dalam kategori | Layanan Kesehatan

Mengajar kecerdasan emosi pada anak

Mengajar kecerdasan emosi pada anak

Kecerdasan emosi, apa itu ya? Apakah benar anak perlu mengetahui dan diajarkan mengenai kecerdasan yang satu ini? Yuk, simak pembahasannya…

Kecerdasan emosi adalah kemampuan, kapasitas atau keterampilan seseorang untuk dapat menerima, mengukur dan mengatur emosi pribadi dirinya sendiri, orang lain atau bahkan kelompok, sehingga memudahkannya ketika berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.

Berbagai ahli selama lebih dari beberapa dekade mendiskusikan peran penting dari aspek kecerdasan emosi ini. Ahli E.L Thorndike dari Universitas Columbia pada tahun 1920 dengan teori Kecerdasan Sosial-nya, Howard Gardner pada tahun 1975 dengan teori Multiple Intelligent-nya, hingga Daniel Goleman pada tahun 1995 dengan teori Kecerdasan Emosi-nya. Seluruh ahli tersebut sepakat bahwa ada aspek kecerdasan lainnya selain aspek kecerdasan intelektual (logika), yang berpengaruh dalam menentukan keberhasilan seseorang di lingkungan. Dan ternyata kecerdasan emosi berperan sebagai indikator penentu keberhasilan individu, khususnya dalam hal keterampilan individu-yakni di dalam pekerjaan/karir, kehidupan pribadi dan interaksi bisnis secara umum.

Berikut adalah langkah sederhana yang dapat Anda lakukan untuk melatih cerdas secara emosi pada anak:

  1. Biasakan mengungkapkan apa yang Anda rasakan dan inginkan, ketika berbicara dengan anak. Misalnya: “Mama suka lihat adik nyanyi dengan kakak” atau “Suaranya terlalu pelan dik. Tolong dibesarkan suaramu. Mama tidak dengar”.
  2. Usahakan untuk selalu menanyakan aktivitas anak dan berikan kesempatan dirinya untuk bercerita sesuai dengan kemampuannya. Tujuannya adalah Anda diminta untuk menjadi pendengar aktif. Misalnya: “Tadi di sekolah latihan apa saja dengan Bu Guru?”, atau “Cerita dong sekolahmu hari ini. Mama dan Papa ingin mendengar”.
  3. Beri kesempatan anak untuk dapat memahami apa yang dirasakan orang lain. Misalnya: minta anak untuk tidak bersikap negatif terhadap pengasuhnya. Kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain inilah yang disebut sebagai kemampuan berempati.
  4. Berikan kesempatan pada anak untuk dapat mengekpresikan apa yang dirasakannya melalui bahasa verbal (dalam perkataan) dan bahasa non-verbal / bahasa tubuh (ekspresi wajah dan gerak tubuh) sehingga memperkaya eksplorasi pemahaman anak terhadap situasi yang bervariasi.
  5. Berikan informasi pada anak kapan harus tidak bersikap ekspresif (menahan apa yang dirasakannya) dan kapan harus mengutarakan apa yang dirasakannya secara langsung (ekspresif), sesuai dengan tuntutan situasi sosial dimana ia berada.
  6. Latih anak Anda untuk dapat mengekspresikan perasaan syukur, perasaan terkejut, perasaan haru dan perasaan bahagia karena keberhasilan orang lain, misalnya: pujian / sanjungan.
  7. Latih anak Anda untuk bisa menerima keterbatasan dirinya dan tanamkan perasaan bangga terhadap kelebihan yang ada pada dirinya.
  8. Latih anak Anda untuk dapat memberikan dan menerima perhatian berupa kasih sayang secara timbal balik dengan tanpa syarat (unconditional positive regard). Misalnya: ketika bertemu dengan teman-temannya anak memberikan salam dan ucapan tulus. Menerima jabat tangan dan memberikan senyuman pada saudara sepupunya ketika bertemu pada acara pertemuan keluarga, atau memanggil nama teman yang sedang bermain di rumahnya dengan berbagi mainan yang dimilikinya.

 


Referensi:

Megajarkan kecerdasan emosi pada anak. Majalah Anakku. 2008

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu