dalam kategori | Layanan Kesehatan

ICSI, alternatif untuk proses bayi tabung

ICSI, alternatif untuk proses bayi tabung

Ketidakmampuan suatu pasangan dalam memiliki keturunan bisa disebabkan oleh beberapa hal. Salah satu penyebab utamanya adalah ketidakmampuan sperma suami membuahi sel telur sang isteri, yang diakibatkan karena sperma yang diejakulasikan memiliki kualitas rendah atau bahkan sama sekali tidak ditemukan sperma. Penyebab lain adalah fungsi dan struktur mitokondria sel telur yang mengalami perubahan akibat dari proses penuaan, demikian pernyataan Dr. John Zhang dan koleganya yang ditulis pada jurnal Fertility and Infertility tahun 1999.

Tapi sekarang pasangan mandul tidak perlu putus asa lagi. Perkembangan teknologi yang akhir-akhir ini begitu pesat sangat memungkinkan bagi pasangan mandul untuk mempunyai keturunan. Dalam beberapa dekade terakhir ini telah dikembangkan teknologi untuk mengatasi ketidaksuburan pria. Teknologi ini dinamakan fertilisasi in vitro (IVF), atau lebih dikenal dengan nama bayi tabung. Namun teknologi ini ternyata masih mempunyai banyak kekurangan dan peluang keberhasilannya masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan teknologi IVF membutuhkan kuantitas sperma sampai ribuan dengan kualitas yang baik agar sel telur dapat terbuahi.

Untuk memberikan solusi ini, muncul teknologi yang lebih baru yang dikenal dengan nama Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI). Sebenarnya teknik ICSI merupakan pengembangan lebih lanjut dari teknologi IVF. Pada dasarnya mekanisme teknologi ICSI adalah suatu pembuahan buatan yang dilakukan di laboratorium dengan cara memasukkan secara mekanik sperma tunggal kedalam sebuah sel telur. Setelah sperma masuk kedalam sel telur (sel telur terbuahi), embrio ditumbuhkan beberapa saat sebelum ahirnya dimasukkan kedalam rahim sang isteri, dan 9 bulan 10 hari kemudian lahirlah bayi dari orangtua yang dianggap telah mandul tersebut.

Teknologi ICSI dikembangkan di Brussels, Belgium, tepatnya di The Dutch-Speaking Free University Hospital. Hasil yang didapat dari teknologi ini sangat menggembirakan. Pada bulan Juli 1992 para peneliti di lembaga tersebut melaporkan keberhasilan kehamilan pertama. Sampai saat ini mereka telah menghasilkan lebih dari 600 bayi dengan teknik ini. Dari negara bagian Georgia, Amerika Serikat, juga telah dilaporkan kelahiran bayi pertama pada bulan September 1993.

Kapan dan kondisi yang bagaimana teknologi IVF dan ICSI harus digunakan ? Penggunaan kedua teknologi ini sangat tergantung pada kondisi si pasien. Teknologi IVF biasanya digunakan apabila terdapat gangguan saluran reproduksi wanita yang menyebabkan sel telur dan sperma tidak dapat bertemu atau karena faktor-faktor lain. Sebaliknya teknologi ICSI digunakan jika suami tidak mampu memproduksi sperma yang layak untuk membuahi sel telur atau bahkan sama sekali tidak ditemukan sperma pada saat ejakulasi.

Tabel berikut dapat digunakan sebagai indikasi untuk memilih apakah teknologi ICSI atau IVF yang harus digunakan bagi si pasien. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa teknologi ICSI digunakan bila jumlah sperma si pasien lebih rendah dari pasien yang lebih cocok untuk pasien IVF. Begitu juga dengan motilitas, progresifitas dan konsentrasi motil dari sperma pasien untuk ICSI lebih rendah dari sperma pasien untuk IVF.

Kualitas Sperma ICSI IVF
Jumlah Sperma < 1 x 106 per ml > 5 x 106 per ml
Motilitas < 20% >30%
Progresif < 1 > 2
Konsentrasi motil < 0,1 x 106 per ml > 5 x 106 per ml

Dari The Infertility Center, Negaran bagian Missouri, Amerika Serikat, pertengahan tahun 1997, Dr. Silber melaporkan bahwa dia dan koleganya, Dr. Van Steirteghem dan Dr. Devroery, dari Free University Brussel telah berhasil memasukkan sperma tunggal yang kelihatannya mati (tidak bergerak) kedalam sel telur dan kemudian berkembang menjadi embrio normal dan akhirnya lahir menjadi bayi normal. Selain itu juga dilaporkan bahwa lebih dari 1000 bayi telah lahir dengan teknologi ICSI menggunakan sperma pria yang telah diduga keras steril (tidak subur, secara alami tidak mampu memberikan keturunan). Bayi yang lahir tersebut baik secara fisik, mental, maupun genetik dinyatakan normal.

Dalam beberapa kasus azoospermia di mana pada saat ejakulasi tidak ditemukan adanya sperma, maka cara untuk mendapatkan sperma dilakukan dengan biopsi testis, yakni sperma diambil dari testis melalui operasi kecil, selanjutnya sperma inilah yang digunakan untuk ICSI. Kalau dalam testispun sama sekali tidak ditemukan sperma, maka spermatid (sperma yang belum matang, tetapi telah memiliki kromosom lengkap) pun bisa menjadi pilihan untuk menyelamatkan pasangan untuk memiliki keturunan. Namun kelayakan penggunaan spermatid (ROSI-round spermatid injection) ini masih diperdebatkan.

Selanjutnya mari kita lihat faktor pihak wanitanya, yaitu ketidaksuburan wanita. Seperti yang disebutkan sebelumnya ketidaksuburan wanita juga disebabkan karena sel telur tua, yang ditandai dengan fungsi mitokondria dan konstruksi meiotic spindel (benang kromosom) tidak normal. Dr. John Zhang dan koleganya melaporkan bahwa wanita yang berumur di atas 40 tahun cenderung memiliki pertumbuhan sel telur yang kurang normal.

Untuk mengatasi masalah sel telur yang sudah cukup tua untuk proses fertilisasi, sel telur pada tahap germinal vesicle (GV) atau sel telur yang belum matang (inti sel telur yang mengandung kromosom) diambil. Sel telur ini kemudian dimasukkan kedalam sel telur lain (yang telah diambil materi genetiknya) yang berasal dari wanita yang lebih muda yang pada umumnya memiliki sel telur yang masih normal. Sel telur yang didapat dengan cara seperti ini ternyata mampu tumbuh menjadi sel telur matang dan normal yang siap untuk dibuahi. Dalam hal ini sel telur yang berasal dari wanita yang lebih muda bertindak sebagai media tumbuh dari sel telur GV wanita tua, sehingga anak yang lahir nantinya jelas merupakan keturunan dari wanita mandul.

Uraian diatas menunjukkan bahwa dengan kemajuan sains dan teknologi dan tentu dengan ijin-Nya pula, maka sesuatu yang sebelumnya kelihatan “mustahil” ternyata dapat diwujudkan menjadi sesuatu yang didambakan. Namun, aplikasi teknologi secanggih ini tentunya dari segi etika dan moral masih menimbulkan silang pendapat yang cukup hangat.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu