dalam kategori | Herbal

Mengkudu, Si Buruk Rupa Multiguna

Mengkudu, Si Buruk Rupa Multiguna

TUMBUHAN mengkudu (Morinda citrifolia) sudah sejak lama dikenal oleh masyarakat Indonesia. Tumbuhan berbuah kuning pucat tersebut bisa ditemui di berbagai daerah. Biasanya tumbuh secara liar di pekarangan atau pinggir jalan. Selain mengkudu, nama lokal lain adalah pace, bentis, kemudu (Jawa), cangkudu (Sunda), kondhuk (Madura), bangkudu (Batak), neteu (Mentawai), keumudee (Aceh), tibah (Bali) atau rewonang (Dayak). Namun secara internasional, mengkudu lebih dikenal sebagai “noni” yang merupakan sebutan khas orang Hawaii.

Sayangnya, karena kebodohan dan ketidaktahuan kita, buah mengkudu nyaris tidak mendapat perhatian. Apalagi bentuk buahnya yang cenderung bak si “buruk rupa” dan baunya kurang sedap menjadikan mengkudu seperti seorang penderita kusta yang tercampakan. Hanya sedikit orang yang mengonsumsinya, itu pun hanya dijadikan bahan rujak coel selingan karena bosan dengan buah lain.

Untuk sekian lama, mengkudu seperti musnah dalam kehidupan orang Indonesia dan nyaris tak ada orang yang merasa kehilangan. Pohon yang tersisa pun banyak ditebang. Baru kemudian ketika para ahli mengumumkan bahwa mengkudu sesungguhnya memiliki sifat multiguna sebagai tanaman obat, kita tersentak. Si “buruk rupa” pun kini banyak dicari orang dan menjadi salah satu primadona bisnis dengan omset miliaran rupiah.

“Back to nature”

Harus diakui, terangkatnya pamor mengkudu tidak terlepas dari fenomena back to nature yang kini banyak digandrungi orang. Khususnya sejak pakar tanaman obat Prof. Hembing Wijayakusumah memperkenalkan mengkudu sebagai salah satu tanaman obat berkhasiat. Berdasarkan catatan, terhitung sejak 1998 perkembangan pasar mengkudu di Tanah Air makin tak terbendung. Hanya dalam tempo 3 tahun, sedikitnya telah ada 50 perusahaan yang bergerak dalam bidang pengolahan mengkudu, baik skala besar (pabrikan) maupun rumah tangga (home industry).

Hasil riset Lembaga Pengkajian Bisnis Pangan Bogor, dari 50 perusahaan tersebut, sedikitnya 900 juta liter sari mengkudu terjual tiap bulan. Jika pada tahun 1999 omzet bisnis mengkudu mencapai Rp 1,5 miliar, pada tahun 2001 menjadi Rp 40 miliar. Luar biasa. Sedangkan di seluruh dunia, omzet bisnis mengkudu mencapai angka 500 juta dolar AS. Dengan asumsi produksi setiap liter jus mengkudu membutuhkan 4-8 kg buah segar, berarti setiap bulan dibutuhkan 720-1.440 kg buah mengkudu segar untuk diolah (A.P. Bangun & Sarwono, Khasiat dan Manfaat Mengkudu, 2002).

Meski demikian, sebenarnya mengkudu sejak lama dikenal sebagai tanaman yang berkhasiat. Setidaknya sejak 1500 tahun lalu penduduk Kepulauan Hawaii sudah menganggap mengkudu sebagai barang keramat. Mereka menyebutnya dengan nama “Noni” dan dipercaya memiliki banyak manfaat sebagai obat. Oleh karenanya, mengkudu pun mendapat julukan lain yakni sebagai Hawaiian magic plant karena tanaman ini dipercaya mampu mengobati berbagai jenis penyakit. Karena selalu mengonsumsi mengkudu, mereka merasa selalu sehat sepanjang tahun, tanpa gangguan penyakit yang berarti.

Demikian pula dengan masyarakat di sejumlah negara sudah sejak lama mengenal mengkudu sebagai tanaman obat multi khasiat. Khususnya bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara, Kepulauan Pasifik, dan Karibia, mengkudu sudah cukup populer sebagai bahan pengobatan tradisional. Seluruh bagian tumbuhan, mulai dari akar, batang hingga buah dimanfaatkan untuk mengobati berbagai jenis penyakit. Meski saat itu secara medis belum terbukti, tapi secara empiris sudah banyak orang merasakan khasiatnya. Sampai-sampai tabib di Kepulauan Pasifik menganggap mengkudu sebagai tanaman suci.

Secara tradisional, bagian tumbuhan mengkudu digunakan dalam bentuk segar, sari buah atau seduhan, dan tapal. Pengetahuan mengenai khasiat, cara-cara pengobatan, jenis-jenis penyakit yang bisa disembuhkan, biasanya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikut. Akar misalnya, dimanfaatkan untuk mengobati kejang-kejang dan tetanus, menormalkan tekanan darah, obat demam, dan tonikum. Kulit batang digunakan sebagai tonikum, antiseptik pada luka atau pembengkakan kulit. Daunnya digunakan sebagai obat disentri, kejang usus, pusing, muntah-muntah, dan demam. Sedangkan buahnya untuk obat peluruh kemih, usus-usus, pelembut kulit, kejang-kejang, bengek, gangguan pernapasan, dan radang selaput sendi.

Sementara itu, secara modern, berdasarkan hasil penelitian dan riset tentang khasiat mengkudu, para ilmuwan Barat berhasil mengidentifikasi mengkudu mengandung zat-zat aktif yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Dr. Isabella Abbott misalnya, seorang ahli botani, pada tahun 1992 menulis, mengkudu semakin banyak digunakan orang untuk mengontrol diabetes, kanker, dan tekanan darah tinggi. Kemudian pada 1993, jurnal Center Letter melaporkan bahwa beberapa peneliti dari Keio University dan The Institute of Biomedical Sciences Jepang melakukan riset terhadap 500 jenis tanaman. Mereka mengklaim telah menemukan zat antikanker dalam buah mengkudu.

Yang agak populer tampaknya hasil survei yang dilakukan Dr. Neil Solomon terhadap 8.000 pemakai sari buah mengkudu, termasuk 40 dokter dan praktisi medis. Hasilnya memperlihatkan, jus mengkudu membantu menyembuhkan sejumlah penyakit. Sedikitnya ada 22 jenis penyakit, antara lain darah tinggi, kolesterol, stroke, kanker, asam urat, diabetes, kelemahan seksual, rasa nyeri, depresi, gangguan ginjal, dan stres dengan tingkat keberhasilan 78%. Selain itu, jus mengkudu efektif menyembuhkan gangguan pencernaan, obesitas, alergi, sulit tidur, meningkatkan daya konsentrasi hingga daya seksual.

Menurut hasil penelitian, selain mengandung zat nutrisi, “sang noni” juga mengandung zat aktif seperti terpenoid, antibakteri, scolopetin, antikanker, xeronine, proxeronine, pewarna alami, dan asam. Zat nutrisi yang dibutuhkan tubuh tergolong lengkap di mengkudu. Terpenoid merupakan zat penting yang berfungsi membentuk tubuh dalam proses sintesis organik dan pemulihan sel-sel tubuh. Sedangkan zat antibakteri dalam mengkudu antara lain antrakuninon, acubin, dan alizarin. Zat-zat tersebut di antaranya mampu mematikan bakteri penyebab infeksi jantung dan disentri.

Teliti sebelum beli

Kini, pemanfaatan mengkudu sebagai obat lebih banyak dikemas dalam bentuk jus atau sari buah. Buah mengkudu yang tidak enak rasanya dan beraroma kurang sedap, diolah sedemikian rupa sehingga lebih nikmat diminum seperti halnya sirup atau jus buah biasa. Agar lebih menarik, jus mengkudu juga dikemas dalam berbagai rasa. Ada juga yang diolah dalam bentuk kapsul. Di samping untuk keperluan obat yang dikonsumsi dalam bentuk jus, buah mengkudu juga dikemas dalam bentuk sampo, conditioner, hair tonic, dan hair treatment.

Jus mengkudu merupakan hasil ekstrak cairan buah mengkudu matang yang masih mengandung zat-zat aktif (fitonutrien) yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Zat tersebut merangsang sistem kekebalan tubuh, mengatur fungsi sel, dan memperbaiki sel-sel rusak maupun abnormal. Jus mengkudu yang baik berwarna cokelat kemerahan. Jika warnanya berubah menjadi hitam pekat, jus tersebut telah kehilangan aktivitas biologisnya dan tidak bermanfaat lagi. Selain itu yang harus diperhatikan adalah kandungan alkohol dalam jus mengkudu. Menurut pakar dan peneliti pangan IPB, Dr. Ir. Inggrid S. Waspodo, jus mengkudu yang diolah secara benar umumnya tidak mengandung alkohol. Di pasaran sendiri dikabarkan ada jus mengkudu yang kandungan alkoholnya sangat tinggi, yakni bisa mencapai 20%.

Inggrid yang merupakan peneliti pertama di Indonesia yang meneliti tentang manfaat buah mengkudu terhadap kesehatan manusia itu juga menyebutkan, ada beberapa produk jus mengkudu yang sengaja memfermentasi jus mengkudu dengan asumsi akan lebih berkhasiat dan enak rasanya. Padahal, asumsi seperti itu tidak benar. Menurut Inggrid, proses jus mengkudu yang tepat tidak melibatkan khamir di dalamnya dan kehadiran khamir secara spontan menunjukkan proses yang tidak higienis. Oleh karenanya, salah satu saran penting agar mendapatkan nilai positif bagi kesehatan dari konsumsi jus mengkudu, adalah teliti sebelum membeli.

“Pastikan dulu jus mengkudu yang akan dikonsumsi itu dalam keadaan segar dan diproses lewat pengolahan teknologi yang tepat serta higienis,” kata Inggrid. Selain itu, tentu saja keteraturan dalam mengonsumsi jus mengkudu sesuai anjuran.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu