dalam kategori | Penyakit

Gangguan Tiroid yang berbahaya

Gangguan Tiroid yang berbahaya

KEHADIRANNYA yang tanpa gejala, membuat kelainan pada kelenjar tiroid susah dideteksi. Jika diabaikan, dapat mengakibatkan komplikasi yang membahayakan kehidupan dan penurunan kualitas hidup.

Diketahui, sekitar 300 juta orang penduduk dunia menderita kelainan tiroid, atau orang awam menyebutnya dengan gondok. Penderita dengan penyakit pada organ yang merupakan pengendali utama metabolisme tubuh ini juga banyak ditemukan di Indonesia. Gangguan ini musti diperhatikan secara saksama karena bila tidak ditangani dengan baik, dapat mengakibatkan komplikasi yang membahayakan kehidupan dan penurunan kualitas hidup.

Salah satu penyebab kelainan ini karena tiroiditis autoimun—terdapat perubahan sifat sel-sel dalam kelenjar tiroid. Perubahan tersebut bisa karena genetik, lingkungan, maupun dari dalam tubuh sendiri (endogen). Karena berubah, sistem imun dalam kelenjar tiroid menjadi ”bingung” dan menganggap sel-sel tersebut sebagai benda asing. Dari sensor yang terdapat di dalam tubuh,tubuh lantas berusaha menumpasnya,hingga terbentuk antibodi yang disebut dengan antigen. Antigen ini yang dikirimkan sistem imun ke dalam kelenjar tiroid. Akibat tertempel istilahnya ”benda asing”, menyebabkan fungsi selnya pun ikut berubah.

Tugas utama kelenjar tiroid adalah menghasilkan dua macam hormon penting, yaitu T4 (tiroksin) dan T3 (triiodotironin) yang sangat diperlukan untuk kehidupan manusia, terutama untuk metabolisme dan perkembangan otak dan saraf anak.

”Intinya, tubuh gagal mengenali bagian tubuhnya sendiri sehingga tubuh justru menyerang sel sendiri, dalam hal ini kelenjar tiroid,” ujar Dr dr Imam Subekti SpPD KEMD dari Divisi Metabolik Endokrin, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM.

Imam menuturkan, tiroiditis autoimun ini dapat menyebabkan hipotiroid, yaitu kelenjar tiroid tidak menghasilkan cukup banyak hormon tiroid sehingga metabolisme tubuh menjadi lambat. Dapat juga mengakibatkan sebaliknya, yaitu hipertiroid—kelenjar tiroid terlalu banyak menghasilkan hormon tiroid. Selain itu, lanjut dia, kelainan ini dapat menimbulkan tiroid hashimoto.

Penyakit yang ditemukan oleh Dr Hakaru Hashimoto pada t1912 ini merupakan suatu peradangan kelenjar tiroid yang sering menyebabkan hipotiroid subklinis dan hipotiroidisme nyata.

”Kelainan ini yang paling sering ditemukan, banyak terjadi pada wanita usia lanjut,” ujarnya. Ketua Perkeni Cabang Jakarta ini mengutarakan, penyakit ini sering dimulai dengan pembesaran kelenjar tiroid yang tidak menimbulkan nyeri atau rasa penuh di leher. Jika diraba, kelenjar terasa membesar, teksturnya seperti karet, tetapi tidak lembut, kadang terasa berbenjol-benjol. Pada awalnya, pasien tidak merasakan keluhan nyata kecuali dengan adanya pembesaran kelenjar tiroid. Apabila tidak terdeteksi, penyakit akan berjalan terus hingga keadaan hipotiroidisme menjadi nyata.

Gejala yang terlihat, misalnya 4L, yaitu lesu, letih, lemah, dan lelah, muka sembap, lidah besar, kulit kering, berat tubuh menurun, keringat berkurang,bersifat apatis, dan jalannya terlihat lamban. Jika sampai ada tahap ini,barulah muncul keluhan akibat kekurangan yodium dan membawa pasien mencari pertolongan.

”Makin kelihatan terserang hipotiroid,maka tingkat kolesterol juga akan meninggi. Dengan begitu, risiko dia untuk menderita penyakit kardiovaskular juga semakin meningkat,” sebut Imam.

Tiroid merupakan kelenjar kecil, dengan diameter sekitar 5 cm dan terletak di leher, tepat di bawah jakun. Kedua bagian tiroid dihubungkan oleh ismus sehingga bentuknya menyerupai huruf H atau dasi kupu-kupu. Dalam keadaan normal, kelenjar tiroid tidak terlihat dan hampir tidak dapat diraba, tetapi bisa menjadi membesar dan dapat mudah diraba sehingga suatu benjolan bisa tampak di bawah atau di samping jakun.

Ketua Umum Perkeni Dr dr Pradana Soewondo SpPD KEMD mengemukakan, tata laksana kelainan kelenjar tiroid dimulai dari pemeriksaan darah di laboratorium untuk melihat TSH atau kadar hormon tiroid. Pemeriksaan ini juga sekaligus merupakan prediktor untuk menentukan kondisi pasien saat ini, hipotiroid atau hipertiroid.

Gangguan Tiroid Banyak Incar Wanita

Walaupun terjadi pada laki-laki dan perempuan, namun ternyata gangguan tiroid lebih banyak mengincar kaum Hawa, perbandingannya mencapai 5-7 kali lebih besar pada wanita. Menurut data sementara, faktor hormonal diduga sebagai pemicu terjadinya gangguan tiroid ini.

Seperti diketahui, tiroid merupakan kelenjar yang berbentuk seperti kupu-kupu yang terletak di bagian bawah tenggorokan. Mungkin saat ini belum menjadi perhatian khusus bagi masyarakat, namun bila dibiarkan, beberapa gangguan ini bisa menyebabkan komplikasi kronis yang membahayakan. Sementara fungsi kelenjar ini adalah memproduksi hormon tiroid yang berfungsi menstimulasi metabolisme sel-sel dalam tubuh.

Menurut Prof Dr. Sri Hartini SpPD-KEMD, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, tiroid juga memiliki pengaruh terhadap kesehatan tubuh karena membantu mengatur laju fungsi kecepatan tubuh , seluruh aspek metabolisme yang mengatur seberapa cepat jantung berdenyut dan seberapa banyak kalori yang terbakar bersamaan dengan aktifitas tubuh.

Tugas utama kelenjar tiroid adalah mengumpulkan yodium dari peredaran darah untuk diproduksi menjadi hormon tiroid. Meski jumlahnya sangat sedikit namun fungsinya sangat penting terutama dalam pengaturan suhu badan, memengaruhi pergerakan usus, denyut jantung, serta kekuatan otot.

Pemicu utama terjadinya gangguan kelenjar tiroid ditambahkan Sri adalah pada saat seseorang sangat kekurangan yodium dan saat ini sebanyak 38% masyarakat dunia terancam mengalami kekurangan yodium, terutama pada mereka yang tinggal di daerah-daerah pegunungan atau yang berada jauh dari ketersediaan yodium yang banyak ditemui dalam garam.

“Sebenarnya yodium banyak juga ditemukan pada sayur-sayuran, namun jumlahnya akan lebih banyak bila ditemui pada garam. Namun begitu, harus juga diteliti dengan seksama karena banyak juga garam yang memiliki kadar yodium yang kurang,” ungkap Sri.

Uniknya lagi, tiroid juga bisa terjadi apabila jumlah kadar yodium dalam tubuh menurut Sri terlalu berlebihan. Mengapa demikian? Karena tubuh justru merasa tidak memiliki pasokan yang cukup pada saat jumlah yodium mengalami over kapasitas dalam tubuh sehingga menjadi seolah membutuhkan lebih banyak lagi.

Ketua PERKENI DR dr Pradana Soewondo SpPd KEMD, mengemukakan, kondisi gangguan bidang endokrin yang satu ini lebih banyak pada wanita dan umumnya setelah persalinan. Pada kondisi kehamilan wanita mengalami perubahan yang berkaitan dengan reaksi autoimun. “Dalam masa kehamilan, terjadi penyesuaian imunitas dalam tubuh ibu agar tidak menolak kehadiran jabang bayi. Hal ini dapat menyebabkan perubahan imunitas pada seseorang yang memang berbakat mengalami gangguan tiroid sehingga bisa memicu gangguan tiroid,” ujar Pradana.

Pada usia dini kadar yodium sangat dibutuhkan untuk meningkatkan pertumbuhan secara normal dan perkembangan kecerdasan. Berdasarkan data kesehatan, menurut Sri, kadar yodium yang kurang bisa mengakibatkan anak menjadi kurang tinggi (cebol) dan kurang cerdas. Untuk itulah, kebutuhan asupan yodium ini harus mulai dipenuhi sejak wanita hamil.

Ada beberapa gejala yang datang apabila seseorang kekurangan tiroid dalam tubuhnya (hipotiroid) yakni mudah lelah, lesu, mengantuk, berat badan cenderung bertambah, kulit kusam dan kering, dan sering mengalami konstipasi. Sedangkan pada mereka yang kelebihan tiroid (hipertiroid), maka akan mengalami gejala sebaliknya yakni diantaranya denyut jantung berdetak lebih cepat, mudah emosi, tangan gemetaran, keringat berlebihan, gangguan menstruasi (bagi wanita), dan adanya benjolan pada leher.

Diakui Sri maupun Pradana, gangguan tiroid seringkali tidak disadari oleh penderita. Biasanya mereka datang ke dokter pada saat sudah lebih parah. Padahal, apabila dapat dideteksi secara dini, saat baru muncul gejala-gejalanya, maka akan lebih mudah diatasi sehingga dapat membantu meningkatkan kualitas hidup pasien terutama bagi mereka yang dalam usia produktif.

Beberapa penyakit yang menyerang tiroid

1. Hipertiroidisme (Hyperthyroidism)

Ketika seseorang mengalami hipertiroidisme, kelenjar tiroid menghasilkan terlalu banyak hormon. Gejala hipertiroidisme bisa memicu masalah kecemasan.

Gejala-gejala kecemasan ini meliputi kegugupan, keringat berlebih, tangan gemetar, dan denyut jantung tidak teratur.

Penderita pria mungkin mengalami disfungsi ereksi, sedangkan wanita berpontesi mengalami gangguan siklus menstruasi.

Gejala umum lainnya termasuk penurunan berat badan yang tak dapat dijelaskan dan diare. Hipertiroidisme paling sering mempengaruhi wanita berusia antara 20 hingga 40 tahun.

2. Hipotiroidisme (Hypothyroidism)

Hipotiroidisme terjadi ketika kelenjar tiroid tidak memproduksi hormon tiroid yang cukup.

Sebagian besar gejala hipotiroidisme merupakan kebalikan dari gejala hipertiroidisme, meskipun tidak selalu demikian.

Misalnya, seseorang dengan hipotiroidisme menemukan detak jantungnya melambat, alih-alih meningkat.

Pasien mungkin juga merasa sangat lesu, kedinginan, mengalami peningkatan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, dan sembelit.

Pasien pria mungkin mengalami disfungsi ereksi, dan wanita mengalami gangguan pada siklus menstruasi.

3. Penyakit Graves

Penyakit Graves terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang kelenjar tiroid. Penyakit Graves lebih sering terjadi pada wanita antara usia 20 hingga 40 tahun.

Beberapa gejala penyakit Graves mirip dengan hipertiroidisme seperti kecemasan dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan.

Penyakit Graves sering disebut pula sebagai gondok karena kelenjar tiroid membesar dan berpotensi menimbulkan kesulitan bernapas.

Gejala lain penyakit Graves meliputi mata bengkak atau gatal, keringat berlebihan, sensitivitas panas, dan kelemahan otot.

4. Penyakit Hashimoto

Hashimoto merupakan penyakit dimana sistem kekebalan tubuh menyerang kelenjar tiroid, seperti penyakit Graves.

Perbedaannya, pada penyakit Hashimoto produksi hormon tiroid menjadi turun, bukan meningkat.

Beberapa gejala penyakit Hashimoto meliputi intoleransi terhadap cuaca dingin, gondok, kesulitan menelan, penambahan berat badan, dan kelelahan.

Tanda-tanda lain akan termasuk sembelit, rambut beruban, ketidakteraturan menstruasi pada wanita, dan kesulitan berkonsentrasi.

5. Penyakit Tiroid Lain

Sekitar 5 persen wanita mengalami bengkak kelenjar tiroid selama beberapa bulan setelah melahirkan.

Kebanyakan wanita pada awalnya mengalami gejala seperti hipertiroidisme, dan kemudian berubah mengalami gejala mirip hipotiroidisme.

Penyakit tiroid lain adalah kanker tiroid. Karena gejala kanker tiroid umumnya hanya berupa pembengkakan tiroid yang tidak spesifik, penting memeriksakan kelenjar tiroid secara teratur untuk mendeteksi adanya gangguan atau ketidaknormalan

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu