dalam kategori | Layanan Kesehatan

Opini: Brainwash alias cuci otak

Opini: Brainwash alias cuci otak

Seperti biasa, tulisan Dahlan Iskan di Jawa Pos miliknya, selalu menarik perhatian. Tulisan pak Dahlan di Jawa Pos, Senin (18/02/2013) tak kalah menarik. Dibawah judul “Membersihkan Gorong-Gorong Buntu di Otak”, pak Dahlan bercerita secara rinci, bagaimana ketika otaknya dicuci oleh dr Terawan di RSPAD Gatot Subroto Jakarta.

Seperti yang diceritakannya sendiri, cuci otak yang dilakukannya sekedar mencoba ingin mengetahui bagaimana rasanya, walaupun secara medis tidak jelas indikasinya. Dua minggu sebelumnya, otak isterinya juga dicuci.

Fenomena mencoba pak Dahlan ini nampaknya dimiliki para petinggi lainnya, bisa dimaklumi. Sebagai orang awam di bidang medis, nampaknya para petinggi itu kesemsem dengan promosi gencar cuci otak. Mereka takut kena stroke, jadi perlu di prevensi dgn cuci otak. Siapa orangnya yang tidak ngeri, kalau ditakuti bakal terkena stroke. Sungguh suatu promosi intelektual yang jitu dan luar biasa. Prosedur Digital Subtraction Angiography (DSA) yang dilakukan pada cuci otak, telah dinaikan pangkat dari sarana diagnosis menjadi sarana terapi, bahkan juga dibengkokan menjadi sarana prevensi. Sesuatu hal yang salah kaprah menurut medis.

Kalau saja ada 1000 dokter, 400 orang setuju metode cuci otak dan 600 lainnya menolak, itu bisa dikatakan pendapat yang terbelah, karena jumlahnya hampir seimbang. Namun kalau dari 1000, hanya 20 orang saja yang setuju, itu bukan terbelah namanya. Kenyataannya, lebih dari 98% masyarakat kedokteran Indonesia belum menerima cuci otak.

Mengapa masyarakat kedokteran Indonesia belum menerima cuci otak? Jawabnya sederhana yaitu, mereka perlu penjelasan secara tuntas prosedur cuci otak itu. Jangankan pada masyarakat , pada forum ilmiah kedokteranpun dr Terawan enggan membukanya. Contohnya, tgl 4 Oktober 2011, ketika Tim Karotis RSCM yang diketuai Prof. Dr. Teguh Ranakusuma, Sp.S(K) minta keterangan dr Terawan obat apa yang dimasukan, beliau menolak menjelaskan. Tentu penolakan ini membuat para ahli RSCM itu kecewa. Sebenarnya kalau cuci otak yang dilakukan itu sesuai prosedur dan memiliki dasar ilmiah yang benar, tentu tidak perlu ada yang disembunyikan. Sikap ini tergolong unik, sekaligus langka. Dalam forum ilmiah, biasanya seorang dokter bersikap terbuka atas metode yang dilakukannya. Dari forum itu bisa dinilai dasar ilmiah dari tindakannya. Bila dinilai benar, maka yang bersangkutan memiliki legitimasi ilmiah dari koleganya. Bukan legitimasi testimony masyarakat yang kebenarannya diragukan. Merahasiakan suatu metode pengobatan, sangat bertentangan dgn etika kedokteran.

Atas sikap rahasia dr Terawan tentang obat yang dimasukan, masyarakat kedokteran Indonesia hanya bisa menerka-nerka. Satu-satunya obat yang mampu menghancurkan bekuan darah penyumbat aliran otak hanyalah golongan obat yang disebut thrombolysis. Diantaranya adalah, recombinant tissue plasminogen activator (rTPA), streptokinase dan urokinase. Obat ini sangat bahaya bila diberikan lebih dari 8 jam setelah menderita stroke. Bahaya terbesar adalah perdarahan otak yang bisa merenggut nyawa pasien. Sementara ini belum ada obat lain yang dapat menghancurkan bekuan darah. Dan obat ini dilarang diberikan sebagai upaya prevensi model pak Dahlan yang normal. Untuk lengkapnya silahkan klik http://en.wikipedia.org/wiki/Thrombolytic_drug

Dari pola pikir diatas, pastilah cuci otak itu tidak menggunakan obat thrombolysis. Dr Terawan tentu tidak berani menganggung resiko perdarahan yang terjadi. Alasan lainnya, cuci otak ini diberikan kapan saja, tidak mengenal waktu kapan stroke mulai diderita. Lebih-lebih untuk tindakan prevensi untuk orang normal macam pak Dahlan, bahaya perdarahan semakin besar, karena obat ini akan merusak proses pembekuan darah normal. Jadi obat yang diberikan pada pak Dahlan itu, bukan thrombolysis, atau dengan kata lain pak Dahlan tidak memperoleh obat yang tepat untuk menghancurkan bekuan darah di otaknya.

Atau mungkinkah pak Dahlan memperoleh obat baru yang berasa mint? Mungkin saja itu obat baru thrombolysis. Setiap penemuan baru dibidang kedokteran, pasti akan segera diketahui oleh masyarakat ilmiah kedokteran sedunia. Itu akan dimuat secara besar-besaran dalam journal ilmiah kedokteran yang jumlahnya ribuan. Sayangnya hingga kini obat thrombolysis masih seperti yang disebut diatas. Belum ada tambahan. Dari pengalaman beberapa neuro-interventionist, tidak ada satupun obat thrombolysis yang berasa mint.

Dari sudut neurology, tidak ada tindakan intervensi untuk mencegah stroke pada orang normal. Tindakan yang paling baik untuk mencegah stroke adalah menghindari factor resiko stroke. Itu, antara lain, hidup teratur penuh keseimbangan, olah raga, tidak merokok, tidak minum alcohol, mencegah kegemukan, menghindari stress, mengobati hipertensi, kencing manis, lemak tinggi dan lain-lain. Jadi tindakan intervensi pada orang normal untuk mencegah stroke, hanyalah omong kosong belaka.

Disarikan dari tulisan Prof dr M. Hasan Mahfoed, Guru Besar Fak Kedokteran Unair

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu