dalam kategori | Pola Hidup

Knalpot dari kendaraan diesel menyebabkan kanker

Knalpot dari kendaraan diesel menyebabkan kanker

Knalpot dari kendaraan diesel menyebabkan kanker, menurut Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (AIRC). Lembaga kanker di bawah Badan Kesehatan Dunia (WHO) ini menegaskan keputusannya untuk menaikkan status knalpot diesel dari “kemungkinan karsinogen” menjadi “karsinogen” atau zat-zat pencetus kanker.

“Bukti ilmiah yang ditemukan telah sangat jelas, dan para peneliti sepakat bahwa asap yang disebabkan oleh mesin diesel bisa menyebabkan kanker paru-paru pada manusia,” kata Dr Christopher Portier, ketua penelitian, seperti dilansir oleh BBC.

Risiko terkena kanker dari asap diesel memang kecil. Tetapi, dengan begitu banyak orang menghirup asap dalam beberapa cara, panel sains mengatakan menaikkan status knalpot diesel dalam kategori karsinogen ini adalah pergeseran yang penting.

“Ini ada di deretan yang sama besarnya dengan perokok pasif,” kata Kurt Straif, Direktur Departemen IARC yang mengevaluasi risiko kanker. “Ini bisa menjadi dorongan besar lain bagi negara-negara untuk membersihkan gas buang dari mesin diesel.”

Karena begitu banyak orang yang terkena knalpot, Straif mengatakan, mungkin ada banyak kasus kanker paru-paru yang terhubung dengan kontaminasi zat berbahaya itu.

Asap Knalpot

Dia mengatakan, asap mempengaruhi kelompok-kelompok, termasuk pejalan kaki di jalan, penumpang dan awak kapal, pekerja kereta api, sopir truk, mekanik, penambang, dan orang-orang yang mengoperasikan mesin berat.

Klasifikasi baru ini dikeluarkan setelah diskusi selama seminggu di Lyon, Prancis. oleh panel ahli yang dimotori AIRC.

Terakhir kali badan tersebut menetapkan status knalpot diesel sebagai “kemungkinan” karsinogen pada 1989. Reklasifikasi knalpot diesel knalpot sebagai “karsinogen” ini menempatkannya dalam kategori yang sama dengan bahaya lain yang dikenal seperti radiasi asbes, alkohol, dan ultraviolet.

Para ahli mengatakan mesin diesel baru memuntahkan asap yang lebih sedikit. Tetapi, perlu studi lebih lanjut untuk menilai potensi bahaya dalam asap yang disemburkan tadi.

“Untuk kebanyakan zat karsinogen, semakin tinggi paparan yang diterima oleh seseorang, maka efeknya akan semakin besar,” lanjut Dr Straif.

Ada cara yang bisa digunakan untuk mengurangi risiko kanker ketika menggunakan mesin diesel, yaitu dengan menggunakan bahan bakar yang mengandung kadar sulfur lebih rendah, atau mengganti mesin kendaraan.

Tak Cuma Ancam Paru-paru Tapi Juga Jantung

Ilmuwan di Skotlandia baru-baru ini menemukan bahwa partikel kecil yang diproduksi dari pembakaran diesel berbahaya bagi pembuluh darah dan dapat meningkatkan kemungkinan pembentukan bekuan darah di arteri. Akibatnya dapat mengarah ke serangan jantung atau stroke.

Penelitian ini dilakukan oleh para peneliti dari Edinburgh University dan didanai oleh British Heart Foundation. Makalahnya dipublikasikan dalam European Heart Journal seperti dilansir DailyMail dan NHS, Senin (8/8/2011)

Para peneliti merekrut 16 pria sehat berusia 18-32 untuk penelitian tersebut. Pada empat kesempatan berbeda yang terpisah dua minggu, para relawan menghadiri pusat penelitian. Secara acak, partisipan akan dipapar selama 2 jam dalam ruangan yang berisi:

  1. Udara murni yang disaring
  2. Asap pembakaran diesel encer (90% asap pembakaran dari mesin dan sisanya diencerkan dengan udara)
  3. Asap pembakaran diesel yang disaring (metode yang sama seperti di atas tetapi asap pembakaran melewati filter Teflon untuk menghilangkan partikel pembakaran)
  4. Karbon murni nonpartikel(dihasilkan dari elektroda grafit dan hasilnya dicampur dengan udara yang disaring, yaitu udara yang tidak diproduksi dari pembakaran mesin)

Selama di dalam ruangan, partisipan melakukan latihan fisik dengan sepeda dengan interval waktu istirahat 15 menit. Enam sampai delapan jam setelah paparan itu, penilaian terhadap pembuluh darah dilakukan sambil peserta berbaring di tempat tidur di sebuah ruangan yang tenang. Detak jantung peserta dan tekanan darah kemudian diuji.

Para peneliti menemukan bahwa, dibandingkan dengan asap pembakaran yang disaring, paparan udara pada asap pembakaran encer mengurangi tingkat vasodilatasi. Vasodilatasi adalah pelebaran pembuluh darah untuk meningkatkan aliran darah dalam tubuh kepada jaringan yang paling membutuhkan. Hal ini dilakukan ketika kebutuhan oksigen dalam jaringan meningkat. Para peneliti menyimpulkan bahwa asap pembakaran diesel lah yang tampaknya bertanggung jawab atas efek yang merugikan terhadap pembuluh darah tersebut.

Penambang

Para ahli di Lyon telah menganalisis studi yang dipublikasikan dari bukti hewan dan penelitian terbatas pada manusia. Salah satunya adalah penelitian terbesar yang diterbitkan oleh US National Cancer Institute. Laporan tersebut mengkaji 12.300 penambang selama beberapa dekade mulai 1947. Para peneliti menemukan bahwa para penambang yang sangat terkena knalpot diesel memiliki risiko lebih tinggi meninggal akibat kanker paru-paru.

Namun pendapat para ahli tersebut tidak diterima begitu saja. Para pelobi untuk industri diesel berpendapat penelitian ini tidak kredibel. Menurut mereka, peneliti tidak memiliki data yang tepat mengenai seberapa banyak penambang yang terpapar di tahun-tahun awal penelitian. Para peneliti, kata pelobi, hanya meminta penambang mengingat eksposur seperti apa yang mereka alami.

Di sisi lain, risiko seseorang terkena kanker tergantung pada banyak variabel. Mulai dari susunan genetik pada jumlah dan lamanya waktu pemaparan terhadap zat berbahaya.

Lepas dari itu, untuk menghindari asap knalpot kendaraan-entah bermesin diesel atau tidak—tak ada salahnya Anda menggunakan masker saat berkendara. Atau menghindari jalan-jalan penuh kendaraan berasap.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu