi dan plurifikasi stem sel dewasa yang berasal dari hematopoietik maupun dari plasenta. Kedua, mengembangkan iPS dan differensiasi serta aplikasi preklinik maupun klinis. Ketiga, membuat universal iPS sehingga didapatkan pluripotensi stem sel yang siap pakai bagi siapa saja yang membutuhkan. Keempat, membuat hubungan dan korelasi dari berbagai pusat studi stem sel dari rumah sakit, pusat studi maupun universitas dalam sharing ilmu dan hasil pengembangan yang sudah didapatkan.

Stem sel pada penyakit degeneratif

Sementara itu Prof. Dr. Moch.Ari Widodo, MS, PhD, SpFK dari Universitas Brawijaya (UNIBRAW) Malang yang menjelaskan tentang “Modulasi jumlah & fungsi EPC untuk pencegahan Penyakit Degeneratif Kardiovaskuler” mengatakan, bahwa kesehatan banyak ditemukan oleh berfungsinya dengan baik komponen yang menyusun pembuluh darah seperti ototpolos pembuluh darah, endothel pembuluh darah, sel darah dan kemampuan sel progenitor/stem sel yang akan mengganti otot polos dan sel endothel. Perubahan pada struktur dan fungsi komponen darah tersebut dapat menyebabkan berbagai kelainan pembuluh darah seperti konstriksi pembuluh darah aterosklerosis yang akhirnya akan menyebabkan penurunan fungsi organ seperti jantung dan ginjal.

Salah satu komponen pembuluh darah yang berasal dari sumsum tulang yaitu Endothelial progenitor cell (EPC) suatu stem cell dewasa dalam kondisi tertentu akan dimobilisasi dan homing pada daerah pembuluh darah yang mengalami disfungsi dan apoptosis sehingga akan terjadi angiogenesis atau postnatal vasculogenesis.

Komponen darah akan selalu terpapar dengan bahan endogen yang dihasilkan oleh tubuh sendiri seperti mediator inflamasi, hormone, neurotransmitter dan bahan eksogen seperti obat, xenobiotik, polutan seperti asap rokok, insectisida, bahan pengawet pewarna dan banyak lagi. Bahan endogen atau eksogen tersebut diatas juga mempengaruhi EPC yang masih ada dalam sungsuk tulang ataupun yang sudah beredar dalam sirkulasi sehingga akan mempengaruhi jumlah dan fungsi EPC dalam upaya untuk melakukan regenerasi ednothel pembuluh darah yang menjadi disfungsi bahkan apoptosis. “Sehingga dengan mengetahui bahan endogen atau bahan eksogen yang mempengaruhi jumlah dan fungsi dapat menghambat proses penuaan EPC kita dapat meningkatkan peran EPC dalam menghambat penyakit degeneratif dengan meningkatkan regenerasi sel endotel yang rusak dan selanjutnya mencegah atau menghambat penyakit degeneratif,” ujar Prof. Aris.

Aplikasi Stem Cells pada Luka Bakar

Dr. Yefta Moenadjat, SpBP dari Uni Luka Bakar FKUI dalam kesempatanya pada tempat yang terpisah mengatakan, bahwa sel punca (stem cells) yang umum dan banyak diteliti serta digunakan di klinik merupakan adult stem cells dari tali pusat baik yang berasal dari cord blood maupun dari tali pusatnya sendiri (sel–sel mononucleated) dan mesenchymal stem cells. Penggunaan embryonic stem cells yang berasal dari inner cell mass embryo (fase blastocyst) untuk saat ini terbatas hanya untuk tujuan penelitian dan belum diperoleh kesepakatan untuk dapat digunakan untuk aplikasi klinik; dikaitkan dengan masalah etik.

Dengan potensi yang dimilikinya, sel punca memiliki kemampuan berdiferensiasi menjadi berbagai sel tubuh seperti miosit, hepatosit, sel–sel saraf, dsb; termasuk epitel. Kapasitasnya yang menakjubkan ini membawa era baru dalam dunia kedokteran, dan untuk saat ini dapat dikatakan bahwa penerapan sel punca merupakan masa depan dunia kedokteran.

Dr. Yefta menambahkan, dalam proses penyembuhan luka, aplikasi sel–sel mononucleated dalam jangka pendek tampak 1) mempersingkat fase inflamasi, 2) memperbaiki fase fibroplasia dan memfasilitasi proses epithelialisasi. Memang belum ada penelitian jangka panjang yang ditujukan untuk menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan fase maturasi jaringan dan untuk itu diperlukan penelitian lebih lanjut.

“Kami melakukan penelitian di UPK Luka Bakar RSCM dan RS Mitra Keluarga Kelapa Gading untuk memperoleh informasi mengenai efektifitas dan keamanan aplikasi stem cells pada luka bakar derajat dua dalam. Dari desain penelitian observasional analitik pada 30 kasus, kami menarik suatu kesimpulan awal dari 12 kasus saja,” ujar Yefta.

Yefta mengatakan, Stem cells yang digunakan diisolasi dan diproses oleh Stem Cell and Cancer Institute (SCI) berdasarkan cara yang dilakukan oleh Cord Life Indonesia; disimpan, telah dilakukan karakteristik human leukocyte antigen (HLA) typing secara serologi dan polymerase chain reaction (PCR). Sel–sel ini tersimpan dalam bentuk suspensi dalam larutan PBS.

“Meskipun penelitian ini baru mencakup duabelas dari tigapuluh sampel yang direncanakan pada penelitian yang kami lakukan, diperoleh gambaran sementara, bahwa secara keseluruhan aplikasi sel punca menunjukan keunggulan dibandingkan aplikasi silver sulfadiazine (SSD) pada luka bakar derajat dua dalam; meskipun tidak diperoleh perbedaan bermakna secara statistik.”

Ada beberapa hal menarik perhatian yang dapat diamati dalam penelitian ini dan diuraikan sebagai berikut. Proses epithelialisasi yang selama ini dianggap sulit terjadi pada beberapa kondisi luka; dapat berlangsung pada aplikasi stem cells, antara lain: Jaringan granulasi yang menimbul (granuloma). Kedua, proses epithelialisasi pada daerah sendi dan atau daerah yang selalu berada dalam kondisi dengan mobilitas tinggi. Ketiga, epitel yang lebih tahan pada proses eksudatif. Umumnya epitel yang terendam eksudat akan mengalami lisis; namun pada luka–luka yang di terapi (menggunakan mononucleated stem cells) MNC, meskipun terjadi proses eksudasi berlebih yang merendam epitel yang sudah tumbuh, lisis tetap tidak terjadi. Keempat, luka–luka yang memperoleh perawatan inadekuat khususnya dalam pembersihan sisa/produk epitel dan krusta. Epitel pada kelompok MNC lebih tahan dibandingkan dengan kelompok SSD.

Fakta ini menunjukan bukan hanya kecepatan proses epithelialisasi saja yang diperoleh dalam waktu yang hampir mencapai kondisi normal, namun lebih jauh diperoleh kondisi yang menyerupai (mendekati) konfigurasi kulit normal.

Meskipun banyak keunggulan yang diperoleh pada aplikasi stem cells pada luka bakar ini, disadari masih dijumpai kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Pertama, dalam jangka pendek disadari bahwa meski konfigurasi epitel hampir menyerupai epitel normal, pada seri penelitian lain yang dilakukan diperoleh informasi bahwa pada epitel ini tidak dijumpai integumen (apendises kulit). Pada luka yang sudah sembuh (mengalami maturasi) tidak dijumpai rambut, kulit yang selalu kering (karena tidak mengandung kelenjar sebasea dan kelenjar minyak). Hal ini dijelaskan karena penggunaan MNC (adult stem cells).

Para peneliti kemudian terfokus pada mesenchymal stem cells dan melakukan penggabungan dengan menambahkan benih apendises kulit pada suspensi (enriched stem cells); namun belum dilaporkan hasilnya. Kedua; bagaimana dengan jaringan parut yang timbul belum banyak diperoleh informasi, meskipun pada berbagai literatur disampaikan informasi bahwa parut yang diperoleh pada aplikasi stem cells jauh lebih baik (lihat penjelasan pada proposal). Bagaimana dengan parut pada penyembuhan luka bakar yang kurang baik sebagaimana hukum alam menyatakan tidak ada luka sembuh tanpa bekas. Pertanyaan ini belum dapat dijawab dan membutuhkan penelitian jangka panjang lebih lanjut.

“Cara penggunaannya pada luka bakar dengan stem cell dari darah tali pusat dengan cara diteteskan. Hasilnya baik sekali dgn epitelisasi yg lebih cepat dan mengurangi sakit yang juga lebih cepat,” ujar Yefta.

Yefta menyimpulkan bahwa, aplikasi stem cells pada luka bakar derajat dua dalam menunjukan hasil lebih baik dibadingkan metode perawatan luka standar menggunakan krim SSD dan krim ambifilik; meski tidak dijumpai perbedaan signifikan bermakna (karena jumlah sampel belum terpenuhi) beberapa hal dapat diamati di klinik: 1) fase fibroplasia berjalan sesuai waktu prediksi, 2) epithelialisasi berlangsung pada daerah yang umumnya sulit berlangsung, 3) epithel yang terjadi lebih mendekati konfigurasi epithel normal sehingga lebih tahan terhadap berbagai bentuk iritasi dari luar.

Bahwa dijumpai keunggulan, tidak berarti stem cells menjanjikan suatu bentuk penyembuhan yang sempurna karena masih ada bahkan banyak hal yang belum terungkap dan diperlukan penelitian yang lebih mendalam. Paling tidak saat ini diperoleh informasi mengenai potensi stem cells dalam proses penyembuhan luka khususnya luka bakar; namun aplikasi embryonal stem cells yang mengagumkan membatasi para klinisi karena dihadapkan pada masalah etika yang – saat ini – mengharuskannya untuk digunakan hanya untuk tujuan penelitian.

Sementara itu Dr. Boenyamin Setiawan, PhD dalam penjelasan tentang “Perkembangan Industri Sel Punca di Dunia” mengatakan, bahwa perkembangan stem cell di Asia yang sangat berkembang saat ini yaitu di Cina, India, Malaysia, Thailand, Jepang Korea dan Singapura. “Sedangkan di Indonesia perkembangan stem cell baru mau berkembang, kalo dibandingkan dengan negara Asia saja masih jauh,” ujar Dr. Boen.

Dr. Boen mengatakan,terpenting adalah masih beruntung Indonesia, karena meski belum semaju negara negara di Asia, namun banyak pakar dan peneliti stem cell Indonesia yang menimba ilmu dari negara–negara Asia yang sudah maju dalam bidang stem cell. Kesempatan seperti inilah yang membuat Indonesia memiliki potensi untuk menjadi salah satu pemain tingkat dunia.

Prof. DR. Dr. Fachry Ambia Tandjung, SpB, SpOT (K) dari UNPAD Bandung dalam penjelasannya tentang “Peranan Stem Cell pada Bedah Tulang Othopedi.” Dia melaporkan dalam diskusi ini yang berhungan dengan penyakit osteoatritis. Penyakit osteoatritis tersebut kemudian diterapi dengan menggunakan stem cell melalui sumsum tulang. Proses penyembuhan dibutuhkan cukup lama sampai yaitu kurang lebih tiga bulan.

Prof. Dr. Drh Fedik Rantam, M Kes dari Unair Surabaya, dalam laporan penggunaan stem cell pada Orthopedi di Unair Surabaya sudah berjalan, di UNAIR RS Dr. Soetomo sudah berjalan sejak tahun 1998 yaitu dengan menggunakan Tissue engineering. Menggunakan Tissue engineering ini permintaannya banyak. “Akhirnya kita sedikit memodifikasi, dengan stem sell, itu lebih cepat lagi penyembuhannya. Proses penyembuhannya kalau dengan menggunakan pengobatan biasa bisa 3 bulan, tetapi dengan menggunakan stem cell hanya 1 bulan, ujar Prof. Fedik.

“Yang sudah dilakukan dengan menggunakan stem cell di Surabaya adalah orthopedic, Repair human bone fracture, Hematopoietic repair, Tendon repair and epithelial repair, Heart strock repair.”

Kedua masalah Bedah Plastik, sudah disiapkan produksinya, tinggal mengaplikasikan seperti apa, untuk repair. Ketiga, Liver repair, pancreas repair kelompok ini sudah banyak berkembang, Untuk perkembangan selanjutnya dioptimalisasikan, karena pusat stem sel itu di Surabaya.

Sementara itu Ketua Umum Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI) Drg. Ferry Sandra mengatakan, harapannya besar sekali, karena sekarang ini yang sudah dikerjakan baru sedikit sekali, karena di luar negeri saja diketahui sudah banyak yang mengerjakan berbagai terapi. Seperti yang belum di Indonesia: Autoimun, Diabetes untuk produksi insulinnya, spinal cord injury, retinal pigmentosa, leukemia, dan masih banyak lagi. “Harapannya di kemudian hari kita bisa juga berkembang seperti di luar negeri. Bahkan kalau memungkinkan dengan sistem allogenik. Peran dari akademik untuk mempelajari ilmu perkembangan (human development) juga dapat bergerak dan maju. Karena yg diketahui untuk human development memang belum banyak, akan lebih jelas jika nanti sampai perkembangan ke arah gen pun diketahui. Selain itu untuk pengetesan obat baru. Screening untuk obat baru juga penting sekali. Indonesia sekarang sedang menggalakkan penelitian dari herbal, nah ini bisa dicobakan dengan cepat menggunakan stem cell. Karena stem cell dapat membentuk organ kecil yang nanti dapat me–mimick organ kita, jadi seperti organ kecil. Organ kecil ini dapat dibuat di laboratorium dan digunakan untuk test obat, harapannya banyak obat baru nantinya yang efektif,” ujar Ferry.

2 respon to “Perkembangan Stem Cell di Indonesia”

  1. hanafi tan says:

    mohon tanya di rumah sakit mana saja di indonesia therapi stem cells sudah bisa dilakukan ,
    untuk penyakit apa saja
    perkiraan biayanya berapa ?

    terima kasih

  2. Mohon Informasi
    – Devisi apa tempat kami mendapatkan informasi di RS. Dr. Sutomo
    Surabaya
    – Waktu yang dibutuhkan untuk terapi stem cell diabetes
    – berapa biaya yang dibutuhkan untuk terapi stem cell diabetes

    Demikian atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terimakasih.

    Hormat,
    B. Rabiah Arkanita
    Jl. Toba 5 Perumnas Tanjung Karang Mataram Lombok, NTB



Trackbacks/Pingbacks


Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu