dalam kategori | Layanan Kesehatan

Penanganan pada penderita Overdosis

Penanganan pada penderita Overdosis

Overdosis (OD) atau kelebihan dosis terjadi apabila tubuh mengabsorbsi obat lebih dari ambang batas kemampuannya (lethal doses). Biasanya, hal ini terjadi akibat adanya proses toleransi tubuh terhadap obat yang terjadi terus menerus, baik yang digunakan oleh para pemula maupun para pemakai yang kronis. OD sering terjadi pada penggunaan NARKOBA golongan narkotik bersamaan dengan alkohol dan obat tidur/anti depresan, misalnya golongan barbiturat luminal, valium, xanax, mogadon/BK, dan lain-lain.

Ada beberapa gejala klinis yang dapat dilihat pada para pecandu yang mengalami gejala over dosis, yakni:

  1. Penurunan kesadaran
  2. Frekuensi pernafasan kurang dari 12 kali per menit
  3. Pupil miosis
  4. Riwayat pemakaian morfin atau heroin mempunyai ciri yang khas yakni tanda bekas jarum suntik

Jika Anda menemukan pengguna narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif lainnya (Napza) mengalami over dosis (OD), Ferri Zul dari tim advokasi Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI) memberikan beberapa tips yang bisa Anda lakukan.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menghubungi ambulans atau mencari kendaraan sendiri untuk membawa korban ke rumah sakit terdekat. Sambil menunggu ambulans, langkah yang harus dilakukan adalah dengan memastikan apakah korban masih sadar dengan cara melihat respons korban ketika dicubit.

Juga harus dipastikan apakah korban masih bernapas dengan cara merasakan keluar masuknya udara dari hidung atau mulut. Yang penting juga dilakukan adalah membebaskan saluran pernapasan dari sumbatan misalnya buih yang keluar dari mulut korban atau bahkan lidah yang tertarik ke belakang kerongkongan.

Jika kondisi korban mengeluarkan buih, maka harus dibaringkan dengan posisi tubuh miring. “Jangan telentang atau tengkurap karena buih akan menyumbat kerongkongan. Usahakan saluran pernapasan jangan sampai tersumbat buih, dengan memiringkan korban,” ujarnya.

Di kalangan pengguna Napza sendiri, ada mitos untuk menangani korban OD dengan meminumkan susu, serta menyuntikkan cairan garam untuk penetralisir racun. Selain itu juga ada mitos disiram dengan air untuk mempercepat siuman. “Semua mitos itu salah. Justru malah membahayakan korban. Minum susu malah dapat menyumbat saluran pernapasan,” kata dia.

Menurut Ferri, banyaknya kasus OD yang berujung pada kematian disebabkan karena pertolongan yang terlambat. Apalagi, asumsi negatif bagi pengguna napza menjadikan banyak masyarakat yang tanggung dalam memberikan pertolongan terhadap kasus OD.

Apabila menemukan korban overdosis obat, lakukan penanganan sebagai berikut:

  1. Jaga jalan pernapasan dan lakukan pernapasan buatan jika diperlukan
  2. Usahakan korban tetap tersadar, gunakan lap atau handuk basah untuk menyeka wajahnya.
  3. Ajak korban berbicara jika memungkinkan. Tanyakan jenis obat yang dipakai dan berapa jumlahnya.
  4. Jika korban masih dalam pengaruh obat dan mulutnya masih terlihat sisa-sisa obat, keluarkan dengan mengoreknya memakai jari-jari. Usahakan agar korban tidak sampai tersedak.
  5. Jika merasa situasi tidak aman, segera cari bantuan paramedis.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu