dalam kategori | Tips Kesehatan

Makanan, Keringat dan Bau Badan

Makanan, Keringat dan Bau Badan

Meski terdengar agak berlebihan dan terkadang terlalu ekstrim, makanan memang punya hubungan dengan aktifitas kelenjar keringat, sekaligus juga bau badan yang sebenarnya relatif bagi sebagian orang. Anda mungkin sering-sering mendengar atau beranggapan bahwa etnis-etnis tertentu memiliki bau badan yang khas, yang bagi individu yang bersangkutan sebenarnya dinilai biasa-biasa saja. Selain faktor lingkungan lainnya atau aktifitas kelenjar keringat yang berbeda bagi setiap orang, makanan merupakan sebuah faktor yang sangat berperan sebagai latar belakangnya.

Makanan Pemicu Keringat

Yang dimaksud disini tentu bukan hanya sekedar makanan pedas yang sudah lazim membuat individu yang mengkonsumsinya menjadi gampang berkeringat, namun lebih ke proses terjadinya pemicu itu terhadap metabolisme tubuh. Toh pada sebagian orang yang gemar memakan makanan-makanan pedas ataupun panas, proses itu tak selamanya terjadi bila kita perhatikan.

Salah satu komponen yang ada dalam merica dan cabai, misalnya yang dikenal dengan nama capsaicin, biasanya terdapat dalam merica putih atau hitam, cabai merah atau cabai rawit. Komponen kimiawi dalam makanan tersebut bersifat merangsang atau menstimulasi reseptor saraf di mulut manusia dan mempengaruhi proses persarafan berikutnya dengan informasi kimiawi bahwa tubuh berada dalam keadaan panas. Hal tersebut selanjutnya akan membuat tubuh Anda seakan berada di tengah panas matahari terik dan pengatur suhu alami tubuh kemudian akan dipicu untuk bereaksi melalui sinyal tubuh untuk mengaktifasi kelenjar keringat. Kulit kemudian akan berkeringat sebagai reaksi lebih lanjut yang juga dikenal sebagai efek diaforetik atau meluruhkan keringat termasuk sisa-sisa metabolisme tubuh ini.

Namun dibalik itu, capsaicin juga berkhasiat sebagai stimulan peningkat nafsu makan serta melancarkan peredaran darah, dan seringpula dianjurkan dalam beberapa sisi pengobatan tradisional sebagai obat anti penggumpalan darah dan penurun kadar kolesterol serta lemak trigliserida di hati. Rasa panas dan pedas akibat picuan reseptor saraf pada lidah itu juga ternyata akan memicu endorfin, sejenis hormon untuk meredakan rasa sakit.

Selain makanan pedas, makanan atau minuman panas juga akan turut memicu reaksi pengeluaran keringat melalui temperaturnya yang kemudian akan beradaptasi dengan temperatur tubuh. Namun bagaimanapun, mengkonsumsi makanan pedas dan panas secara berlebih juga tidak dianjurkan bagi kesehatan karena aktifasi kelenjar keringat akan sangat berlebih, dan tubuh Anda bisa basah dan mengeluarkan aroma tak sedap dari kerja kelenjar keringat tertentu yang mengeluarkan bau tersebut.

Makanan dan Bau Badan

Sedikit berbeda dengan makanan yang bisa memicu keringat, walau masih punya hubungan, bau badan juga bisa dipicu dari konsumsi makanan-makanan tertentu. Beberapa penelitian yang memusatkan risetnya pada beberapa kebiasaan di negara-negara tertentu termasuk Itali dan Jepang, yang suka mengkonsumsi bawang putih atau masyarakat India yang suka mengkonsumsi rempah-rempah beraroma mencolok juga pernah mempublikasikan penelitian mereka terhadap hal ini.

Meski bagi beberapa orang termasuk para ahli hal ini masih kerap dipandang sebagai mitos tertentu, namun ternyata riset-riset tadi turut menjelaskan juga proses berikut komponen-komponen yang terdapat dalam makanannya. Adalah komponen-komponen yang terdapat di dalam makanan-makanan tadi yang bereaksi dengan metabolisme tubuh saat mencernanya. Tak hanya di saluran pencernaan, komponen zat ini juga akan masuk bersama aliran darah dan menimbulkan bau bersama zat-zat yang dikeluarkan seperti nafas, urin atau keringat. Ini kira-kira sama dengan bau mulut atau bau kotoran ketika kita memakan makanan seperti jengkol atau pete yang memiliki komponen kimiawi yang bisa memicu bau-bauan tersebut, namun tentu tak sama ketimbang bau badan yang bisa tinggal lebih lama dan menjadi trademark tertentu.

Proses yang berjalan secara terus-menerus dengan pola menu makanan yang dipilih, yang mengandung zat-zat pembawa bau tak sedap ke dalam jenis makanan itu sebenarnya masih bergantung lagi pada faktor-faktor lain termasuk banyaknya makanan yang dikonsumsi, enzim-enzim metabolik pada cairan mulut atau ludah yang berfungsi memecah makanan, bahkan lebih jauh pada gen-gen tertentu yang berperan dalam metabolisme tubuh secara keseluruhan.

Salah satu makanan yang tersering kita dengar adalah bawang putih, dimana komponen yang mengakibatkan aroma tak sedap itu adalah sulfur. Sulfur ini juga terdapat dalam jenis bawang lain yang masih segolongan secara penamaan biologi, dan sama-sama bisa memicu bau tak sedap bagi yang memiliki kebiasaan memakannya. Selain itu sulfur juga sering ditemukan pada makanan-makanan lain seperti brokoli, cabai dan beberapa sayuran dalam kelas cruciferae, dalam bentuk persenyawaan yang berbeda-beda.

Sementara, beberapa rempah-rempah aromatik yang sering digunakan dalam masakan India seperti kari-karian juga memiliki komponen yang berakibat sama terhadap bau badan individu yang mengkonsumsinya. Bahkan beberapa jenis daging sekali pun, berpotensi untuk menimbulkan aroma tak sedap melalui komponen-komponen kimiawi yang dihasilkan pada saat metabolisme tubuh menjalankan fungsi pencernaannya, sehingga sering dipandang lebih berpotensi ketimbang individu-individu vegetarian, meski tanggapan ini tak selamanya bisa dibenarkan karena faktor makanan-makanan nabati tertentu pun sama-sama memiliki potensi yang sama terhadap produksi bau badan yang kurang sedap ini.

Cara pencegahannya sendiri sebenarnya tidak ada yang terlalu spesifik karena tidak ada medikasi khusus untuk menghilangkannya. Beberapa ahli berpendapat proses dalam pengolahannya mungkin bisa menjadi celah untuk mengatasi meski tidak mengeliminasinya sama sekali.

Selain beberapa teknik pemasakan, mengkombinasikannya dengan beberapa jenis makanan lain dinilai bisa sedikit mengurangi efek yang tidak diharapkan, lagipula belum tentu harus selalu menyalahkan faktor makanan yang dikonsumsi karena masih ada beberapa kondisi kesehatan dan fungsi tubuh termasuk aktifitas kelenjar keringat berlebih yang bisa dialami sebagian orang sebagai pemicunya. Kalau ingat istilah ‘you are what you eat’ maka istilah itu juga berlaku untuk hal-hal yang cenderung bersifat estetis seperti ini selain juga kondisi kesehatan secara keseluruhan. (dr. Daniel Irawan)

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu