dalam kategori | Featured, Pola Hidup

Model Prancis Korban Anoreksia

Model Prancis Korban Anoreksia

Aktris dan model Prancis yang menderita anoreksia, Isabelle Caro meninggal di usia 28 tahun. Caro dikenal setelah ia membintangi iklan yang mengkampanyekan anti anoreksia.

Meninggalnya Caro baru diketahui dari mantan pelatih aktingnya Daniele Dubreuil-Prevot. Menurut Dubreuil-Prevot, Caro meninggal di sebuah rumah sakit di Tokyo, 17 November lalu. Di rumah sakit tersebut, wanita dengan tinggi 164 cm itu sempat dirawat selama dua minggu karena pneumonia.

Caro menjadi perbincangan dunia setelah ia berpose bugil dalam sebuah iklan yang mengkampanyekan anti anoreksia. Iklan tersebut dipajang di sebuah billboard dalam acara Milan Fashion Week pada 2007.

Saat melakukan pemotretan tanpa busana yang disponsori brand fashion Italia, ‘No-l-ita’ itu, Caro memiliki berat badan 31 kg. Ia difoto oleh fotografer kenamaan Olivero Toscani. Saat tampil dalam iklan tersebut, Caro tidak memakai make-up karena ingin memperlihatkan betapa anoreksia sungguh membuat tubuhnya ‘habis’.

Caro mau tampil bugil dalam iklan tersebut karena dia mau membuat orang sadar kalau anoreksia adalah suatu hal yang sangat membahayakan. Sejak membintangi iklan itu, ia pun merasa menjadi duta anoreksia.

Wanita yang tinggal di Marseilles, Paris itu menderita anoreksia sejak usianya 13 tahun. Sejak kecil, dia pun kerap masuk rumah sakit karena kekurangan nutrisi.

Isabelle Caro, berfore and after

Penderita Anoreksia, Tren atau Kelainan?

Anoreksia nervosa merupakan kelainan, bukan tren. Biasanya penderita anoreksia ditandai dengan perubahan gambaran tubuh sendiri, munculnya ketakutan luar biasa akan kegemukan, penolakan untuk mempertahankan berat badan normal sehingga mereka ngotot diet mati-matian agar mendapat badan super kurus.

Sebagian besar penderita anoreksia adalah perempuan. Tak mengherankan, soalnya jika dikaitkan dengan isu kecantikan, para perempuan lebih gampang ‘diintimidasi’ termasuk gambaran tentang tubuh ideal (atau super kurus) agar bisa disebut ‘cantik’.

Banyak penderita yang meninggal di usia dini, dan paling tidak lima hingga delapan belas persen yang dirawat akibat anoreksia selanjutnya meninggal karena kelaparan atau bunuh diri.

Gangguan ini umumnya muncul di usia 17 dan sangat jarang dijumpai pada perempuan di atas usia 40. Masalah ini bisa dipicu peristiwa yang memicu depresi, seperti dikeluarkan dari kampus.

Siapa saja yang dapat mengalami anoreksia?

Gangguan makan seperti anoreksia umumnya dialami oleh wanita terutama mereka yang berprofesi sebagai aktor, model, penari dan atlet. Mereka umumnya takut kelihatan gemuk akibat tuntutan profesi yang lebih mementingkan penampilan tubuh.

Penderita anoreksia tampak sangat berprestasi baik di sekolah, olah raga, pekerjaan dan aktivitas lainnya. Mereka terlihat perfeksionis dengan obsesif, cemas atau gejala depresif. Anoreksia dimulai pada masa pubertas dan dapat muncul kapan saja.

Apa sih penyebab anoreksia?

Penyebab pasti anoreksia masih belum diketahui namun diduga akibat kombinasi antara karakter pribadi, emosi, dan pola pikir. Faktor biologi dan lingkungan juga berperanan penting atas terjadinya anoreksia.

Penderita anoreksia sering menggunakan makan dan makanan sebagai cara untuk “melarikan diri” dari tekanan atau stress yang mereka rasakan. Perasaan rendah diri, cemas, marah, selalu kekurangan, kesepian juga memberikan kontribusi terhadap terjadinya anoreksia. Mereka yang mengalami masalah makan umumnya pernah mengalami sejarah buruk dalam hubungan pertemanan atau percintaan yaitu pernah dicampakan akibat kegemukan. Tekanan dari teman teman dan lingkungan sekitar yang tampak langsing dan cantik secara fisik ikut memancing seseorang mengalami anoreksia.

Gangguan makan juga disebabkan oleh masalah fisik. Perubahan hormonal yang mengendalikan masalah mood, selera makan, pikiran dan memori diduga berperanan atas terjadinya gangguan makan. Penderita anoreksia sering berasal dari keluarga yang salah satu anggotanya juga menderita anoreksia sehingga faktor genetik juga berperanan.

Apa saja sih gejala anoreksia?

Gejala anoreksia antara lain:

  • Penurunan berat badan yang sangat cepat dalam beberapa minggu atau bulan.
  • Terus terusan membatasi makan/diet meskipun sudah kurus.
  • Memiliki ketertarikan yang di luar kebiasaan terhadap suatu makanan, kalori, nutrisi atau memasak.
  • Sangat ketakutan bila berat badan meningkat.
  • Mempunyai kebiasaan makan yang aneh bahkan cenderung rahasia.
  • Takut gemuk meski sudah sangat kurus.
  • Tidak mampu menilai secara realistis terhadap berat badan seseorang.
  • Ingin selalu tampak sempurna dan suka mengkritik diri sendiri.
  • Kepercayaan diri sangat dipengaruhi oleh berat badan dan bentuk tubuh.
  • Depresi, cemas dan mudah marah.
  • Siklus haid yang tidak teratur dan bahkan tidak haid pada wanita.
  • Menggunakan obat diuresis, laksatif dan pil diet.
  • Sering sakit.
  • Menggunakan pakaian yang longgar untuk menutupi badan yang kurus.
  • Berolah raga yang berlebihan.
  • Merasa tidak berguna dan tidak ada harapan.
  • Putus asa.
  • Gangguan fisik seperti tidak kuat pada cuaca dingin, anemia, dan lain lain.

Bila tidak segera diatasi, anoreksia dapat menyebabkan:

  • Kerusakan organ khususnya jantung, otak dan ginjal.
  • Penurunan tekanan darah, nadi dan frekuensi nafas.
  • Rambut rontok.
  • Detak jantung yang tidak teratur.
  • Osteoporosis.
  • Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.
  • Kematian akibat kelaparan atau bunuh diri.

Bagaimana mendiagnosa anoreksia?

Mengindentifikasi anoreksia memerlukan tantangan tersendiri. Kerahasiaan, perasaan malu dan menolak dikatakan menderita kelainan adalah tantangan tersebut. Hal ini menyebabkan anoreksia sulit dideteksi dan baru diketahui setelah jangka waktu lama.

Begitu gejala tampak, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan fisik maupun penunjang untuk menegakan diagnosa anoreksia. Meskipun pemeriksaan laboratorium khusus untuk anoreksia tidak perlu tapi dokter tetap melakukan beberapa tes untuk memeriksa kemungkinan gangguan fisik yang telah terjadi akibat anoreksia.

Jika tidak ditemukan penyakit fisik, dokter akan menyarankan penderita anoreksia untuk ke psikiatri untuk mengatasi masalah mental yang terjadi.

Bagaimana mengobati anoreksia?

Perawatan kegawat daruratan pada anoreksia diperlukan jika terdapat kondisi dehidrasi berat, malnutrisi, gagal ginjal dan detak jantung tidak teratur yang mengancam nyawa.

Gawat atau tidak, pengobatan anoreksia memerlukan tantangan akibat penderita menolak dianggap memiliki masalah. Seperti gangguan makan yang lain, anoreksia memerlukan penanganan yang komprehensif untuk mengetahui kebutuhan tiap tiap pasien.

Tujuan pengobatan adalah mengembalikan berat badan ke posisi sehat, mengatasi masalah emosional, memperbaiki pola pikir dan menjaga agar perubahan tersebut berlangsung terus menerus. Pengobatan sering mengkombinasikan antara psikoterapi dan obat obatan.

Apakah anoreksia bisa dicegah?

Meskipun sangat sulit mencegah semua kasus anoreksia tetapi pengobatan dini begitu gejala muncul sangat membantu penderita jatuh ke kondisi yang lebih parah. Pendidikan secara dini tentang kebiasaan hidup sehat dan pandangan positif terhadap makanan serta penampilan juga sangat membantu mencegah keadaan yang lebih parah dari gangguan makan.

Anoreksia Mirip Diabetes?

Anoreksia diperkirakan sebagai penyakit yang disebabkan gangguan biologis, seperti halnya diabetes. Namun para psikiater mengingatkan penderita anoreksia agar tidak segera meninggalkan pengobatan yang telah ada karena teori itu belum teruji.

Teori baru tentang anoreksia tersebut dicetuskan oleh Donard Dwyer. Ia melakukan studi berdasarkan hasil riset sebelumnya yang menemukan proses genetik dan sel tertentu yang aktif justru pada saat organisme seperti ragi, lalat buah, tikus, dan manusia merasa kelaparan.

Dwyer menduga, metabolisme pada orang yang respons terhadap rasa laparnya rusak, telah kacau pada saat mereka mulai diet. Dalam teorinya, tubuh penderita anoreksialah yang mencegah mereka untuk makan, bukan sikap keras kepala atau gangguan mental.

Dengan begitu, teori baru ini bisa menjelaskan mengapa sangat sulit meyakinkan pasien anoreksia bahwa ada yang salah pada diri mereka. “Sebab, apabila kita tidak memahaminya sebagai fungsi metabolik, pengobatan tahap awal pada pasien anoreksia yang kondisinya sudah amat parah tidak akan berhasil,” kata Dwyer.

Dwyer melihat kondisi anoreksia yang mirip dengan diabetes. Hanya saja, pemicu anoreksia adalah kebiasaan diet atau kebiasaan makan dengan porsi sedikit yang kronis. Selain itu, proses molekul yang kacau bisa menjadi petunjuk adanya perubahan biologis yang terjadi saat kelaparan.

Dalam studinya, Dwyer bersama koleganya mefokuskan diri pada perubahan genetik dan kejadian pada tingkat sel yang disebut jalan IGF-1/Akt/FOXO. Organisme dari ragi sampai dengan manusia mengaktifkan jalan ini sebagai respons terhadap rasa lapar, sehingga memicu berbagai perubahan biologis termasuk keinginan untuk mencari makanan. Apabila jalan ini ternyata tidak bekerja dengan semestinya, secara teoretis dapat memicu anoreksia.

Apabila Dwyer benar, pasien anoreksia yang sulit diobati mungkin memerlukan obat untuk mengembalikan fungsi metabolismenya, seperti halnya pasien diabetes yang memerlukan suntikan insulin.

Namun Timothy Walsh, psikiater dari Columbia University menyebut teori Dwyer ini masih bersifat spekulatif. Pasalnya, belum  ada hasil pengujian terhadap manusia sebagai bukti yang mendukung. “Teori ini juga baru memberikan sebagian jawaban, bukan sebuah solusi lengkap,” tambahnya.

Penyebab Orang Anoreksia Takut Makan
Sebuah studi di University of California mengungkapkan alasan mengapa orang yang menderita anoreksia tidak doyan atau menghindari makanan.

Studi yang dipimpin Walter Kaye, profesor psikiatri di University of California, San Diego School of Medicine, menemukan bahwa makanan dapat mempengaruhi bagian otak yang memicu kecemasan pada orang yang menderita anoreksia.

“Ini adalah studi pertama yang menunjukkan alasan biologis mengapa individu dengan anorexia nervosa memiliki respons paradoks terhadap makanan,” kata Kaye, seperti dilansir Indiavision, Senin (23/5/2011).

Kebanyakan orang mencari makanan untuk mencari pengalaman yang menyenangkan serta bermanfaat untuk tubuh. Tetapi orang dengan anoreksia nervosa sering mengatakan makanan membuatnya lebih cemas dan penolakan makanan akan membuatnya merasa lebih baik.

Riset selama satu dekade terakhir telah memberikan pengetahuan baru ke dalam mekanisme otak yang berkaitan dengan aspek menyenangkan dari makanan. Salah satu bahan kimia otak tersebut adalah dopamin, yang dilepaskan ketika orang atau hewan mengonsumsi makanan lezat.

Studi baru yang dilakukan Walter Kaye menggunakan teknologi pencitraan otak yang disebut Positron Emission Tomography (PET), yang memungkinkan visualisasi fungsi dopamin di otak.

Untuk memprovokasi kadar dopamin di otak, ilmuwan memberikan dosis amfetamin, yang dapat melepaskan dopamin di otak.

Pada wanita sehat tanpa gangguan makan, amphetamine akan merangsang pelepasan dopamin yang terkait dengan perasaan senang ekstrem di bagian otak yang dikenal sebagai pusat ‘hadiah’.

Namun, pada orang yang memiliki anorexia nervosa, amfetamin membuatnya merasa cemas dan bagian otak yang aktif adalah sebaliknya, yaitu yang membuatnya merasa khawatir. Inilah yang akhirnya membuat penderita anoreksia menghindari makanan.

Jika kebanyakan orang memiliki kesulitan besar dalam diet dan berat badan, individu dengan anorexia nervosa dapat diet dengan sendirinya, bahkan hingga mengancam jiwanya.

Berdasarkan studi baru yang telah dipublikasi dalam laporan International Journal of Eating Disorders, gangguan makan ini memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi karena kelaparan,

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu