dalam kategori | Featured, Pola Hidup

Penyakit Orang Perkotaan

Penyakit Orang Perkotaan

Ternyata masih ada orang kota yang kurang darah (anemia), selain mengalami gangguan jiwa psikosomatis, darah tinggi, kencing manis, lemak darah tinggi, dan tingginya calon penderita kencing manis (prediabetes). Penyebabnya dipicu kesibukan dan kurang berolahraga.

Apa sikap kita menyimak hasil seperti itu?

Pertama, bahwa kebanyakan orang yang hidup di perkotaan didera oleh sejumlah penyakit yang sebetulnya tidak perlu mereka alami. Kesalahan terjadi karena selain dipicu oleh kondisi lingkungan perkotaan yang spesifik, juga penerapan pola hidup yang kurang sehat. Kedua, bagaimana kondisi itu disiasati agar seminimal mungkin sisa keburukannya berpengaruh terhadap sosok kesehatan.

Caranya?

Jangan diperbudak oleh waktu. Hampir sebagian orang perkotaan, khususnya Jakarta, tidak sarapan dulu sebelum berangkat ke tempat kerja. Sebagian bukan saja menunda, melainkan tidak sarapan sampai waktu makan siang.

Alasannya tidak cukup waktu, selain kekurangan waktu untuk menyiapkan sarapan pagi. Pulang sudah malam, dan harus berangkat lebih pagi agar tidak terlambat tiba di sekolah atau tempat kerja. Perlu waktu harus mengantar anak sekolah dulu, mempersiapkan yang lain,  sehingga sarapan terkalahkan.

Apa arti tidak sarapan? Jika hanya sekali dua kali tidak sarapan mungkin tidak sampai mengganggu. Namun, bila untuk waktu lama orang tidak membiasakan diri sarapan, bukan saja badan kian susut, sel-sel tubuh lama-kelamaan tidak menerima kecukupan nutrisi untuk melakukan fungsinya secara optimal.

Saat bangun tidur pagi hari, perut sudah mengalami masa berpuasa selama hampir 12 jam apabila makan malam pukul 19.00. Bila kondisi perut kosong itu tidak diisi pada waktunya sarapan, kekosongan nutrisi dan energi berlangsung lebih lama.

Itu menjadi berarti, tubuh tak mempunyai potensi untuk menampilkan kinerja harian yang optimal. Sebagian mungkin merasakan kelemahan, rasa tidak bugar, bisa jadi mengeluh munculnya gangguan lambung.

Keluhan lesu-letih-lemah kebanyakan orang perkotaan, kemungkinan lantaran sarapan bukan bagian dari jadwal kebiasaan makannya. Kalaupun sarapan, sexing seadanya, seketemunya, seolah hanya untuk tujuan mengganjal perut belaka. Padahal, makna sarapan mestinya dilihat sebagai pengisian “bensin” bagi “mesin” tubuh supaya sepanjang waktu bekerja lancar berputar.

Gizi Lengkap

Untuk itu bukan saja perlu cukup porsinya, melainkan juga lengkap zat gizinya. Secara medis, mestinya sarapan pagi itu bagaikan menu pangeran, yakni lengkap dan segala ada, tak ubahnya sarapan orang Amerika (American breakfast). Ratarata kita hanya nasi dengan telur ceplok, kalau bukan mi rebus.

Tidak terbiasa sarapan untuk waktu lama, tentu menurunkan kinerja harian. Tubuh pun setelah sekian lama akan menderita kekurangan sejumlah zat gizi.

Terbukti sebagian responden dari penelitian di atas mengidap kekurangan darah (anemia) yang sumber penyebabnya lantaran kurang asupan makanan karena tidak sarapan, dan menu harian pun sering seadanya. Dampak anemia terhadap produktivitas kerja jelas amat terkait, termasuk pada pencapaian prestasi anak sekolah.

Selain itu, lingkungan perkotaan bukan berarti sudah terbebas dari pencemaran telur cacing perut. Dulu pernah diungkap kalau sayur-mayur yang masuk ke kota diduga sudah tercemar telur cacing perut.

Kecacingan orang kota bukan hal yang mustahil kalau sayur-mayur di pasar swalayan terbukti ada yang tercemar telur cacing perut. Kecacingan diam-diam bikin anemia orang kota.

Hal lain bahwa keluhan nyeri sendi juga cukup banyak dialami orang kota. Gangguan pada persendian selain kurang melakukan gerak badan, alih-alih berolahraga, kemungkinan ada unsur zat gizi yang memang sudah lama kekurangan dalam menu harian. Keluhan pegal-linu hampir rutin terdengar di kalangan orang perkotaan.

Kekurangan vitamin B, mineral kalsium, belum lagi trace elements, lazim muncul bila pola makan serba instan. Menu yang tidak dipersiapkan secara tepat, sering-sering untuk alasan praktis saja, sehingga tidak memilih makan di rumah, melainkan jajan, sebagian memilih jenis menu “ampas” junk food serta fast food, dengan segala kelemahannya.

Cukup kalori, berlebihan lemak, gula, garam, belum tentu lengkap nutrisinya. Oleh karena itu, bukan kasus aneh orang perkotaan gemuk tetapi kekurangan gizi.

Yang menjadi masalah, keluhan sendi dan pegal-linu acap ditanggapi secara keliru. Bukan melacak penyebabnya yang belum tentu hanya satu, melainkan langsung memilih minum jamu.

Kita mendengar, sebagian jamu yang dijajakan bersifat “nakal”. Ada obat dokter yang dimasukkan ke dalam jamu agar lebih tokcer khasiatnya. Jamu pegal-linu, misalnya, dicampur dengan obat golongan kortikosteroid (obat dewa berharga murah) yang bikin enteng keluhan letih-lesu. Begitu temuan Badan POM belakangan ini ketika menelisik puluhan merek produksi jamu rumahan.

Apa bahayanya?

Minum jamu yang dicampur kortikosteroid untuk waktu lama jelek efek sampingnya. Selain memicu darah tinggi dan kencing manis, serta memperburuk mereka yang sudah mengidapnya, obat steroid ini juga bikin tulang jadi keropos.

Kasihan rakyat, sudah gizi menu hariannya rendah saja, harus mengalami pengeroposan tulang selair terancam penyakit darah tinggi dan kencing manis, gara-gara dalam kondisi ketidaktahuan mengonsumsi jamu “nakal” selama bertahun-tahun. Keluhan pegal linunya suatu saat akan diakhiri dengan nyeri tulang luar biasa, bisa jadi akibat patah tulang lantaran tulang telanjur keropos.

Sehat Perlu Niat

Pola konsumsi menu restoran dan menu jajanan yang dikonsumsi rata-rata orang perkotaan, juga ikut memicu tingginya asam urat dalam darah, dengan segala akibatnya. Kita tahu asam urat yang tinggi dalam darah selain berpotensi memunculkan encok urat, juga berdampak buruk terhadap kencing manis dan penyakit pembuluh darah yang mungkin sebelumnya sudah diidap.

Selain bikin encok, asam urat yang tinggi dalam darah juga berpotensi membentuk “batu urat”, sehingga muncul penyakit kencing batu. Berapa harga yang mesti dibayar kalau harus operasi batu ginjal?

Pola makan serba boros lemak, royal gula, serba asin garam dapur, buruk pengaruhnya terhadap tubuh. Rata-rata orang perkotaan yang langganan makan di restoran atau warung makan, cenderung menjadi kelebihan berat badan. Dari penelitian di atas terungkap pula kalau angka asam urat tinggi mereka ternyata seiring dengan peningkatan berat badan.

Kebiasaan mengonsumsi menu di luar rumah juga memicu munculnya berbagai jenis penyakit yang berasal dari sindroma metabolik seperti sudah disebut tadi. Tidak heran, orang-orang perkotaan juga terancam kelebihan lemak dalam darah (kolesterol, trigliserida) selain darah tinggi dan kadar gula darah.

Yang merisaukan juga, bahwa angka kasus prediabetes, mereka yang berisiko terancam untuk mengidap diabetes juga lebih tinggi dari kurun waktu dua dasawarsa lalu. Itu berarti, pola makan yang serba instan itu, yang gizinya serba tak seimbang dan tidak memenuhi kaidah gizi sebagaimana lazim dilakukan rata-rata orang perkotaan, yang jadi penyebabnya.

Lengkap sudah kondisi buruk status kesehatan rata-rata orang kota yang serba dikejar waktu, tak ada waktu untuk cukup jeda, alihalih bisa tidur siang, badan terkuras untuk kerja yang sering melebihi toleransi tubuh, belum lagi kehilangan energi di jalan raya karena kelemahan sistem transportasi kota. Anak sekolah juga dipaksa harus bangun lebih pagi dan kehilangan sarapan supaya tidak terlambat masuk sekolah.

Berapa jumlah waktu dan energi orang perkotaan yang habis percuma untuk menyiasati sekian banyak hambatan yang dihadapi perikehidupan kota. Pengorbanan yang sebetulnya tidak perlu terjadi setelah menyadari kalau itu tak boleh berlangsung terus-menerus.

Termasuk tidak sempat berolahraga. Kelebihan berat badan hanya karena jenis menunya kelebihan lemak dan gula, tetapi belum tentu kecukupan seluruh zat gizi yang tubuh butuhkan, tidak kunjung diimbangi dengan bergerak badan, kalau bukan berolahraga.

Kurang Gerak

Tak punya cukup waktu menjadi alasan kebanyakan orang perkotaan yang kesibukan hariannya berpola pergi subuh pulang malam hari. Berolahraga tidak rutin dan hanya seminggu sekali tentu tidak menolong, selain tidak memberi manfaat bagi kebugaran tubuh.

Bukti bahwa orang perkotaan serba kekurangan bergerak badan tampak dari kadar kolesterol jenis HDL (high density lipoprotein) yang rendah saja. Kadar gugus kolesterol jenis yang baik ini, yang sebetulnya berpotensi menggagalkan bahaya kelebihan kolesterol tubuh dengan akibat buruknya pada pembuluh darah jantung dan otak – seharusnya bisa dikatrol lebih tinggi dengan cara bergerak badan. Hampir separuh HDL orang perkotaan ternyata rendah saja.

Untuk meningkatkan HDL supaya tidak terancam jantung koroner atau stroke, dapat disiasati dengan berdisiplin memilih jalan kaki rutin setiap hari. Ini soal kemauan menatalaksana waktu.

Perlu bangun tidur lebih dini agar masih tersisih waktu buat berjalan kaki barang 40 menit. Sayangnya, cara mudah, murah, dan sederhana ini sering terkalahkan oleh rasa letih bekerja seharian, sehingga berdisiplin jalan kaki setiap hari sukar terlaksana.

Tampak dari penelitian ini kalau angka gangguan jiwa psikosomatis juga terbilang tinggi pada orang perkotaan. Kehidupan keseharian kota,yang harus menghadapi stressor hampir setiap saat, menambah beban yang harus dipikul jiwa.

Penderitaan jiwa yang dihibahkan kepada tubuh pada orang-orang yang kurang tahan banting, akan memunculkan gangguan psikosomatis. Berkeringat, jantung berdebar, sering kembung, nyeri ulu hati, bagian dari gangguan itu. Termasuk rasa cemas, rasa risau, rasa gelisah, dan merasa tidak tenteram sejahtera, bagian dari emosi negatif orang perkotaan juga.

Jadi, sekali lagi, yang perlu diubah tentu saja pola dan gaya hidup kota yang tidak boleh mengalahkan segala yang sesungguhnya menyehatkan. Tidak ngoyo dan mau memilih makan di meja makan rumah, termasuk mengutamakan sarapan, serta punya waktu bergerak badan yang tidak boleh dikalahkan oleh apa pun lainnya.

Kalau niat itu ada, semua bisa dikalahkan oleh penatalaksanaan waktu yang tepat dan efisien.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu