dalam kategori | Layanan Kesehatan

Kusta, pengobatan gratis sampai 2015

Kusta, pengobatan gratis sampai 2015

Penyakit kusta sampai sekarang masih menjadi momok bagi sebagian besar masyarakat di dunia, tidak terkecuali Indonesia.

Kusta sulit diberantas akibat kurangnya pengetahuan, pengertian yang salah dan kepercayaan yang keliru bahwa penyakit ini sangat mematikan, disebabkan faktor keturunan, dan bahkan merupakan sebuah kutukan sehingga penderita harus dijauhi atau bahkan diisolasi.

Dalam kesempatan memberi penyuluhan tentang kesehatan kulit, di Ambon, Sabtu, dokter Steven Dandel dari Kementerian Kesehatan menyatakan di beberapa daerah masih ada penderita kusta yang diusir dan disuruh tinggal di dalam hutan, padahal penyakit yang disebabkan kuman atau bakteri lepra itu merupakan “penyakit menular yang paling sulit menular” dan tidak ada urusan dengan faktor keturunan apalagi dosa.

Penyakit itu sendiri terdiri dari dua jenis, kering dan basah. Gejala kusta kering umumnya berupa panu, yang bila digosok atau dikerik tidak membuat permukaan kulit pada bagian itu menjadi kasar (tetap licin). Sedangkan jenis yang basah umumnya berupa peradangan, berwarna merah dan berair.

Sungguhpun demikian, panu atau peradangan seperti itu bukanlah penyakit kusta apabila tidak disertai mati rasa.

Selama delapan tahun bertugas, Steven Dandel berpendapat bahwa upaya pemberantasan penyakit itu membutuhkan kerja sama banyak pihak, termasuk masyarakat sebagai “penyuluh pembantu”.

Artinya, masyarakat yang sudah mengikuti penyuluhan diharapkan bisa bertindak sebagai motivator untuk mendorong penderita memeriksakan diri ke dokter atau tenaga medis di puskesmas.

Pengobatan gratis

Menurut Steven, penyembuhan kusta akan sangat berhasil bila dilakukan sejak dini, ketika seseorang mengetahui gejala dirinya terserang penyakit tersebut.

Namun, hal itu tidak berarti penderita yang sudah akut tidak bisa sembuh. Asalkan mereka mau pergi ke puskesmas, pasti bisa disembuhkan dan bahkan tanpa harus membayar sepeser pun.

Kebijakan pengobatan gratis itu sendiri sejalan dengan tekad Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberantas penyakit kusta lewat program “Enhanced global strategy for futher reducing the disease burden due to leprosy 2011-2015” (Meningkatkan strategi global untuk terus menurunkan angka penyakit lepra dalam kurun waktu 2011-2015).

Sampai tahun 2011, Indonesia masih menempati urutan ketiga terbesar sebagai negara penyumbang angka penderita kusta di dunia, dengan temuan 20.000 kasus.

Upaya pemberantasan penyakit ini di berbagai negara juga mengalami kesulitan karena stigma “penyakit kutukan akibat dosa” yang belum bisa dilenyapkan. Selain pengucilan oleh masyarakat, penderita yang menyembunyikan diri karena takut diketahui masyarakat pun tidak sedikit jumlahnya.

Karena itu, penyuluhan tentang apa dan bagaimana mengatasi penderita akan terus dilakukan sampai masyarakat benar-benar sadar dan paham.

“Multi Drug Treatment”

Penyembuhan penyakit kusta dilakukan dengan metode “multi drug treatment” atau MDT.

Dalam metode tersebut, penderita diberikan pengobatan selama 6-12 bulan tanpa putus dan di bawah pengawasan dokter atau tenaga medis yang ditunjuk untuk itu.

Sesuai aturan, penderita kusta kering harus mengonsumsi obat rifampicin dengan dosis satu pil setiap bulan selama enam kali, diminum di hadapan dokter atau pengawas. Selain itu, selama perawatan ia diharuskan minum obat dapson setiap hari satu pil.

Sedangkan penderita kusta basah diharuskan menjalani pengobatan selama satu tahun dengan minum obat rifampicin setiap bulan satu kali, juga diminum di hadapan dokter atau pengawas, dan setiap hari mengonsumsi satu pil obat lampren.

Penderita yang menjalani pengobatan pada umumnya akan mengalami kondisi timbul benjolan-benjolan pada tubuh maupun wajah. Namun hal itu merupakan sesuatu yang wajar sebagai akibat reaksi obat yang bekerja mematikan bakteri lepra, dan reaksi zat imun (daya tahan) yang ada dalam tubuhnya.

Menurut Steven Dandel, semua obat termasuk MDT merupakan zat kimia dan pasti memiliki efek samping. Tetapi, semua itu tergantung pada daya tahan tubuh seseorang dan kepekaannya terhadap alergi.

Dalam perawatan penderita kusta, dokter dan tenaga medis yang khusus ditugaskan menangani pun sudah dibekali cara-cara penanggulangannya.

Harus jadi motivator

Bakteri lepra penyebab kusta hanya terdapat pada manusia dan bisa menular lewat kontak fisik dan udara. Namun, penularannya tidaklah semudah yang dipikir oleh banyak orang sehingga menimbulkan rasa takut berlebihan bila berdekatan dengan penderita.

Menurut Steven Dandel, penyakit tersebut bisa mudah menular hanya bila kontak fisik dengan penderita sering terjadi atau si tertular tinggal satu rumah dengannya.

Masa inkubasi sebelum timbul gejala kusta pun berkisar dua hingga lima tahun.

Lebih dari itu, bila si penderita sudah menjalani MDT, maka tidak perlu ada sedikitpun kekhawatiran bahwa dirinya bisa menularkan penyakit itu ke orang lain karena bakteri lepra di dalam tubuhnya bisa dikatakan 99 persen telah mati.

Karena itu, masyarakat tidak perlu takut apalagi sampai mengucilkan penderita kusta.

Seperti kata Steven Dandel, masyarakat sebaliknya harus bisa menjadi “motivator”, mendorong setiap orang yang diketahuinya mengidap kusta untuk memeriksakan diri di puskesmas.

Sebab, hanya dengan cara demikian bisa diharapkan angka penderita kusta di nagara ini bisa terus berkurang hingga akhirnya lenyap.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu