dalam kategori | Penyakit

Jangan remehkan infeksi gendang telinga

Jangan remehkan infeksi gendang telinga

Infeksi gendang telinga atau yang biasa disebut congek, bila dibiarkan, ternyata dapat mengakibatkan kematian. Sekitar 60 persen penderita congek di Indonesia hanya bisa ditolong dengan operasi. JANGAN remehkan penyakit congek. Penyakit telinga berair (otitis media supuratif kronis) ini ternyata bukan hanya sekadar mengganggu pendengaran. Congek yang kronis bisa pula mengundang maut.

Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, selama sepuluh tahun terakhir ini tercatat 3-7 orang meninggal setiap tahun gara-gara congek. Kematian itu bisa terjadi karena kuman yang menggerogoti telinga merambah ke bagian otak dan menimbulkan radang selaput otak.

Di Indonesia memang tidak ada data lengkap yang bisa mengungkap angka kematian yang disebabkan oleh penyakit congek. Namun, dengan jumlah penderitanya yang cukup besar, mungkin saja kasus kematian yang terjadi lebih besar daripada yang tercatat di satu-dua rumah sakit besar.

Survei kesehatan di Indonesia yang meliputi tujuh provinsi pada 1994-1996 menunjukkan bahwa angka penderita penyakit ini 3,8 persen dari total populasi. Jadi, penderita congek—umumnya berusia 10-30 tahun—di Indonesia sekitar 8 juta orang. Dari 8 juta itu, sekitar 60 persen diperkirakan menderita infeksi gendang telinga yang sudah parah sehingga hanya bisa ditolong dengan operasi. Hal itu menjadi problem tersendiri, baik bagi penderita maupun bagi para dokter.

Tak banyak ahli yang menanganinya. Di negara dengan 13 ribu pulau yang berpenduduk lebih dari 200 juta ini hanya ada 500 orang dokter ahli telinga-hidung-tenggorokan (THT). Itu pun 130 orang di antaranya menumpuk di Jakarta. Karena itu, relevan bila Bagian THT Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan RSCM menyelenggarakan simposium bertema “Timpanoplasti dan Kursus Disleksi Tulang Tempora” di Hotel Santika, Jakarta, akhir September lalu.

Simposium ini disertai peragaan cara operasi terbaru timpanoplasti. Melalui simposium ini diharapkan para dokter ahli THT lebih baik dalam memberikan terapi dan lebih tepat dalam memutuskan apakah congek hanya perlu diobati atau harus dioperasi. Penyakit telinga ini biasanya mulai terjadi pada anak-anak.

Penyebabnya bisa berbagai macam. Pada anak-anak yang menetek susu ibu sambil berbaring, sementara ibunya pun berbaring, kupingnya sering terserang infeksi. Soalnya, bisa saja tanpa disadari air susu ibu mengalir ke lubang telinga si bayi. Genangan susu itu akhirnya mengundang hadirnya kuman dan menyebabkan gendang telinga terserang infeksi.

Kaum dewasa pun bisa terserang congek bila tak awas dalam memperlakukan indra pendengaran mereka, misalnya mengorek-ngorek telinga terlalu dalam hingga gendang kuping pecah. Namun, anak-anak memang lebih mudah menderita congek. Penyebabnya, hubungan hidung, telinga, dan tenggorokan yang biasa disebut tuba eustachii pada anak-anak berbeda dengan orang dewasa.

Saluran tuba eustachii pada anak-anak dan bayi lebih pendek dan lebar, sementara posisinya mendatar antara tenggorokan dan kuping. Akibatnya, kuman setiap saat bisa masuk ke kuping, terutama bila mereka sedang terserang batuk ataupun pilek atau ketika berenang. Bentuk infeksi telinga pada anak-anak biasanya akut. Gejalanya berupa badan kejang-kejang atau panas-dingin.

Bila gejala itu ditangani dengan tuntas, anak akan sembuh sempurna. Ini berbeda dengan congek kronis yang tak disertai gejala panas atau demam. Pada yang kronis, telinga hanya mengeluarkan air atau nanah, yang berhenti bila diberi obat. Namun, bila penderita mandi atau masuk ke air, penyakitnya kumat lagi. Bila telinga yang terserang congek kronis tidak juga menjadi jos setelah pengobatan dua bulan, dengan ditandai luka di gendang telinga yang tidak mampat, “Operasi sebaiknya dilakukan,” kata Dokter Helmi, salah satu pembicara simposium.

Congek yang sudah kronis itu biasanya ditandai dengan bisul di belakang daun telinga atau di liangnya, atau nanah yang keluar dari lubang telinga. “Bila tanda-tanda stadium lanjut itu terlihat, dokter-dokter di daerah sebaiknya cepat merujuk pasiennya ke rumah sakit yang memiliki dokter spesialis THT,” kata Dokter Zainul A. Djafaar, ahli THT dari RSCM, yang menjadi ketua panitia simposium itu.

Ada dua jenis operasi untuk penyakit telinga ini. Bila tujuan operasi hanya untuk menyembuhkan penyakit dan mencegah komplikasi, operasi mastoidtomi radikal bisa dilakukan. Operasi ini tidak membangun kembali gendang telinga secara lengkap karena memang tak bertujuan memperbaiki pendengaran. Sebagian besar operasi dengan cara ini biasanya tidak tuntas.

Soalnya, setelah operasi, cairan dari dalam telinga masih mungkin meleleh lagi. Bila penyakit mencapai stadium kronis jenis jinak, menurut Helmi, kombinasi operasi mastoidtomi simpel dan timpanoplasti bisa dipakai. Operasi ini berupa pembersihan infeksi dan rekonstruksi kerusakannya. Target operasi ini untuk memperoleh gendang telinga secara utuh dengan sistem penghantaran suara yang baik.

Dalam operasi, ada rambu-rambu yang mesti diperhatikan. Anak berusia di bawah 9 tahun sebaiknya tidak dioperasi, kecuali bila infeksi itu sudah sedemikian parah. Operasi pada usia dini itu sangat berisiko gagal karena infeksi jalan napas atas (hidung), juga pilek dan batuk, sering mengganggu jalan operasi.

Operasi ini pun diasumsikan untuk penderita yang tidak mengidap penyakit lain, misalnya tumor dan kencing manis. Selain itu, operasi ini tidak bisa dikerjakan oleh dokter umum karena membutuhkan suatu peralatan yang rumit, seperti mikroskop, alat-alat bedah yang serba mungil, dan tentu keahlian seorang dokter spesialis.

  • Congek yang istilah kedokterannya adalah OMSK atau Otitis Media Supuratif Kronik adalah infeksi kronik telinga tengah dengan gendang telinga yang berlubang dan sering mengeluarkan cairan / nanah.
  • Menurut WHO, congek merupakan masalah kesehatan masyarakat utama dunia terutama negara berkembang. Diperkirakan prevalensi congek di Indonesia adalah 3,1 % atau sekitar 6,5 juta penduduk menderita congek (Data survai 7 propinsi di Indonesia 1994-1996).
  • Congek terjadi sebagai komplikasi infeksi saluran pernafasan atas (ISPA), karena pengobatan yang terlambat dan tidak adekuat atau virulensi kuman tinggi atau dan sering disertai daya tahan rendah. Karenanya sering terjadi pada anak-anak, keadaan penduduk padat, higiene dan sanitasi kurang baik, gizi buruk dan fungsi saluran telinga (tuba Eustakius) yang tidak baik.
  • Risiko congek lebih tinggi pada penduduk miskin dan negara berkembang.
  • Bila terjadi congek pada anak umur 2-3 tahun, dimana anak sedang belajar bicara, maka akan terjadi gangguan belajar bicara dan anak menjadi tuna rungu (tuli dan bisu). Meskipun IQ anak tinggi tetapi karena tidak dapat berkomunikasi anak menjadi bodoh karena tidak dapat belajar di sekolah-sekolah biasa.
  • Komplikasi congek dapat menyebabkan mulut mencong, radang otak dengan akibat kecacatan dan mati. Komplikasi congek ini 1:1000 meningkat pada negara berkembang menjadi 60:1000 atau 390.000 penduduk Indonesia akan mengalami komplikasi akibat congek.
  • Kematian akibat congek adalah 1:100.000 meningkat pada negara berkembang menjadi 1000:100.000 atau 650.000 kematian di Indonesia akibat komplikasi congek

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu