dalam kategori | Tips Kesehatan

Gangguan hiperaktif, bisa berlanjut sampai dewasa

Gangguan hiperaktif, bisa berlanjut sampai dewasa

Pernah mendengar anak hiperaktif atau dalam istilah kedokteran disebut attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD)? Ternyata menurut penelitian terbaru, dampak ADHD bisa berlanjut sampai dewasa.

Peneliti dari Boston Children’s Hospital dan Mayo Clinic, membuat penelitian yang disebut-sebut terbesar di area ini. Mereka menemukan bahwa hampir sepertiga anak-anak dengan ADHD (29,3%) tetap memiliki gejala hiperaktif saat dewasa. Bahkan disertai setidaknya satu jenis gangguan mental lainnya. Maka peneliti pun berani menduga bahwa ADHD merupakan penyakit kronis yang menetap hingga bertahun-tahun sejak didiagnosa.

Pada mereka yang masih menunjukkan gejala ADHD di usia 27 tahun, misalnya, sebagian besar juga memiliki sedikitnya satu jenis gangguan mental. Namun gangguan mental juga diderita mantan penderita ADHD yang dinyatakan sudah terbebas dari gejala gangguan ini. Hasil penelitian ini dipublikasikan di Jurnal Pediatrics.

ADHD, menurut peneliti, memang kerap muncul bersamaan dengan gangguan mental lain. Dengan kata lain, ADHD merupakan faktor risiko untuk berbagai jenis gangguan jiwa.

Hiperaktif seringkali tidak terdiagnosa. Orangtua, guru, bahkan dokter sering tidak waspada dengan gejala yang ada pada anak. Anak dengan gejala hiperaktif harus diterapi dan mendapat pendidikan di lingkungan khusus. Ketertinggalan dalam pelajaran akibat sulit konsentasi, bisa menjadi perhatian para guru dan orangtua untuk menelisik lebih jauh kemungkinan ADHD.

Penelitian juga menemukan, ada kecenderungan bunuh diri pada orang dewasa dengan riwayat ADHD, hingga lima kali lebih besar. Oleh karena itu, kepedulian akan dampak ADHD yang berlanjut, harus lebih ditingkatkan. ADHD bukan sekadar masalah saat anak-anak dan akan hilang saat anak beranjak dewasa.

Anak Tidak Bisa Diam Belum Tentu Hiperaktif

Anak yang tidak bisa berhenti bergerak sering dicap sebagai anak hiperaktif. Padahal, ada perbedaan antara anak aktif dengan hiperaktif.

“Anak yang hiperaktif ditandai dengan selalu melakukan kegiatan tanpa tujuan. Misalnya belum selesai main dengan yang satu sudah pindah ke mainan lain,” papar Dr.Tjin Wiguna, Sp.KJ, ahli psikiatri anak dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Menurut Tjin, gangguan ADHD bisa dikenali sejak usia prasekolah. “Pada anak berusia tiga tahun atau kurang namanya gangguan regulasi tipe hiperaktif, ini merupakan cikal bakal terjadinya ADHD,” katanya.

Karena anak mengalami gangguan regulasi, maka fungsi-fungsi tubuhnya juga terganggu disamping kebutuhan geraknya juga tinggi.

“Selain tidak bisa diam, ciri lain adalah pola tidur anak terganggu, susah makan, dan gangguan regulasi lainnya,” katanya.

Gangguan hiperaktif harus diobati karena bisa berlanjut sampai usia remaja dan dewasa. Untuk itu orangtua sebaiknya segera membawa anaknya ke psikiatri anak jika menemukan adanya ciri-ciri hiperaktivitas.

Berikut ini langkah-langkah dasar untuk menghadapi anak hiperaktif:

  1. Atur pemberian makanan yang mengandung gula atau karbohidrat sulingan berkadar tinggi, seperti nasi putih atau berbagai produk olahan tepung, agar tidak berlebih. Hindari juga penyedap rasa serta pemanis dan pewarna buatan. Asupan yang tepat untuk membantu Bunda menghadapi anak hiperaktif adalah makanan yang mengandung kalsium dan magnesium (seperti sayur-mayur, kacang-kacangan, dan biji-bijian). Selain itu, karena pergerakan anak hiperaktif sangat dinamis, metabolisme tubuhnya pun relatif cepat sehingga ia butuh asupan lebih sering daripada anak yang lain.
  2. Menghadapi anak hiperaktif juga membutuhkan banyak kesabaran. Menerapkan kedisiplinan itu penting, tapi usahakan untuk tidak berlebihan dan otoriter. Terutama untuk anak hiperaktif, tekanan dan omelan hanya akan membuatnya semakin berontak. Jadi, dalam keadaan sejengkel apa pun, Bunda sebaiknya berusaha menenangkan diri dan menegur si kecil dengan cara yang lebih persuasif seperti bujukan yang halus dan memberikan penjelasan.
  3. Pada beberapa kasus, menghadapi anak hiperaktif mungkin memerlukan pemberian obat sesuai dengan petunjuk dokter. Misalnya, penggunaan antidepresan seperti ritalin, dexedrine, desoxyn, adderal, cylert, buspar, dan clonidine. Akan tetapi, sebisa mungkin hindari penggunaan obat-obatan seperti itu. Jika Bunda sudah merasa bahwa hiperaktif si kecil sudah mustahil untuk ditangani sendiri, bawa ia bertemu psikolog anak untuk menjalani terapi cognitive behavior untuk menumbuhkan self control dalam dirinya.
  4. Anak hiperaktif biasanya memiliki energi berlebih. Jadi, ada baiknya jika Bunda menemani si kecil menjalani aktivitas fisik seperti bermain di lapangan untuk menyalurkan energi tersebut. Ketika ia merasa lelah, Bunda juga bisa menemaninya dengan membacakannya cerita ringan sambil bersantai di rumah untuk melatih kemampuannya berkonsentrasi. Karena, pada dasarnya anak hiperaktif memiliki potensi intelegensi yang luar biasa ketika ia mampu berkonsentrasi.

Bagi Anda yang tidak ingin menggunakan obat-obatan atau suplemen, berikut ini ada cara alami baik fisik maupun psikologis untuk menangani energi berlebih dan menenangkan anak hiperaktif:

  1. Bantu anak hiperaktif mengatur napasnya ketika anak ingin menenangkan diri, terutama jika anak merasa marah atau frustasi. Suruh anak untuk mengambil napas dalam-dalam, hirup napas dari hidung dan buang melalui mulut secara perlahan.
  2. Hilangkan stres pada anak hiperaktif dengan membiarkan anak mandi busa atau mandi air garam hangat. Tambahkan satu atau dua mainan sederhana ke dalam bak mandi, tapi hindari memberi anak terlalu banyak mainan.
  3. Beri stimulasi fisik pada anak hiperaktif dengan memberinya pijatan lembut. Sentuhan hangat dari Anda akan membuat anak tahu bahwa Anda mencintainya, selain itu, gerakan pijatan memiliki efek menenangkan.
  4. Taruh perlengkapan aktivitas atau mainan yang dapat membuat anak tenang. Perlengkapan aktivitas atau mainan anak yang tenang antara lain teka-teki, cat, peralatan membuat perhiasan, dan buku-buku favorit. Taruh di dekat mainan anak yang lain, sehingga anak bisa menggunakannya saat dia ingin tenang sebentar.
  5. Atur suasana ruangan dengan menjaga pencahayaan yang redup atau menyetel musik relaksasi ketika anak hiperaktif butuh ketenangan.
  6. Lakukankah aktivitas secara rutin setiap harinya, sehingga anak hiperaktif tahu apa yang mereka harapkan dan apa yang diharapkan dari mereka. Persiapkan anak ketika akan melakukan aktivitas yang tidak biasa dan jelaskan apa yang akan terjadi. Selain itu, diskusikan juga bagaimana cara mereka tetap tenang bahkan dengan kegembiraan yang mungkin akan mereka alami dari kegiatan yang berbeda tersebut.
  7. Hindarkan anak dari minuman dingin, gula, susu manis, pewarna makanan, dan bahan pengawet dalam makanan yang bisa menyebabkan agitasi. (Agitasi = pancingan, huru-hara, dll. Artinya hindari anak dari makanan-makanan tersebut karena akan menghasilkan energi berlebih yang membuat anak makin hiperaktif).
  8. Sediakan waktu untuk menampung energi ekstra, seperti lari berkeliling dan berolahraga. Ini akan membantu anak hiperaktif tahu bahwa ada waktu dan tempat untuk melepaskan kelebihan energi, sehingga membantu anak tetap tenang dalam situasi lainnya.

Komentar Anda

ads
Fitzania Weekly
Dapatkan informasi kesehatan mingguan berkala dari Fitzania langsung di inbox email Anda.

powered by MailChimp!

Anda punya informasi seputar dunia kesehatan?
Berkenan untuk membagikannya disini?
Lakukan sekarang, karena mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang sedang mencarinya.

berbagisehat

Rubrikasi

Fitzania Follows

palmer puspromkes who-id who-id bpjs bfl dokter medis pedulisehat selamatkanibu