dalam kategori | Featured, Herbal

Manggis, kajian ilmiah antioksidan mujarab dari alam

Manggis, kajian ilmiah antioksidan mujarab dari alam

Manggis (Garcinia mangostana) merupakan buah tropis telah digunakan sebagai obat asli tradisional seluruh Asia Tenggara (Thailand, Malaysia, Taiwan, Filipina, Indonesia, dan Sri Lanka) untuk pengobatan berbagai macam penyakit termasuk melawan infeksi, penyembuhan luka, dan mengobati diare dan keluhan gastrointestinal terkait. Manggis diketahui mengandung berbagai senyawa yang terbentuk secara alamiah dalam buah, daun, kayu batang, dan khususnya kulit, dengan kemampuan aktivitas biologis yang banyak, termasuk anti-peradangan (Bennett 1989; Chomnawang 2005), antioksidan (Chiang 2003; Jung 2006), anti-proliferatif (Ji 2006; Pedraza-Chaverri 2008), imunostimulan (Matsumoto 2003), dan efek antibakteri/antivirus pada beberapa penelitian (Chanarat 1997; Pedraza-Chaverri 2008).

Rasa yang enak (manis dan sedikit asam) dan kualitas pengobatan dari buah manggis telah memberikannya julukan umum sebagai “Ratu Buah” (Jung 2006). Demonstrasi efek biologis yang luas pada senyawa manggis yang diturunkan, dan terutama dari kelompok senyawa santon bioaktif (senyawa polifenol, lebih dari 1.000 ada pada alam, 18 didapat dari buah manggis, dan 60 dari kulitnya), menunjukkan dasar ilmiah atas penggunaan manggis sebagai obat tradisional di Asia Tenggara, termasuk dalam pengobatan Ayurvedic (Pedraza-Chaverri 2008). Fungsi pengobatan manggis yang sedikit lebih “modern” dapat ditemukan pada pengobatan arthritis (Pierce 2003), kanker (Ho, 2002), luka (Mahabusarakam 1986; Wan 1973), inflamasi (Saralamp 1996), borok (Harbone 1999), eksim (Morton 1987), jerawat (Chomnawang 2005), alergi (Nakatani 2002), and sakit pada rongga perut (Moongkarndi 2004), dan beberapa penyakit lainnya (Pedraza-Chaverri 2008).

Bukti Ilmiah

Penelitian klinis, baik dalam laboratorium maupun pada manusia, telah menggambarkan hubungan yang kuat antara mekanisme Oxidative stress (terjadinya kerusakan pada sel yang diakibatkan proses oksidasi) yang mengarah pada peradangan kronis, yang pada ujungnya mengarah pada berbagai macam penyakit kronis termasuk kanker, obesitas, diabetes, penyakit-penyakit cardiovascular, paru dan saraf. Oxidative stress juga diketahui memicu peradangan dan juga faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan transformasi sel normal menjadi sel tumor (Reuter 2010).

Mengurangi peradangan pada individu yang kelebihan berat badan dan obesitas akan berharga dalam mencegah perkembangan sindrom metabolik yang berisiko penyakit jantung dan diabetes (Udani 2009).

Secara etiologis (ilmu yang mempelajari asal-usul penyakit) peradangan biasanya dipicu beberapa faktor. Pada obesitas, misalnya, jaringan lemak dikenal untuk menghasilkan sitokin (protein dibuat oleh sel darah putih yang bertindak sebagai pembawa pesan antarsel) inflamasi termasuk CRP dan IL-6, yang mempengaruhi aktivitas insulin lanjutan dan pengaturan keseimbangan glukosa (Rexrode 2003).

Peradangan sistemik kronis telah menjadi cara prediksi yang signifikan dan spesifik dari penyakit jantung, risiko serangan jantung, dan perkembangan sindrom metabolik (kumpulan dari faktor-faktor risiko untuk terjadinya penyakit kardiovaskular). Oleh karena itu kemampuan untuk mengurangi peradangan dengan manggis / xanthones mungkin merupakan tindakan preventif yang penting dan berharga terhadap perkembangan diabetes (Pradhan 2001 & 2003), penyakit jantung (Pepys 2006; Ridker 2003; Tuomisto 2006; Willerson 2004), arthritis (Bradley 1992 ; Nicklas 2004; Reimold 2003), dan penyakit radang paru-paru (Cazzola 2005; Martin 2002), saluran pencernaan (Setoyama 2003), dan kulit (Breuer 2006; Groves 2004).

Ada banyak opsi farmakologis untuk mengobati peradangan, termasuk penggunaan steroid dan obat anti-inflamasi non-steroid (NSAID, seperti aspirin, ibuprofen, dan naproxen) – tetapi penggunaan jangka panjang dikaitkan dengan berbagai potensi efek samping termasuk mengurangi resistensi terhadap infeksi dan perdarahan pada pencernaan (Caradoc-Davies 1984).

Sebagai agen anti-peradangan alami, xanthones sebagai turunan dari manggis, terutama alpha dan gamma-mangostins, dijelaskan oleh banyak literatur ilmiah atas efek mereka pada berbagai jalur inflamasi, termasuk:

  • Penghambatan pelepasan histamin baik IgE-mediated dan sintesis prostaglandin E2 dari asam arakidonat serta COX-2 kegiatan di lini sel kanker pada tikus (Chairungsrilerd 1996; Nakatani 2002a dan 2002b).
  • Unsur xantones utama dalam manggis yaitu alpha-mangostin, telah menunjukkan aktivitas antiplasmodial/anti organisme penyebab malaria (Mahabusarakam 2006) dan aktivitas anti-larva (Ee 2006) dalam penelitian in vitro.
  • Berbagai ekstrak manggis (air, etanol, etil asetat, metanol) telah menunjukkan aktivitas antioksidan dan proteksi sel-sel saraf/neuroprotective dalam kultur sel (Weecharangsan 2006).
  • Kegiatan antioksidan dari xanthones sebagai turunan manggis telah dibuktikan dalam kemampuannya untuk langsung melacak radikal bebas (Yoshikawa 1994), mengurangi oksidasi lipoprotein densitas rendah (LDL) yang disebabkan oleh radikal bebas peroksil/ peroxyl radical (Williams 1995), dan pencegahan konsumsi alpha-tokoferol/TCP selama oksidasi LDL (Mahabusarakam 2000). Efek antioksidan tersebut juga dikaitkan dengan aktivitas neuroprotective (Weecharangsan 2006).
  • Manggis telah memperlihatkan efek anti bakteri (in vitro) melawan staphylococcus aureus (Sakagami 2005; Voravuthikunchai 2005), Enterococci (Sakagami 2005), dan Mycobacterium tuberculosis (Suksamrarn 2003) serta berbagai jenis bakteri yang resisten terhadap antibiotik , termasuk methicillin-resistant S. Aureus (MRSA) dan vancomycin resistant Entercocci (VRE) (Linuma 1996; Sakagami 2005).
  • Efek Chemopreventive/pencegahan pertumbuhan kanker dalam usus telah terbukti pada tikus (Nabandith 2004) dan pada sel kanker hati, paru-paru serta perut manusia (Ho 2002).
  • Alpha-mangostin berperan dalam mematikan sel kanker manusia pada berbagai lini (Matsumoto 2004a dan 2004b; Moongkarndi 2004a), mungkin karena kandungan antioksidan dan/atau kegiatan anti-inflamasi (Moongkardndi 2004b).
  • Kegiatan langsung anti-inflamasi xanthones telah ditunjukkan dalam pengujian dilakukan dengan menggunakan metode induksi edema pada telapak kaki tikus (Shankaranarayan 1979), dan dalam sel di mana kedua alpha dan gamma-mangostins menghambat pelepasan histamin (Chairungsrilerd 1996).
  • Yang menarik, obat kumur yang mengandung ekstrak manggis terbukti mampu mengurangi tingkat senyawa belerang atsiri yang terkait dengan bau mulut (Rassemeemasmaung 2007) dan aplikasi xanthones manggis pada kulit telah terbukti dapat mengurangi jerawat (Chomnawang 2005; Saralamp 1996) dan eksim (Morton 1987).

Sebuah penelitian terkini yang dilakukan dalam bentuk pemberian asupan jus manggis (termasuk kulitnya) pada manusia menunjukkan kemampuan jus tersebut dalam meredakan radang (menekan CRP/yang merupakan satuan pantau penyakit cardiovaskular). Penelitian 8 minggu ini dilakukan secara acak, terkontrol, double-blind, desain plasebo, pada 40 subjek, telah menunjukkan perubahan hasil yang signifikan dari nilai awal pada subyek yang mengkonsumsi jus manggis tersebut dibandingkan dengan yang mengkonsumsi plasebo (Udani 2009).

Konlusi

Ini merupakan paparan singkat penggunaan manggis dan xanthones bukti-bukti ilmiah yang menunjukkan sejarah panjang penggunaan buah ini dalam sistem pengobatan tradisional di seluruh dunia. Serta rincian dari unsuf fitokimia dan efek farmakologis komponen bioaktif xanthones yang banyak terdapat pada manggis serta kulitnya.

Data klinis yang ada menunjukkan bahwa manggis (dan kulitnya) yang bemuatan keluarga senyawa xanthones, mungkin memiliki potensi klinis yang penting dan memadai dalam mengobati peradangan dan berbagai kondisi yang menyertainya pada subyek manusia. Dengan demikian, manggis adalah salah satu dari beberapa terapi alami dari sistem obat tradisional kuno yang telah dibuktikan melalui evaluasi ilmiah modern. Penelitian lebih lanjut akan dapat membantu menjelaskan dan menyebarluaskan manfaat kesehatan dari manggis untuk populasi yang lebih luas.

Mangosteen – Traditional and Modern Uses
Submitted to: Journal of the Australasian Integrative Medicine Association (JAIMA)
Authors: Shawn M. Talbott, PhD, David A. Morton, PhD, and J. Frederic Templeman, MD
SupplementWatch and Phytoceutical Research, Utah, USA

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu