dalam kategori | Penyakit

Ie Chian Chun; Sukses Melawan Berbagai Penyakit Berbahaya

Ie Chian Chun; Sukses Melawan Berbagai Penyakit Berbahaya

Pada usia yang sudah 67 tahun, Ie Chian Chun masih tampak sehat dan bugar. Walau terlihat beberapa kerut di wajahnya, semua itu tertutupi senyum ramah yang selalu tersungging di bibirnya.

Sepintas, orang tak akan tahu bahwa pria kelahiran Madiun tersebut sudah sepuluh tahun menderita penyakit yang hampir mengancam nyawanya.

“Saya sudah merasakan semua penyakit yang berkaitan dengan lever. Saya juga sempat semaput gara-gara penyakit itu,” katanya kepada JawaPos yang menemui dia di Atlas Sports Club, Jalan Dharmahusada Indah, Rabu (22/8) malam.

Saat ini, pria yang sudah menjadi warga negara Hongkong itu sedang berlibur ke Surabaya untuk mengunjungi saudara-saudaranya.

Ie bercerita, pada 1990, ketika buang air besar, selalu terjadi perdarahan. Anehnya, dia sama sekali tak merasa sakit. Khawatir terjadi apa-apa, pria yang sejak 1972 mencari nafkah dengan berdagang di Hongkong itu memeriksakan diri ke rumah sakit (RS). Hasilnya, dia dinyatakan menderita kanker usus dan harus dioperasi. “Ketika hendak operasi, ternyata dokternya berlibur ke Swiss. Saya diminta menunggu di Hongkong saja,” ungkapnya.

Khawatir kondisinya semakin parah, seorang teman menyarankan untuk berobat ke Beijing. Kebetulan, teman Ie tersebut kenal dengan beberapa dokter di Beijing. “Saya akhirnya berangkat ke Beijing dan operasi di Chung Liu Hospital,” jelasnya.

Setelah kondisinya membaik, Ie kembali ke Hongkong. Di Beijing, usus Ie harus dipotong sepanjang 24 sentimeter.

Tiga tahun kemudian (1993), ayah dua anak tersebut kembali merasa ada yang tak enak pada tubuhnya. Dia mengaku sering capai. Lalu, dia berobat ke Queen Mary Hospital, Hongkong. “Dokter mendiagnosis saya kena hepatitis C,” ujarnya.

Setelah ditelusuri, ternyata virus hepatitis C tersebut masuk ke tubuh Ie lewat transfusi darah sewaktu operasi kanker usus di Beijing. “Dokter meminta saya berobat rutin agar virus itu bisa mati,” jelasnya.

Namun, virus hepatitis C itu telanjur menyerang tubuh Ie. Kaki dan perutnya membengkak. Kulitnya pun tak lagi elastis. Ketika ditekan, seperti ada cairan di dalamnya. Saking banyaknya cairan di tubuh, organ diafragmanya robek, sehingga cairan naik ke tubuh bagian atas dan tak bisa dikontrol lagi.

Perutnya bengkak dan payudaranya membesar seperti orang hamil. Ginjal pun ikut rusak. Namun, kerusakannya tidak begitu parah, sehingga tak sampai menjalani cuci darah. “Suster-suster di sana sampai bilang (berkelakar, Red) saya mau punya anak karena perut yang membengkak luar biasa,” ungkapnya.

Bukan hanya itu. Paru-parunya juga turut rusak karena “tenggelam” (selaput paru-paru penuh cairan). Itu diketahui setelah Ie mengeluh sulit bernapas. Setelah diperiksa, ternyata paru-paru sebelah kiri sudah tak berfungsi. “Kalau tidur, saya sering hadap kiri, sehingga banyak cairan yang mengumpul di paru-paru kiri. Itulah yang membuat paru kiri jadi rusak,” tegasnya.

Praktis, dia hanya bernapas dengan satu paru-paru saja, yaitu paru-paru kanan. Meski, kondisi paru-paru kanannya pun tidak bagus betul. Sebab, kondisinya agak mengerut. Saat itu, untuk membantu pernapasan, pria yang mengaku sangat menyukai pemandangan Telaga Sarangan tersebut menggunakan selang oksigen.

Untuk mengeluarkan cairan yang memenuhi tubuhnya, Ie rajin terapi. Hal itu membuat dirinya harus bolak-balik opname. “Cairan keluar tubuh dari tiga cara,” jelasnya.

Yakni, melalui air seni, membuat semacam kolostomi (lubang di perut yang tersambung dengan selang), serta dari punggung. “Saya tak tahu caranya kalau dari punggung. Tidak begitu terlihat,” katanya.

Setiap opname rata-rata memakan waktu sepuluh hari. Dalam jangka waktu tersebut, tiga kali dilakukan penyedotan cairan. Dia lalu memisalkan, jika hari ini sedot cairan, jeda 2-3 hari kemudian, dirinya harus menjalani penyedotan cairan lagi. Begitu seterusnya hingga tiga kali dilakukan penyedotan cairan tiap opname. “Tiap disedot, cairan yang dikeluarkan 5-6 liter. Jika tiga kali, ya 15-18 liter,” ujarnya.

Meski rutin terapi, cairan di tubuh Ie seakan tak ada habisnya. Setelah disedot, tubuhnya mengempes, tapi kemudian bengkak lagi. Terapi tersebut dilakukan rutin selama tujuh tahun (1993-2000). Selama itu pula dirinya tidak mengeluh sama sekali. Saking seringnya opname, semua petugas RS mengenal dia. Mulai dokter, perawat, hingga karyawan tata usaha. “Itu semua saya lakukan dengan keikhlasan dan kepasrahan. Walau begitu, saya yakin suatu saat nanti diberi kesembuhan,” tegasnya.

Saat-saat itu merupakan saat yang berat bagi Ie. Bukan hanya rasa sakit luar biasa, tapi juga penyakitnya yang tak kunjung sembuh. “Saya tahu, saya sakit parah. Saya harus berusaha melawan penyakit itu agar sembuh. Makanya, rasa sakit tak saya rasakan. Semua terapi dokter pun saya jalani,” katanya.

Dia menyatakan tak pernah down selama menjalani pengobatan. Sebab, Ie yakin suatu saat pasti sembuh. “Keyakinan itulah yang membuat saya jadi bertahan,” ungkapnya.

Kondisi sakit berat tak menyurutkan keinginan dia untuk pulang ke Indonesia. Pada 1998, dalam kondisi perut bengkak, dia pulang ke Surabaya untuk menjenguk saudara-saudaranya. Saat itu, saudara-saudaranya berinisiatif memberikan sarang burung walet untuk membantu penyembuhan. “Sarang burung walet kan kaya nutrisi. Makanya, saudara menganjurkan minum karena bisa meningkatkan daya tahan tubuh,” katanya.

Namun, kadar protein sarang burung walet yang tinggi justru mencelakakan Ie. Dalam perjalanan pulang ke Hongkong, dia merasa tubuhnya sakit semua. Walau begitu, dia mencoba bertahan hingga sampai Hongkong. “Setelah tiba, saya langsung dibawa ke RS. Di sana, saya sempat pingsan beberapa saat. Dokter bilang saya tak boleh mengonsumsi sarang burung walet lagi karena tubuh saya tak kuat,” ungkapnya.

Setelah sadar, suami Pan Mei Yung tersebut bertingkah seperti orang linglung. Dia bingung mencari sepatu yang ternyata sudah dipakai. “Setelah diobati, sembuh. Tapi, kadang-kadang linglung itu muncul lagi,” jelasnya.

Tahun berikutnya, 1999, dokter yang merawat Ie memanggil anggota keluarganya. Tanpa sepengetahuan Ie, dokter bercerita kepada istri dan anaknya bahwa kondisi dia sudah parah. Harapan satu-satunya untuk menyelamatkan nyawa Ie adalah menjalani transplantasi lever. Sebab, akibat virus hepatitis C, levernya mengerut.

“Istri saya tak banyak bercerita tentang kabar dari dokter tersebut. Dia hanya bilang harus transplantasi lever,” katanya.

Namun, transplantasi lever bukan sesuatu yang mudah. Sebab, di Hongkong, jual beli organ dilarang. “Makanya, harus menunggu sampai ada organ lever yang cocok dengan tubuh saya,” ungkap kakek satu cucu tersebut.

Setelah 11 bulan menanti, Ie seperti mendapat mukjizat. Secara tak sengaja, dia mendapatkan donor lever. Waktu itu, ada organ lever yang hendak didonorkan ke pasien berusia 41 tahun. Tapi, ketika itu, dokter kesulitan mengambil organ lever milik pasien tersebut karena lengket. Sementara organ lever dari donor sudah dilepas dan harus segera digunakan. Jika tidak, lever tersebut bisa mati.

“Daripada tak terpakai, akhirnya dokter menelepon saya. Maksudnya, mau mencangkokkan lever tersebut kepada saya. Kebetulan, spesifikasinya cocok,” ujarnya.

Kebetulan, saat itu, Ie memang sedang diopname di RS yang sama. Ie di RS tersebut waktu itu sebenarnya hanya untuk mencabut gigi yang tanggal. “Waktu cabut gigi, terjadi perdarahan. Makanya, saya minta opname sehari untuk penyembuhan. Pas saya opname itu, dokter menelepon bahwa ada lever yang cocok,” jelas pria yang rambutnya mulai beruban tersebut.

Begitu tahu posisi Ie di RS, dokter langsung masuk ruang perawatan dia dan minta segera bersiap untuk menjalani operasi. “Saya langsung digeledek ke kamar operasi tanpa ada persiapan atau sterilisasi sama sekali,” ujarnya.

Dokter yang menangani adalah Prof Fan Siong Tat, Prof Lu Chung Mau, Prof Liu Chi Liong, dan Prof Chan Se Chen. Operasi berlangsung dua kali. Operasi pertama 13 jam, diteruskan keesokannya selama 4,5 jam. “Dokter bekerja sangat baik. Mereka bekerja sangat hati-hati,” katanya.

Menurut informasi yang diberikan dokter, jelas pria yang lahir 22 Juni 1940 ini, seluruh lever dia diambil. Sebab, kondisinya sudah rusak. Bukan hanya itu, organ limpa juga diambil karena kondisinya rusak. Karena organ lever tak bisa bekerja maksimal, akhirnya bebannya lari ke limpa. “Makanya, dokter langsung mengambil sekalian daripada menimbulkan masalah di kemudian hari,” ungkapnya.

Setelah operasi, Ie mematuhi semua aturan dokter. Dia harus check-up empat minggu sekali untuk mengetahui kondisi Iever “baruya”. Dia juga tak boleh mengonsumsi sembarang makanan. Ie juga harus minum obat anti penolakan secara rutin. “Lever yang dicangkok itu benda asing. Agar tubuh tak menolak, harus rajin minum obat,” tegasnya.

Tapi, ada satu makanan yang tidak bisa dihindari sepenuhnya oleh Ie. Yakni, gorengan. “Dokter melarang makan gorengan karena bisa memperberat kerja lever. Tapi, sesekali saya makan, buat tombo pingin,” ujarnya.

Hingga tujuh tahun berlalu, kondisi Ie masih sehat. Dia sangat bersyukur atas anugerah yang dilimpahkan kepada dirinya. Kesabaran dan keyakinannya selama ini berbuah manis. Dia tak lagi menderita seperti sebelumnya.

Karena itu, dia tak segan berbagi kebahagiaan kepada pasien lain. Ketika ada pasien dengan keluhan lever yang berkondisi gawat, dia sering dipanggil dokter untuk membantu memompa semangat mereka. Dengan senang hati dia melakukannya. Sebab, dia juga pernah merasakan sakit yang dirasakan pasien-pasien itu. “Terkadang, ketika di RS dan ketemu pasien parah, langsung saya hibur. Saya juga membiarkan pasien-pasien itu curhat tentang keluhannya. Bila hatinya plong, pasti akan muncul semangat lagi,” tegasnya.

Bukan hanya itu kebaikan hati Ie. Dia telah mendaftar sebagai donor organ lengkap di RS Queen Mary, Hongkong. Jadi, jika sewaktu-waktu meninggal, organ tubuhnya yang masih baik bisa segera diambil untuk didonorkan kepada yang membutuhkan. “Jantung dan mata saya kan masih baik. Bisa diambil jika saya meninggal nanti,” katanya.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu