dalam kategori | Tips Kesehatan

Leptospirosis, tidak memiliki gejala khas sehingga harus diwaspadai

Leptospirosis, tidak memiliki gejala khas sehingga harus diwaspadai

Leptospirosis merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui air (water borne disease) Urin (air kencing) dari individu yang terserang penyakit ini merupakan sumber utama penularan, baik pada manusia maupun pada hewan.

Angka kematian Leptospirosis di Indonesia termasuk tinggi, mencapai 2,5-16,45 persen. Pada usia lebih dari 50 tahun kematian mencapai 56 persen. Di beberapa publikasi angka kematian dilaporkan antara 3 persen – 54 persen tergantung sistem organ yang terinfeksi.

Di Indonesia, penularan paling sering terjadi melalui tikus pada kondisi banjir. Keadaan banjir menyebabkan adanya perubahan lingkungan seperti banyaknya genangan air, lingkungan menjadi becek, berlumpur, serta banyak timbunan sampah yang menyebabkan mudahnya bakteri Leptospira berkembang biak. Air kencing tikus terbawa banjir kemudian masuk ke tubuh manusia melalui permukaan kulit yang terluka, selaput lendir mata dan hidung. Sejauh ini tikus merupakan reservoir dan sekaligus penyebar utama Leptospirosis karena bertindak sebagai inang alami dan memiliki daya reproduksi tinggi. Beberapa hewan lain seperti sapi, kambing, domba, kuda, babi, anjing dapat terserang Leptospirosis, tetapi potensi menularkan ke manusia tidak sebesar tikus.

Leptospirosis tidak memiliki gejala khas sehingga harus diwaspadai, ujar dokter spesialis kulit dan kelamin dari klinik Rumah Puan, dr. Amaranila Drijono, SpKK.

“Penyakit ini hanya memiliki gejala umum seperti sakit flu yaitu demam, mual, nyeri, sakit kepala, serta meriang,” jelas Nila di Jakarta, Jumat.

Nila mengemukakan bahwa penyakit yang sering muncul pada saat musim hujan terutama di saat banjir ini, memiliki masa inkubasi hingga 29 hari.

Lebih lanjut Nila menjelaskan bahwa leptospirosis ditakuti bukan hanya karena menyebabkan gatal-gatal pada kulit, namun karena penyakit ini merupakan jenis penyakit sistemik.

“Bakteri bisa masuk ke dalam peredaran darah melalui selaput lendir manusia, maka dengan mudah bisa menyerang hati, ginjal, serta paru-paru. Itulah yang membahayakan,” kata Nila.

Perjalanan penyakit Leptospira terdiri dari 2 fase, yaitu fase septisemik dan fase imun. Pada periode peralihan fase selama 1-3 hari kondisi penderita membaik. Selain itu ada Sindrom Weil yang merupakan bentuk infeksi Leptospirosis yang berat.

Gejala dini Leptospirosis umumnya adalah demam, sakit kepala parah, nyeri otot, merah, muntah dan mata merah. Aneka gejala ini bisa meniru gejala penyakit lain seperti selesma, jadi menyulitkan diagnosa. Malah ada penderita yang tidak mendapat semua gejala itu.

Ada penderita Leptospirosis yang lebih lanjut mendapat penyakit parah, termasuk penyakit Weil yakni kegagalan ginjal, sakit kuning (menguningnya kulit yang menandakan penyakit hati) dan perdarahan masuk ke kulit dan selaput lendir. Pembengkakan selaput otak atau Meningitis dan perdarahan di paru-paru pun dapat terjadi. Kebanyakan penderita yang sakit parah memerlukan rawat inap dan Leptospirosis yang parah malah ada kalanya merenggut nyawa.

Untuk menghindari timbulnya penyakit leptospirosis, dr. Nila mengimbau agar masyarakat melakukan antisipasi yaitu dengan selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

“Hindari bermain air saat terjadi banjir, terutama bila ada luka, dan selalu gunakan pelindung tubuh seperti sepatu, pakaian, serta sarung tangan,” ujar Nila.

Selain itu, sebisa mungkin korban banjir segera berobat ke sarana kesehatan bila menderita sakit dengan gejala panas tiba-tiba, sakit kepala dan menggigil.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu