dalam kategori | Pola Hidup

Kaporit, desinfektan air yang berbahaya bagi tubuh

Kaporit, desinfektan air yang berbahaya bagi tubuh

Siapapun yang mengetahui latar belakang kimiawinya tahu bahwa kaporit merupakan zat kimia yang berbahaya dalam jumlah kandungan tertentu dan bukan jarang pula digolongkan sebagai zat kimia toksik, namun sejak lama dan hingga sekarang kegunaannya masih pula diperlukan dalam kebutuhan air kita sehari-hari, sebagai desinfektan dalam hal membunuh kuman-kuman seperti bakteri hingga virus dari sumber air yang kita gunakan.

Apapun alasannya, hasil riset-riset baru yang berkaitan dengan sebuah usaha pemasaran, mungkin juga kadang dibangun menjadi hype yang bisa berkembang meresahkan banyak orang, terlebih pada hal-hal yang menjadi kebutuhan utama, namun tentu ada baiknya untuk menelusuri dulu sejauh mana keuntungan dan kerugiannya sebelum terburu-buru menentukan suatu solusi.

Sekilas Tentang Kaporit

Sebagai desinfektan air yang paling lazim digunakan karena aktifitas perlawanannya yang cukup efektif terhadap kuman dan biaya relatif murah, klorin/kaporit sudah ditemukan sejak abad ke-13 dengan rumus kimia Cl2 dan kemudian banyak berkembang menjadi senyawa kimia lainnya yang digunakan dalam banyak produk rumahtangga termasuk bleaching powder, hipoklorit dan sebagainya.

Dalam perubahan reaksinya, kaporit sebenarnya sering ditemukan dalam bentuk gas toksik namun penggunaannya sebagai desinfektan dilakukan terlebih dahulu melalui proses presurisasi dan pendinginan untuk merubahnya ke dalam bentuk cair yang dapat disimpan, namun tak jarang pada penggunaan berlebihan atau reaksi-reaksi tertentu menyebabkan kaporit muncul dalam bentuk gas yang dikenal lewat baunya yang cukup menyengat seperti yang digunakan dalam produk-produk pemutih pakaian, kertas, lantai dan sebagainya.

Penggunaan kaporit sebagai desinfektan air sendiri sudah berkembang sejak lama dalam batasan kadar yang dianggap riset-riset ilmiah masih cukup aman untuk digunakan, paling tidak selama terhindar dari bentuk gas yang memiliki kemungkinan paparan lebih berbahaya.

Dalam fase dimana paparan klorin/kaporit ini sudah menimbulkan resiko, efek yang bisa merugikan tubuh sangat beragam mulai dari iritasi jaringan-jaringan tubuh seperti mata secara langsung serta saluran pernafasan lewat cara inhalasi gasnya hingga munculnya gangguan lanjut dengan kerusakan jaringan yang terjadi seperti batuk, sesak, rasa terbakar di sekitar dada, gangguan kulit, penuaan dini termasuk kerusakan rambut hingga kerusakan-kerusakan lanjut lainnya pada banyak jaringan tubuh.

Efek jangka panjang yang ditemukan dari berbagai riset menyebutkan berbagai gangguan serius mulai dari bronchitis, pneumonia, resiko serangan jantung hingga kanker, dan beberapa riset akhir-akhir ini banyak menghubungkan kaporit terhadap terjadinya reaksi alergi kulit pada cukup banyak kasus alergi yang tak terdeteksi penyebabnya.

Proses desinfektan pada kolam-kolam renang umum termasuk salah satu yang cukup banyak disorot karena seringkali dilakukan secara berlebihan hingga tak jarang menimbulkan bau gasnya yang khas, yang lebih beresiko untuk paparan dalam tingkat berbahaya. Dalam hal penggunaan air mandi atau minum yang mengandung desinfektan ini sendiri, masih banyak ahli yang mempertanyakan keefektifannya dengan resiko paparan jangka panjang, dari banyak argumentasi tersendiri bahwa dalam kadar rendah klorin akan secara murni bermanfaat hanya sebagai desinfektan tanpa resiko serius, sementara sebagian ahli juga mengemukakan pendapat mereka bahwa efek paparan kaporit akan cepat dihilangkan lewat penggunaan sabun dan air sendiri.

“Di banyak negara, chlor (kaporit) sudah mulai ditinggalkan dan diganti teknologi lain yang lebih aman misalnya ultraviolet,” ungkap pakar teknik lingkungan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Dr Ir Setyo Sarwanto Mursidik.

Menurut Ir Setyo, kaporit dalam air PAM sebetulnya tidak banyak. Untuk menjaga kualitas bakteriologis di jaringan terjauh, kaporit hanya dibutuhkan sebanyak 0,2 ppm.

Namun karena buruknya jaringan PAM terutama di kota besar seperti Jakarta, kaporit yang digunakan bisa lebih banyak agar bisa menjangkau pelanggan yang jaraknya cukup jauh. Akibatnya, kadarnya bisa lebih tinggi dari yang seharusnya yakni 0,2 ppm.

“Di kolam renang saja kita bisa merasakan sendiri, kaporit yang terlalu tinggi bisa menyebabkan iritasi kulit apalagi jika diminum, masuk saluran pencernaan. Chlor atau chlorin bersifat karsinogenik sehingga bisa menyebabkan kanker,” ungkap Ir Setyo.

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh ilmuwan dari Belgia serta dipublikasikan dalam jurnal Pediatrics, menunjukkan klorin yang terdapat di dalam kolam renang bisa meningkatkan risiko asma, alergi rhinitis dan demam pada orang yang rentan terhadap alergi.

Para ilmuwan meneliti 847 siswa berusia 13-18 tahun, siswa ini dibagi menjadi dua kelompok dengan masing-masing kelompok berenang di kolam renang berklorin serta kolam renang yang tidak menggunakan klorin.

Ditemukan anak-anak yang sensitif terhadap alergen lebih memungkinkan terkena asma dan alergi lain jika berenang di kolam yang mengandung klorin. Serta berenang lebih dari 1.000 jam memiliki kemungkinan 14,9 persen lebih tinggi terkena asma dan 3,5 kali lebih besar memiliki alergi rhinitis. Padahal selama bertahun-tahun, kolam renang telah dianjurkan bagi orang yang memiliki asma karena udara yang lembab kurang memungkinkan timbulnya serangan asma.

“Anak-anak yang lebih rentan terhadap alergi bisa memicu timbulnya asma, tapi masih belum jelas apakah hal ini terkait langsung dengan paparan klorin atau tidak,” ujar Profesor Guy Marks dari Woolcock Medical Institute, seperti dikutip dari ABCNet.

Marks menuturkan saat ini masih terlalu dini untuk mengambil kesimpulan seperti itu. Tapi anak-anak sebaiknya memilih kolam renang terbuka dan bukan yang berada di dalam ruang (indoor), sehingga mengurangi kemungkinan terkena serangan asma.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu