dalam kategori | Featured, Penyakit

Kencing Manis Berakhir Manis

Kencing Manis Berakhir Manis

Sebuah bisul di pergelangan tangan menjadi sinyal datangnya penyakit maut. Mula-mula tangan Siti Asiyah gatal, kemudian muncul bisul yang tak kunjung sembuh. Pada saat bersamaan ia cepat lelah. ‘Padahal saya banyak makan dan minum, kok bisa cepat lelah?’ ujarnya. Biang keladi semua gangguan kesehatan itu adalah tingginya kadar gula darah: 650 mg/dl. Kadar gula darah normal puasa, 126 mg/dl dan 2 jam setelah makan, 200 mg/dl.

Siti Asiyah kaget bukan kepalang mengetahui kadar gula darahnya melambung tinggi. Namun, akhirnya ia menyadari: itu buah dari kebiasaannya selama ini. Maklum, dia termasuk orang yang gemar mengkonsumsi makanan manis berkarbohidrat tinggi, ‘Kalau saya rapat atau seminar, camilan yang saya makan manis semua,’ kata perempuan 57 tahun itu. Celakanya, alumnus Universitas Pendidikan Indonesia itu praktis tak pernah berolahraga lantaran kesibukannya.

Gaya hidup Siti Asiyah persis Nasir Heni di Jember, Jawa Timur, yang rutin mengkonsumsi bergelas-gelas teh manis saban hari. Pria 50 tahun itu semula merasa lelah. ‘Seperti tak punya otot,’ katanya. Selain itu ia berkunang-kunang, gatal sekujur tubuh, dan berjalan sempoyongan. Gangguan itu terjadi dalam 3 bulan. Bobot tubuhnya melorot tinggal 50 kg dari sebelumnya 75 kg. Hasil laboratorium menunjukkan kadar gula darahnya 450 mg/dl.

Pola hidup

Menurut Dr dr Aris Wibudi SpPD, dokter spesialis penyakit dalam RS Gatot Soebroto Jakarta, pemicu utama diabetes mellitus adalah pola hidup yang jelek. Maksudnya jarang melakukan aktivitas fisik dan banyak mengkonsumsi makanan manis dan berminyak. Makanan manis meningkatkan kadar gula darah. Makanan berminyak? Gorengan yang sarat lemak memicu meningkatnya bobot tubuh. Dengan bertambahnya bobot, tubuh semakin kurang sensitif terhadap efek insulin, sehingga kadar gula darah meningkat.’

Tentang pola makan, Aris menyarankan, ‘Perhatikan jumlah makanan, jangan berlebihan, hindari makanan berminyak, dan konsum silah sayuran dan buah segar, serta hindari makan apa pun minimal 3 jam sebelum tidur,’ katanya. Anjuran seperti itu bukanlah gaya hidup Siti Asiyah maupun Nasir. Itulah sebabnya akhirnya mereka positif mengidap diabetes mellitus.

Menurut Aris Wibudi banyak orang yang tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya mengidap kencing manis. Awalnya diabetes memang tidak menimbulkan keluhan dan rasa sakit. Penderita hanya sering lapar, haus, dan kerap buang air kecil. ‘Dalam semalam, waktu istirahat bisa 3-5 kali buang air kecil. Bila gejala seperti itu muncul, sebaiknya periksa gula darah ke dokter,’ kata Aris.

Terapi herbal

Sejak divonis menderita diabetes mellitus, Asiyah mengkonsumsi obat-obat antidiabetes seperti glibenclamide, amaryl, dan lactibet. Selama ini begitulah pengobatan diabetes, yaitu dengan pemberian obat-obat oral antidiabetik (OAD), atau suntikan insulin. Setahun lamanya, ibu satu anak itu mengkonsumsi obat dokter. Namun, kadar gula darah seperti enggan turun, bertengger pada angka 500-an-mg/dl.

Saran Prof Dr Edi G Amir, guru besar Institut Pertanian Bogor, untuk mengkonsumsi rebusan kulit batang bungur dituruti. Pada September 2005 Asiyah rutin mengasup kapsul ekstrak kulit bungur 3 kali sehari masing-masing 3 tablet sebelum makan. Ia mengkombinasikannya dengan mengkonsumsi kapsul daun sendok dan mimba. Daun sendok obat antidiabetes dan mimba untuk mengurangi gatal-gatal.

Sedangkan Nasir Heni atas saran Eko Jinem Hartuti, herbalis di Jember, Jawa Timur, mengkonsumsi 3 kapsul ekstrak daun bungur setiap hari. Selain itu ia juga mengkonsumsi ekstrak daun sambiloto, daun pegagan, dan umbi bawang putih. Menurut Eko, daun bungur dan bawang putih berperan untuk memperbaiki kinerja pankreas, organ yang memproduksi insulin. Sambiloto untuk mengatasi rasa gatal.

Dua minggu setelah konsumsi bungur Asiyah mulai merasakan nyaman. Perlahan kadar gula darahnya turun menjadi 511 mg/dl. Bahkan 2 bulan setelah mengkon sumsi, kadar gula darahnya turun ke angka 200 mg/dl. Pada saat bersamaan, rasa gatal, haus, dan sering berurin berangsur berkurang. Hingga kini Siti Asiyah masih rutin mengkonsumsi kapsul bungur. ‘Terakhir saya periksa ke dokter 18 Februari 2008, gula darah saya 181 mg/dl,’ ujarnya. Demikian juga Nasir Heni, kadar gula darahnya menjadi 200 mg/dl setelah 2 pekan mengkonsumsi ekstrak daun bungur.

Terbukti

Menurut dr Setiawan Dalimartha, dokter dan herbalis di Jakarta Barat, secara empiris bungur ampuh mengendalikan diabetes. Pengidap diabetes mellitus dapat merebus 8 daun bungur segar dalam 3 gelas air sampai mendidih dan tersisa segelas. Setelah dingin disaring, lalu minum sekaligus pada pagi hari.

Bungur efektif mengatasi diabetes mellitus? Begitulah riset Putu Pramitasari, dari Fakultas Farmasi Universitas Surabaya. Ia memberikan infus daun bungur berkonsentrasi 10% dan 20% dengan takaran 5 ml/kg bobot tubuh pada kelinci. Hasilnya, kadar gula satwa percobaan itu turun.

Dr Yamazaki, farmakolog Hiroshima University School of Medicine Jepang, mempelajari efek asam korosolik, senyawa aktif pada daun bungur yang berfungsi seperti insulin. Hasil penelitiannya menunjukkan korosolik mengaktivasi proses tranfer glukosa darah ke dalam sel sehingga kadar glukosa darah turun dan tidak terjadi penumpukan glukosa di dalam darah.

Pembuktian khasiat bungur Lagerstroemia speciosa juga dilakukan oleh Dr William V. Judy dari Institut Riset Biomedis, Florida, Amerika Serikat. Ia menguji efektivitas korosolik dalam menurunkan gula darah. Dalam uji itu ia melibatkan 12 penderita diabetes tipe II berusia di atas 46 tahun. Kadar gula darah puasa mereka di atas 150 mg/dl. Mereka dibagi 2 kelompok. Grup pertama diberi kapsul korosolik berdosis 16 mg, 32 mg, dan 48 mg per hari selama 2 pekan. Kelompok kedua diberi korosolik dalam bentuk bubuk kering berdosis 16 mg, 32 mg, dan 48 mg per hari selama 2 pekan.

Setelah 14 hari perlakuan, kadar glukosa darah diukur. Hasilnya kadar gula darah kelompok yang diberi kapsul 16 mg turun 4,9%; dosis 32 mg (10,7%); dan dosis 48 mg (31,9%). Sedangkan kadar gula darah kelompok yang diberi bubuk berdosis 16 mg turun 3,18%; dosis 32 mg (6,5%); dan dosis 48 mg (20,2%). Riset itu meneguhkan anggota famili Lythraceae itu memang tokcer mengatasi diabetes mellitus seperti dialami Siti Asiyah dan Nasir Heni. (Ari Chaidir/Peliput: Sardi Duryatmo)

Sumber: http://www.trubus-online.co.id/

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu