dalam kategori | Penyakit

Kanker Payudara, Salah Satu Titik Balik Pandangan Hidupku….

Kanker Payudara, Salah Satu Titik Balik Pandangan Hidupku….

Mmmm, ini kisah pendek dari sebuah masa di hidupku. Kisah yang membuatku belajar sesuatu. Yach, darimana pula kita dapat belajar dengan sempurna jikalau bukan dari kehidupan. Tapi kisah yang ini agak sedikit menyakitkan. Tidak, bukan sedikit. Tapi sangat. Membuatku lama kehilangan pijakan…

Alkisah datanglah seseorang menghadapku. Itu bukan kedatangannya yang pertama kali. Telah sekian lama kami berinteraksi. Karena buntutnya yang lucu-lucu dan ada lima orang itu, selalu saja berganti-ganti membutuhkan sedikit sentuhan dariku. Yang sakit gigilah, yang demam, yang diare. Akh… pokoknya sekali seminggu dia selalu saja datang.

Pertama-tama kami kenal, seseorang ini selalu tak lupa menyelipkan uang ke tanganku setiap kali berobat, yang aku terima dengan ucapan Alhamdullillah dalam hati. Tapi lama kelamaan, setelah bercerita sana sini dan tahu betapa kerasnya kehidupan orang ini, aku tak pernah lagi mau menerima uang darinya. Sebagai ganti karena aku tak mau menerima pembayaran setiap dia dan keluarganya berobat, aku sekeluarga kerap dibawa hunting marquisa di ladang marquisanya yang baru saja belajar berbuah.

Di rumahnya yang lebih pantas disebut gubuk itu penuh berlimpah ruah dengan cinta. Sang ibu dengan wajah lugu dan baju yang lusuh, selalu saja terlihat sabar mengasuh bocah-bocahnya. Sembari menggendong si bungsu yang baru berusia delapan bulan, ibu itu tak kelihatan penat menanak nasi, merebus daun ubi, dan menggiling sambal untuk sekedar menyambut kedatangan kami. Tak sekali dua kali kami berkunjung ke gubuk itu. Tapi tak sekalipun pernah aku menampak si ibu berkata kasar atau keras pada anak-anaknya. Hmmm… sungguh tauladan buat aku pribadi.

Singkat kisah, suatu hari sepasang suami istri ini datang mengadu kepadaku. Sang istri bilang merasakan ngilu di sekitar payudaranya, dan teraba ada benjolan kecil. Sebagai tenaga kesehatan saya langsung menyarankan untuk segera memeriksakan diri ke RS terdekat. Mudah-mudahan tidak ada apa-apa,… begitu bisikku.

Kenyataan berkata lain. Ibu tersebut di diagnosis menderita kanker payudara. Betapa hancur perasaanya, perasaan suaminya. Aku berusaha membesarkan hati mereka. Memberikan jalan dengan mengurus kartu miskin. Memberi solusi dengan menguatkan, bahwa kanker bisa disembuhkan. Saran dokter untuk segera dilakukan tindakan bedah supaya cepat dilaksanakan. Mencegah agar sel kankernya tidak meyebar.

Baik suami maupun ibu itu sendiri amat sangat gamang dengan tindakan operasi. Mereka takut bukan main. Dengan sabar aku mencoba menjelaskan,….

“ Ibu, kasihan anak-anaknya, kalau ibu tidak segera operasi nanti kankernya menyebar, kalau ibu sakit parah, siapa yang akan menjaga dan merawat anak-anak ibu?”

“ Bu… yang dibedah itu gak semua bagian tubuh ibu, hanya disayat kecil, kemudian tumornya dikeluarkan, Ibu gak usah takut, gak kan apa-apa Bu…”

“ Nanti Ibu akan dibius. Rasanya seperti tidur saja. Tidak akan terasa sakitnya…”

Demikianlah diantara beberapa kalimat yang aku ucapkan saat itu. Suami istri tersebut sama terdiam mendengar kata-kataku. Beberapa hari kemudian mereka sepakat untuk melakukan operasi ini.

Operasi pengangkatan tumor berjalan lancar. Dengan wajah sumringah seminggu kemudian Sang Bapak datang menemuiku. Mengucapkan beribu terima kasih atas saran dan masukan yang telah kuberikan. Alhamdullillah istrinya sekarang sudah terbebas dari kanker. Syyyeerrrrrr….. serasa ada angin sejuk mengalir di hatiku. Bahagianya merasa telah melakukan sesuatu buat orang lain, walaupun hanya berbentuk saran.

Tapi apa yang kemudian terjadi… Besok harinya aku malah mendapat kabar bahwa sang ibu meninggal dunia!!! Aku seperti mendengar letupan bom atom di kepalaku. Berdenyut-denyut dan terasa sakit sekali. Bukan hanya di kepala. Tapi lebih di hati. Kata tetangga yang menyampaikan kabar itu, semalam mendadak kondisi ibu itu menurun drastis, hingga akhirnya meninggal dunia. Innallillahi wainna ilaihi rojiun…

Tubuhku serasa lemas tak bertulang. Entah kemana berderainya tulang-tulangku itu. Aku terkapar antara tak percaya dan perasaan bersalah. Dia memang maha segalanya. Memang juga batas usia sang ibu adalah sampai pada hari itu. Tapi… mungkinkah jika aku tidak menyarankan Sang Ibu untuk segera operasi, masih ada tersisa waktu buatnya merengkuh kelima buah hatinya lebih lama? Mungkinkah jika aku tidak memberinya jalan untuk memeriksakan kondisinya ke RS ada hari yang semakin panjang buat mereka sekeluaga meluangkan cinta di gubuk mereka yang sederhana? Oh God,… help me please… Aku terluka. Sangat…

Apalagi dengan rentetan peristiwa setelah itu. Ladang marquisa yang sama mereka rintis dan baru akan menghasilkan, diserobot oleh keluarga sang istri, suaminya diusir, dan anak-anaknya tidak diperbolehkan bertemu dengan bapaknya. Alasannya sederhana, sang suami dianggap membawa sial buat keluarganya. Ya Allah, apa yang telah aku perbuat….

Entahlah… lama aku gamang dengan apa yang selama ini kuyakini. Ini sakitnya, ini tindakannya. Ini keluhannya, begini penanganannya… Haruskah aku tak percaya dengan tindakan medis yang menjadi background pendidikanku….?? Lama aku terdiam dalam kebimbangan, terpuruk dalam penyesalan, terombang-ambing dalam kegalauan. Sampai akhirnya aku pada sebuah pendirian….

Sejak saat itu, setiap ada pasien, teman, atau keluarga yang bertanya atau meminta pendapatku tentang sesuatu. Baik itu masalah kesehatan, pengobatan, penyakit, dll. Apalagi untuk sebuah hal yang akan berdampak besar bagi kehidupannya. Aku selalu memberi pendapat, jika begini… ini positifnya, ini dampak buruknya…, kalau begitu… begitu baiknya… ada pula resikonya…. Pertimbangkanlah masak-masak. Minta pandangan orang lain juga, baca buku tentangnya. Jika sudah, silahkan membuat keputusan sendiri…..

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu