dalam kategori | Penyakit

Kanker Usus Besar akibat gaya hidup tidak sehat

Kanker Usus Besar akibat gaya hidup tidak sehat

Banyak anak muda di Indonesia ‘diancam’ dengan kasus kanker usus besar. Ini terkait dengan gaya hidup, terutama dalam mengkonsumsi makanan yang tidak sehat dan tidak kaya serat.

Hal ini disampaikan pakar Onkologi senior di Universitas Indonesia dan Yayasan Kanker Indonesia , DR Dr Aru W Sudoyo SpPD KHOM. Kasus kanker usus besar di Indonesia, kata Aru, lebih dari 30 persen penderitanya berusia di bawah 40 tahun. Sedangkan di Amerika, yang terkena kanker usus besar di bawah usia 40 tahun hanya 3 persen, sebagian besar di atas usia 50 tahun.

“Ini sangat memprihatinkan dan kanker usus besar ini bisa dicegah dan diobati karena pemicu utamanya berkaitan dengan makanan. Untuk bisa menjadi kanker usus besar ini butuh waktu 15 hingga 20 tahun,” ujarnya.

Dari segi keganasan (Karsinoma Kolorektal), Aru mengutip data tahun 2008, bahwa kanker usus besar menempati urutan ketiga setelah kanker paru dan kanker prostat pada pria serta kanker mulut rahim dan kanker payudara pada wanita. Tercatat 608 ribu kematian disebabkan kanker usus besar di seluruh dunia, yang mencapai 8 persen atau setara dengan tingkat kematian keempat terbesar akibat kanker.

Kata Aru, hampir 60 persen dari kasus ini terjadi di negara-negara berkembang. Di Asia, China menempati urutan pertama, kemudian India dan ketiga Indonesia. “Di Singapura sendiri, kasus kanker usus besar menempati posisi pertama meski pemerintahnya berhasil dengan program dilarang merokok. Namun gaya hidup dan pola makan tidak terkontrol, malah memicu kanker usus besar. Indonesia agaknya sudah mengarah ke sana, mengingat penderita kanker usus besar semakin banyak diderita oleh mereka dengan usia di bawah 40 tahun,” ungkapnya.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kanker kolorektal merupakan kasus terbanyak ketiga yang menimbulkan kematian melebihi angka kematian akibat kanker payudara.

Padahal, 50 persen angka kematian kanker kolorektal dapat dicegah. Di Indonesia, 30 persen dari jumlah kanker usus terjadi dalam usia produktif. Sebagian besar (60 persen) dialami oleh pasien pria.

Kanker colorectal berasal dari jaringan kolon (bagian terpanjang di usus besar) atau jaringan rektum (beberapa inci terakhir di usus besar sebelum anus). Sebagian besar kanker colorectal adalah adenocarcinoma (kanker yang dimulai di sel-sel yang membuat serta melepaskan lendir dan cairan lainnya).

Tidak ada yang tahu penyebab sebenarnya dari kanker colorectal ini. Namun, orang dengan kebiasaan-kebiasaan tertentu lebih besar kemungkinannya terkena kanker colorectal. Aru menjelaskan memang ada beberapa hal yang diduga kuat berpotensi menimbulkan kanker usus besar. Yakni, cara diet yang salah (terlalu banyak konsumsi makanan tinggi lemak dan protein, serta rendah serat), obesitas (kegemukan), pernah memiliki polip di usus, jarang melakukan aktivitas fisik, sering terpapar bahan pengawet makanan maupun pewarna yang bukan untuk makanan dan merokok.

“Kurangi konsumsi daging merah yakni daging dari binatang berkaki empat, untuk konsumsi steak jangan sampai daging diproses dengan cara matang sekali (well done) tapi medium saja. Dan kurangi konsumsi makanan cepat saji dimana kita tidak pernah tahu minyak untuk menggoreng sudah berapa kali dipakai. Ingat minyak goreng hanya bisa dipakai 2 kali saja. Lebih dari itu sudah bersifat karsinogenik,” paparnya.

Penelitian menemukan faktor-faktor risiko berikut ini untuk kanker colorectal:

  • Polip di usus (Colorectal polyps): Polip adalah pertumbuhan pada dinding dalam kolon atau rektum, dan sering terjadi pada orang berusia 50 tahun ke atas. Sebagian besar polip bersifat jinak (bukan kanker), tapi beberapa polip (adenoma) dapat menjadi kanker.
  • Colitis Ulcerativa atau penyakit Crohn: Orang dengan kondisi yang menyebabkan peradangan pada kolon (misalnya colitis ulcerativa atau penyakit Crohn) selama bertahun-tahun memiliki risiko yang lebih besar
  • Riwayat kanker pribadi: Orang yang sudah pernah terkena kanker colorectal dapat terkena kanker colorectal untuk kedua kalinya. Selain itu, wanita dengan riwayat kanker di indung telur, uterus (endometrium) atau payudara mempunyai tingkat risiko yang lebih tinggi untuk terkena kanker colorectal.
  • Riwayat kanker colorectal pada keluarga: Jika Anda mempunyai riwayat kanker colorectal pada keluarga, maka kemungkinan Anda terkena penyakit ini lebih besar, khususnya jika saudara Anda terkena kanker pada usia muda.
  • Faktor gaya hidup: Orang yang merokok, atau menjalani pola makan yang tinggi lemak dan sedikit buah-buahan dan sayuran memiliki tingkat risiko yang lebih besar terkena kanker colorectal.
  • Usia di atas 50: Kanker colorectal lebih biasa terjadi pada usia manusia yang semakin tua. Lebih dari 90 persen orang yang menderita penyakit ini didiagnosis setelah usia 50 tahun ke atas.

Gejala umum dari kankerĀ usus besar adalah perubahan pada kebiasaan buang air besar. Gejalanya antara lain:

  • Perubahan kebiasaan buang air besar (diare atau sembelit/konstipasi)
  • Usus besar Anda terasa tidak kosong seluruhnya
  • Ada darah (baik merah terang atau kehitaman) di kotoran Anda
  • Kotoran Anda lebih sempit dari biasanya
  • Sering kembung atau keram perut, atau merasa kekenyangan atau begah
  • Kehilangan berat badan tanpa alasan
  • Selalu merasa sangat letih
  • Mual atau muntah-muntah

Umumnya, gejala-gejala ini bukan akibat kanker. Masalah kesehatan lainnya juga bisa menyebabkan gejala seperti ini. Tapi, Anda juga perlu tahu bahwa kanker pada stadium dini biasanya tidak terasa sakit. Oleh karena itu, orang yang mengalami gejala ini harus ke dokter untuk didiagnosis dan dirawat sedini mungkin.

Deteksi Dini

Penderita kanker usus dapat disembuhkan bila keganasan itu terdeteksi sejak dini. Pemeriksaan konvensional, seperti colok dubur dan tes darah samar, dapat mendeteksi kanker itu tetapi pada stadium lanjut. Kini diperkenalkan teknik pemeriksaan yang dapat mendeteksi kanker ini secara dini.

Kanker usus besar (karsinoma kolorektal) merupakan keganasan yang terjadi di usus besar hingga dubur. Waktu pertumbuhan kanker ini perlahan, 15-20 tahun.

“Bila terdeteksi sejak dini, kemungkinan pasien sembuh sangat besar,” ungkap Dr. Aru.

Menurut dia, sebanyak 95 persen kasus kanker usus besar dapat diatasi jika ditemukan dini lewat tes dan pemeriksaan rinci. Sayangnya, hal ini belum terjadi di Indonesia. Mayoritas pasien terdiagnosis kanker usus besar datang berobat ketika sudah stadium lanjut. Lebih dari 50 persen penderita kanker tidak sadar dan terlambat mengetahui penyakit itu.

Menurut Ibrahim Basir, ahli bedah abdomen dari FKUI, ada gejala awal yang dapat digunakan untuk mendeteksi awal kanker usus, antara lain penurunan berat badan diiringi perubahan kebiasaan buang air besar dan atau buang air besar berdarah.

Gejala lain berupa diare atau sembelit tanpa sebab jelas lebih dari enam minggu, merasa sakit di bagian belakang perut, rasa kembung, atau perut masih terasa penuh meski sudah buang air besar.

“Kebanyakan orang yang merasakan gejala-gejala itu enggan memeriksakan diri ke dokter. Mereka juga tak mau pemeriksaan colok dubur yang dirasa memalukan,” katanya. Padahal, cara ini paling sederhana untuk mendiagnosis kanker usus besar.

Hal senada dikemukakan oleh dokter ahli kanker Noorwati dari Rumah Sakit Kanker Dharmais. Noorwati menekankan, kanker kolorektal perlu dideteksi secara dini. Bila telah stadium lanjut, penanganannya sulit. “Bila diameter benjolan atau polip dalam usus besar sudah mencapai 1 cm, di dalamnya terdapat miliaran sel kanker,” katanya.

Polip biasanya tidak terdeteksi dalam waktu lama. Dalam kondisi tertentu, sel bisa berubah ganas, menjadi kanker dan menyebar ke bagian tubuh lain.

Stadium kanker usus besar

Dokter membagi kankerĀ usus besar berdasarkan stadium berikut:

  1. Stadium 0: Kanker ditemukan hanya pada lapisan terdalam di kolon atau rektum. Carcinoma in situ adalah nama lain untuk kanker colorectal Stadium 0.
  2. Stadium I: Tumor telah tumbuh ke dinding dalam kolon atau rektum. Tumor belum tumbuh menembus dinding.
  3. Stadium II: Tumor telah berkembang lebih dalam atau menembus dinding kolon atau rektum. Kanker ini mungkin telah menyerang jaringan di sekitarnya, tapi sel-sel kanker belum menyebar ke kelenjar getah bening.
  4. Stadium III: Kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di sekitarnya, tapi belum menyebar ke bagian tubuh yang lain.
  5. Stadium IV: Kanker telah menyebar ke bagian tubuh yang lain, misalnya hati atau paru-paru.
  6. Kambuh: Kanker ini merupakan kanker yang sudah diobati tapi kambuh kembali setelah periode tertentu, karena kanker itu tidak terdeteksi. Penyakit ini dapat kambuh kembali dalam kolon atau rektum, atau di bagian tubuh yang lain.

Tingkat harapan hidup bagi penderita kanker usus besar, pada stadium I sekitar 85 sampai 95 persen, stadium II 60 hingga 80 persen. Stadium I dan II ini masih bisa disembuhkan. Untuk stadium III tinggal 30 sampai 60 persen dan stadium IV kurang dari 5 persen.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu