dalam kategori | Penyakit

Olahraga aerobik sebagai obat Hipertensi

Olahraga aerobik sebagai obat Hipertensi

Pengobatan pada hipertensi semestinya dilakukan secara nonfarmakologi. Upaya non farmakologi yang lebih memasyarakat adalah olahraga aerobik, karena pelaksanaanya mudah ,murah, meriah, manfaat dan aman. Banyak bentuk olahraga aerobik yang dapat ditempuh oleh para pasien hipertensi, mulai dari jalan cepat, jogging, senam aerobik, dan lainnya yang dilakukan secara sukarela dan sesuai dengan peminatnya terhadap macam olahraga aerobik.

1. Olahraga Untuk Penderita Hipertensi

Penderita hipertensi atau mereka yang mengidap penyakit tekanan darah tinggi dapat mengikuti program olahraga atau latihan yang sesuai dengan kondisi penyakitnya. Seseorang mungkin saja hanya mengidap hipertensi tanpa mengidap penyakit laiannya, salah satunya ialah penyakit jantung koroner (PJK).

Untuk penderita hipertensi faktor yang harus diperhatikan adalah tingginya tekanan darah. Semakin tinggi tekanan darah semakin keras kerja jantung, sebab untuk mengalirkan drah saat jantung memompa berarti jantung harus mengeluarkan tenaga sesuai dengan tingginya tekanan itu. Bila jantung tidak mampu memompa dengan tekanan setinggi itu, berarti jantung akan gagal memompa darah.

Masuk akal bagi penderita hipertensi faktor tekanan darah memegang peranan penting dalam menentukan boleh tidaknya berolahraga, takaran dan jenis olahraga yang akan dilakukan. Jika dalam keadaan istirahat atau diam seseorang yang tekanan darahnya sudah mencapai 200/120 mmHg, dapat dibayangkan bila bergerak atau melakukan aktivitas fisik tekanan darahnya akan semakin naik pula.

Oleh karena itu beberapa hal yang dapat dijadikan acuan yang harus dipenuhi sebelum memutuskan untuk berolahraga diantaranya adalah :

  1. Penderita hipertensi sebaiknya dikontrol atau dikendalikan tanpa dengan obat terlebih dahulu tekanan darahnya, sehingga tekanan darah sistolik tidak melebihi 160 mmHg dan tekanan diastolik tidak melebihi 100 mmHg. Artinya seseorang yang menderita hipertensi jika ingin berolahraga harus mengontrol tekanan darahnya, kalau mungkin sampai taraf relatif normal yaitu tekanan darah sistolik 140 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg.
  2. Hal yang sangat bijak jika sebelum berolahraga anda mendapatkan informasi mengenai penyebab hipertensi yang sedang diderita, sekaligus kalau mungkin juga informasi mengenai kondisi organ tubuh lainnya yang akan terpengaruh oleh penyakit tersebut. Antara lain bagaimana keadaan jantung, ginjal, serta pemeriksaan laboraturium darah maupun urin. Kondisi organ tersebut akan mempengaruhi keberhasilan dalam memperoleh pengaruh positif olahraga yang anda lakukan.
  3. Sebelum melakukan latihan sebaiknya telah dilakukan uji latih jantung dengan beban (treadmill/ergometer) agar dapat dinilai reaksi tekanan darah serta perubahan aktivitas listrik jantung (EKG), sekaligus menilai tingkat kapasitas fisik. Berdasarkan hasil uji latih ini dosis latihan dapat diberikan secara akurat.
  4. Pada saat uji latih sebaiknya obat yang sedang diminum tetap diteruskan sehingga dapat diketahui efektifitas obat terhadap kenaikan beban. Apakah obat sudah tepat, artinya tekanan darah berada dalam lingkup ukuran normal atau masih menunjukan reaksi hipertensi saat anda diberi tes pembebanan.
  5. Latihan yang diberikan ditujukan untuk meningkatkan daya tahan (endurance) dan tidak boleh menambah peningkatan tekanan sehingga bentuk latihan yang paling tepat adalah jalan kaki, bersepeda, senam dan berenang (olahraga aerobik).
  6. Olahraga yang bersifat kompetisi tidak diperbolehkan. Olahraga yang bersifat kompetisi dikhawatirkan akan memacu emosi sehingga akan mempercepat peningkatan tekanan darah.
  7. Olahraga peningkatan kekuatan tidak diperbolehkan. Seperti angkat beban dan sejenisnya . Olahraga ini akan menyebabkan peningkatan tekanan darah secara mendadak dan melonjak.
  8. Secara teratur memeriksa tekanan darah sebelum dan sesudah latihan. Olahraga pada penderita tidak hanya ditentukan oleh denyut jantung tetapi juga berdasarkan reaksi tekanan darahnya.
  9. Salah satu hasil dari olahraga pada penderita hipertensi adalah terjadi penurunan tekanan darah, sehingga olahraga dapat menjadi salah satu obat hipertensi. Bagi penderita hipertensi ringan (tensi 160/95 mmHg tanpa obat), maka olahraga disertai pengaturan makan (mengurangi konsumsi garam) dan penurunan berat badan (bagi yang berlebih) dapat menurunkan tekanan darah sampai tingkat normal (140/80 mmHg).
  10. Umumnya penderita hipertensi mempunyai kecenderungan adanya kaitan dengan beban emosi (stres). Oleh karena itu disamping olahraga yang bersifat fisik dilakukan pengendalian emosi. Upaya yang mungkin dilakukan adalah mendekatkan diri dengan Tuhan.
  11. Jika hasil latihan menunjukan penurunan tekanan darah, maka dosis obat yang sedang digunakan sebaiknya dilakukan penyesuaian. Untuk itu tanyakan pada dokter ahli yang menangani hal tersebut.

2. Mekanisme Menurunya Tekanan Darah

Untuk mengetahui mekanisme menurunya tekanan darah, sebaiknya kita simak dahulu fenomena alam. Kalau kita perhatikan arus sungai, arus menjadi deras jika sungainya kecil, sebaliknya jika arusnya lambat maka sungainya lebar. Arus sungai diidentikkan dengan aliran darah didalam pembuluh darah, jika pembuluhnya mengecil tekanannya akan meningkat, sebaliknya jika pembuluh melebar tekanan akan turun. Salah satu hasil latihan fisik yang teratur adalah pelebaran pembuluh darah sehingga tekanan darah yang tinggi akan menurun. Pengaturan lain yang akan mempengaruhi turunnya tekanan darah adalah terkendalinya pusat pengaturan darah di dalam tubuh. Hal lain adalah hormonal yang biasa memacu tekanan darah semakin sedikit dikeluarkan atau dipakai. Semua faktor diatas memberi kontribusi atas turunnya tekanan darah.

3. Manfaat Latihan Olahraga Bagi Jantung dan Tubuh

Manfaat olahraga bagi jantung dan tubuh antara lain :

  • Kerja jantung efisien
  • Keluhan nyeri dada ketika melakukan aktifitas akan berkurang atau menghilang
  • Kadar lemak didalam darah akan semakin menurun
  • Pembuluh darah jantung atau arteri koroneria akan lebih besar dan lebar dibanding dengan orang yang tidak terlatih. Disamping itu kolateral atau pembuluh darah baru bila sudah terjadi penyempitan atau penyumbatan.
  • Pembuluh darah setelah operasi atau setelah pelebaran dengan balon tetap terbuka.
  • Mencegah timbulnya penggumpalan darah.
  • Enzim bekerja lebih efisien.
  • Kemampuan tubuh atau kesegaran jasmani akan meningkat.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu