dalam kategori | Herbal

Perangi Tuberkulosis dengan Herbal

Perangi Tuberkulosis dengan Herbal

Tuberkulosis atau TB adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini menyerang paru-paru dan organ tubuh lain. Jika diterapi secara benar, penderita bisa sembuh. Sebaliknya, jika dibiarkan, penyakit itu dapat mengakibatkan kematian dalam lima tahun pertama. Selain itu, keterlambatan penanganan dapat berdampak besar karena penderita bisa menularkan penyakitnya kepada lingkungan dan orang-orang sekitarnya.

Pengobatan TB membutuhkan waktu yang cukup lama. Pengobatan awal biasanya membutuhkan enam bulan, kemudian dievaluasi kembali oleh dokter. Karena pengobatan yang cukup lama, hal itu sering kali membuat pasien putus berobat atau tidak teratur. Ini berakibat fatal karena kuman justru bisa kebal. Belum lagi obat-obatan tak selalu cocok dengan pasien sehingga bisa mengakibatkan alergi.

Tapi, penderita TB kini tak perlu khawatir. Ketua Persatuan Dokter Herbal Medicine Indonesia (PDHMI) Sulawesi Selatan, Profesor Veni Hadju, mengatakan, pasien TB bisa beralih ke obat-obatan herbal. Menurut dia, ada beberapa jenis tanaman yang bisa dikonsumsi untuk menangkal TB, di antaranya tanaman mahkota dewa dan sambiloto. Bahkan, baru-baru ini, penelitian yang dilakukan Institut Teknologi Bandung menemukan bahwa ramuan campuran antara jahe dan mengkudu bisa dipakai untuk melawan TB paru.

“Obat herbal itu juga bermanfaat untuk membunuh kuman. Hasil penelitian ITB yang menggabungkan antara jahe dan mengkudu ternyata sangat efektif, kenapa tidak dicoba?” kata Asisten III Direktur Pascasarjana Universitas Hasanuddin ini dalam Seminar Kesehatan Pengobatan Herbal Medicine pada Pasien TB Paru yang diadakan Forum Komunikasi Islam Kedokteran (FKIK) Wilayah IV di Universitas Muslim Indonesia (UMI).

Karena bahan obat-obatan herbal itu dari bahan alami, penggunaannya bisa dipadukan dengan obat-obatan kimia. Pemerintah menyiapkan pengobatan khusus terhadap penderita TB, yang dikenal dengan Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) atau pengobatan yang disertai dengan pengamatan langsung yang dilakukan di puskesmas.

Dari presentasi awal dalam seminar ini, terungkap sekitar 30 persen pasien TB tidak mampu diobati dengan DOTS. Menurut Veni, penyebabnya adalah mereka sudah resistan. Jadi mencoba pengobatan herbal adalah alternatif yang sangat bagus, mengingat efek samping obat-obatan herbal nyaris tak ada. Itu selama proses pengobatan dilakukan sesuai dengan prosedur.

Bersama rekan seprofesinya, Veni melakukan penelitian terhadap 60 pasien TB di Balai Besar Kesehatan Paru Makassar (BBKPM). Para pasien diberi suplemen gizi yang mengandung virgin coconut oil alias minyak kelapa murni dan albumin ikan gabus. Para pasien juga menjalani program DOTS. Hasilnya, mereka yang mendapat suplemen gizi lebih cepat sembuh dan komprehensif dengan kondisi paru yang memang bagus.

Guru besar di Fakultas Kedokteran Unhas ini berharap, ke depan, pemerintah memiliki kebijakan bagi pasien TB untuk melakukan pengobatan dengan obat-obatan herbal.

Ketua Komite Farmasi dan Terapi Rumah Sakit Umum Regional Dr Wahidin Sudirohusodo, Andi Irwan Irawan Asfar, mengatakan, pengembangan obat anti-TB dengan buah mengkudu, rimpang jahe gajah, rimpang jahe merah, dan beberapa tanaman lainnya telah melalui uji laboratorium, dari uji seleksi tumbuhan, uji mikrobiologi, standardisasi bahan, uji efikasi, keamanan, uji stabilitas, serta uji klinis. “Ternyata, gabungan antara jahe dan mengkudu dapat dijadikan anti-TB,” katanya.

Menurut Irwan, hasil uji pra-klinik pada ekstrak jahe dan mengkudu menunjukkan aktivitas anti-Mycobacterium tuberculosis, baik untuk yang peka maupun resistan terhadap obat standar. Kandungannya juga dapat meningkatkan ketahanan tubuh. Dan, sebenarnya, kombinasi antara jahe dan mengkudu ini sudah digunakan sebagai obat anti-tuberkulosis sejak 2005.

Mengapa mengkudu dan jahe tokcer menyembuhkan penyakit yang disebabkan bakteri berbentuk batang itu? Kedua bahan itu kaya senyawa antibakteri. Jahe, umpamanya, mempunyai gingerol yang bersifat antibakteri. Demikian juga mengkudu yang mengandung senyawa aktif antrakuinon, acubin, asperuloside, dan alizarin. Keempat senyawa itu juga digdaya menumpas bakteri TB.

Kedua bahan itu mempunyai sifat antibakteri lebih kuat ketika disatukan. Sebaliknya bila dipisah, kekuatannya berkurang. Prof Dr Elin Yulinah Sukandar, periset Sekolah Tinggi Farmasi Institut Teknologi Bandung yang melakukan penelitian atas pengobatan ini pernah memisahkan setiap kandungan dalam mengkudu dan jahe dengan pelarut berbeda. Ternyata khasiatnya tidak sebaik jika kandungannya digabungkan. ‘Jadi, tidak bisa diklaim hanya berdasarkan satu komponen saja, melainkan harus digabungkan,’ katanya.

Menurut Sarah Kriswanti, herbalis di Bandung, Jawa Barat, jahe dan mengkudu juga bersifat imunostimulan alias meningkatkan daya tahan tubuh. Riset ilmiah membuktikannya. Menurut S.G Franzblau dan R.T Rosent periset The State University of New Jersey, gingerol dalam jahe mampu meningkatkan daya tahan tubuh dan membunuh bakteri penyebab TB. Jonel Saludes periset University of Santo Tomas, Manila, Filipina, menemukan senyawa antibakteri dalam buah noni.

Sebelumnya, Dokter Zulkifli Amin PhD FCCP dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menguji klinis meniran. Hasilnya Phyllanthus niruri itu terbukti sebagai antituberkulosis. Pemberian 50 mg kapsul meniran selama 3 kali sehari menyembuhkan TB pada pekan ke-6 atau lebih cepat 8 minggu dibandingkan pasien yang tidak mengkonsumsi meniran.

Kalangan herbalis mengenal meniran sebagai imunomodulator alias penguat sistem kekebalan tubuh. Ketika kekebalan tubuh meningkat, bibit-bibit penyakit yang masuk ke dalam tubuh dapat dilemahkan. Menurut Dr Suprapto Maat dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, salah satu fungsi sistem imun adalah pertahanan. Intinya menangkal bahan berbahaya agar tubuh tidak sakit. Jika sel-sel imun diganggu, orang rentan sakit.

Dengan riset itu, semakin banyak pilihan obat untuk mencegah atau mengatasi penyakit yang menyerang organ paru-paru. Itu menjadi harapan bagi para pasien tuberkulosis untuk mengakhiri penderitaannya. Harap mafhum, Indonesia pasien TB ke-3 terbesar di dunia setelah Tiongkok dan India.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu