dalam kategori | Penyakit

Hipokondria, kecemasan berlebihan kepada kesehatan

Hipokondria, kecemasan berlebihan kepada kesehatan

Dokter yang berpraktik cukup lama pasti mengenali pasien seperti ini, yang jumlahnya kini tampaknya semakin banyak saja karena beban kehidupan yang seringkali menghimpit. Mereka adalah orang yang datang berobat untuk mendapatkan perhatian, simpati, belas kasihan, atau mendapatkan peneguhan atas keluhan-keluhannya.

Orang-orang ini memiliki kecemasan yang tinggi dan persisten mengenai penyakit serius atau kondisi kesehatan tertentu yang mungkin diidapnya, mencemaskan gejala ringan sebagai tanda penyakit yang serius, kerap berkunjung ke dokter atau berganti-ganti dokter, meminta pemeriksaan medis lanjutan tanpa indikasi, dan mungkin secara obsesif mencari informasi di internet dan berbicara dengan teman-temannya mengenai penyakit yang mungkin menimpanya.

Sebagian orang mengeluhkan gejala-gejala fisik yang tidak dapat dijelaskan, seperti nyeri dada, kelelahan, jantung berdebar atau sakit kepala tanpa sebab yang jelas. Sebagian lainnya mengeluhkan mengenai kemungkinan. “Bagaimana kalau saya terkena diabetes dan harus cuci darah seperti mendiang paman saya?” “Bagaimana kalau saya kena stroke dan lumpuh seperti mendiang kakek saya?”

Hipokondria

Sedikit khawatir dengan kondisi kesehatan Anda adalah normal. Bahkan, Anda tidak dianjurkan untuk mengabaikan tanda-tanda yang mungkin mengindikasikan masalah dalam tubuh Anda atau risiko terkena penyakit turunan seperti diabetes atau hipertensi. Namun, bila kecemasan menjadi berlebihan dan memengaruhi kemampuan Anda untuk menjalani hidup dengan baik maka sudah menjadi penyakit. Tepatnya, penyakit mental atau kejiwaan, yang dikenal sebagai hipokondria atau hipokondriasis.

Hipokondria berasal dari bahasa Yunani yang secara harfiah berarti “di bawah tulang rusuk”. Para ahli mendefinisikannya sebagai “rasa cemas yang persisten dan tidak rasional bahwa seseorang menderita, atau akan menderita, suatu penyakit atau kondisi medis lainnya yang serius”. Hipokondria merupakan salah satu dari kelompok gangguan yang disebut gangguan somatisasi atau somatoform. Kondisi ini ternyata tidak jarang dan tidak main-main. Diperkirakan 10 persen sumber daya kesehatan seperti layanan konsultasi dokter, pembedahan, obat-obatan dihabiskan oleh orang-orang yang mengidap hipokondria.

Hipokondria adalah penyakit mental kronis di mana seseorang takut terdiagnosis mengalami penyakit serius yang mengancam jiwa. Keadaan murung dianggap sebagai gangguan psikosomatik, yang berarti itu gangguan psikologis dengan gejala fisik. Namun, beberapa peneliti percaya hipokondria adalah bentuk obsesif-kompulsif.

Penderita penyakit ini merasa dirinya mengalami penyakit tertentu dengan gejala yang dialaminya. Misalnya, Anda mungkin percaya bahwa tubuh Anda sesekali nyeri berarti Anda merasa terkena kanker atau Anda lupa meletakkan mana kunci mobil berarti Anda berkayikanan bahwa Anda mengalami penyakit Alzheimer. Keyakinan yang mungkin keliru itu kemudian membuat sedih penderita dan takut untuk ke berkonsultasi ke dokter.

Penyebab

Penyebab hipokondria tidak diketahui pasti, namun diperkirakan bahwa kepribadian, pengalaman hidup, pola asuh dan sifat-sifat bawaan turun berperan. Kondisi ini cenderung lebih banyak terjadi pada wanita, dewasa muda (gejalanya seringkali dimulai sebelum usia 30), mereka yang baru saja terkena infeksi atau penyakit fisik, mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit tertentu, dan mereka yang memiliki masalah kejiwaan seperti depresi dan gangguan kecemasan. Beberapa orang memiliki kesulitan untuk membicarakan atau mengungkapkan emosi, menyelesaikan konflik atau masalah interpersonal yang berlarut-larut sehingga termanifestasi menjadi keluhan fisik.

1. Perspektif Biologis

Ditemukan adanya faktor genetik dalam transmisi gangguan somatisasi dan adanya penurunan metabolisme (hipometabolisme) suatu zat tertentu di lobus frontalis dan hemisfer nondominan. Selain itu diduga terdapat regulasi abnormal sistem sitokin yang mungkin menyebabkan beberapa gejala yang ditemukan pada gangguan somatisasi, yang bisa berkaitan dengan hipokondria.

Selain itu, dapat pula diakibatkan oleh faktor kognitif, yaitu ketika tanda-tanda tubuh normal disalah tafsirkan sebagai tanda patologi organik yang serius. Proses perhatian selektif dalam kecemasan kesehatan mungkin mirip dengan yang ditemukan pada gangguan panik. Asumsi ini mungkin manifestasi dari pengalaman di masa lalu maupun yang sedang berlangsung.

Pengalaman yang kritis dapat menyebabkan gejala fisik yang tidak terduga, yang sebelumnya tidak diperhatikan mengenai tanda-tanda tubuh. Ini dapat terjadi sebagai pikiran otomatis yang negatif, yang mungkin melibatkan citra hidupyang negatif. Sebuah peningkatan yang berfokus pada proses internal tubuh seperti, denyut jantung, gastro-intestinal, proses menelan, bernafas dan sebagainya. Selain itu mereka juga menjadai hiper waspada terhadap tanda-tanda, seperti noda pada kulit, rambut rontok, pertumbuhan rambut tidak teratur, dan ukuran pupil. Sebagai contoh, orang normal jika batuk akan menganggap dia sedang batuk saja. Penderita hipokondria jika batuk berpikir bahwa dia terkena TBC, atau bahkan kanker paru atau bahkan gejala HIV/AIDS.

2. Perspektif Psikososial

  • a. Memiliki penyakit yang serius selama masa kanak-kanak
  • b. Memiliki riwayat keluarga dengan hipokondria
  • c. Pernah mengalami stres berat yang menyebabkan trauma (misalnya, kematian orang tua atau teman dekat)
  • d. Mungkin terkait dengan gangguan kejiwaan lain, seperti kecemasan atau gangguan obsesif-kompulsif. Dengan kata lain, hipokondriasis dapat merupakan pengembangan dari atau menjadi tanda dari salah satu gangguan lain
  • e. Memiliki orang tua yang lalai atau melakukan kekerasan fisik, seksual, atau emosional di masa kecil
  • f. Menyaksikan kekerasan di masa kanak-kanak
  • g. Rejected children
  • h. Alkoholisme

Hipokondria dapat terjadi pada pria dan wanita. Hal ini dapat berkembang pada usia berapa pun, bahkan pada anak-anak, tetapi paling sering dimulai pada awal masa dewasa. Khawatir tentang kesehatan dapat merupakan manifestasi dari strategi waspada hiper diadopsi oleh individu-individu sehingga tanda-tanda awal penyakit dapat dideteksi, atau mungkin strategi takhayul dimaksudkan untuk menangkal bahaya berpikir positif.

3. Perspektif sosiokultural

Individu yang tidak mampu untuk melakukan penyesuaian diri dengan perubahan-perubahan sosial yang sangat cepat dan proses modernisasi semakin berat menjadikan individu menjadi tidak nyaman sehingga timbul ketegangan dan tekanan bathin. Persaingan hidup yang berat menjadikan banyak terjadi tindakan yang menyimpang seperti kriminalitas dan hal-hal yang terhubung dengannya, sehingga menimbulkan ketakutan dan ketegangan batin pada penduduk dan menjadi salah satu penyebab utama timbulnya macam-macam penyakit mental.

Kehidupan di perkotaan yang modern lebih menonjolkan kepentingan diri sendiri dan individualism sehingga kontak sosial menjadi longgar dan tidak peduli lagi akan kondisi orang lain. Dalam masyarakat seperti ini, individunya selalu merasa cemas, tidak aman, kesepian dan takut. Kehidupan modern yang penuh rivalitas dan kompetisi selalu merefleksikan diri dalam bentuk kebudayaan eksplosif atau kebudayaan tegangan tinggi (hightension culture) dengan iklim persaingan yang sangat melelahkan baik secara fisik maupun mental dan dapat membuat manusia menjadi ‘sakit’.

Pengaruh lingkungan dan media massa yang cenderung untuk menampilkan standar hidup yang tinggi dengan semua kemewahan material menjadikan timbulnya kekalutan mental apabila seorang individu tidak mampu untuk memenuhinya. Transisi kebudayaan dapat menimbulkan ketidaksinambungan antara lompatan cultural yang kemudian menimbulkan kebingungan dan ketakutan sampai berujung pada terjadinya mental disorder, salah satunya Hipokondria.

Beberapa efek yang ditimbulkan

Hipokondria bukanlah penyakit yang sepele karena penyakit ini akan sangat mengganggu, berikut beberapa efek yang akan ditimbulkan dari penderita hipokondria,

  1. Susah tidur malam akibat selalu berfikiran terhadap penyakit penyakit yang sebenarnya tidak ada
  2. Akan sulit berkonsentrasi diakibatkan karena pemikiran yang tidak akan bisa terpusat pada persoalan yang dipikirkan karena dilain hal juga berfikiran terhadap penyakit yang tidak ada.
  3. Tidak akan pernah percaya dari hasil tes dokter, walaupun hasilnya sudah sangat akurat dia akan mencari dokter yang lainnya dan melakukan tes lagi yang sebetulnya tidak perlu
  4. Lama kelamaan apabila tidak ditangani dengan tepat penderita akan dapat mengalami stress berat dan akan merusak jiwanya.

Penanganan

Bila Anda merasakan gejala atau kondisi yang mencemaskan Anda, segeralah berkonsultasi dengan dokter Anda. Kecemasan itu sendiri dapat membuat kondisi Anda memburuk dan berpengaruh terhadap kemampuan Anda mengatasinya. Jangan biarkan kecemasan menghantui Anda.

Apabila dokter setelah memeriksa kondisi fisik yang dikeluhkan dan mempelajari informasi lain seperti riwayat kesehatan Anda, dll tidak menemukan penyebab yang mendasari, dia mungkin akan menduga bahwa Anda punya masalah lain seperti depresi atau gangguan kecemasan yang menyebabkan atau memperburuk gejala Anda. Kondisi seperti nyeri punggung bawah (low back pain), nyeri dada atau sakit maag dapat dipicu atau diperburuk oleh kecemasan/ stres.

Dokter bisa membantu Anda menenangkan pikiran dengan menjelaskan secara rasional mengapa Anda tidak perlu khawatir dengan keluhan-keluhan itu. Dia juga mungkin bisa meresepkan obat-obat antidepresan yang dapat membantu Anda mengurangi kecemasan. Pada kasus yang mungkin parah, dokter dapat merujuk Anda ke dokter spesialis kejiwaan (psikiatri) untuk penanganan lebih lanjut.

Studi penelitian terbaru di Harvard University dan Klinik Mayo telah menemukan bahwa Cognitive Behavior Therapy (CBT) adalah pengobatan yang paling efektif untuk Kegelisahan hipokondria/Kesehatan.

Salah satu perkembangan CBT yang paling efektif untuk pengobatan kegelisahan hipokondria, Mindfulness berbasis Cognitive-Behavioral Therapy. Tujuan utama dari Mindfulness berbasis CBT adalah belajar untuk menerima tanpa syarat (non-judgmentally) pengalaman psikologis yang tidak nyaman. Dari perspektif kesadaran, banyak tekanan psikologis kita adalah hasil dari mencoba untuk mengontrol dan menghilangkan ketidaknyamanan pikiran, perasaan, sensasi, dan ketertekanan yang tidak diinginkan. Dengan kata lain, ketidaknyamanan tidak masalah – upaya untuk mengendalikan dan menghilangkan ketidaknyamanan adalah masalah.

Untuk individu dengan Kecemasan hipokondria, tujuan akhir dari kesadaran adalah untuk mengembangkan kemampuan untuk lebih rela mengalami pikiran , perasaan, sensasi, dan desakan yang tidak nyaman, tanpa menanggapinya dengan penolakan, perilaku menghindar, mencari kepastian, dan/atau ritual mental. Menggunakan metode ini, klien belajar untuk menantang ketakutan hipokondriacal mereka, serta perilaku kompulsif dan perilaku menghindar yang mereka gunakan untuk mengatasi kecemasan yang terkait dengan kesehatan mereka.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu