dalam kategori | Pola Hidup

Pentingnya gizi untuk generasi 100 tahun mendatang

Pentingnya gizi untuk generasi 100 tahun mendatang

Sudah tidak aneh terdengar di kuping masyarakat bahwa Indonesia termasuk dalam peringkat 5 besar anak pendek atau stunting yang diakibatkan oleh gizi buruk. Hal ini akhirnya membuat pemerintah semakin menekankan program-program yang dapat menyadarkan masyarakat akan pentingnya gizi untuk generasi selanjutnya.

Ditekankan oleh drh Safarina G. Malik, MS, PhD dari Lembaga Eijkman untuk Biologi Molekuler UI, bahwa anak pendek maupun anak sehat 100 tahun mendatang gizinya dapat ditentukan dari sekarang.

“Sebenarnya kita menghadapi intergenerational effects. Jadi ketika ibu kita pendek dan kurus kemudian melahirkan anak yang pendek dan kurus, ini bukan karena genetiknya. Ini karena gizi yang tidak optimal masuk kedalam plasenta saat hamil, oleh sebab itu asupan gizi pada ibu hamil sangat penting,” ujarnya.

Safarina mengungkapkan hal tu dalam seminar dengan tema ‘Public Private Partnership dalam Menunjang Scaling Up Nutrition (SUN) Movement Melalui Perbaikan Status Gizi di 1.000 Hari Pertama Kehidupan’ yang diadakan di Balai Sidang Universitas Indonesia Fakultas Kesehatan Masyarakat, Kampus Universitas Indonesia.

Ia menambahkan bahwa siklus dari short thin mother akan terus berulang jika nutrisi yang diterima pada pembentukan plasenta kurang. “Jika tiba-tiba jadi orang kaya dan akhirnya berlebih, anak cenderung menjadi short fat adult karena kelebihan gizi tapi tubuhnya pendek, dimana kasus ini semakin banyak ditemukan di desa,” terang drh Safarina.

Anak dengan nutrisi yang kurang dalam 1000 hari pertama (sejak 9 bulan kandungan) kehidupannya akan cenderung memiliki faktor risiko kedepannya. Faktor-faktor ini berupa penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan jantung.

Senada dengan hal itu, pakar kesehatan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, dr Endang L. Achadi, MPH, Dr.pH menambahkan bahwa sebelum ibu hamil harus benar-benar dipersiapkan gizinya dengan baik. “Walaupun pendek asal jangan kurus, karena nanti nutrisinya tidak optimal masuk ke anaknya. Pembentukan plasentanya pun kecil,” katanya.

dr Endang menjelaskan bahwa masa pertumbuhan memang berhenti di usia 18 tahun, namun pembentukan panggul dan pematangan di dalamnya justru baru dimulai. “Oleh karena itu perkawinan seperti di desa-desa yang 13 tahun sudah menikah itu tidak baik untuk perkembangan anaknya nanti. Jadi, Sebelum hamil dan untuk generasi selanjutnya siapkanlah fisik baik-baik agar anak yang dihasilkan menerima gizi yang baik pula dari ibunya,” ucapnya.

Acara ini merupakan wujud dari gerakan Scaling Up Nutrition (SUN) yang bertujuan untuk mencegah dan mengurangi prevalensi anak pendek karena kurang gizi kronis dan mencegah kegemukan akibat gizi lebih.

Teknologi Bisa Membuat Warga Bergizi Buruk

Gizi buruk bisa disebabkan banyak berubahnya pola, seperti pola hidup dan pola makan. Di balik perubahan pola tersebut ada faktor yang mempengaruhinya, salah satunya faktor teknologi. Profesor (Em) Soekirman, PhD mengatakannya usai Seminar yang sama.

“Teknologi pertama yang memengaruhi pola hidup adalah teknologi processing makanan. Pabrik-pabrik pengolah makanan sekarang itu luar biasa banyaknya dan luar biasa canggihnya. Dan luar biasa murahnya. Dan mereka sudah bisa makanan yang enak berlemak dan manis itu tidak mahal lagi.”

Padahal dulu, makanan seperti cake hanya ada di supermarket dengan harga mahal. Tapi, sekarang sudah ada di gerai franchise atau di warung-warung. Jadi, produksi makanan yang tinggi kandungan lemak, gula, dan garamnya, sekarang mudah diproses, didapat, dan murah.

“Ini mempengaruhi pola konsumtif orang-orang di desa dan di sini (kota). Mereka sekarang kalau ke pasar mencari makanan yang bergengsi dan enak. Nah jadi pola makannya berubah,” kata Prof. Soekirman.

Teknologi kedua yang berpengaruh pada pola hidup adalah teknologi transportasi. Transportasi membuat seseorang jadi tidak banyak gerak sehingga hanya sedikit kalori yang dikeluarkan dan mengakibatkan kegemukan

Prof. Soekirman menjelaskan,”Sekarang orang sudah jarang jalan kaki. Petani pun ke sawah naik motor, naik ojek. Ke pasar naik angkot. Sedangkan anak sekolah kan suka naik angkot, sampai di rumah duduk, nonton TV, main game. Nah apa itu artinya? Mereka sudah tidak bergerak sehingga mereka hidupnya santai. Berarti, banyak kalori tidak keluar, kadar makanannya makin banyak lemak. Sehingga disimpan menjadi lemak dan itu menjadi proses kegemukan.”

Teknologi ketiga adalah teknologi IT (Informasi Teknologi), khususnya iklan TV. Semua produk dari perusahaan semua orang bisa tahu karena muncul di TV.

“Nah, itu kalau sudah di TV, mereka itulah yang terbaik, itulah yang bergengsi, dan itulah yang dicari,” kata Prof. Soekirman.

Jadi kombinasi dari tiga perkembangan teknologi tersebut ikut andil di dalam perubahan pola hidup dan pola makan yang membawa pada risiko gizi buruk nantinya.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu