dalam kategori | Penyakit

Mers yang mewabah

Mers yang mewabah

Dalam dua minggu terakhir ini, berita tentang wabah penyakit dan virus MERS menyebar cukup cepat di berbagai media masa, termasuk media sosial dan telekomunikasi, yang menyebabkan sedikit kepanikan di kalangan masyarakat. Belum lagi ditingkahi dengan berita-berita palsu (hoax) yang menyebutkan bahwa virus MERS sudah masuk ke Surabaya, bahkan Yogyakarta.

Dilansir dari BBC, jumlah warga Korea Selatan yang positif terinfeksi virus MERS bertambah sebanyak 14 orang dan pasien kelima dilaporkan telah meninggal dunia. Pasien kelima yang meninggal dunia tersebut adalah pria berusia 75 tahun yang dirawat di sebuah rumah sakit di Seoul bersama pasien MERS lainnya. Saat ini jumlah pasien telah meningkat menjadi 64 orang yang menjadikan Korsel sebagai tempat mewabahnya virus MERS terbesar di luar Timur Tengah.

MERS adalah singkatan dari Middle East Respiratory Syndrome (MERS), yang merupakan penyakit berupa sekumpulan gejala gangguan pernafasan akibat infeksi virus. Adanya penyakit ini pertama kali dilaporkan di Arab Saudi pada tahun 2012. Penyakit ini disebabkan oleh sejenis virus korona yang dinamakan MERS-CoV.

Pasien yang mengalami infeksi virus ini mengalami gangguan pernafasan yang berat/parah. Gejalanya adalah demam tinggi, batuk-batuk, dan sesak nafas. Lebih dari 30% pasien yang dipastikan terinfeksi virus ini dilaporkan meninggal karenanya.

Sampai saat ini, semua kasus MERS yang dilaporkan terjadi pada 7 negara yang berada di semenanjung Arab, yakni Saudi Arabia, United Arab Emirates (UAE), Qatar, Oman, Jordan, Kuwait dan Yemen. Virus ini menyebar dari pasien yang terinfeksi pada orang lain melalui kontak yang dekat, terutama melalui cairan saluran nafas. Kasus pertama di Amerika dijumpai pada tanggal 2 Mei 2014, pada seorang pelancong yang berasal dari Arab Saudi. Hal ini menimbulkan kekuatiran bahwa penyakit ini telah menyebar ke berbagai negara lainnya, termasuk Indonesia.

Negara kita memiliki kekuatiran tersendiri karena mempunyai jumlah jamaah umroh dan haji terbanyak setiap tahunnya. Untuk kegiatan umroh sendiri, hampir setiap hari ada jamaah yang berasal dari Indonesia dalam jumlah cukup besar. Negara-negara lain yang telah menemui kasus MERS akibat perjalanan dari Arab Saudi antara lain adalah : Inggris, Perancis, Tunisia, Italia, Malaysia dan Amerika.

Belum ada pembatasan perjalanan

Dilansir The National, terkait mewabahnya virus MERS itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum mengeluarkan travel restriction (pembatasan perjalanan).

“Berdasarkan data dan penilaian risiko WHO saat ini, tidak ada bukti yang menunjukkan penularan dari manusia ke manusia berkelanjutan di masyarakat dan tidak ada bukti penularan lewat udara. Namun, Mers-CoV adalah penyakit baru dan keterbatasan informasi cukup besar,” demikian pernyataan WHO.

WHO juga menyatakan pihaknya akan tetap waspada dan memantau situasi terkait mewabahnya virus MERS di Korsel.

Untuk itu, dalam waktu dekat ini sepertinya belum ada travel restriction yang dikeluarkan. Namun, imbauan tetap dikeluarkan untuk kepentingan bersama.

“Mengingat kurangnya bukti penularan dari manusia ke manusia berkelanjutan di masyarakat, WHO tidak menyarankan prosedur khusus pada titik-titik masuk, atau pembatasan perjalanan atau perdagangan yang berkaitan dengan acara ini,” papar WHO.

Meski begitu, ribuan orang dilaporkan telah membatalkan penerbangan dari Tiongkok, Hong Kong dan Taiwan menuju Korsel.

Pihak maskapai pun telah ramai-ramai mengumumkan langkah-langkah sanitasi kepada penumpang untuk melindungi diri dari infeksi virus tersebut. Demikian dilansir dari The Independent. Warga Uni Emirat Arab juga telah diminta untuk menghindari bepergian ke Korsel.

Penyebaran MERS di Korsel, memicu keraguan atas pendapat, bahwa MERS tidak menular langsung dari manusia ke manusia. Sebagian besar pasien di Korsel tertular setelah melakukan kontak dengan penderita.

Fakta itu menyebabkan kekhawatiran terjadinya skenario terburuk, yakni mutasi virus yang kemudian menyebar secara masif, seperti severe acute respiratory syndrome (SARS) pada 2002-2003.

Bagaimana penyebaran virus MERS-CoV?

Virus ini dapat menyebar dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak fisik yang dekat. Apalagi jika terkena percikan ingus atau ludah dari penderita MERS. Belum diketahui dengan pasti dari mana virus ini berasal, tetapi dugaan terkuat adalah berasal dari binatang.

Selain pada manusia, ternyata virus MERS-CoV dijumpai juga pada onta-onta di Qatar, Mesir dan Saudi Arabia. Mereka terbukti positif memiliki antibodi terhadap virus MERS-CoV, yang mengindikasikan bahwa onta-onta ini pernah terinfeksi virus MERS-CoV.

Baru-baru ini, ahli virologi bernama Norbert Nowotny dan Jolanta Kolodziejek dari Institute of Virology menemukan bahwa virus yang menginfeksi pasien MERS dan virus pada onta yang berasal dari daerah yang sama dengan pasien memiliki rangkaian RNA yang hampir identik. Hal ini menunjukkan bahwa virus yang sama bisa menginfeksi onta maupun manusia.

Namun menarik juga penemuan bahwa RNA virus korona dari daerah yang berbeda ternyata berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada strain coronavirus MERS yang spesifik pada onta. Tapi yang jelas, jenis virus korona tersebut dapat menginfeksi baik onta maupun manusia, dan diduga bisa menyebar dari onta ke manusia.

Bagaimana mengobati MERS?

Belum ada obat khusus untuk penyakit MERS. Namun dapat diberikan terapi pendukung/suportif dan terapi untuk mengurangi gejalanya. Misalnya demamnya diberi obat turun panas, jika sesak diberi obat pelega nafas, oksigen, dll, disesuikan dengan kondisi pasien. Tentu saja perlu untuk memperkuat daya tahan tubuh sehingga dapat turut melawan dan mematikan virus yang menginfeksi.

Bagaimana menghindari dan mencegah MERS?

Untuk menghindari MERS tentunya sebaiknya tidak bepergian dahulu ke negara-negara Arab, dan tidak bersentuhan atau kontak langsung dengan penderita MERS. Namun jika hal tersebut tidak memungkinkan dan tetap harus pergi, maka dapat dilakukan upaya-upaya pencegahan. Berikut adalah tips pencegahan MERS:

  1. Cuci tangan dengan sabun dan air selama minimal 20 detik, dan bantu anak-anak untuk melakukan hal yang sama. Jika tidak tersedia sabun dan air, dapat digunakan hand sanitizer yang sekarang banyak dijual di toko-toko.
  2. Tutup mulut dan hidung dengan tissue jika Anda bersin atau batuk, lalu buang tissue ke tempat sampah
  3. Jangan menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang kotor
  4. Hindarkan kontak langsung seperti mencium, berbagi minuman, berbagi alat makan, dengan penderita

Untuk calon jamaah umroh atau haji yang akan mengikuti ibadah di tanah suci, kami sarankan:

  1. Jaga kesehatan dengan makanan yang sehat. Tambahkan vitamin C dan suplemen untuk penguat sistem imun. Beberapa yang bisa dicoba antara lain isoprinosine (Immunovir atau merk lain) yang juga memiliki aktivitas anti virus, atau sediaan herbal yang mengandung Echinacea atau meniran (Phylantus niruri)
  2. Jangan lupa menggunakan masker yang cukup tebal selama di sana. Siapkan lebih dari satu untuk bergantian ketika yang satu dicuci.
  3. Jangan lupa cuci tangan sebelum atau sesudah makan. Siapkan hand sanitizer yang praktis untuk dibawa-bawa.
  4. Sebaiknya lakukan vaksinasi influensa sebelum berangkat
  5. Jangan berdekatan dengan onta. Virus MERS-CoV dijumpai paling tinggi pada cairan hidung dan mata onta. Jangan sampai terkena cairan tersebut.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.
* = required field

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat
ads

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu