dalam kategori | Penyakit

Kista ovarium, gejala dan pengobatannya

Kista ovarium, gejala dan pengobatannya

Kista ovarium adalah kantung berisi cairan, yang berkembang dalam ovarium (indung telur) yang mirip dengan lepuhan kulit, yang sering terjadi pada wanita selama masa reproduksi mereka. Kista terbentuk pada indung telur, berukuran sebesar biji almond pada sisi rahim.

Berbeda dengan Mioma, kista berbentuk cairan dan biasanya tumbuh dalam ovarium, sedangkan mioma berbentuk massa solid (tumor) dan tumbuh pada dinding rahim wanita. Pada kenyataannya, seorang wanita bisa mengalami baik kista maupun mioma secara bersamaan.

Sebagian besar jenis kista ovarium tidak berbahaya dan hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan apapun. Namun, dalam beberapa kasus dapat menimbulkan masalah, mulai dari nyeri haid, kista pecah, perdarahan, hingga penyakit serius, seperti kanker endometrium.

Kista ovarium | www.tumblr.com

Kista ovarium | www.tumblr.com

Apa Yang Menjadi Penyebab Kista Ovarium?

Fungsi normal ovarium adalah untuk menghasilkan telur setiap bulan, selama proses ovulasi. Struktur kista yang disebut folikel terbentuk di dalam ovarium. Folikel pecah ketika telur matang dilepaskan selama ovulasi. Jika folikel gagal untuk pecah dan melepaskan telur, cairannya tetap tinggal dan dapat membentuk kista kecil (lebih kecil dari 4 cm). Ini normal terjadi dan kondisi ini disebut sebagai kista fungsional yang biasanya akan hilang dengan sendirinya.

Kista ovarium abnormal, seperti polycystic ovarian disease, dapat terjadi sebagai akibat dari ketidak seimbangan hormon wanita (estrogen dan progesteron).

Beberapa resiko yang menjadi penyebab berkembangnya kista ovarium, adalah wanita yang biasanya memiliki :

  • Riwayat kista ovarium terdahulu
  • Siklus haid tidak teratur
  • Perut buncit
  • Menstruasi di usia dini (11 tahun atau lebih muda)
  • Sulit hamil
  • Penderita hipotiroid
  • Penderita kanker payudara yang pernah menjalani kemoterapi (tamoxifen)

Jenis-jenis Kista Ovarium

1. Kista fungsional
Kista ini normal, sering akan menyusut dan menghilang dalam waktu dua atau tiga siklus menstruasi. Karena jenis kista ini terbentuk selama proses ovulasi, jarang terjadi pada wanita menopause karena telur tidak lagi diproduksi.

2. Kista dermoid
Ini adalah kista ovarium yang tidak hanya berisi cairan, tapi juga lemak serta dipenuhi dengan berbagai jenis jaringan, termasuk rambut dan kulit. Jenis ini biasanya menyerang wanita berusia lebih muda dan dapat tumbuh besar (15 cm), dapat meradang dan menyebabkan posisi tuba fallopi terlilit.

3. Kista endometrioma
Kista ini juga dikenal sebagai “kista coklat” disebut juga endometriosis, dan jenis ini terjadi ketika jaringan lapisan rahim (endometrial) menempel pada ovarium. Biasanya berisi darah kecoklatan, dan ukurannya berkisar antara 2 cm hingga 20 cm. Karakteristiknya : menyerang wanita usia reproduksi, menimbulkan sakit nyeri haid yang luar biasa, dan mengganggu kesuburan (fertilitas).

endometriosis | www.women-health-info.com

endometriosis | www.women-health-info.com

4. Kistadenoma
Ini adalah kista ovarium yang berkembang dari sel-sel pada permukaan luar ovarium. Kista jenis ini biasanya berisi cairan dan dapat berukuran sangat besar, bahkan diameternya bisa mencapai 30cm atau lebih

5. Polycystic Ovarian Disease
Penyakit ini mengacu pada kista yang terbentuk dari penumpukan folikel, dimana kista-kista kecil terbentuk disekeliling luar ovarium. Kondisi ini bisa terjadi pada wanita normal, maupun pada wanita yang mengalami gangguan hormon endokrin. Kista ini menyebabkan lapisan luar ovarium menjadi tebal, yang dapat mencegah terjadinya ovulasi, dan sering menjadi penyebab masalah kesuburan.

Polycystic Ovarian Syndrome | www.medicinenet.com

Polycystic Ovarian Syndrome | www.medicinenet.com

6. Polycystic Ovarian Syndrom (PCOS)
Kondisi dimana ditemukan banyak kista dalam ovarium. Hal ini terjadi karena ovarium memproduksi hormon androgen secara berlebihan, dan bisa terjadi karena faktor genetic (keturunan). Penyakit ini sangat lazim terjadi, yaitu menimpa sekitar 4-7% wanita usia reproduksi.

PCOS dapat memiliki gejala seperti : tumbuh bulu lebat, wajah berjerawat, ataupun gangguan siklus haid. Komplikasinya dapat berupa meningkatnya resiko penyakit jantung, kolesterol, Diabetes Mellitus tipe 2 maupun tekanan darah tinggi sebagai akibat resistansi insulin. Selain itu juga dapat meningkatkan resiko kanker endometrium bila jarak antar periode haid > 60 hari.

Penyakit PCOS ini, juga menjadi penyebab infertilitas pada wanita, meningkatnya resiko keguguran & komplikasi kehamilan, serta perdarahan di luar siklus haid.

Bagaimana Gejala Kista ovarium?

Kista ovarium sering tidak menimbulkan gejala, namun ketika kista ovarium hadir dapat menyebabkan rasa nyeri atau rasa penuh atau tekanan di perut serta rasa nyeri selama hubungan seksual.

Rasa nyeri lebih disebabkan oleh sejumlah faktor, seperti ukuran kista, pendarahan atau cairan dari kista yang pecah menyebabkan iritasi pada jaringan perut. Nyeri juga dapat disebabkan ketika kista terpelintir (disebut torsi), yang dapat menghalangi aliran darah ke kista.

Gejala lain yang mungkin dirasakan ketika proses pelepasan sel telur pada periode ovulasi tertunda, menyebabkan siklus haid tidak teratur, atau periode haid yang luar biasa menyakitkan, atau dengan gejala antara lain seperti di bawah ini :

  • Kram perut bawah atau nyeri panggul yang timbul tenggelam dan tiba-tiba menusuk
  • Siklus haid tidak teratur
  • Perut bawah sering terasa penuh atau tertekan
  • Nyeri haid yang luar biasa, bahkan terasa hingga ke pinggang belakang
  • Nyeri panggul setelah olahraga intensif atau senggama
  • Sakit atau tekanan yang menyertai saat berkemih atau BAB
  • Mual dan muntah
  • Rasa nyeri atau keluarnya flek darah dari vagina

Biasanya wanita baru memeriksakan diri ke dokter bila rasa sakit sudah tak tertahankan, pingsan, ataupun mengalami perdarahan yang luar biasa hebat hingga lemas/anemia.

Dokter spesialis kandungan (Obsgyn), biasanya akan melakukan test mulai dari USG, CT Scan, test darah, seperti CA125 – ovarium tumor marker test, ataupun test kehamilan untuk mendeteksi kehamilan anggur.

Kista dan Kehamilan

Kista ovarium berukuran kecil biasanya tidak membahayakan janin dan tidak beresiko menimbulkan komplikasi kehamilan.

Kista ovarium berukuran besar (6-8 cm) dapat menimbulkan masalah bagi ibu hamil. Kadang-kadang, kista ini tumbuh pada batang yang memutar dan pecah, menyebabkan rasa sakit pada Ibu. Meskipun substansi yang pecah ini tidak membahayakan pertumbuhan janin, namun rasa sakit yang luar biasa dapat memicu kelahiran prematur ataupun keguguran.

Dokter biasanya akan memberikan obat pereda sakit yang aman bagi Ibu dan janin sambil terus mengamati perilaku kista. Biasanya kista mengecil dan menghilang dengan sendirinya pada trimester kedua kehamilan. Bila tidak juga ada tanda-tanda mengecil ataupun pecah, operasi pembedahan mungkin disarankan.

Kista dan Kanker

Kanker ovarium merupakan penyebab kematian terbanyak dari semua kanker ginekologi. Di Amerika Serikat pada tahun 2001 diperkirakan jumlah penderita Kanker Ovarium sebanyak 23.400 orang yang diperkirakan meninggal sebanyak 13.900 orang. Angka kematian yang tinggi ini disebabkan karena penyakit ini pada awalnya bersifat asimptomatik dan baru menimbulkan keluhan apabila sudah terjadi metastatis, sehinga 60% – 70% pasien datang pada stadium lanjut, sehingga penyakit ini disebut juga sebagai “silent killer”. Angka kejadian penyakit ini di Indonesia belum diketahui dengan pasti karena pencatatan dan pelaporan penyakit di negeri kita kurang baik. Sebagai gambaran di RS. Kanker Dharmais ditemukan kira-kira 30 penderita setiap tahun.

Kanker Ovarium yang kebanyakan berawal dari kista ovarium yang diderita sebelumnya kemudian berkembang menjadi kanker ovarium karena pengobatan yang terlambat dilakukan. Kanker Ovarium erat hubungannya dengan wanita yang mempunyai tingkat kesuburan rendah atau Intenfertilitas. Study epidemiologic menyatakan beberapa faktor resiko yang penting sebagai penyebab kanker ovarium adalah wanita nullipara, melahirkan pertama kali pada usia diatas 35 tahun dan wanita yang mempunyai keluarga dengan riwayat ovarium, kanker payudara atau kanker kolon. Sedangkan wanita dengan riwayat kehamilan pertama terjadi pada usia dibawah 25 tahun, penggunaan pil kontrasepsi dan menyusui akan menurunkan kanker ovarium seanyak 30% – 60%. Faktor lingkungan seperti penggunaan talk, konsumsi galaktose dan sterilisasi ternyata tidak mempunyai dampak terhadap perkembangan penyakit ini.

Tidak ada upaya pencegahan khusus yang dapat dilakukan agar terhindar dari penyakit ini. Upaya yang bisa dilakukan adalah untuk mengetahui secara dini penyakit ini sehingga pengobatan yang dilakukan memberikan hasil yang baik dengan komplikasi yang minimal. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pemeriksaan secara berkala yang meliputi :

  1. Pemeriksaan klinis genekologik untuk mendeteksi adanya kista atau pembesaran ovarium lainnya
  2. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) bila perlu dengan alat Doppler untuk mendeteksi aliran darah
  3. Pemeriksaan petanda tumor ( tumor marker )
  4. Pemeriksaan CT-Scan / MRI bila dianggap perlu

Pemeriksaan tersebut diatas sangat dianjurkan terutama terhadap wanita yang mempunyai resiko akan terjadi kanker ovarium, yaitu :

  1. Wanita yang haid pertama lebih awal dan menopause lebih lambat
  2. Wanita yang tidak pernah atau sulit hamil
  3. Wanita dengan riwayat keluarga menderita kanker ovarium
  4. Wanita penderita kanker payudara atau kolon

Pengobatan Kista Ovarium

Studi menemukan bahwa penggunaan kontrasepsi oral (pil KB) dapat menurunkan resiko terkena kista ovarium, karena mencegah ovarium memproduksi telur.

Kista berukuran besar dan menetap setelah berbulan-bulan biasanya memerlukan operasi pengangkatan.

Selain itu, wanita menopause yang memiliki kista ovarium juga disarankan operasi pengangkatan untuk meminimalisir resiko terjadinya kanker ovarium. Wanita usia 50-70 tahun memiliki resiko cukup besar terkena kanker jenis ini.

Bila hanya kista-nya yang diangkat, maka operasi ini disebut ovarian cystectomy. Bila pembedahan mengangkat seluruh ovarium termasuk tuba fallopi, maka disebut salpingoo-ophorectomy.

Faktor-faktor yang menentukan tipe pembedahan, antara lain tergantung pada: usia pasien, keinginan pasien untuk memiliki anak, kondisi ovarium dan jenis kista.

Kista ovarium yang menyebabkan posisi batang ovarium terlilit (twisted) dan menghentikan pasokan darah ke ovarium, memerlukan tindakan darurat pembedahan (emergency surgery) untuk mengembalikan posisi ovarium.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.
* = required field

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat
ads

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu