dalam kategori | Pola Hidup

Menurunkan berat badan dengan Pilates

Menurunkan berat badan dengan Pilates

Para penggemar olahraga di Balikpapan mulai keranjingan pilates, jenis olahraga mirip yoga dan semacam senam rendah benturan (low impact) dari Jerman.

“Ini karena meski terlihat ringan, cukup melelahkan dan membakar kalori lebih banyak,” kata Dwiningsih, instruktur pilates di Devata Fitness Center di Hotel Jatra, Balikpapan Super Blok, Balikpapan, Selasa.

Dwi memimpin kelas pilates dua kali seminggu dengan peserta hingga 20 orang. Ruang senamnya yang berukuran lebih kurang 36 meter persegi terlihat bertambah kecil karena pesertanya bertambah terus sejak dibuka dua bulan lalu.

“Saya memulainya dengan dua orang saja, bertiga dengan saya. Mereka yang ikut fitness dan aerobik kemudian memperhatikan kami. Rupanya dianggap asyik. Jadilah seperti sekarang,” tutur Dwi.

“Sampai kewalahan juga, karena masih banyak yang minta privat,” kata Dwi tersenyum.

Di Balikpapan, dengan penduduk 600 ribu orang dan pilates sudah dimulai sejak 18 bulan lalu, instruktur pilates adalah makhluk yang sangat langka.

Menurut Dwi, selain dirinya, hanya ada dua yang lain, yaitu Erna yang menjadi instruktur di klub kebugaran di Taman Sari Bukit Mutiara atau Wika, dan Astuti yang lebih suka memberi privat saja.

Seperti aerobik yang kebanyakan pesertanya perempuan, begitu pula kelas pilates di Jatra atau di Aston, dan juga di kelas privat.

Penyebabnya selain memang “pindahan” dari aerobik, perempuan memang bisa lebih mudah mengikuti pilates karena tidak langsung menuntut gerakan yang perlu tenaga besar dan selintas terlihat tidak berat.

“Kami semua juga dulu instruktur aerobik sebenarnya, sekarang juga masih, namun karena lebih banyak yang minta pilates, jadinya kita sekarang lebih pas disebut instruktur pilates,” kata Dwi.

Pilates, meski lembut dan minim hentakan, konon pilates membakar kalori lebih banyak.

Kebanyakan gerakannya seperti peregangan (stretching) saja dan tidak banyak perulangan, tetapi setiap peserta sudah basah oleh peluh dalam 15 menit pertama senam yang lamanya 30-45 menit itu.

“Kebutuhan menjaga badan itu memang lebih banyak pada perempuan,” seloroh Dwi.

“Kalau body building, fitness, Anda melatih otot dengan mengangkat beban bertahap, mulai dari paling ringan. Tapi kalau di pilates, kita menggunakan bobot tubuh sendiri sebagai beban latihan. Kalau berat Anda 80 kg, maka setidaknya beban latihan Anda separo bobot itu,” kata Tony, pria pertengahan 40-an yang ikut kelas pilates Dwi tiap Selasa malam dan Kamis sore di Jatra.

Turunkan Berat Badan

Tony memperlihatkan, ia sukses menurunkan berat badannya dengan cepat selama dua bulan ini berkat pilates dan diet karbohidrat. Dua bulan lalu, beratnya masih 96 kg lebih, sementara sekarang tinggal 83 kg.

Selain membakar kalori, menurut Dwi, pilates juga bermanfaat untuk melenturkan tubuh dan menambah kekuatan.

Di kelas Dwi, misalnya ada yang bisa dengan sempurna mengangkat badan dengan meletakkan dua tangan di depan badan sementara kaki dibuka ke kiri dan ke kanan, seperti gerakan pada nomor senam kuda-kuda pelana.

“Punggung, tangan, kaki, semua jadi lebih kuat. Sudah pasti badan jadi lebih segar, pernapasan lebih baik, koordinasi antaranggota tubuh juga semakin baik,” terang Dwi.

Di sisi lain, Dwi yang belajar pilates di Surabaya itu tak menyebut pelajaran yang diberikannya di kelas itu sebagai pilates.

Menurut Dwi, karena tidak memiliki cukup alat bantu seperti bola besar, cincin (ring) latihan, juga band karet, ia menggabungkan gerakan-gerakan pilates dengan yoga.

“Jadi, saya menyebutnya yogalates saja,” senyum Dwiningsih.

Boleh jadi, ketika Joseph Hubert Pilates mulai mengembangkan olahraga ini di awal abad ke-20, ia terinspirasi dari yoga itu sendiri.

Dwi menjelaskan, setiap gerakan pada pilates berguna untuk kelenturan tubuh.

Seperti yoga yang melatih keseimbangan sehingga bertumpu pada pusat tubuh manusia, yaitu dari perut, dari pusar, terus melingkar ke bawah dan kembali ke atas ke pinggul dan dari tulang rusuk ke pinggul, demikian pula pilates. Sebab itu, postur tubuh yang condong ke depan dapat menjadi tegak dengan berolahraga ini.

Meski begitu, tampaknya masih perlu beberapa tahun lagi untuk menyaksikan pilates dimainkan bersama-sama di Lapangan Merdeka secara massal seperti aerobik.

Seperti disebut Dwi, meski peminatnya terus bertambah, pilates masih eksklusif dan jadi bagian dari status sosial.

Di Balikpapan masih diajarkan di klub-klub kebugaran yang menarik fee atau iuran keanggotaan jutaan rupiah per tahun.

Di Jatra, misalnya, untuk jadi anggota Devata Fitness Club dimana selain pilates termasuk juga biaya angkat beban dan berenang, sewa loker selama beraktivitas, dan handuk gratis, dikenakan biaya Rp3,5 juta setahun.

“Tetapi daripada sakit, apalagi hingga masuk rumah sakit, jumlah segitu tak ada apa-apanya,” ujar Tony.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu