dalam kategori | Layanan Kesehatan

Kami tidak lagi sakit malaria

Kami tidak lagi sakit malaria

“Dua puluh tahun lalu, penduduk desa di sini menderita karena malaria. Sebagian besar tetangga saya mengalami demam dan sakit kepala, mereka muntah-muntah, bahkan ada yang pingsan. Ketika mereka pergi ke Puskesmas, mereka dibilang sakit malaria. Saya juga mengalami hal yang sama. Saya sudah berkali-kali sakit malaria. Namun sekarang sudah berubah. Saya sudah tidak lagi sakit. Saya juga sudah jarang dengar ada tetangga yang sakit malaria.” Ibu Syamani, 50 tahun, seorang nenek dari 5 cucu dan 8 anak, menceritakan situasi malaria di desanya.

Sementara Ibu Syamani berbicara, petugas relawan, Ibu Hamun, 27 tahun, mengambil darah dari jarinya untuk dites malaria. Sejak tahun 2010, dengan dukungan UNICEF, pemerintah daerah Sabang melaksanakan tes darah 2 kali setahun, di musim kemarau dan dan hujan, di desa-desa yang diidentifikasi sebagai daerah berisiko malaria. Termasuk desa kecil Ateuh, bagian dari Desa Batee Shok.

“Waktu itu saya diberitahu oleh kepala desa dan Ibu Hanum, bahwa semua penduduk desa harus diperiksa darahnya untuk malaria. Tes darah ini untuk mencari parasit malaria di darah saya. Jika petugas kesehatan menemukan parasit malaria, mereka akan memberi obat. Saya senang, saat tes darah terakhir, darah saya negatif malaria. Namun saya dengar dari beberapa tetangga, masih ada yang positif malaria”, tambah ibu Syamani.

Daftar penduduk sudah di tangan Ibu Hanum, petugas relawan malaria, yang kemudian mengunjungi penduduk satu persatu sesuai jadwal untuk memastikan tidak ada yang terlewat. Saat berkunjung, pengambilan darah dilakukan. Kemudian sampel darah tersebut dikirim ke Puskesmas untuk dicek apakah sudah akurat. Setelah itu sampel darah dibawa ke Kantor Dinas Kesehatan Sabang, untuk diperiksa dan dianalisa. Sampel darah kering dibawa ke Kantor Laboratorium Kesehatan Aceh, untuk identifikasi molekul. Hasil tes darah di Kantor Dinas Kesehatan Sabang, segera disampaikan ke Puskesmas dan petugas sukarelawan, untuk kemudian disampaikan ke penduduk. Jika ada yang positif sakit malaria, maka petugas relawan akan berkolaborasi dengan Puskesmas untuk memberikan obat anti malaria.

“Saya tahu bahwa segala kegiatan yang sudah dilakukan pemerintah selama ini merupakan upaya untuk mencapai penghapusan malaria di tahun 2013. Pesan ini berulang kali disampaikan ke semua penduduk dan saya setuju bahwa partisipasi masyarakat sangat penting. Semua anggota keluarga saya aktif melakukan tes darah dan juga mengijinkan rumah kami disemprot. Kami juga tidur dalam kelambu berinsektisida. Kami tidak lagi sakit malaria dan kami berharap pemerintah juga memberikan perhatian yang sama untuk penyakit lainnya,” kata Ibu Syamani.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu