dalam kategori | Asupan Sehat

Kedelai melindungi dari serangan jantung dan kanker

Kedelai melindungi dari serangan jantung dan kanker

Lebih dari beberapa tahun terakhir, kami mendengar bahwa kedelai merupakan sumber nutrisi yang sangat baik dan dapat melindungi kita dari serangan jantung, beberapa jenis kanker, dan dapat mengurangi resiko osteoporosis dan gejala menopause – bahkan dapat meningkatkan kemampuan otak. Bagaimanapun juga, tidak semua laporan mengenai kedelai adalah tentang berita baik dan manfaat dari sisi kesehatan telah dipertanyakan oleh sebagian orang dan bahkan terdapat kampanye anti-kedelai yang kuat. Hasilnya membingungkan, hingga orang-orang tidak tahu mana yang harus dipercaya. VVF mengkaji penelitian-penelitian secara menyeluruh dan dicatat dalam fakta berikut.

Sejarah konsumsi kedelai

Terdapat sejarah yang panjang mengenai konsumsi kacang kedelai, melihat kembali ke abad 11 SM (3000 thn yang lalu) di bagian timur dari Cina Utara. Di masa awal abad pertama hingga abad 15-16, kacang kedelai masuk ke beberapa bagian Asia, termasuk Jepang dan India, dan di tahun 1765 kacang kedelai diperkenalkan ke Amerika (JHCI, 2002). Kemudian, kedelai masuk sebagai bagian penting dari pola makan di banyak populasi dan baru-baru ini menyokong pola makan vegetarian dan vegan karena banyaknya kandungan nutrisi dan manfaat kesehatannya. Bagaimana pun juga, seiring berkembangnya popularitas kedelai, berkembang juga beberapa kritik dan keraguan atas manfaat kedelai.

Nilai Gizi

Kedelai (Glycine max) secara khusus merupakan sumber protein yang baik karena kedelai mengandung delapan (8) asam amino esensial yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Susu kedelai dan produk kedelai menjadi sumber yang kaya asam lemak tak jenuh (termasuk lemak baik – omega-3) dan bebas kolesterol. Dibandingkan dengan susu sapi, susu kedelai mengandung lemak jenuh yang lebih sedikit dan asam lemak tak jenuh esensial yang lebih tinggi, dan dengan kolesterol yang rendah.

Produk kedelai menyediakan sumber antioksidan yang dapat mengurangi resiko terserang penyakit, vitamin B (termasuk folat) dan zat besi. Produk kedelai yang diperkuat oleh kalsium seperti susu kedelai dan tahu merupakan sumber penting dari mineral ini tanpa lemak jenuh hewani, protein hewani (kasein) dan kolesterol yang terdapat dalam produk susu.

Dalam satu sajian 200 ml (7 fl oz) Alpro kedelai (mungkin salah satu merk produk susu kedelai di negara asal penulisnya) yang ditambahkan kalsium dan vitamin, mengandung 30% kalsium yang disarankan per hari dalam RDA– setara dengan susu sapi. Produk ini juga diperkuat dengan vitamin B12 dan dalam 200 ml mengandung 100% nutrisi penting dari jumlah yang disarankan per hari.

Banyak makanan dari kedelai yang mengandung serat penting yang diperlukan untuk kesehatan usus dan menurunkan kolesterol. Makanan dari kedelai, khususnya yang terbuat dari kacang kedelai, memberikan banyak manfaat kesehatan dan nutrisi.

Manfaat kesehatan

Kesehatan jantung

Para ilmuwan setuju bahwa protein kedelai dapat meningkatkan kesehatan jantung—sebuah fakta yang didukung oleh banyak percobaan klinik (yang diawasi). Pada tahun 1995, sebuah kajian yang diterbitkan di New England Journal of Medicine memeriksa pengaruh protein kedelai pada tingkat kolesterol (Anderson et al., 1995). Pada 34 penelitian dari 38 penelitian yang dikaji, mengganti protein hewani dengan protein kedelai dapat menurunkan tingkat kolesterol (dengan 4 penelitian sisanya dilakukan pada tingkat kolesterol yang rendah). Peran protein kedelai pada kesehatan jantung telah diterima secara luas dan dibenarkan oleh banyak badan kesehatan.

Joint Health Claims Initiative (JHCI) pemerintah Inggris, adalah badan yang memberikan himbauan dan undang-undang kepada industri makanan dan konsumen untuk meyakinkan bahwa klaim kesehatan pada makanan secara ilmiah dapat dibuktikan dan diterima secara resmi. Di tahun 2002, JHCI mengesahkan klaim kesehatan : “masukan sedikitnya 25 gram protein kedelai per hari sebagai bagian dari pola makan lemak jenuh rendah dapat mengurangi kolesterol dalam darah” (JHCI, 2002a).

Bagaimana protein kedelai dapat mengurangi kolesterol dalam darah belum dapat dijelaskan. Pada tahun 2005, sebuah kajian dari 23 penelitian yang diterbitkan di American Journal of Clinical Nutrition, membahas dampak pengurangan kolesterol oleh protein kedelai karena kandungan isoflavon pada kedelai (fitoestrogen atau hormon tumbuhan). Dikatakan bahwa protein kedelai secara signifikan dapat menurunkan kolesterol tetapi menyarankan untuk tidak mengonsumsi isoflavon saja (Zhan and Ho, 2005).

Dalam penelitian yang lain, terlihat jelas bahwa dampak penurunan kolesterol dari protein kedelai pada manusia dalam keadaan sehat. Ditunjukkan bahwa protein kedelai, tanpa memperhatikan kandungan isoflavonnya, dapat menurunkan kolesterol (McVeigh et al., 2006).

Penelitian ini menyebutkan bahwa dampak penurunan kolesterol ini melibatkan gabungan unsur dalam kedelai, termasuk : isoflavon, peptida protein kedelai (rantai pendek dari asam amino—unsur pembangun protein) dan kandungan asam amino (rangkaian asam amino yang menyusun protein kedelai yang berbeda dengan protein hewani). Unsur-unsur ini bekerja sama dalam menurunkan kolesterol sehingga dapat mengurangi resiko serangan jantung dan stroke.

Gejala Menopause

Di Jepang, di mana kedelai lebih banyak dikonsumsi daripada negara lain di dunia, tingkat gejala menopause, yaitu hotflush (rasa panas di dalam tubuh disertai dengan keluarnya keringat dan jantung berdebar) jauh lebih rendah daripada di Negara barat. Bagaimana pun juga, terdapat beberapa variasi. Dalam 6 tahun penelitian pada lebih dari 1000 wanita di Jepang menunjukkan bahwa mereka yang mengonsumsi lebih banyak makanan dari kedelai memiliki frekuensi hotflush kurang dari setengah frekuensi hotflush pada wanita yang kurang mengonsumsi kedelai (Nagata, 2001).

Terdapat juga banyak penelitian yang menunjukkan bahwa dengan menambah makanan dari kedelai atau protein kedelai ke dalam pola makan dapat mengurangi banyak frekuensi atau kerasnya hot flush dan gejala menopause pada wanita.

Tampak juga pada tahun 1995, hot flushes berkurang sebesar 40% pada wanita yang mengonsumsi 45 gram tepung kedelai dalam 12 minggu dibandingkan pengurangan 25% pada wanita yang mengonsumsi tepung terigu (Murkies et al., 1995). Pada tahun 1997, penelitian lain menemukan bahwa hot flushes dapat berkurang 54% pada wanita yang mengonsumsi susu kedelai, tahu, dan miso; dibandingkan dengan pengurangan 35% pada kelompok kontrolnya (Brzezinski et al., 1997). Pada penelitian ketiga di tahun 1998, tampak bahwa 60 gram dari suplemen protein kedelai terisolasi mengandung 76 mg isoflavon, secara signifikan mengurangi hot flushes hingga 45%, dibandingkan dengan 35% penurunan dari kelompok kontrolnya (Albertazzi et al., 1998).

Pada tahun 2002, Faure et al. menunjukkan bahwa ekstrak isoflavon kedelai mengurangi hot flushes hingga 61% setelah 12 minggu perbandingan yang dilakukan terhadap kelompok kontrol yang memiliki pengurangan hingga 21% (Faure et al., 2002). Maka, tidak heran jika para peneliti menyebutkan bahwa protein kedelai menjadi pilihan untuk hormone replacement therapy (HRT) untuk mengurangi munculnya gejala menopause. Jumlah isoflavon yang disarankan belum ditetapkan, sehingga akan lebih baik jika memperoleh isoflavon dari keseluruhan makanan dari kedelai daripada mengambil ekstrak dari kedelai.

Kesehatan tulang

Penelitian pertama pada manusia yang sudah diterbitkan menyelidiki pengaruh makanan dari kedelai pada kesehatan tulang dan osteoporosis, menemukan bahwa protein kedelai dapat bekerja untuk mengurangi resiko penyakit yang bersifat melemahkan ini (Potter et al.,1998). Ditemukan bahwa dengan menambahkan kedelai protein pada pola makan wanita pasca-menopause sebanyak 40 gram sehari (mengandung 90mg isoflavon) dalam waktu 6 bulan dapat menambah kandungan mineral dalam tulang dan kepadatan lumbalis tulang belakang secara signifikan.

Penemuan ini didukung oleh penelitian berikutnya yang meneliti tentang pengaruh 80mg isoflavon kedelai sehari terhadap kepadatan tulang (Alekel etal., 2000). Dikatakan juga bahwa isoflavon mengurangi kehilangan tulang dari lumbalis tulang belakang pada wanita yang diperkirakan akan mengalami reduksi tulang antara 2-3% per tahun. Pada tahun 2003, sebuah penelitian menyimpulkan bahwa pola makan yang kaya akan fitoestrogen (isoflavon) merasakan manfaat bagi kesehatan tulang (Setchell and Lydeking-Olsen, 2003).

Penelitian dari Jepang dan China menunjukkan bahwa wanita pasca-menopause dengan asupan tertinggi atas makanan dari kedelai yang kaya akan isoflavon, memiliki kepadatan mineral tulang tertinggi pada lumbalis tulang belakang dibandingkan dengan wanita dengan asupan rendah kedelai (Somekawa et al., 2001; Mei etal., 2001). Pada sebuah penelitian pada wanita di Cina yang diterbitkan di European Journal of Nutrition, menyebutkan mengenai adanya hubungan yang kuat antara isoflavon kedelai dan pengurangan kehilangan tulang di masa pasca-menopause pada wanita yang tidak obesitas (Ye et al., 2006). Pada penelitian ini, 90 wanita berusia 45-60 tahun secara acak mendapat 1 dari 3 perlakuan— tidak mengonsumsi isoflavon (placebo), mengonsumsi 84 mg isoflavon, dan mengonsumsi 126 mg isoflavon dalam 6 bulan.

Kepadatan mineral tulang pada tulang belakang dan panggul diukur sejak awal dan akhir penelitian. Tampak bahwa ketika bertambahnya asupan isoflavon kedelai, terdapat tingkat kehilangan tulang yang berkurang, hal ini dapat disebabkan karena isoflavon kedelai menghalangi proses peluluhan mineral dari tulang (resorpsi tulang) – baca bagian Paradoks kalsium.

Bukti menunjukkan bahwa isoflavon kedelai baik untuk kesehatan tulang. Dan yang penting, sebagian peneliti menyebutkan protein kedelai menjadi pilihan untuk hormone replacement therapy (HRT) menghadapi resiko osteoporosis untuk wanita; di mana hal ini menjadi pencegahan yang murah dan tanpa menggunakan obat (Lydeking-Olsen et al., 2004).

Resiko Kanker

Rendahnya tingkat kanker payudara dan prostat di Negara Asia membuat peneliti tertarik untuk meneliti peran makanan dari kedelai pada resiko kanker dan hormon lain yang berhubungan dengan kanker.

Kanker Payudara

Terdapat beberapa bukti bahwa asupan kedelai selama masa puber dapat mengurangi resiko kanker payudara di kemudian hari. Shanghai Breast Cancer Study menemukan 1.400 kasus kanker payudara di Cina (Shu et al., 2001) dan ditemukan bahwa wanita yang mengonsumsi lebih banyak kedelai saat remaja memiliki setengah resiko kanker payudara saat dewasa.

Setahun kemudian, peneliti meneliti hubungan antara asupan kedelai selama masa puber dan kanker payudara pada wanita di Asia dan Amerika (Wu et al., 2002). Peneliti menemukan bahwa wanita yang mengonsumsi kedelai paling tidak seminggu sekali selama masa puber memiliki penurunan resiko kanker payudara yang signifikan. Lebih dari 1000 wanita, termasuk 501 pasien kanker payudara, didata seberapa sering mereka mengonsumsi makanan dari kedelai seperti tahu, susu kedelai, dan miso.

Hasil menunjukkan bahwa mereka yang mengonsumsi kedelai dalam tingkat tinggi di masa puber dan saat dewasa memiliki penurunan resiko kanker payudara hingga 47%. Responden yang mengonsumsi sedikit kedelai saat dewasa, namun mengonsumsi rutin pada saat masa puber memiliki penurunan resiko kanker payudara sebanyak 23%.

Wanita yang mengonsumsi sedikit kedelai di masa puber dan banyak kedelai di saat dewasa memiliki sedikit penurunan resiko kanker payudara.

Penelitian ini menyebutkan bahwa tingginya asupan kedelai di masa puber dapat menurunkan resiko terkena kanker payudara dan semakin berkurang jika konsumsi kedelai dilanjutkan hingga saat dewasa.

Untuk menggambarkan bukti secara bersamaan, Trock et al. menunjukkan kajian dari 18 penelitian dari kedelai dan resiko kanker payudara yang diterbitkan antara tahun 1978 dan 2004 (Trock et al., 2006). Hasilnya menunjukkan adanya hubungan sederhana antara asupan kedelai yang tinggi dengan berkurangnya resiko kanker. Bagaimanapun juga, penulis mengingatkan bahwa hasil ini sebaiknya diinterpretasikan dengan hati-hati dan bahwa rekomendasi atas penambahan dosis tinggi isoflavon untuk mencegah kanker payudara atau kambuhnya kanker payudara masih bersifat terlalu dini. Dengan kata lain, penelitian ini tampak menjanjikan namun masih membutuhkan bukti lebih lanjut.

Rendahnya tingkat kanker payudara di Jepang dan tingginya tingkat pasien yang mampu bertahan di antara mereka biasanya mengangkat manfaat dari makanan dari kedelai – atau paling tidak , kedelai tidak membahayakan – bagi pasien kanker payudara.

Beberapa peneliti, bagaimana pun juga, sangat berhati-hati dan memikirkan bahwa sedikit makanan dari kedelai yang menyerupai efek estrogen mungkin merugikan pada wanita menopause, khususnya pada wanita yang memiliki tingkat estrogen menurun dan didiagnosa memiliki reseptor estrogen positif (hormonsensitif) terhadap kanker payudara (PCRM, 2002).

Hal ini didasarkan pada lemahnya aktivitas estrogen terhadap isoflavon kedelai sehingga dapat merangsang pertumbuhan tumor yang sensitive terhadap estrogen. Hal ini tidak berlaku pada wanita yang belum menopause, yang memiliki tingkat estrogen lebih tinggi dengan karakteristik estrogen yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan fitoestrogen. Hal ini didasarkan pada sebagian besar pada hasil penelitian in vitro dan penelitian terhadap hewan tetapi hasil ini tidak jelas relevansinya terhadap pasien kanker payudara pada manusia.

Hingga saat ini, hanya terdapat dua penelitian mengenai hal ini dengan hasil yang masih belum jelas (Petrakis et al., 1996; Hargreaves et al., 1999). Pendekatan ini dilakukan pada wanita pasca-menopause agar membatasi konsumsi produk kedelai sebanyak 3-4 kali seminggu.

Secara keseluruhan, bukti-bukti menyebutkan bahwa konsumsi kedelai dalam jumlah sedang lebih memberikan manfaat kesehatan (daripada bahaya kesehatan), baik dalam hal resiko kanker payudara dan penyakit kronik lainnya.

Kanker Prostat

Terdapat berbagai macam tingkat kanker prostat di dunia, dengan kecenderungan tinggi, di berbagai negara kaya. Jepang menjadi pengecualian ketika fakta mengejutkan menyebutkan rendahnya tingkat kanker prostat walaupun terdapat tingginya standar kehidupan; dan bukti menyebutkan bahwa kedelai mungkin memberi pengaruh terhadap hal tersebut.

Terdapat sejumlah penelitian yang menyelidiki peran kedelai terhadap kanker prostat, tetapi penelitian skala besar di 59 negara pada tahun 1998 menemukan bahwa, secara keseluruhan, produk kedelai dapat memberikan perlidungan secara signifikan (Hebert et al., 1998). Ditunjukkan bahwa kematian akibat kanker prostat bertambah seiring dengan pola makan berlebih/berlimpah, khususnya susu hewani, daging, dan unggas; sementara pola makan berdasar sereal, kacang kedelai, kacang, dan biji-bijian mengurangi resiko kematian. Penulis kajian ini percaya bahwa penemuan mereka cukup kuat untuk menjamin manfaat yang lebih pada kerja produk kedelai dalam mencegah kanker prostat.

Secara singkat, tidak ada penelitian yang menunjukkan bahwa bertambahnya resiko kanker disebabkan oleh konsumsi kedelai; tetapi terdapat cukup bukti yang menyebutkan bahwa kedelai memberikan perlindungan/pencegahan terhadap kanker prostat.

Efek Kognitif

Beberapa studi menemukan bahwa asupan kedelai dapat meningkatkan daya ingat baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, fleksibilitas mental dan perencanaan.

Penelitian dari Centre for Neuroscience at King’s College, London, menemukan pengaruh dari pola makan tinggi kedelai (100mg isoflavon per hari) dibandingkan dengan pola makan rendah kedelai (0.5mg isoflavon per hari) pada siswa (File et al., 2001). Setelah 10 minggu, siswa yang menerima asupan tinggi kedelai menunjukkan kemajuan signifikan terhadap ingatan dalam jangka waktu pendek dan panjang serta fleksibilitas mentalnya.

Penelitian kedua menemukan pengaruh isoflavon kedelai (60mg per hari) terhadap kemampuan kognitif dari wanita pasca-menopause yang berumur 50-65 tahun (Duffy et al., 2003). Setelah 12 minggu, tampak adanya kemajuan signifikan (pada kelompok kedelai), termasuk kemampuan mengingat kembali gambar dan pada pekerjaan yang berkesinambungan. Walaupun kelompok tersebut tidak diberi perlakuan berbeda dalam cara belajar dan kemampuan mereka, kelompok pengonsumsi kedelai menunjukkan kemajuan yang lebih banyak secara signifikan pada uji perencanaan dan pembelajaran ulang. Dapat disimpulkan bahwa kemajuan kognitif secara signifikan pada wanita pasca-menopause dapat diperoleh dari konsumsi isoflavon kedelai dalam 12 minggu.

Penelitian lain menemukan pengaruh penambahan kedelai (60mg isoflavon per hari) pada wanita pasca-menopuase dan ditemukan bahwa hanya dalam waktu 6 minggu, kelompok pengonsumsi kedelai menunjukkan kemajuan yang lebih besar secara non-verbal (identifikasi objek, misalnya) dalam ingatan jangka pendek daripada kelompok plasebo (File et al., 2005).

Selain itu, kelompok pengonsumsi kedelai memberikan hasil yang lebih baik dalam fleksibilitas mental dan kemampuan perencanaan. Namun, tidak terdapat kemajuan dalam ingatan jangka panjang, pengelompokan generasi dan pekerjaan berkesinambungan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa isoflavon kedelai dapat memberikan dampak positif yang signifikan pada kemampuan kognitif tetapi mungkin hanya terbatas pada manusia di bawah umur 65 tahun (Kritz-Silverstein et al., 2003; Kreijkamp-Kaspers et al., 2004). Tentu saja hal ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Formula Kedelai untuk Bayi

Kecukupan Nutrisi

VVF mendukung rekomendasi World Health Organisation bahwa bayi sebaiknya diberi ASI eksklusif selama 6 bulan pertama. Bagaimanapun juga, sebagian ibu tidak dapat memproduksi ASI, atau memilih tidak memberikan ASI, dan dalam keadaan ini, susu formula direkomendasikan hingga bayi berusia 1 tahun. Formula untuk bayi yang berbahan dasar kedelai mampu memenuhi seluruh nutrisi yang diperlukan bayi dalam masa pertumbuhan.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa bayi yang diberi asupan formula yang berbahan dasar kedelai menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan yang normal. Sebuah penelitian yang membandingkan berat, panjang, dan lingkar kepala dari bayi yang sehat dan diberi asupan formula dalam jangka panjang hingga umur 1 tahun yang juga diberi asupan makanan berbahan dasar kedelai dengan bayi yang diberi ASI eksklusif minimal selama dua bulan dan disapih pada susu formula sapi. Kedua kelompok ini menunjukkan tingkat pertumbuhan yang serupa pada tahun pertama (Lasekan et al., 1999).

Penelitian selanjutnya membandingkan status nutrisi dan pertumbuhan dari 168 bayi yang memiliki alergi terhadap susu sapi dan diberikan formula untuk bayi yang berbasis kedelai atau air dadih terhidrolisis. Di kedua kelompok tersebut, pertumbuhan dan asupan nutrisi masih berada dalam nilai acuan atau dengan kata lain, mereka tumbuh normal (Seppo et al., 2005).

Hanya terdapat satu formula vegan kedelai untuk bayi di Inggris, yaitu: Farley’s Soya Formula, yang diproduksi oleh Heinz. Produk vegan ini lengkap nutrisi dan dapat dikonsumsi sejak lahir. Produk ini tidak mengandung unsur hewani sehingga dapat dikonsumsi oleh vegetarian dan vegan serta bayi yang menginginkan pola makan yang bebas laktosa dan kasein.

Secara singkat, dapat dikatakan bahwa formula kedelai untuk bayi dapat menjadi pilihan untuk asupan sehat bagi bayi. Formula ini menyediakan seluruh asupan yang dibutuhkan bayi tanpa memberikan efek negatif seperti pada susu sapi.

Apakah kedelai aman bagi bayi?

Nutrisi berbahan dasar kedelai memiliki sejarah panjang di abad-abad yang lalu. Laporan pertama tentang asupan nutrisi berbasis kedelai untuk bayi di Negara Barat adalah pada tahun 1909 (Ruhrah, 1909) dan formula tersebut digunakan pada kasus eksim pada anak-anak di tahun 1920an (Hill and Stuart, 1929). Kemudian, formula ini mulai berkembang. Masyarakat mulai tahu bahwa seluruh nutrisi yang diperlukan oleh tubuh dapat digunakan sebagai pilihan sehat pengganti ASI atau melengkapi ASI.

Manfaat dari formula kedelai untuk bayi ini sudah berkembang di Inggris sejak tahun 1960an dan dikonsumsi oleh sekitar 1% dari seluruh bayi yang mengonsumsi susu formula pada umur 4-10 minggu , dan berkembang hingga 2% bayi berusia 10-14% minggu (Hamlyn et al., 2002).

Di Amerika , formula kedelai untuk bayi dikonsumsi oleh 20-25% dari seluruh bayi yang mengonsumsi susu formula apapun (USDA, 2006). Walaupun demikian, Food Standards Agency’s (FSA) Inggris menyarankan agar anda memberikan formula kedelai untuk bayi jika hal itu disarankan demikian oleh konsultan kesehatan Anda (FSA, 2007). Dikatakan juga bahwa hampir di seluruh kasus, ASI atau formula apapun akan menjadi pilihan yang lebih baik dan jika Anda telah memberikan formula kedelai, bicarakan pada konsultan kesehatan Anda tentang perubahan itu (FSA, 2007). Pendekatan yang hati-hati ini sebagian besar berdasarkan pada bukti anekdot dan percobaan pada hewan.

Akhirnya isu kontroversial ini telah diselesaikan; FSA menyebutkan bahwa hingga ada bukti kajian pro dan kontra dari formula kedelai yang lengkap, maka tidak ada alasan bagi anda untuk menghentikan konsumsi formula kedelai pada bayi Anda – kecuali Anda mendapat saran dari seorang profesional di bidang kesehatan.

Pendekatan ini ditinjau dengan sangat hati-hati, bahwa tercatat ada jutaan bayi yang tumbuh dengan konsumsi formula kedelai di Inggris dan Amerika, dan banyak dari antara mereka dalam keadaan sehat di usia akhir 30an dan awal 40an sekarang. Terlebih lagi, tidak ada laporan dari Jepang dan Cina yang menyebutkan penggunaan kedelai mempengaruhi laju fertilitas. Faktanya, tidak adanya laporan efek penyakit pada jutaan bayi akan mendukung fakta bahwa tidak ada efek merugikan, baik secara biologis, maupun klinis (Klein, 1998).

Fitoestrogen

Fitoestrogen merupakan zat alami yang banyak ditemukan pada buah-buahan, sayur-sayuran, biji-bijian kering, kacang-kacangan, ercis, dan gandum. Isoflavon adalah satu dari jenis fitoestrogen yang ditemukan di kacang kedelai, termasuk genistein dan daidzein. Setiap gram dari protein kedelai pada makanan yang terbuat dari kedelai memberikan sekitar 3-4 mg isoflavon (Messina and Redmond, 2006).

Banyak manfaat — dan penurunan resiko kesehatan – dari makanan yang terbuat dari kedelai, di mana hal itu diperkirakan berhubungan dengan fitoestrogen. Fitoestrogen dapat bekerja dengan cara yang sama pada hormon estrogen, walaupun estrogen jauh lebih kuat (Coldham et

al., 1997). Sebagian fitoestrogen (isoflavon) diperkirakan bekerja lebih lemah sekitar 100 hingga 100.000 kali lebih lemah daripada estrogen yang dibentuk tubuh secara alami (Messina et al., 2006).

Diduga fitoestrogen dapat memberikan efek normalisasi pada tingkat estrogen tubuh (Kurzer, 2000) – jika seorang wainta memiliki tingkat estrogen tinggi, mungkin didapat dari pill kontrasepsi atau HRT, fitoestrogen dapat menguranginya dengan cara mengikat ke estrogen reseptor dan menghalangi akses dari estrogen yang lebih kuat. Namun, ketika seorang wanita memiliki tingkat estrogen yang rendah, seperti pada wanita pasca-menopuase, efek lemahnya fitoestrogen dapat mengembalikan estrogen dalam tubuh menjadi lebih normal dan meringankan gejala menopause.

Isoflavon kedelai telah menjadi bagian dari pola makan pada jutaan orang dewasa dan anak-anak di Asia selama berabad-abad. Sebuah kajian terbaru menyimpulkan bahwa literatur ilmiah, secara keseluruhan, menunjukkan bahwa isoflavon dari makanan yang terbuat dari kedelai adalah sangat aman dikonsumsi (Munro et al., 2003).

Ketertarikan terhadap fitoestrogen kemudian berkembang pesat selama lebih dari 10 tahun terakhir, khususnya untuk formula kedelai untuk bayi. Hal ini muncul berdasarkan adanya percobaan terhadap hewan yang menunjukkan bahwa fitoestrogen dapat mempengaruhi perkembangan alat reproduksi dan fungsi seksual. Percobaan ini pada dasarnya cacad pada semua level.

Yang pertama, isoflavon bekerja dengan cara yang berbeda pada spesies yang berbeda sehingga tidak relevan dengan percobaan pada manusia. Yang kedua, usus merupakan penghalang isoflavon sehingga meningkatkan kandungan dengan cara penyuntikan adalah tidak relevan. Akhirnya, banyak percobaan yang memberikan isoflavon pada tingkat yang sangat tinggi dan banyak kali dari jumlah yang diserap oleh bayi yang mengonsumsi susu formula. Banyak ilmuwan dan dokter yang mengakui bahwa percobaan pada hewan sebaiknya tidak dijadikan dasar pembuatan kebijakan kesehatan masyarakat.

Dr Kenneth Setchell, Professor Pediatri di Cincinnati Children’s Hospital Medical Centre, mengungkapkan bahwa tikus dan kera memproses isoflavon kedelai dengan cara yang berbeda dari manusia dan yang sesuai untuk menjadi model percobaan untuk perkembangan reproduksi hanyalah pada bayi manusia (Setchel, 2006).

Pada tahun 1998, sebuah kajian mengenai isoflavon, formula kedelai untuk bayi dan fungsi hormon pada mereka yang mengonsumsi formula kedelai di masa pertumbuhan, disebutkan bahwa pertumbuhan berjalan normal dan tidak ada perubahan waktu pubertas atau tingkat kesuburan (Klein, 1998). Penulis menyimpulkan bahwa formula kedelai untuk bayi menjadi pilihan makanan yang aman dan bernutrisi lengkap bagi banyak bayi. Hal ini tentu tidak berlaku bagi mereka yang memiliki alergi terhadap kedelai.

Hanya ada satu penelitianpada manusia yang secara spesifik mengkaji tentang pengaruh formula kedelai terhadap perkembangan seksual dan kesuburan (Strom et al., 2001). Kajian ini menguji hubungan antara konsumsi formula kedelai pada saat bayi dengan kesehatan reproduksi pada masa dewasa. Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa konsumsi ini memberikan dampak buruk terhadap perkembangan seksual dan kesehatan reproduksi, baik bagi wanita maupun pria. Penulis mengatakan bahwa penemuan mereka meyakinkan kembali tentang amannya mengonsumsi formula kedelai untuk bayi.

Di tahun 2003, dengan memperhatikan perkembangan penelitian tentang fitoestrogen, Departemen Kesehatan Inggris memiliki sebuah komite yang terdiri dari sejumlah ahli,  Committee on Toxicity of Chemicals in Food, Consumer Products and the Environment (COT); mengkaji implikasi fitoestrogen dan zat kimia alami lainnya (COT, 2003). Penelitian ini mencoba untuk mengkaji, berdasarkan bukti yang ada, apakah formula kedelai untuk bayi memberikan resiko pada bayi.

Laporan COT membandingkan asupan isoflavon pada populasi di Negara bagian barat dan timur. Di Inggris, Amerika, Australia dan Selandia Baru, asupannya cenderung berkisar antara 0.8 – 17 mg per hari. Sementara di Jepang, Cina, Korea, asupan isoflavon mereka berkisar antara 18-200 mg per hari. Data ini tidak dikumpulkan dari kelompok vegan di Selandia Baru yang mengonsumsi isoflavon sebanyak 40mg per hari.

Rata-rata jumlah asupan di Inggris, berdasarkan laporan COT, adalah berkisar antara 1mg isoflavon per hari, sementara vegetarian yang mengonsumsi kedelai sebagai pengganti daging dan susu, mengonsumsi sekitar 3 mg per hari. Mereka mengakui bahwa data ini mungkin mengabaikan data tentang jumlah kedelai yang dipakai dalam makanan yang diproses.

Asupan isoflavon dari sekelompok kecil vegetarian dan omnivora diperkirakan menggunakan database isoflavon yang terbaru dengan daftar 6000 makanan didalamnya (Ritchie, 2006). Vegetarian diperkirakan mengonsumsi 7.4mg per hari; dibandingkan dengan perkiraan konsumsi sebanyak 1.2mg per hari pada omnivora (Ritchie et al., 2006). Sumber utama dari masing-masing kelompok tersebut adalah susu kedelai, yoghurt, kedelai, sayuran yang mengandung protein, roti, dan buah kering.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kelompok vegetarian di Inggris mengonsumsi sekitar 10,5 mg isoflavon per hari (Clarke et al., 2003). Hanya satu kajian yang mengukur asupan isoflavon pada vegan (11 ibu pemberi ASI di Inggris) yaitu sekitar 75mg per hari (MAFF, 1998). Asupan ini berada di atas asupan rata-rata di negara barat, namun masih dalam batas asupan isoflaovon di negara timur. Tabel di bawah menunjukkan kandungan isoflavon pada makanan yang terbuat dari kedelai

COT memeperkirakan bahwa asupan harian isoflavon pada bayi yang mengonsumsi formula kedelai adalah kurang lebih 40mg per hari. Laporan COT menyatakan bahwa tidak ada bukti yang menyatakan bahwa populasi yang mengonsumsi kedelai dalam jumlah banyak, seperti Cina dan Jepang, memiliki perubahan perkembangan seksual atau gangguan pada kesuburan. Cina merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar, lebih dari 1,3 milyar penduduk.

Walaupun demikian, mereka merekomendasikan agar penelitian seharusnya dilakukan sebagai hal yang diprioritaskan untuk menemukan apakah konsumsi formula kedelai dapat mempengaruhi perkembangan reproduksi pada bayi. Dan yang menarik adalah bahwa hanya Negara Inggris dan Selandia Baru yang mengeluarkan saran demikian terhadap fitoestrogen dan formula kedelai.

Estrogen pada susu sapi

Hormon yang terkandung dalam susu sapi belum dibicarakan secara luas di antara ilmuwan dan baru sedikit penelitian yang diterbitkan tentang isu ini. Susu sapi mengandung 35 hormon dan 11 unsur pertumbuhan (Grosvenor et al., 1992).

Beberapa ilmuwan menaruh perhatian khusus pada estrogen yang terkandung dalam susu sapi, sehingga hal ini lah yang akan diangkat (Ganmaa and Sato, 2005). Yang menjadi perhatian mereka adalah bahwa telah terjadi perubahan drastis pada susu sapi selama lebih dari 100 tahun terakhir. Saat sapi diperah, sapi tersebut dalam keadaan hamil dan mensekresi hormon ke dalam susu. Naiknya tingkat hormon yang mencolok selama masa kehamilan dihubungkan dengan luasnya kisaran penyakit, termasuk kanker yang berhubungan dengan kanker tertentu seperti kanker ovarium dan payudara.

Hormon dan unsur pertumbuhan berperan sebagai molekul pemberi isyarat, membawa pesan penting dari induk ke bayinya yang memicu pertumbuhan dan perkembangan yang cepat. Susu sapi diciptakan untuk membesarkan anak sapi menjadi seekor sapi hanya pada tahun pertama. Singkat kata, susu sapi mengandung banyak hormon dan unsur pertumbuhan dan perkembangan; dan pada umumnya memiliki konsentrasi yang lebih tinggi daripada dalam darahnya (Grosvenor et al., 1992).

Dengan kata lain, hormon dan unsur pertumbuhan yang kuat disintesis di dalam kelenjar susu sapi dan diekskresi di dalam susunya – susu yang dikonsumsi manusia.

Mengkaji ulang kritik mengenai kandungan fitoestrogen, yang ribuan kali lebih lemah dari estrogen dalam hewan, memunculkan pertanyaan: apa motivasi utama di balik kampanye anti-kedelai?

Jika mempertimbangkan manfaat kesehatan dan.atau resiko konsumsi susu kedelai terhadap susu sapi, dapat dilihat manakah yang merupakan minuman alami? “Susu” nabati, yang diproduksi dari kedelai, dikonsumsi sejak berabad-abad tahun yang lalu, atau susu hewani, yang diambil dari spesies lain yang sedang dalam masa kehamilan.

Manusia merupakan satu-satunya mamalia yang masih mengonsumsi susu setelah disapih dengan mengonsumsi susu dari spesies lain. Lebih dari ¾ populasi dunia tidak mengonsumsi  susu sapi terus-menerus; mereka merupakan intoleran laktosa dan tidak dapat mencerna gula dalam susu setelah disapih. Hal ini jelas bahwa untuk manusia, susu sapi bukan dan tidak akan pernah menjadi minuman “alami”.

Kedelai dan Fungsi Tiroid

Tiroid merupakan kelenjar kecil di bagian depan leher. Kelenjar ini memproduksi hormon tiroksin yang penting, yang membantu mengontrol seberapa cepat tubuh membuat dan menggunakan energi yang didapat dari tubuh. Kelenjar tiroid membutuhkan yodium dari makanan sehingga dapat berfungsi. Kekurangan yodium dapat menyebabkan pembesaran kelenjar dan membentuk goiter(gondok). Hal ini dapat terjadi ketika kelenjar terlalu banyak atau terlalu sedikit bekerja. Kelenjar yang terlalu banyak bekerja menyebabkan penyakit bernama hiperthyroidisme sementara kelenjar yang kurang aktif menyebabkan penyakit hypothyroidisme.

Pengkajian terhadap kedelai dan tiroid difokuskan pada dua komponen: goitrogen dan isoflavon.

Goitrogen biasanya ditemukan di kedelai, brokoli, kubis, lobak, milet, kacang tanah dan kacang pinus. Sayuran tersebut dapat mengganggu penyerapan yodium dan memicu adanya goiter. Bagaimanapun juga, hal ini tidak menjadi masalah pada pola makan yang cukup yodium.

Sejumlah penelitian mennyebutkan bahwa isoflavon mempengaruhi fungsi tiroid dengan cara mengurangi konsentrasi tiroksin bebas.

Dalam himbauannya, COT menyarankan dokter dan pemerhati kesehatan waspada terhadap adanya kemungkinan hubungan antara isoflavon pada formula kedelai untuk bayi dan fungsi tiroid, khususnya pada kasus hypothyroidisme kongenital (COT, 2003).

Bagaimanapun juga, kajian terbaru dari 14 percobaan yang menyelidiki pengaruh kedelai pada fungsi tiroid menyimpulkan bahwa terdapat sedikit bukti yang menunjukan efek merugikan pada manusia dengan fungsi tiroid normal dan dengan pola makan yang mengandung cukup yodium (Messina and Redmond, 2006). Penulis mengatakan kemungkinan adanya gangguan dari makanan kedelai pada penyerapan dari obat yang mengandung hormon tiroid sintetis yang dikonsumsi oleh pasien hypothyroid, tetapi dikatakan bahwa orang dewasa yang menderita hypothyroid tidak perlu menghindari konsumsi makanan dari kedelai.

Terdapat teori yang menyebutkan bahwa seseorang dengan fungsi tiroid yang rusak dan/atau asupan yodium yang sedikit, makanan dari kedelai mungkin dapat menambah resiko berkembangnya hypothyroidisme. Konsensus umumnya adalah bahwa manusia, yang mengonsumsi kedelai atau tidak, sebaiknya memastikan cukupnya asupan yodium mereka.

Departemen kesehatan menyarankan agar balita usia 1-3 tahun sebaiknya mendapatkan 70 mikrogram yodium per hari dan 140 mikrogram per hari pada dewasa (Department of Health, 1991). Anda seharusnya dapat mencukupi kebutuhan yodium dengan cara menerapkan pola makan yang bervariasi dan seimbang (FSA, 2007a). Sumber yodium yang baik meliputi rumput laut, seperti nori dan kelp dan kaldu sayur. Orang dewasa dapat melengkapi diet mereka dengan tablet kelp namun cara ini tidak sesuai pada anak-anak.

Yodium juga dapat ditemukan pada sereal dan biji-bijian, seperti gandum utuh dan gandum hitam, tetapi jumlahnya tergantung pada yodiun yang terkandung dalam tanah tempat tanaman-tanaman tersebut tumbuh.

Penting untuk tidak mengonsumsi yodium berlebih karena bisa membahayakan. FSA menyebutkan bahwa kurang dari sama dengan 500 mikrogram konsumsi per hari tidak akan menimbulkan efek negatif (FSA, 2007a).

Alergi

Walaupun reaksi hebat pada tubuh akibat makanan jarang terjadi, kira-kira 6% anak-anak yang berumur di bawah 3 tahun dapat terkena alergi makanan, yang biasa disebabkan oleh susu sapi dan telur. Jumlah orang yang terkena alergi cenderung menurun seiring dengan bertambahnya usia, dengan jumlah kira-kira 4% orang dewasa yang memiliki alergi, yang biasanya disebabkan oleh kerang-kerangan dan kacang-kacangan (Department of Health, 2006).

Hanya sedikit jumlah makanan penyebab alergi di antara 90% kasus alergi disebabkan makanan antara lain: susu sapi dan produk susu, telur, kacang tanah, dan tree nut (seperti: kacang Brazil, hazelnuts, almonds dan walnuts), ikan, kerang-kerangan, termasuk remis, kepiting dan udang, tepung dan kedelai (FSA, 2007b). Gejala yang muncul akan alergi susu kedelai tidak jauh berbeda dengan gejala yang ditimbulkan pada alergi susu sapi, termasuk ruam, diare, muntah, kram perut dan sesak nafas. Pada kasus yang amat jarang, kedelai dapat menyebabkan anafilaksis (FSA, 2007c) –yaitu sebuah shock yang parah dan berpotensi fatal. Sejak November 2005, terdapat aturan dalam pengemasan pada makanan yang dijual yang mengharuskan pencantuman label jika makanan tersebut mengandung kedelai (FSA, 2007c).

Terdapat kekahawatiran akan kedelai hasil rekayasa genetik dapat lebih berpotensi menyebabkan alergi daripada kedelai yang bukan berasal dari rekayasa genetik (Soil Association, 2007).

Hal ini telah ditindaklanjuti oleh perusahaan-perusahaan bioteknologi yang memproduksi kedelai hasil rekayasa genetik dengan menghilangkan protein-protein yang diduga dapat menyebabkan alergi. Produk-produk hasil rekayasa genetik, khususnya kedelai dan jagung, sekarang banyak digunakan di berbagai makanan dan sulit untuk menghindari mereka. Jika Anda ingin menghindari konsumsi makanan yang berasal dari rekayasa genetik, maka pilihlah makanan yang memiliki label organik.

Dampak Lingkungan dari Kedelai

Sebagian orang berusaha untuk menyalahkan kedelai atas dampak lingkungan yang terjadi di hutan hujan Amazon. Kekhawatiran mereka benar adanya tetapi masalah bukan pada konsumsi kedelai oleh manusia – 80% produksi kedelai dijadikan makanan ternak sehingga manusia dapat mengonsumsi daging dan produk susu (Greenpeace, 2006). Sebagian besar sisanya digunakan sebagai tambahan dalam berbagai macam produk makanan seperti meat pies dan pasties. Baik bagi hutan hujan maupun bagi kesehatan kita, keduanya akan merasakan manfaat yang besar jika lebih banyak lagi orang yang menjadi vegan dan vegetarian, terlebih lagi jika mereka mengonsumsi kedelai.

Produksi Kedelai

Makanan dari kedelai seperti kecap, miso, tempe, tahu, susu kedelai, tamari pada dasarnya dikembangkan di Asia dengan menggunakan fermentasi tradisional dan metode pengendapan. Banyak dari makanan ini yang menggunakan kacang utuh dan pretein yang terkandung berbeda dengan isolat protein kedelai, yang diekstrak dari kacang kedelai, termasuk textured vegetable protein (TVP) dan pengganti daging lainnya.

Seperti halnya semua makanan olahan, kandungan gizi yang terkandung ditentukan dari proses pengolahannya. VVF tidak menganjurkan konsumsi berlebih pada makanan yang banyak melewati proses karena makanan tersebut cenderung memiliki kandungan lemak yang tinggi – terkadang merupakan lemak hidrogenasi – garam, gula, dan aditif buatan, yang semuanya sering dikaitkan ke masalah kesehatan. Bagaimanapun juga, banyak “daging buatan” yang mengandung lemak dalam tingkat rendah dan bebas kolesterol dan terbuat dari protein yang baik dan tidak mengandung lemak hidrogenasi (cek labelnya!)Produk ini dapat menjadi pilihan konsumsi yang lebih sehat daripada daging dan susu yang mengandung lemak jenuh hewani, protein hewani, kolesterol, dan hormon.

Kunci hidup sehat adalah dengan mengonsumsi berbagai jenis makanan termasuk cukup konsumsi biji-bijian, seperti pada roti gandum, pasta cokelat dan beras merah, biji kacang-kacangan (kapri, kacang – termasuk kedelai – dan lentil), buah-buahan dan sayuran dan kacang-kacangan dan biji-bijian.

Ringkasan

  • Kacang kedelai tidak mengandung kolesterol dan merupakan sumber protein, asam lemak tak jenuh, antioksidan, vitamin B, dan besi yang baik.
  • Produk kedelai yang dilengkapi kalsium seperti susu kedelai dan tahu menjadi sumber yang baik bagi mineral ini.
  • Produk yang diperkaya vitamin B-12 seperti susu kedelai menjadi sumber penting dari nutrisi ini.
  • Protein kedelai menurunkan kolesterol dan dapat menjaga kesehatan jantung.
  • Makanan dari kedelai dapat mengurangi munculnya gejala menopause.
  • Protein kedelai dapat menjaga kesehatan tulang dan mengurangi resiko osteoporosis.
  • Makanan dari kedelai dapat mengurangi resiko kanker payudara, dengan kemungkinan pengecualian pada wanita pasca-menopause.
  • Makanan dari kedelai dapat mengurangi resiko kanker prostat.
  • Makanan dari kedelai dapat memberikan kemajuan pada kemampuan kognitif.
  • Jutaan orang telah mengonsumsi makanan dari kedelai dengan aman dah sehat selama ribuan tahun.
  • Fitoestrogen (hormon tumbuhan) bersifat lebih lemah daripada estrogen alami pada produk susu dan daging merah dan dapat memberikan efek normalisasi tingkat hormon.
  • Formula kedelai untuk bayi dapat digunakan sebagai pilihan aman atau pelengkap ASI yang memenuhi seluruh nutrisi yang dibutuhkan anak.
  • Jutaan bayi sehat telah tumbuh dari konsumsi formula kedelai untuk bayi.
  • Tidak ada bukti bahwa kedelai memberi efek buruk terhadap pertumbuhan dan kesehatan reproduksi manusia.
  • Asupan fitoestrogen di Inggris tidak lebih banyak daripada di negara timur selama ribuan tahun ini.
  • Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa kedelai mengganggu kesuburan atau mengubah perkembangan seksual pada manusia.
  • Pada sebagian besar manusia, kedelai tidak mengganggu fungsi tiroid.
  • Walaupun kedelai dapat menimbulkan alergi, namun kedelai bukan menjadi penyebab utama.
  • Daging buatan dari kedelai menjadi sumber protein yang baik.
  • Susu sapi mengandung 35 jenis hormon dan 11 unsur pertumbuhan, beberapa di antaranya memiliki hubungan dengan kanker.
  • 80% produksi kedelai di dunia digunakan untuk makanan ternak.

 

Judul asli: The Safety of Soya
Oleh : Dr. Justine Butler, VVF senior Health campaigner
Diterjemahkan oleh :  Tim VSI Yogyakarta

 

Referensi

  1. Alekel, D.L., St Germain, A., Peterson, C.T., Hanson, K.B., Stewart, J.W. and Toshiya, T. 2000. Isoflavone-rich soy protein isolate attenuates bone loss in the lumbar spine of perimenopausal women. American Journal of Clinical Nutrition. 72, 844-852.
  2. Albertazzi, P., Pansini, F., Bonaccorsi, G., Zanotti, L., Forini, E. and De Aloysio, D. 1998. The effect of dietary soy supplementation on hot flushes. Obstetrics and Gynecology. 91 (1) 6-11.
  3. Anderson, J.W., Johnstone, B.M. and Cook-Newell, M.E. 1995. Meta-analysis of the effects of soy protein intake on serum lipids. New England Journal of Medicine. 333, 276-282
  4. Brzezinski, A., Adlercreutz, H., Shaoul, R., Rösler, A., Shmueli, A., Tanos V. and Schenker J.G. 1997. Short-term effects of phytoestrogen-rich diet on postmenopausal women. Menopause. 4, 89-94.
  5. Clarke, D.B., Barnes, K.A., Castle, L., Rose, M., Wilson, L.A., Baxter, M.J., Price, K.R. and DuPont, M.S. 2003. Levels of phytoestrogens, inorganic trace-elements, natural toxicants and nitrate in vegetarian duplicate diets. Food Chemistry. 81 (2) 287-300.
  6. Coldham, N.G., Dave M., Sivapathasundaram S., McDonnell D.P., Connor C. and Sauer M.J. 1997. Evaluation of a recombinant yeast cell estrogen screening assay. Environmental Health Perspectives. 105 (7) 734-742.
  7. COT, 2003. Committee on Toxicity of Chemicals in Food, Consumer Products and the Environment. Phytoestrogens and Health. London: The Food Standards Agency, FSA/0826/0503.
  8. Department of Health, 1991. Dietary Reference Values for Food Energy and Nutrients for the United Kingdom, Report on Health and Social Subjects. London: HMSO.
  9. Department of Health, 2006. An epidemiological report for the Department of Health’s review of services for allergy by Professor John Newton 28th June 2006 [online]. Available at: www.dh.gov.uk/assetRoot/ 04/13/73/78/04137378.pdf [Accessed October 3 2006].
  10. Duffy, R., Wiseman, H. and File, S.E. 2003. Improved cognitive function in postmenopausal women after 12 weeks of consumption of a soya extract containing isoflavones. Pharmacology Biochemistry and Behaviour. 75 (3) 721-729.
  11. Faure, E.D., Chantre, P. and Mares, P. 2002. Effects of a standardized soy extract on hot flushes: a multicentre, double-blind, randomized, placebo-controlled study. Menopause. 9 (5) 329-334.
  12. File, S.E., Jarrett, N., Fluck, E., Duffy, R., Casey, K. and Wiseman, H. 2001. Eating soya improves human memory. Psychopharmacology (Berl). 157 (4) 430-436.
  13. File, S.E., Hartley, D.E., Elsabagh, S., Duffy, R. and Wiseman, H. 2005. Cognitive improvement after 6 weeks of soy supplements in postmenopausal women is limited to frontal lobe function. Menopause. 12 (2) 193-201.
  14. FSA, 2007. Eat well, be well website. Children and babies [online]. Available at: www.eatwell.gov.uk/asksam/agesandstages/childrenandbabies/#A219760 [Accessed January 23 2007].
  15. FSA, 2007a. Iodine [online]. Available at: www.eatwell.gov.uk/healthydiet/nutritionessentials/vitaminsandminerals/iodine/ [Accessed January 23 2007].
  16. FSA, 2007b. Types of allergy and intolerance. Available at: www.eatwell.gov.uk/healthissues/foodintolerance/foodintolerancetypes/ [Accessed January 23 2007].
  17. FSA, 2007c. Soya allergy. Available at: www.eatwell.gov.uk/healthissues/foodintolerance/foodintolerancetypes/soyaallergy/ [Accessed January 23 2007].
  18. Faure, E.D., Chantre, P. and Mares, P. 2002. Effects of a standardized soy extract on hot flushes: a multicenter, double-blind, randomized, placebo-controlled study. Menopause. 9 (5) 329-34.
  19. Ganmaa, D. and Sato, A. 2005. The possible role of female sex hormones in milk from pregnant cows in the development of breast, ovarian and corpus uteri cancers. Medical Hypotheses. 65 (6) 1028-1037.
  20. Greenpeace. 2006. Eating up the Amazon [online]. Available at: www.greenpeace.org.uk/MultimediaFiles/Live/FullReport/7555.pdf [Accessed November 1 2006].
  21. Grosvenor, C.E., Picciano, M.F. and Baumrucker C.R. 1992. Hormones and growth factors in milk. Endocrine Reviews. 14 (6) 710-728.
  22. Hamlyn, B., Brooker S., Oleinikova K. and Wands S. 2002. Infant Feeding 2000. The Stationery Office. London, UK
  23. Hargreaves, D.F., Potten, C.S., Harding, C., Shaw, L.E., Morton, M.S., Roberts, S.A., Howell, A. and Bundred, N.J. 1999. Two-week dietary soy supplementation has an estrogenic effect on normal premenopausal breast. Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism. 84, 4017–24.
  24. Hebert, J.R., Hurley, T.G., Olendzki, B.C., Teas, J., Ma, Y. and Hampl, J.S. 1998. Nutritional and socioeconomic factors in relation to prostate cancer mortality: a cross-national study. Journal of the National Cancer Institute. 90 (21) 1637-1647.
  25. Hill, L.W. and Stuart H.C. 1929. A soya bean food preparation for feeding infants with milk idiosyncrasy. Journal of the American Medical Association. 93, 985-987.
  26. JHCI, 2002. Does the inclusion of 25g soya protein per day as part of a diet low in saturated fat help to reduce blood cholesterol? A Health Claim Submission by the Soya Protein Association to the JHCI [online]. Available from: www.jhci.org.uk/approv/FINALJHCI%20Soya%20Submission.pdf [Accessed September 14 2006].
  27. JHCI, 2002a. Joint Health Claims Initiative. Generic health claim for soya protein and blood cholesterol [online]. Available from: http://www.jhci.org.uk/approv/schol2.htm [Accessed September 14 2006].
  28. Klein, K.O. 1998. Isoflavones, soy-based infant formulas, and relevance to endocrine function. Nutrition Review. 56 (7) 193-204.
  29. Kreijkamp-Kaspers, S., Kok, L., Grobbee, D.E., de Haan, E.H., Aleman, A., Lampe, J.W. and van der Schouw, Y.T. 2004. Effect of soy protein containing isoflavones on cognitive function, bone mineral density, and plasma lipids in postmenopausal women: a randomized controlled trial. Journal of the American Medical Association. 292 (1) 65-74.
  30. Kritz-Silverstein, D., Von Muhlen, D., Barrett-Connor, E. and Bressel, M.A. 2003. Isoflavones and cognitive function in older women: the SOy and Postmenopausal Health In Aging (SOPHIA) Study. Menopause. 10 (3) 196-202.
  31. Kurzer, M.S. 2002. Hormonal effects of soy isoflavones: studies in premenopausal and postmenopausal women. Journal of Nutrition. 130 (3) 660S-661S.
  32. Lasekan, J.B., Ostrom, K.M., Jacobs, J.R., Blatter, M.M., Ndife, L.I., Gooch, W.M. 3rd and Cho, S. 1999. Growth of newborn, term infants fed soy formulas for one year. Clinical Pediatrics. 38 (10) 563-571.
  33. Lydeking-Olsen, E., Beck-Jensen, J.E., Setchell, K.D. and Holm-Jensen, T. 2004. Soymilk or progesterone for prevention of bone loss–a 2 year randomized, placebo controlled trial. European Journal of Nutrition. 4: 246-57.
  34. MAFF, 1998. Ministry of Agriculture Fisheries and Food. Levels of oestrogens in the diets of infants and toddlers. University of Reading. Report FS2829.
  35. McVeigh, B.L., Dillingham, B.L., Lampe, J.W. and Duncan, A.M. 2006. Effect of soy protein varying in isoflavone content on serum lipids in healthy young men. American Journal of Clinical Nutrition. 83 (2) 244-251.
  36. Mei, J., Yeung, S.S.C. and Kung, A.W.C. 2001. High dietary phytoestrogen intake is associated with higher bone mineral density in postmenopausal but not premenopausal women. Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism. 86:5217-5221.
  37. Messina, M. and Redmond, G. 2006. Effects of soy protein and soybean isoflavones on thyroid function in healthy adults and hypothyroid patients: a review of the relevant literature. Thyroid. 16 (3) 249-258.
  38. Messina, M., McCaskill-Stevens, W. and Lampe, J.W. 2006. Addressing the soy and breast cancer relationship: review, commentary, and workshop proceedings. Journal of the National Cancer Institute. 98 (18) 1275-1284.
  39. Munro, I.C., Harwood, M., Hlywka, J.J., Stephen, A.M., Doull, J., Flamm, W.G. and Adlercreutz, H. 2003. Soy isoflavones: a safety review. Nutrition Review. 61 (1) 1-33.
  40. Murkies, A.L., Lombard, C., Strauss, B.J.G., Wilcox, G., Burger, H.G. and Morton. M.S. 1995. Dietary flour supplementation decreases post-menopausal hot flushes: effect of soy and wheat. Maturitas. 21, 189-195.
  41. Nagata, C., Takatsuka, N., Kawakami, N. and Shimizu, H. 2001. Soy product intake and hot flashes in Japanese women: results from a community-based prospective study. American Journal of Epidemiology. 153 (8) 790-793.
  42. Petrakis, N.L., Barnes, S., King, E.B., Lowenstein, J., Wiencke, J., Lee, M.M., Miike, R., Kirk, M. and Coward, L. 1996. Stimulatory influence of soy protein isolate on breast secretion in pre- and postmenopausal women. Cancer Epidemiology Biomarkers and Prevention. 5, 785–94.
  43. PCRM, 2002. Healthy eating for life to prevent and treat cancer. New York: John Wiley & Sons, Inc.
  44. Potter, S.M., Baum, J.A., Teng, H., Stillman, R.J., Shay, N.F. and Erdman, J.W. Jr. 1998. Soy protein and isoflavones: their effects on blood lipids and bone density in postmenopausal women. American Journal of Clinical Nutrition. 68 (suppl) 1375S–1379S.
  45. Ritchie M.R., Cummings J.H., Morton M.S., Michael Steel C., Bolton-Smith C., Riches A.C. 2006. A newly constructed and validated isoflavone database for the assessment of total genistein and daidzein intake. British Journal of Nutrition. 95 (1) 204-213.
  46. Ritchie, 2006. Phyto-oestrogen database [online]. Available from: http://medicine.st-and.ac.uk/research/docs/ritchie/ [Accessed October 17 2006].
  47. Ruhrah, J., 1909. The soy bean in infant feeding: preliminary report. Archives of Pediatrics. 26, 496-501.
  48. Seppo, L., Korpela, R, Lonnerdal, B., Metsaniitty, L., Juntunen-Backman, K., Klemola, T., Paganus, A. and Vanto, T. 2005. A follow-up study of nutrient intake, nutritional status, and growth in infants with cow milk allergy fed either a soy formula or an extensively hydrolyzed whey formula. American Journal of Clinical Nutrition. 82 (1) 140-145.
  49. Setchell, K.D. and Lydeking-Olsen, E. 2003. Dietary phytoestrogens and their effect on bone: evidence from in vitro and vivo, human observational, and dietary intervention studies. American Journal of Clinical Nutrition. 78 (supplement) 593S-609S.
  50. Setchell, K.D. 2006. Assessing risks and benefits of genistein and soy. Environmental Health Perspectives. 114 (6) A332-A333.
  51. Somekawa, Y., Chiguchi, M., Ishibashi, T., and Aso, T. 2001. Soy intake related to menopausal symptoms, serum lipids, and bone mineral density in postmenopausal Japanese women. Obstetrics and Gynecology. 97:109-115.
  52. Soil Association, 2007. GM Food: Scientific Evidence of Health Risks [online]. Available from: www.soilassociation.org/web/sa/saweb.nsf/ librarytitles/1914E.HTMl/$file/Genetic%20engineering%20the%20key%20issues.pdf [Accessed February 1 2007].
  53. Shu, X.O., Jin, F., Dai, Q., Wen, W., Potter, J.D., Kushi, L.H., Ruan, Z., Gao, Y.T. and Zheng, W. 2001. Soyfood intake during adolescence and subsequent risk of breast cancer among Chinese women. Cancer Epidemiology Biomarkers and Prevention. 10 (5) 483-488.
  54. Strom, B.L., Schinnar, R., Ziegler, E.E., Barnhart, K.T., Sammel, M.D., Macones, G.A., Stallings, V.A., Drulis, J.M., Nelson, S.E. and Hanson, S.A. 2001. Exposure to soy-based formula in infancy and endocrinological and reproductive outcomes in young adulthood. Journal of the Medical Association. 286 (7) 807-814.
  55. Trock, B.J., Hilakivi-Clarke, L. and Clarke, R. 2006. Meta-analysis of soy intake and breast cancer risk. Journal of the National Cancer Institute. 98 (7) 459-471.
  56. USDA, 2006. Study Examines Long-Term Health Effects of Soy Infant Formula [online]. Available from: www.ars.usda.gov/is/AR/archive/jan04/ soy0104.htm?pf=1 [Accessed September 18 2006].
  57. WHO, 2004. Vitamin and mineral requirements in human nutrition, Second edition. World Health Organization and Food and Agriculture Organization. Available from: http://whqlibdoc.who.int/publications/2004/9241546123.pdf [Accessed January 23 2006].
  58. Wu, A.H., Wan, P., Hankin, J., Tseng, C.C., Yu, M.C. and Pike, M.C. 2002. Adolescent and adult soy intake and risk of breast cancer in Asian-Americans. Carcinogenesis. 23 (9) 1491-1496.
  59. Ye, Y.B., Tang, X.Y., Verbruggen, M.A. and Su, Y.X. 2006. Soy isoflavones attenuate bone loss in early postmenopausal Chinese women : A single-blind randomized, placebo-controlled trial. European Journal of Nutrition. 45 (6) 327-334.
  60. Zhan, S. and Ho, S.C. 2005. Meta-analysis of the effects of soy protein containing isoflavones on the lipid profile. American Journal of Clinical Nutrition. 81 (2) 397-408.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu