dalam kategori | Layanan Kesehatan

Manfaat, pantangan dan efek lanjutan pengobatan Hiperbarik Oksigen

Manfaat, pantangan dan efek lanjutan pengobatan Hiperbarik Oksigen

Pengobatan Hiperbarik Oksigen (HBO)/Hyperbaric Oxygen Treatment (HBOT) untuk pertama kalinya di gunakan untuk menanggapi penyakit dekompresi/ Decompression Sickness (Behke and Shaw, 1937). Suatu penyakit yang di alami oleh penyelam dan pekerja tambang bawah tanah akibat penurunan tekanan (naik ke permukaan) secara mendadak. Saat ini pemakaian HBO selain untuk penyakit akibat penyelaman juga di Indikasikan (bermanfaat) untuk berbagai penyakit klinis.

Perlu disadari bahwa penggunaan HBO yang bermanfaat bagi beberapa macam penyakit, ternyata menjadi Kontraindikasi (pantangan) bagi kondisi dan jenis penyakit tertentu. Dan dari beberapa penelitian rupanya HBO juga dapat menyebabkan beberapa Komplikasi (efek lanjutan) tertentu. (Davis, Dunn and Heimbach, 1988).

Indikasi, kontra indikasi dan komplikasi merupakan konsekuensi pemakaian HBO. Konsekuensi ini diharapkan dikenal betul oleh kolega sejawat para klinikus dan rekan perwira kesehatan lain yang bekerja pusat pengobatan HBO. Sehingga diharapkan konsumen, calon penderita dan pasien lama yang akan dan sedang menjalani terapi HBO akan mendapat penjelasan yang komprehensif dan Informed Consent yang benar.

Maksud dan Tujuan

Maksud penulisan ini untuk mengingatkan sekaligus menginformasikan bahwa penggunaan HBO identik dengan penggunaan obat-obatan yang lain. Dimana HBO juga mengandung dosis, indikasi, kontraindikasi, komplikasi dan lain-lain. Sehingga penggunaan HBO harus lebih bijaksana dan lebih waspada.

Tujuan penulisan ini pertama, agar pengobatan HBO dapat digunakan secara rasional dan secara proporsional. Kedua, dengan diketahuinya kontra indikasi (KI) dapat dilakukan langkah-langkah pencegahan/prefentif. Ketiga dengan diketahuinya komplikasi (KO) dapat dilakukan langkah-langkah penatalaksanaannya/ kuratif rehabililatif.

Indikasi HBO

Pada berbagai negara, Amerika Serikat, Perancis, Jepang, Rusia dll. Sudah memiliki standar pengobatan dan protokol penggunaan yang bervariasi satu sama lain. Variasi ini disebabkan tingkatan dan perkembangan IPTEK Kedokteran Hiperbarik berbeda di negara bersangkutan.

Amerika Serikat
(Dari Undersea and Hyperbaric Medical Society, USA 1983)

  1. Embolisme gas dan udara
  2. Keracunan karbonmonoksida (CO Smoke inhalation)
  3. Cedera remuk (Crush Injury)
  4. Keracunan gas sianida
  5. Penyakit dekompresi
  6. Meningkatkan penyembuhan luka-luka pada,
    • ulkus diabetikum
    • ulkus stasis venosus
    • ulkus dekubitus
    • ulkus insufisiensi arterial
  7. Anemia (Exceptional blood loss)
  8. Infeksi jaringan lunak bernekrosis
    • selulitis anaerob krepitan
    • gangrene bakterial progresif
    • fasitis nekrosis
    • Penyakit Fournier
  9. Gas gangrene kuman Clostridial
  10. Osteomyelitis refrakter
  11. Nekrosis karena radiasi
  12. Tandur kulit (skin grafts and flaps )
  13. Luka bakar

Eropa Barat
(Dari European Committee Hyperbaric Medicine, France 1992)

INDIKASI AKUT:

  1. Inloksikasi gas CO
  2. Embolisme gas arterial
  3. Gas gangrene
  4. Infeksi berat pada jaringan lunak : gangren diabetik
  5. Sindrom kompartemen dan cedera remuk (Compartement Syndrome )
  6. Luka bakar dengan inhalasi asap
  7. Pasca anoksik encefalopati
  8. Tuli mendadak (Sudden deafness)
  9. Patologi visual karena gangguan vaskuler

INDIKASI KRONIK:

  1. Insufisiensi vaskuler kronik
  2. Ulkus karena insufisiensi vaskuler/ penyembuhan luka lambat
  3. Lesi pada kaki diabetik
  4. Tandur kulit
  5. Sistitis karena radiasi
  6. Osteo radionekrosis rahang bawah
  7. Osteo mielitis refrakter

Jepang
(Dari Japanese Society for Hyperbaric Medicine, Japan 1985)

  1. Intoksikasi gas CO
  2. Gas gangren
  3. Emboli udara dan Penyakit dekompresi
  4. Gangguan vaskuler perifer,
    • luka bakar parah dan sengatan dingin (frost bile)
    • digabung cedera remuk
  5. Syok
  6. Infark Myocardial dan insufisiensi coroner lain
  7. Gangguan kesadaran dan oedema otak
  8. Gangguan hipoksia berat pada otak
  9. Gangguan obstruktif akut pada arteri retina
  10. Gangguan sumsum tulang belakang
  11. Ileur paralitik
  12. Tuli mendadak

Indikasi Non-Emergensi

  1. Kanker ganas (Neoplasma malignant) digabung dengan kemoterapi – radio terapi
  2. Gangguan sirkulasi perifer
  3. Tandur kulit
  4. Subacute myelooptico neuropathy
  5. Paresis saraf motorik, sebagai sekuele lanjut dari
    • serangan serebro vaskuler
    • kraniotomi
    • cedera parah pada kepala
  6. Gejala yang muncul lambat pada keracunan CO
  7. Neuropati sumsum tulang belakang
  8. Osteomyelitis dan nekrosis karena radiasi

KONTRA INDIKASI HBO (KI HBO)

Kontra Indikasi Absolut
Pneumothoraks yang tidak terawat (untreated Pneumothorax)

Kontra Indikasi Relatif

1. Infeksi saluran nafas atas (ISNA)
Faktor predisposisi barotrauma telinga dan Sinus squeeze

2. Gangguan kejang
Belum dapat dipastikan bahwa kasus kejang merupakan KI HBO namun 5% pasien dengan gangguan SSP mengalami kejang saat terapi HBO.

3. Emfisema dengan retensi C02
Pasien dengan masalah ini dapat berkembang menjadi pneumotoraks sampai terjadinya ruptur bulla emfisematus.

4. Lesi asimtomatik pada paru
Terapi HBO sebaiknya tidak diteruskan jika foto rontgen dada ada gambaran lesi

5. Riwayat pernah bedah thoraks dan telinga
Pasien harus menjalani evaluasi menyeluruh sebelum terapi HBO

6. Demam tinggi
Demam dapat memicu kejang, jika HBO tetap harus dilakukan maka panas badan harus diturunkan

7. Tumor (Malignant Disease)
Masih menjadi kontroversi/perdebatan sehubungan pengaruh HBO terhadap pertumbuhan tumor (El. Torai dkk, 1987) melaporkan 3 kasus carsinoma yang terproliferasi setelah HBO

8. Kehamilan
Percobaan pada hewan membuktikan peningkatan terjadinya cacat bawaan pada janin bila HBO diberikan pada awal kehamilan (orgunogenesis) (Jenings, 1987). Namun jika nyawa si ibu terancam, keracunan gas CO misalnya, terapi HBO harus diberikan.

9. Neuritis opticus
Dikhawatirkan dapat mengalami hilang pandang (loss of vision)

KOMPLIKASI HBO (KO HBO)

Beberapa KO akibat pengobatan HBO adalah sebagai berikut :

1. Barotrauma telinga
KO HBO yang paling sering terjadi, salah satu penyebabnya adalah penderita gagal/sulit melakukan equalisasi tekanan antara udara telinga tengah dengan udara luar saat terapi HBO. Pemberian obat nasal decongestan akan sangat membantu. Beberapa pasien bahkan perlu miringotomy untuk emergensi saat HBO (Lamm,1987).

2. Nyeri sinus
Sinus adalah rongga-rongga fisiologis disekitar tulang wajah. Hambatan/kebuntuan sinus, sinusitis misalnya, saat penekanan di dalam Chamber akan terasa nyeri. Sinusitis banyak terjadi karena ISNA. Jika hal ini terjadi HBO harus ditunda. Antibiotik dan nasal decongestan bisa diberikan.

3. Miopia dan katarak
Miopia atau rabun jauh merupakan komplikasi yang reversibel, biasanya terjadi saat awal pengobatan HBO. (Anderson, 1978). Sedang katarak merupakan komplikasi akibat pengobatan jangka panjang (Long term exposure) (Palmquist, 1986)

4. Barotrauma Paru
HBO dapat memicu terjadinya robek paru (lung rupture), emboli udara, emfisema mediastinum atau pneumotorak (Unsworth, 1973). Tanda robek paru nyeri dada dan sesak nafas juga diikuti pergeseran trakhea dan pergerakan nafas dada asimetris. Jika hal ini terjadi hentikan HBO dan Torakosentesis.

5. Kejang
Davis, 1988, melaporkan angka kejadian kejang hanya 0,01% dari 28.700 pengobatan pada tekanan 2,4 ATA. Jika tekanan hanya 1,5 ATA selama kurang dari 40 menit, kejang tak akan timbul. Penanganan yang harus dilakukan adalah :

  • lepaskan sungkup 02
  • berikan 60- 120 mg Diazepam
  • tekanan dalam chamber harus tetap
  • penurunan tekanan bisa setelah kejang stop

6. Penyakit Dekompresi
Hal ini terjadi bila penderita dalam chamber melepas sungkup 02/ bernafas udara biasa dan penurunan tekanan yang tiba-tiba terjadi di chamber

7. Klaustrofobia
Suatu bentuk neurosis pada beberapa pasien terutama pada mono place chamber atau multiplace yang sempit. Bantuan Psikiater sangat diperlukan

Pemeriksaan dan Penyaringan

Bagi calon pasien dan pasien lama perlu dilakukan langkah-langkah pemeriksaan dan penyaringan guna menghindari KO dan Kl. Namun langkah di atas untuk kasus-kasus pengobatan HBO terencana/Elective treatment.

Untuk kasus emergensi ini terdapat pengecualian :

  • Pengisian status pasien yang akurat
  • Informed consent yang komprehensif
  • Foto thoraks ( Rontgen )
  • Uji fungsi paru
  • Pemeriksaan gendang telinga

HBO seperti halnya pengobatan lain disamping memiliki manfaat yang begitu besar juga memiliki komplikasi dan kontraindikasi. Hal ini perlu dimengerti rekan kolega, klinikus dan perwira kesehatan hiperbarik agar lebih bijaksana menyikapi HBO. Sikap bijaksana, penggunaan yang proporsional, rasional dan Informed Consent menghindarkan kita dari kemungkinan kesalahan prosedur dan malpraktik.

Ada baiknya bila Perhimpunan Kedokteran Hiperbarik Indonesia (PKHI) mengadakan sarasehan atau seminar guna menyusun indikasi, kontraindikasi, komplikasi khusus untuk standar pemakaian HBO di Indonesia. Mengingat pemakaian HBO di RSAL Dr. Mintoharjo dan LAJ KESLA, Surabaya semakin diminati masyarakat. Hingga saat ini belum ada regulasi baku penggunaan HBO Indonesia.

Sekali lagi tulisan ini bermaksud membuat kita insan hiperbarik TNI AL lebih siaga, waspada dan bijaksana menggunakan HBO. Karena tanpa memahami kontraindikasi dari HBO sulit bagi kita melakukan langkah-langkah antisipasi prevention dan tanpa mempelajari komplokasi HBO sulit bagi kita melakukan langkah penanggulangan/ rehabilitation.

 

2004-08-24 07:23:27 Kapten Laut (K) Dr. Danny Dana

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu